Makan Siang Bersama Teman

1094 Kata
Makan siang di kantin fakultas memang bukan menjadi rutinitasku, apalagi ketika aku masih sering makan bersama dengan Jujung. Ah, lagi-lagi aku harus membawa-bawa nama laki-laki itu. Sedih rasanya, tetapi memang Jujung sebegitu seringnya terlibat dalam kehidupanku. Kali ini aku makan siang bersama dengan satu temanku. Tidak terlalu dekat tetapi cukup akrab. Tempat yang kami pilih tidak perlu jauh-jauh ke kantin fakultas sebelah, tetapi di kantin fakultas kami, kantin dengan harga tiap makanan yang jauh lebih mahal tetapi yah memang harga tidak pernah membohongi kualitas walau rasanya memang sama enaknya. Kami sudah duduk di bangku yang kosong dan sudah memesan makan siang kami masing-masing. Sambil menunggu pesananku datang, aku tidak banyak mengobrol dengan temanku. Aku hanya sibuk dengan ponselku, asyik membuka akun media sosial dan melihat ada berita baru apa hari ini. Wajar saja, kami adalah anak muda yang tidak sibuk dengan urusan pribadi, jadi banyak waktu luang untuk mengurusi urusan orang lain alias kepo dengan gosip-gosip baru yang ada walau gosip tersebut sama sekali tidak bermanfaat bagi kehidupan kami. “Eh lo tahu nggak?” kataku dengan kalimat khas di mana pergosipan ini akan segera dimulai. Temanku itu menggeleng. “Nggak tahu,” katanya, yang membuatku memutar bola mata malas. “Iya, makanya gue kasih tau!” ucapku dengan ketus, lalu kembali antusias untuk menyampaikan gosip baru yang sedang aku baca saat ini. “Apa?” Dia jadi antusias. Aku mulai bercerita sembari mataku yang tidak lepas dari layar ponsel. “Ini nih, masa ya si penyanyi yang lagi naik daun itu ternyata gagal nikah dong ya ampun kasihan banget!” Tidak peduli dengan seberapa terlihat berlebihannya diriku, yang pasti aku sudah berhasil menyampaikan berita itu. Perlu beberapa detik bagi dirinya untuk tahu siapa yang aku maksud. Lalu, matanya membulat pertanda ia mulai tahu. “Hah? Masa? Ya ampun, kasihan banget! Karena apa sih?” Saking penasarannya, dia juga melirik layar ponselku untuk membaca beritanya secara langsung. Aku pun menyerahkan ponselku, agar dia puas membaca berita yang ada. Walau aku sangat sadar bahwa membaca berita seperti ini hanya membuang-buang waktu saja, setidaknya aku bisa mendapatkan sedikit pengalaman dari cerita hidup orang lain. Terkadang memang aku bisa belajar tentang kehidupan dari mereka. Berita seorang penyanyi yang memutuskan untuk mengagalkan acara pernikahannya padahal sepasang kekasih itu telah sangat cocok dan selalu terlihat romantis di muka publik, ternyata memiliki permasalahan internal yang baru terungkap dalam beberapa hari menuju pernikahan. Aku jadi tahu, jika seseorang yang sangat terlihat cocok pun ternyata apda akhirnya ada penundaan untuk bersama atau barangkali tidak akan bersama lagi. Seperti halnya dengan diriku dan Jujung, walau aku menganggap Jujung adalah sosok laki-laki yang berhasil membuatku tidak pernah kesepian dan selalu bahagia, tetapi pada akhirnya memang kita tidak ditakdirkan bersama. Kalau mau a*u nasib, sebenanrya nasibku masih lebih baik walau sama-sama sakitnya. Setidaknya aku hanyalah aku yang bukan siapa-siapa, yang tidak ada pemberitaan ketika aku dan Jujung sudah tidak bersama lagi. Setidaknya aku menghadapi masalahku seornag diri, tanpa melibatkan orang lain dan tanpa perlu khawatir komentar-komentar yang akan aku terima seperti penyanyi terkenal itu. “Ternyata yang cowok ketahuan selingkuh selama ini, gila,” kata temanku, yang bahkan aku belum membaca beritanya sampai di situ. Aku cukup terkejur, karena setahuku penyanyi laki-laki itu terlihat sangat mencintai kekasihnya. Banyak kejutan darinya untuk sang kekasih yang dipamerkan di media sosial. Dari mulai kejutan ulang tahun, sampai kejutan peringatan hari jadian mereka. Semuanya nampak sangat manis, sangat membuat siapa saja iri dan ingin memiliki sosok laki-laki seperhatian dirinya. Tetapi, pada akhirnya bangkai akan tercium juga. Perselingkuhan itu menguap ke permukaan dan membuat siapa saja tahu jika laki-laki itu tidak benar bersungguh-sungguh mencintai kekasihnya, karena ia malag berselingkuh dengan orang lain. Lagi-lagi aku merasa bersyukur. Bukannya aku tidak prihatin sebagai sesama perempuan, tetapi aku menjadi lebih bersyukur lagi atas hidupku yang tidak semengerikan itu. Perpisahanku dengan Jujung bukan karena perselingkuhan, tetapi karena perjodohan walau berakhir sama-sama tidak dapat bersatu. “Gila. Gue kalau jadi si cewek pasti sakit hati banget! Perlakuan cowoknya aja yang benar-benar spesial, benar-benar perhatian, tetapi ternyata malah tukang selingkuh. Gila benar-benar gila!” Temanku malah terlihat emosi. Sementara aku hanya terkekeh saja menanggapi dirinya. “Lo sama Juwana giamana? Aman kan?” tanyanya kemudian, yang membuatku terkejut setengah mati, mengapa dirinya malah membawa-bawa aku dan Jujung. Aku mengrenyitkan kedua alisku. “Hah, apaan sih kok malah bawa-bawa gue sama Jujung!” “Ya nggak gitu. Gue sebagai teman lo, sebagai sesama perempuan kan juga Cuma mau ngingetin aja. Nggak semua cowok yang perangainya manis di depan itu di belakang juga manis. Gue nggak mau kalo lo kenapa-kenapa. Bukannya nuduh dan berprasangka buruk, tetapi setiap manusia wajib was-was nggak sih?” katanya yang cukup panjang. Aku hanya menyunggingkan sebelah senyumku saja sembari menggelengkan kepala. “Secinta apapun lo sama Juwana, lo juga harus pakai logika. Lo ngagk boleh terlalu bucin sampai akhirnya diperdaya sama dia,” katanya lagi, yang kali ini berhasil membuatku sedikit emosi. “Diperdaya gimana sih maksud lo?” tanyaku dengan nada ketus. Dia mengedikkan bahunya. “Ya lo harusnya tahu lah, lo suka nonton sinetron, lo suka baca novel, seharusnya lo tahu cowok itu gimana.” “Nggak semua cowok kayak gitu sih.” Bukan, bukan aku membela Jujung, tetapi memang aku berucap apa adanya dan ya aku sadar jika Jujung tidak sebangsat itu. Dia masih bisa menyangkal ucapanku. “Nggak semua, tapi ada, dan masalahnya kita nggak semudah itu buat sadar.” Okai. Kali ini aku setuju dengan perkataannya. Tetapi, bagaimana pun juga, aku tidak setuju jika Jujung itu manipulatif atau yang lainnya. Walau saat ini aku dan Jujung sudah berpisah, tetapi aku masih bisa menggunakan otakku untuk tidak menilai Jujung sembarangan. Aku bisa merasakan aliran kasih sayang yang Jujung berikan padaku. Tatapannya begitu tulus. Bagaimana bisa aku berpikiran buruk pada laki-laki itu telah berselingkuh dariku? Tidak. Aku tidak memikirkan hal itu. “Oiya. Tumben banget lo nggak makan siang bareng Juwana?” tanyanya kemudian. Aku hanya diam, tidak berniat untuk menjawab. Dan yang terjadi malah temanku itu mengoceh lagi. “Lo lagi nggak ada masalah kan sama dia?” ia menebak-nebak. Aku harus terlihat biasa saja. Bola mataku berputar. “Jujung itu punya kesibukan. Nggak setiap hari juga kali gue makna siang sama dia. Nanti kalau gue makan siang sama Jujung, terus lo makan siang sama siapa? Lo kan nggak punya pacar,” kataku yang sedikit menyindir agar membuatnya diam. “Nggak punya pacar nggak papa. Setidaknya nggak perlu takut sakit hati. Iya apa iya?” Beruntung setelahnya makanan yang kami pesan sudah datang, jadi tanpa aba-aba aku bisa menghentikan obrolan ini dan kami masing-masing fokus pada makan siang kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN