Sore hari aku masih ada di selasar perpustakaan. Aku masih enggan pulang dan memilih duduk di sini sendirian dengan laptop yang terbuka. Aku tidak sedang belajar atau mengerjakan tugas, bahkan laptop yang terbuka itu tidak dalam kondisi menyala selama bermenit-menit lamanya aku di sini.
Tidak usah ditanya lagi, lagi-lagi aku memikirkan Jujung. Seharian ini memang aku hanya melihat Jujung saat di koridor tadi dan tidak pernah melihatnya lagi. Kalau boleh jujur, tujuanku duduk di selasar ini sampai sore hari dan tidak melakukan apa-apa adalah karena aku rindu dengan Jujung. Aku ingin melihat rupa laki-laki itu walau hanya dari kejauhan. Tetapi, sudah sesore ini aku tak melihat Jujung juga, padahal aku yakin sekali jika di tempatku ini akan mudah untuk melihat Jujung yang keluar masuk gedung fakultas.
Aku mulai lelah dan mataku mulai mengantuk. Beberapa kali aku juga menguap, tetapi aku masih enggan untuk pulang. Aku hanya memandangi hamparan taman yang cukup luas di dekat perpustakaan ini. Beberapa mahasiswa terlihat berlalu lalang, tetapi tidak ada Jujung juga di sana.
Ah, apa mungkin jika Jujung ternyata sudah pulang?
Aku mengecek ponsel. Pergi ke ruang obrolanku dengan Jujung hanya untuk melihat apakah laki-laki itu sedang online dan ternyata tidak. Aku cek pada bolah status, tidak ada satu pun status terbaru yang dibuat laki-laki itu.
Aku mengembuskan napas. Kuletakkan ponselku di atas meja dan aku kembali memandang lurus ke depan tanpa menempatkan poin penglihatan.
Awalnya tatapanku hanya menerawang. Lalu, ketika aku mendengar suara yang sangat familiar karena suara itu sangat aku rindukan, otomatis kepalaku menoleh. Pada laki-laki yang berjalan melewatiku, aku dibuat senam jantung. Laki-laki dengan tinggi semampai dan rambut yang saat ini berwarna coklat tua itu baru saja melewatiku dengan mengobrol ringan bersama temannya. Ia melewatiku tanpa sadar atau ah aku tidak tahu apakah Jujung sadar aku sedang duduk di sini atau tidak.
Aku terus memandangi punggung Jujung yang semakin menjauh. Aku sangat rindu padanya. Sebatas mendengar suaranya yang hanya sebentar, jujur saja tak pernah mampu mengobati kerinduanku. Aku ingin kembali seperti beberapa hari yang lalu. Aku ingin bisa bertemu dan mengobrol banyak dengan Jujung. Aku ingin semuanya bersama Jujung, bukan malah harus berjalan sendirian seperti ini.
Setelah Jujung menghilang di balik bangunan, tanpa berpikir panjang aku langsung menutup laptop dan mengemasi semua barang untuk masuk ke dalam tas. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, aku langsung berjalan cepat ke arah ke mana Jujung pergi.
Sesampainya di samping perpustakaan, aku bisa melihat Jujung masih ada di sana. Kini dirinya berjalan seorang diri, entah ke mana perginya temannya tadi.
“Jujung!” Tanpa aba-aba, mulutku berteriak memanggil nama laki-laki itu. Jujung langsung menoleh mencari sumber suara. Dan ketika matanya berhasil menangkapku, entah mengapa senyumnya mengembang.
Jujung berajalan pelan ke arahku. Ketika ia sampai di depanku, wajahnya kembali tersenyum. “Titik.” Ucapannya itu lah yang aku tunggu, ketika Jujung memanggil namaku dengan sebutan itu.
Aku hanya bisa menatap laki-laki itu dalam diamku. Perlahan senyum Jujung memudar. Dalam kegamangan, aku ingin berkata pada laki-laki itu bahwa aku sangat merindukannya. Tetapi, aku hanya bungkam, tidak bisa mengeluarkan satu patah kata pun.
“Tik, are you okai?” tanyanya. Entah paham atau tidak, seharusnya Jujung tidak pernah bertanya seperti itu kepada diriku. Entah yang ditanyakan adalah mengapa aku hanya diam saja atau mungkin bagaimana hariku hari ini, sudah pasti aku tidak pernah merasa oke ketika Jujung tak lagi bersama diriku.
Aku tidak peduli dengan perkataan laki-laki itu. Aku tidak perlu menjawabnya. Perlahan aku memutuskan untuk berbalik badan dan langsung melangkah pergi dari hadapan Jujung. Selangkah dua langkah, tidaka da tanda-tanda Jujung mengikuti. Tidak apa-apa, aku juga tidak berharap jika Jujung akan meraih tanganku dan membuatku menghentikan langkah, lalu selanjutkan ada beberapa kalimat yang diucapkan laki-alki itu. Aku benar-benar tidak mengharapkan.
Namun, setelah beberapa langkah, kini malah aku yang berhenti dengan diriku sendiri. Aku kembali menoleh, rupanya Jujung masih berdiri di sana, menatapku dengan tatapan tak seteduh seperti biasanya.
Dalam jarak beberapa meter kami hanya saling tatap. Angin sore yang berembus berhasil membuat rambutku berterabangan tetapi itu tidak membuatku terganggu akibat rambut itu yang beberapa kali menyapu wajahku.
Semakin menatap Jujung, semakin membuat tubuhku menjadi kaku. Saluran napas ini juga semakin rasanya tercekat. Kira-kira apa yang sedang Jujung pikirkan saat ini dengan menatapku seperti itu? Apakah Jujung sama sepertiku yang ingin kembali bersama-sama lagi seperti dahulu? Atau Jujung berpikir jika aku memang tidak pantas untuk dipertahankan? Ah, bahkan sedari awal Jujung tak terlihat ingin memperjuangkan cinta kami, sekali pun aku tahu jika menantang kedua orang tua itu pasti ada ganjarannya.
“Jujung!”
Ah, aku bisa mendengar suara Della. Aku pun langsung sadar dan langsung cepat-cepat berbalik. Aku bisa merasakan dari sini jika Della telah menghampiri Jujung. Semoga saja Della tidak melihatku di sini. Aku ingin pergi tanpa Della mengetahuiku. Bagaimana pun juga Della masih temanku. Aku tidak mau Della berpikiran apa-apa tentang aku yang masih saja menginginkan Jujung. Walau sejak saat itu aku belum berbicara pada Della, tetapi anggap saja jika Della juga sudah tahu jika aku mengetahui tentang perjodohannya dengan Jujung.
Aku terus berjalan untuk semakin menjauh dari sana. Langkah kakiku bahkan kupercepat agar Della tak memiliki kesempatan untuk melihat diriku. Tetapi, ketika sampai di persimpangan antar gedung fakultas, langkahku kembali terhenti ketika namaku dipanggil.
“Tika!”
Aku menoleh, lalu senyumku mekar. “Mas?” kataku ketika Mas Tayoga muncul dari gedung fakultasnya. Ia juga tersenyum padaku, yang membuatku langsung ikut tersenyum walau tetap saja pikiranku masih dipenuhi dengan Jujung.
Mas Tayoga berjalan menghampiriku. “Belum pulang? Ada kelas sampai sore ya?” tanyanya di mana kami langsung melanjutkan langkah bersama entah mau ke mana.
Aku hanya mengedikkan bahu. “Nggak. Tadi mampir aja ke perpus,” jawabku tanpa berbohong.
“Udah dapat bukunya?” tanyany kemudian, membuatku terkekeh.
“Mampir doang, Mas. Bukan mau pinjem buku.”
Mas Tagoya membulatkan mulutnya dan mengangguk. “Terus sekarang mau ke mana?” tanya lagi.
“Mau pulang,” jawabku singkat.
“Pulang ke mana?” Pertanyaan Mas Tayoga membuatku bingung. “Gerbang ada di sebelah sana,” katanya lagi, menunjuk arah belakang, arah gerbang pintu ke laur dari area kampus untuk menuju ke rumah kostku.
Ketahuan, aku sedang tida punya tujaun mau ke mana sekarang.
Aku tetap berpikir walau sekarang terlaihat linglung. “Ah, mau mampir sebentar ke sana,” kataku yang apa adanya.
“Ke mana?’ Mas Tayoga malah bertanya lagi.
Aku dian untuk berpikir. Baru juga aku ingin berbicara, Mas Tayoga mendahului. “Udah makan belum? Ayo makan dulu.”
Dan tiba-tiba saja perutku keroncongan padahal aku tadi siang sudah makan. Aku tak mau menolaknya, jadi aku mengiyakan ajakan Mas Tayoga. Aku mengangguk. “Boleh.” Lalu senyum mengembang di wajahnya.