Di sebuah sore yang cukup berangin, matahari tak lagi bersinar dengan terang, tetapi langit juga tidak mendung. Aku duduk manis di jok belakang motor Mas Tayoga sementara laki-laki itu sibuk membelah jalanan yang ada di samping kampus, yang cukup macet untuk saat ini. Yah, sebenarnya jalanan ini tidak pernah tidak macet kecuali tengah malam, karena memang jalanan yang tidak cukup lebar ini adalah jalanan utama untuk menuju sebuah daerah di mana mungkin satu kelurahan di sana isinya kebanyakan adalah rumah kost atau kontrakan para mahasiswa. Ditambah di pinggir jalan terdapat banyak sekali pedagang entah yang membuka kios atau lapak kecil, membuat kondisi makin macet saja, tetapi hal tersebut sudah biasa terjadi di area ini, bahkan sudah bertahun-tahun selalu ramai dan sering macet.
“...”
Aku mendengar dengan samar bahwa Mas Tayoga sedang berbicara kepada diriku. Tetapi, aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas, sama sekali tidak dapat kutebak kalimat apa yang baru saja laki-laki ucapkan kepadaku.
Sontak aku memajuka wajahku. “Apa, Mas?” tanyaku dengan cukup keras, karena suasana memang sedang ramai dengan suara kendaraan bermotor. Bahkan, beberapa kali bisa didengar suara klakson motor yang sebenarnya sangat tidak berguna digunakan selama macet, karena ya mau bagaimana lagi tidak ada yang bisa mendahului.
“...”
Suara Mas Tayoga memang tidak pelan, cukup keras, tetapi tetap saja aku tak bisa mendengarkannya dengan jelas.
Aku kembali berteriak, masih memajukan wajahku, berharap telingaku bisa mendengar suara Mas Tayoga dengan jelas juga. “Nggak jelas, Mas. Apa?” kataku lagi, lagi-lagi berteriak.
Tetapi, tiba-tiba saja Mas Tayoga menoleh, membuat wajahnya berjarak sangat dekat denganku. Aku terpaku sejenak, dapat kurasakan aroma Mas Tayoga dari sini. Apalagi angin yang sepoi-sepoi semakin membuat aroma itu menusuk di indra penciumanku, wangi semerbak entah apakah laki-laki itu memakai parfum yang disemprotkan di wajahnya.
“Mau makan apa, Tik?” Saat dirinya bertanya dan bisa kudengar dengan jelas, baru lah aku tersadar. Ada bagian dari jantungku yang berdegub kencang. Tetapi, aku berusaha menepis pikiran yang sempat mampir di otakku. Aku tidak mau berpikir macam-macam walau goresan bibir merah muda itu terpatri dengan sempurna di wajahnya.
“Terserah, Mas. Apa aja deh aku mau,” jawabku setelah wajahku sedikit membuat jarak. Sepertinya Mas Tayoga tidak sadar jika wajah kita berdua pernah sedekat ini.
Mas Tayoga tidak menjawab lagi, karena kali ini ia harus benar-benar fokus untuk menerabas kemacetan ini. Dalam hatiku rasanya tidak karuan. Aku tahu Mas Tayoga menyukaiku, bahkan dirinya yang bilang sendiri beberapa hari yang lalu. Kami memang sempat merasa canggung satu sama lain saat itu juga, tetapi entah mengapa ketika tadi aku bertemu dengannya, rasanya biasa saja. Hanya saja, kali ini aku merasakan kecanggungan lagi, setelah tak berjarak jauh wajah kami.
Aku butuh menggeleng beberapa kali untuk menepis pikiran-pikiranku. Aku tidak mau jika aku sampai memiliki perasaan khusus pada Mas Tayoga. Memang saat ini aku sudah bukan milik siapa-siapa lagi kecuali kedua orang tuaku, tetapi jujur saja aku masih dan akan tetap mencintai Jujung. Aku tidak mau dengan rasaku yang masih tertinggal di hati Jujung, aku juga mencintai Mas Tayoga, karena itu sama saja aku tidak benar-benar mencintai laki-laki itu, tetapi hanya untuk mengalihkan rasa sakitku saja. Mas Tayoga orang baik, perhatian, dan bisa dibilang ia ada di urutan nomor dua setelah Jujung sebagai laki-laki yang dekat denganku. Ah, bahkan saat ini Mas Tayoga sudah menjadi laki-laki nomor satu yang saat ini dekat denganku. Tetapi, walau begitu, aku tetap tidak ingin cepat-cepat membuka perasaanku sekalipun untuk lakui-laki baik yang sedang memboncengku di atas motornya ini.
Tidak lama, kami berdua berhasil menembus jalanan macet tersebut. Sekarang kami bisa dengan lega melewati jalanan yang tidak terlalu ramai, lebar, dan yang pasti angin semakin sepoi kala matahari semakin turun.
Padahal, aku dan Mas Tayoga belum memutuskan untuk makan di mana. Tetapi, entah aku hanya ikut saja ke mana Mas Tayoga akan membawaku pergi. Walau aku tidak membawa helm, tetapi karena Mas Tayoga merangkap sebagai driver ojek online, jadi laki-laki itu selalu mempunyai dua helm di motornya. Walau helm itu dipakai oleh banyak orang, aku tetap tidak apa-apa memakainya juga. Awalnya Mas Tayoga ragu setiap ia mengulurkan helmnya, tetapi aku yang bisa melihat keraguan dalam dua bola matanya itu pun berkata bahwa tidak apa-apa. Jujur, memang tidak masalah aku memakai helm bekas kepala orang lain. Toh, selama aku memakai helm Mas Tayoga ini, helm miliknya selalu dalam keadaan bersih dan tidak pernah bau. Jadi ya tidak masalah sama sekali. Daripada aku tidak memakai helm juga kan.
Mas Tayoga pun mulai menepikan motornya dan mengurangi laju kecepatan. Kemudian, kami berhenti tepat di sebuah tempat makan yang sebelumnya belum pernah aku datangi. Tetapi dengan menu yang sangat familiar.
Aku turun dari motor ketika Mas Tayoga telah parkir dengan sempurna. Kulepas helm yang aku pakai dan kutaruh di atas jok motornya.
“Mau makan di sini, Tik?” tanya Mas Tayoga. Aku jadi teringat terakhir kali kami makan adalah ketika makan nasi padang tetapi tidak jadi, karena kecanggungan kala itu. Dan sekarang, kami berdiri tepat di depan rumah makan Padang.
Aku pun mengangguk. “Nggak papa, Mas,” kataku menjawab pertanyaan Mas Tayoga. Sekali pun aku menolak, kami terlanjur ada di sini, tiada guna lagi. Ah, bukannya aku tidak mau makan di sini, tetapi memang menurut aku seharusnya Mas Tayoga tak perlu lagi berbasa-basi untuk bertanya apakah aku mau makan di sini. Sudah pasti aku tidak akan pernah menolak jika diajak makan ke rumah makan Padang.
Setelahnya kami berjalan untuk masuk ke dalam tempat makan itu. Disambut dengan senyum ramah pelayan, kami membalas senyuman mereka. Rupanya, sistem makan nasi padang di tempat ini berbeda dengan tempat nasi padang lain yang pernah aku datangi. Jika biasanya aku akan memesan sembari sang pelayan mengambilkan pesananku, kali ini kami hanya perlu duduk tanpa memesan. Selanjutnya, berbagai lauk khas masakan Padang tiba di meja kami. Banyak sekali, satu sampai dua porsi tiap jenis lauk yang ada. Aku memang baru pertama kali datang ke tempat yang pelayanannya seperti ini, tetapi bukan berarti aku sama sekali tidak tahu arti dari semua sistem ini. Pokokny, setiap kami membuka penutup plastik di tiap piring, maka lauk itu lah yang akan dihitung. Jadi, kami perlu berhati-hati dengan berbagai lauk yang ada di hadapan kami agar tidak membuat kalap, atau kalau tidak bisa-bisa kami tidak bisa makan selama satu bulan ke depan alias bikin tekor saja.
Kami mulai menikmati makanan secukupnya. Sembari mengobrol ringan, agar suasana tidak terlalu canggung.
“Nggak buka thai tea, Mas?” tanyaku di sela-sela kunyahan. Pasalnya sore hari seperti ini aku tahu betul jika kedai thai tea milik Mas Tayoga akan menjadi ramai. Tetapi, Mas Tayoga malah pergi makan denganku.
“Habis ini buka kok,” jawabnya. Satu perkedel ia gigit dengan penuh semangat.
Melihat Mas Tayoga makan dengan lahap seperti ini jadi mengingatkanku pada Jujung. Laki-laki itu juga selalu lahap setiap kali makan. Tipikal orang yang tidak suka pilih-pilih makanan, walau kurang pas rasanya, Jujung juga tak pernah protes selama proses makan. Baru setelah kami pulang, Jujung akan berkomentar tentang apa yang baru saja kami nikmati.
Tidak sadar, sudah beberapa menit aku hanya memandangi Mas Tayoga yang asyik menghabiska sisa makanannya yang ada di piring. Bahkan ketika laki-laki itu menambah lauk, aku tersenyum dibuatnya. Padahal, di atas piringku, makanan belum habis kulahap. Aku benar-benar seperti sudah kehilangan akal karena terus-terusan menatap laki-laki itu, bahkan aku baru berhenti menatapnya ketika Mas Tayoga menatapku balik.
Kedua matanya membulat, menatapku yang sedang menatap dirinya. Ia terlihat bingung dengan menghentikan kunyahannya yang membuat sebelah pipinya mengembang. Aku yang menyadari itu langsung mengalihkan perhatiaku, balik pada piring di hadapanku dan melanjutkan makan. Aku pikir Mas Tayoga sudah kembali melanjutkan kunyahannya juga, tetapi ternyata dia masih menatapku ketika aku menoleh lagi pada dirinya.
Sebelah alisku terangkat, berlaga bertanya. “Ada apa, Mas?”
Mas Tayoga pun menggeleng, kemudian aku mengangguk dan kami sama-sama kembali sibuk dengan makanan kami masing-masing. Syukurlah jika Mas Tayoga tidak berpikiran apapun dan semoga saja memang begitu. Selain aku belum mau membuka hati untuk siapa pun, aku juga tidak mau jika Mas Tayoga beranggapan bahwa aku memberinya harapan.