Omong Kosong Memperjuangkan

1055 Kata
Terhitung sudah satu minggu aku dan Jujung tidak saling menyapa, apalagi berkabar melalui pesan singkat. Walau begitu, ruang obrolanku dengan Jujung masih setia berada di urutan paling atas ketika aplikasi chatting di ponselku kalian buka. Aku masih enggan meng-unpinned ruang obrolan Jujung. Tidak ada rasa keberatan sama sekali, tetapi juga tidak ada niatan. Biarkan lah saja. Selama tidak menggangguku, aku tidak akan merubah apapun. Foto-fotoku bersama Jujung yang mungkin jumlahnya lebih dari sepuluh ribu pun tidak aku hapus. Kubiarkan menjadi kenangan abadi di ponsel ini. Selama satu minggu ini, banyak teman-temanku yang menanyakan mengapa aku tak pernah lagi terlihat jalan dengan Jujung. Bahkan ketika aku dan Jujung ada di satu mata kuliah dengan dosen yang sama, kami juga sama sekali tidak berinteraksi. Peranku seperti diambil alih oleh Della. Oiya, jangan lupakan jika selama satu minggu ini hubunganku dengan Della juga semakin merenggang. Kami juga tak banyak bicara, hanya seperlunya saja seperti ketika mengurus urusan kelas. Jika biasanya aku dan Jujung bergandengan tangan, berjalan bersama untuk pergi ke kantin FKIP, kali ini tidak pernah lagi. Aku sendiri juga jadi jarang pergi ke kantin yang paling murah meriah itu. Karena memang hanya Jujung yang sering mengajakku ke sana, sementara teman-temanku yang lain memilih tetap makan siang di kantin fakultas kami sekalipun harganya yang lebih mahal. Aku hanya bisa mengembuskan napas sesamar mungkin ketika melihat Jujung sedang bersama dengan Della. Napasku kuatur sedemikian rupa untuk menahan rasa sesak yang masih saja terasa. Bahkan tak jarang teman-temanku bertanya mengapa Jujung lebih banyak bergaul dengan Della dari pada aku. Sampai detik ini aku tidak pernah menjelaskan. Aku juga tidak pernah mengatakan pada mereka semua jika aku telah putus dengan laki-laki itu. Biarkan saja mereka menebak-nebak bagaimana hubungan kami, yang sesungguhnya dapat dengan mudah ditebak bahwa kami telah putus. "Gue sih bisa nebak kalau lo udah putus sama Juwana. Tapi emang kenapa sih? Kenapa kalian bisa putus gitu loh? Padahal biasanya kalian berdua itu jadi pasangan paling romantis. Sekali pun kami satu kelas sering ceng-cengin lo buat putus sama Jujung, tapi itu bercandaan doang. Gue kira sih kalian berdua emang bakal ditakdirin buat berjodoh." Kalimat yang cukup menohok itu bersumber dari mulut Amelia. Dia salah satu teman baikku. Teman baik Della juga. Intinya dia teman baik siapa pun karena bisa berkawan dengan siapa saja. Sehingga dirinya merasa akrab denganku, sampai sama sekali tak ada rasa sungkan mengungkapkan kalimat tersebut. Kami sedang duduk di kantin. Sementara jauh di sana ada Jujung dan Della yang sedang makan bersama. Aku tak mau menatap mereka berdua, tetapi perkataan Amelia membuatku kembali menatap dua orang yang pernah sangat dekat denganku. Amelia mulai mendekatkan wajahnya padaku. Ia juga menggeserkan tubuhnya. Jika sudah seperti ini, gelagatnya sangat terlihat sekali jika dirinya akan mulai berghibah ria alias mulai membicarakan orang. Amelia pun melirikku. "Apa jangan-jangan lo ditikung sama teman dekat lo sendiri ya si Della?" tanyanya. Padahal, pertanyaan itu tidak sekali dua kali dilontarkan Amelia atau bahkan teman lainnya. Tetapi, aku tetap diam tak mau menjawab. Paling-paling hanya mengembuskan napas lelah. Amelia ikut-ikutan mengembuskan napas, sembari menatapku dengan lelah juga. Sepertinya ia benar-benar ingin tahu semuanya tentang hubunganku dengan Jujung dan Della, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak masalah dengan sikap Amelia yang seperti itu, ya karena aku pikir sikap kepo alias ingin tahu adalah manusiawi. Apalagi Amelia cukup akrab denganku. Tapi maaf ya, Amelia, aku masih enggan bercerita apapun dan kepada siapapun. Biar lah kalian menebak-nebak sampai bosan. Yang tadinya sangat kepo, kali ini Amelia tersenyum menatapku. "Tika, lo jangan ambil hati ya kalau selama ini kami yang khususnya gue suka cengin lo buat putus sama Juwana," katanya dengan berakhir meringis, menunjukkan senyum ya yang manis. Aku hanya menanggapi dengan datar. "Ya mau gimana lagi, orang udah kejadian. Ngapain sakit hati? Cari penyakit aja," kataku dengan kalimat yang cukup menohok, yang membuat Amelia langsung mengerucutkan bibirnya. Tidak apa jika memang Amelia merasa bersalah. Malah akan semakin bagus karena tidap setiap ucapan itu bisa diterima oleh orang. Apalagi aku meyakini jika setiap ucapan adalah doa, dan pada akhirnya doa mereka terkabul dengan putusnya hubunganku dengan Jujung. Harusnya mereka merasa puas karena semuanya sudah terjadi, bukan malah sok merasa bersalah seperti ini. Ah lagi-lagi aku harus mewajarkan semuanya karena mereka semua memang manusia. Menyebalkan, tetapi tetap aku jalani. "Tapi lo bakal diem aja gitu si Della dekat-dekat sama Juwana?" Bukannya diam, Amelia malah bertanya seperti itu. Yang pasti aku tidak ingin diam saja. Andai Amelia tahu alasanku dan Jujung putus, ia akan mengerti mengapa diriku hanya diam saja sampai saat ini. Aku pun menggeleng. "Biarin aja sih," kataku dengan sedikit cuek. Di meja kami tidak ada makanan, yang pasti tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengalihkan perhatian. Amelia kembali berbisik tepat di sebelah telingaku. "Lo nggak mau perjuangin Juwana?" Kalau boleh, aku ingin meremas mulut perempuan itu. Seharusnya dia tahu jika tidak banyak yang bisa aku lakukan. Apa yang harus aku korbankan untuk memperjuangkan Jujung? Bagaimana caranya aku untuk memperjuangkan laki-laki itu, bahkan ketika Jujung sangat asyik dengan Della di sana, terlihat tak memikirkanku sama sekali dan bahkan mengirim pesan pun tidak pernah lagi. "Kalau lo cinta, lo harus perjuangin Juwana. Kalau lo cinta, tapi lo nggak perjuangin dia, sama aja cinta lo butuh dipertanyakan." Aku melirik Amelia. Yang dikatakan dirinya ada benarnya juga. Aku berpikir, apakah sudah saatnya aku harus memperjuangkan Jujung dengan mulai mengiriminya pesan terlebih dahulu? Aku bingung harus mulai dari mana. Sepertinya Amelia bisa melihat raut wajah bingungku. "Lo bisa mulai dengan nanyain langsung ke Juwana, dia masih cinta sama lo atau enggak." Alisku mengrenyit. Saran dari Amelia sangat tidak membantu. Aku tahu jika Jujung masih mencintaiku. Aku tahu kita berpisah karena perjodohan kedua orang tua Jujung dan Della. Aku juga tahu, tidak mudah untuk menentang keputusan yang sudah dibuat oleh orang tua. Sayangnya, Amelia tidak tahu itu semua. Jadi, saran yang ia berikan sama sekali tidak berguna. Aku pun menggeleng. "Nggak, Mel. Nggak guna gue nanyain itu," kataku yang pasrah dengan keadaan. Amelian terlihat kecewa. "Loh, kenapa? Lo malu sebagai cewe tapi nanya hal itu duluan? Lo penganut menunggu dari pada bertindak?" Aku menggeleng lagi. "Nggak gitu. Lo nggak tahu alasan kenapa kami putus. Jadi saran dari lo nggak bisa gue terapin," kataku, yang pada akhirnya secara langsung untuk pertama kalinya aku mengatakan sudah putus dengan Jujung, yaitu kepada Amelia. "Jadi, alasan lo putus sama Juwana itu apa?" Ah, Amelia semakin kepo saja. Menyebalkan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN