Hari Selasa mungkin akan menjadi hari terburuk dalam hidupku. Tadi, ketika satu per satu mahasiswa keluar dari kelas dan hanya menyisakkan diriku saja, tiba-tiba Jujung datang menemuiku. Hanya berdua saja di dalam kelas, tidak ada orang lain, tidak ada pantauan orang lain selain kamera pengawas yang ada di sudut ruangan.
Jujung datang dengan tampangnya yang tampan seperti biasa. Matanya tetap teduh, tetapi menyiratkan akan adanya hal buruk yang akan aku dengar dari mulut laki-laki itu.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Kami saling tatap dalam diam. Rasanya mulutku terkunci ketika melihat mata teduh itu memerah dan mulai berkaca-kaca. Perlahan, Jujung mengulurkan sebuah kertas yang sedari tadi ia pegang. Kertas itu ia berikan kepada diriku. Setelah aku menerimanya, laki-laki itu buru-buru berbalik dan pergi keluar kelas meninggalkanku. Sementara aku masih diam saja, membeku menatap surat undangan pertunangan itu.
***
Berjam-jam sudah berlalu. Aku menatap gamang pemandangan yang ada di depanku. Di sebuah sore dengan langit mendung, aku sendirian bertemankan air mata yang sebentar lagi akan mengucur.
Jauh di hadapanku, laki-laki yang biasa menjadikan jok belakang motornya sebagai singgasanaku, kini dengan senang hati mempersilakan orang lain menempatinya. Seorang perempuan yang beruntung, yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping Jujung.
Tak berapa lama, belum juga langit menjatuhkan rintikan hujannya, air mataku sudah menetes membasahi pipi ini. Tak ada alasan untuk menghapus air mata itu. Kubiarkan mengalir sepanjang ketidakpedulianku dengan sekitarku yang masih ada beberapa mahasiswa yang berlalu lala. Masa bodoh dengan mereka yang melirikku, menatapku dengan aneh. Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya lah perasaanku, di mana semakin kutahan air mata ini, semakin sesak rasanya.
Punggungku mulai bergetar, menandakan tangisku semakin kencang. Motor yang sangat familiar olehku itu baru saja berlalu, meninggalkan bayangan kosong di hadapanku.
Sejenak aku menutup mataku, berusaha untuk mengatur napas agar emosiku terkontrol.
Ketika aku membuka mata, telah ada satu orang yang berdiri tepat di hadapanku, menghapus segala bayangan kosong yang membuatku semerbak diterpa tinju angin semesta.
"Aku antar pulang ya?" katanya, tanpa bertanya kondisiku sekarang. Laki-laki dengan bibir tipis yang menawan, mata lebar penuh terang, satu-satunya manusia yang peduli denganku saat ini.
"Ayo, Tik," katanya lagi.
Aku tidak menolak. Kudahului langkahnya yang selanjutnya ia mensejajarkan langkahnya denganku.
Aku tidak tahu ke mana harus melangkah. Asal tetap berjalan, entah menuju ke mana aku ini. Sedari tadi Mas Tayoga juga memilih untuk diam saja. Entah apa yang sedang laki-laki itu pikirkan, entah mengapa ia tidak mengajakku berbicara, tetapi sepertinya memang pilihannya karena ia tak mau membuatku bersedih. Mungkin juga dirinya ingin aku yang bercerita terlebih dahulu, tanpa paksaan pertanyaan dari dirinya.
Setelah bermenit-menit kami berjalan tanpa tujuan di jalanan kampus, aku memutuskan untuk menghentikan langkahku. Aku menoleh pada Mas Tayoga yang balik menatapku dengan mata yang penuh tanda tanya.
"Mas, kita mau ke mana?" tanyaku selanjutnya. Jujur, perasaanku saat ini sudah jauh lebih tenang. Padahal, aku hanya berjalan tanpa tujuan dengan Mas Tayoga di sampingku, tetapi rasanya bisa sereda ini. Tak lagi uring-uringan, tak lagi merasa sesak walau perihnya masih tersisa.
Mas Tayoga terlihat berpikir beberapa saat, sampai akhirnya kalimat yang ia ucapkan adalah kalimat yang memang sering dirinya ucapkan jika sedang bersama diriku. "Makan yuk, Tik."
"Kok makan terus? Apa aku kelihatan kelaparan?" tanyaku dengan nada datar, tak tanggung-tanggung. Karena aku merasa bosan saja. Setiap kali bersama Mas Tayoga, selalu saja yang kami lakukan adalah makan, makan, dan makan. Ah, aku tidak berharap ada hal lain yang kita lakukan bersama-sama. Tetapi kalau terus-terusan mengajak makan, aku jadi tidak enak, karena Mas Tayoga yang selalu membayar. Ia tak pernah mau gantian aku traktir, katanya karena dia yang mengajak makanya dia yang bertanggung jawab untuk membayar. Satu hal yang membuat aku merasa sebal tiap laki-laki itu mengajakku makan.
"Kamu belum makan kan?" tanya Mas Tayoga, melakukan tebakan yang tidak benar. Aku sudah makan koo tadi ketika jam istirahat, walau hanya makan camilan yang ada di dalam tasku. Sebungkus kecil wafer coklat, yang sebenarnya tidak mempan untuk mengganjal rasa lapar. Tetapi, untuk makan makanan sungguhan, diri ini sudah tidak memiliki nafsu.
Aku menggeleng memberikan jawaban. "Aku udah makan." Lalu kulanjutkan dengan jawaban perkataan. Tetapi, sepertinya Mas Tayoga tidak percaya padaku.
"Yakin, udah makan?" tanyanya dengan sebelah alisnya yang diangkat, pertanda curiga dengan jawabanku.
"Enggak." Aku pun berkata seadanya. "Tapi males makan," lanjutku. Kembali kutatapn pemandangan jalanan kampus di depanku. Sepi, karena hari sudah semakin sore. Aku pun menoleh pada Mas Tayoga. "Pulang aja yuk, Mas. Udah mau hujan," kataku, yang menyadari bahwa langit semakin mendung saja.
"Kamu makan dulu, Tik."
Kuputar bola mataku, malas. Rasanya semakin menyebalkan ketika Mas Tayoga memaksaku untuk makan. Aku tahu jika itu adalah salah satu bentuk perhatian Mas Tayoga kepada diriku, tetapi jika aku memang tidak nafsu makan, aku sangat tidak suka dipaksa.
"Aku enggak mau, Mas. Belum lapar," jawabku dengan nada kesal. Tidak berniat menyakiti laki-laki itu, hanya ingin mempertegas saja.
Mas Tayoga juga banyak akalnya. Dari dulu memang dia tak pernah membiarkanku menang ketika debat soal menunda makan.
"Kamu seharian mikir pelajaran. Apa nggak kasihan otak kamu, badan kamu? Jaga kesehatan dong, Tik," katanya yang penuh nasihat. Aku pun menggeser tubuhky menjadi menghadap dirinya.
Kuberikan tatapanku yang bersungguh-sungguh, jika aku sangat baik-baik saja.
"Mas, aku nggak papa. Aku sehat kok."
"Jangan bohong."
"Emang aku kelihatan kayak orang sakit ya!"
"Tika ...." Ah, jika nadanya sudah seperti ini, aku yakin sekali berbagai nasihat akan kembali keluar dari mulut Mas Tayoga.
"Apa?" tanyaku dengan malas.
Mas Tayoga akhirnya sadar jika aku tidak ingin makan.
"Ya udah, kalo gitu aku antar pulang aja ya?"
Dia menawariku tumpangan, aku pun tidak menolaknya. Kepalaku mengangguk. "Iya."
"Tapi nanti mampir beli makan dulu," katanya selanjutnya, membuatku kembali merasa kesal.
"Kan aku lagi nggak nafsu makan, Mas!" Aku sudah mencak-mencak saja, sementara Mas Tayoga masih dengan wajahnya yang penuh kesabaran menghadapi teman rewel sepertiku.
Mas Tayoga pun mengembuskan napasnya. "Take away, Tik. Nanti kamu makan kalau udah lapar ya?" Selanjutnya ia malah tersenyum-senyum sendiri. "Paling juga aku mau pergi lima detik dari depan rumah kost kamu, kamu langsung makan saking laparnya," katanya dengan amat sangat tidak jelas, tetapi dapat aku mengerti bahwa Mas Tayoga sedang menyindirku.
Aku berdecak kesal. "Rese banget sih!"
Tetapi, Mas Tayoga malah memilih untuk terkekeh renyah, membuatku yang kesal justru ikut tertular kekehannya.