Di hadapanku sudah ada satu kotak nasi putih dengan ayam goreng krispi. Ya betul sekali apa yang dikatakan Mas Tayoga tadi. Baru saja aku sampai di kamar, aku memutuskan untuk langsung makan saja. Suasana hatiku sudah membaik dan yang paling baik adalah memang aku langsung makan, dari pada kutunda untuk makan, bisa-bisa suasana hatiku memburuk dan nafsu makanku kembali hilang. Aku masih mencintai tubuhku dengan segenap rasa sehat yang diberika semesta. Jadi, aku tak ingin membuat diriku sendiri sakit, cukup perasaanku saja yang sakit.
Aku tidak menyempatkan diri untuk mandi atau pun berganti baju. Hanya mencuci tangan saja rasanya sudah cukup karena saat ini perutku benar-benar keroncongan minta diberi makan.
Setelahnya seperti biasanya, aku makan sambil menonton video di kanal youtube. Video random yang kebanyakan adalah video memasak yang sering aku tonton.
Aku suka makan. Apalagi makan sambil menikmati video. Jadi, aku sangat merasa enjoy sekarang.
Tetapi, setelah suapan terakhir masuk ke dalam mulut, tiba-tiba saja video yang sedang aku putar terhenti dan berganti menjadi notifikasi panggilan masuk. Panggilan masuk dari seseorang, yang membuatku hampir tersedak. Beruntung aku buru-buru ambil minum dan menegaknya, tetapi setelah itu panggilan masuk itu sudah berakhir.
Aku dibuat diam. Video tadi juga tidak kembali terputar secara otomatis, membuat kamarku menjadi sepi dan sunyi.
Pikiranku melanglang buana. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Jujung menelfonku tetapi hanya sesaat. Apakah Jujung tidak sengaja menelfonku dan langsung mematikan sambungannya ketika ia menyadarinya? Atau Jujung memang ingin menelfonku tetapi beberapa detik setelahnya ia mengurungkan niatnya? Tapi kenapa? Ada perlu apa Jujung menelfonku? Dan sekarang, apa yang harus aku lakukan? Acuh saja, atau aku harus mengirimi pesan kepada laki-laki itu?
Butuh beberapa menit untuk berpikir sambil termangu menatap layar ponselku yang sekarang telah meredup. Sampai akhirnya aku tersadar, ketika ada suara berisik yang berasal dari dapur, mungkin ada penghuni kost lain yang sedang melakukan aktivitas di dapur. Aku pun mengambil ponsel. Mengecek apakah benar-benar Jujung menelfonku, atau kah itu hanya halusinasiku saja.
Rupanya benar. Ada keterangan satu panggilan tidak terjawab dari Jujung sekitar sepuluh menit yang lalu. Berarti, sudah sepuluh menit lamanya aku hanya diam dan berpikir. Sampai sekarang, aku belum memutuskan apa yang akan aku lakukan selanjutnya.
Aku menggeleng, kembali menyadarkan diriku. Setelahnya aku memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa. Aku diamkan saja. Aku tidak mengirim pesan pada Jujung untuk bertanya mengapa laki-laki itu menelfonku. Jika memang ada yang diperlukannya, mungkin Jujung akan menelfonku lagi. Ah, sebenarnya itu hanya lah harapanku.
Selesai berberes dan mandi, matahari masih nampak walau tak ada sinarnya. Mendung juga masih bergelayut di angkasa. Entah kapan akan terjadi hujan, yang pasti aku selalu percaya dengan sebuah pepatah yang mengatakan bahwa mendung tak berarti hujan. Tetapi, untuk saat ini aku berharap hari akan hujan. Sepertinya akan terasa syahdu jika sore-sorenya begini hujan. Aku ingin minum coklat panas dan membaca novel yang belum kulanjutkan, atau sekadar menggambar yang merupakan kegemaranku di waktu luang.
Tetapi hujan tak kunjung datang dan ponselku malah berdering cukup panjang. Aku kira ada panggilan masuk dari Jujung, ternyata bukan. Ada satu panggilan dari Amelia. Tumben sekali temanku itu menelfon, biasanya cukup mengirim pesan saja jika sedang memerlukan bantuanku.
Tidak butuh waktu lama, aku menggeser tombol hijau dan suara daru seberang sana berhasil aku dengar.
"Tika, lo harus percaya sama gue," katanya dengan nada yang serius. Sepertinya ada sesuatu hal yang cukup penting yang ada hubungannya dengan diriku yang ingin dikatakan Amelia.
"Apa? Ada apa?" tanyaku, dengan nada yang biasa-biasa saja. Mendengar Amelia dengan nada seperti itu sudah bisa aku tebak jika pembahasannya tidak jauh-jauh dari membicarakan orang lain. Yah, walau sebenarnya kami belum pernah berghibah ria lewat sambungan telepon.
Terdengar suara napas yang diembuskan. "Gue lihat Juwana jalan sama Della di mall!" katanya lagi, membuatku terdiam. Bukan. Aku bukan terkejut karena sudah seharusnya hal tersebut tidak perlu dikejutkan lagi, toh aku juga sudah mendapat undangan pertunangan Jujung dan Della. Walau belum aku ketahui kapan tepatnya mereka akan bertunangan, karena undangan itu keburu aku buang di tong sampah depan rumah kost.
"Kok lo diem aja sih? Lo nggak curiga ya sama mereka? Lo jangan diem aja dong, Tik!" Kini Amelian malah terdengar mencak-mencak. Aku dibuat mengembuskan napas sembari memutar bola mata dengan malas pertanda aku sudah lelah dengan semua ini. Toh, tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Amelia pun juga sudah tahu jika aku dan Jujung telah putus.
"Tik!"
"Hm?"
Aku hanya berdeham. Sepertinya di seberang sana Amelia menjadi sangat gemas karena tanggapanku yang apa adanya.
"Tik. Bergerak dong. Kasih tanggapan apa kek. Jangan diem aja! Kalo lo suruh gue ngelabrak Della sama Juwana, gue bisa kok walau sekarang gue sendirian. Gue tahu perasaan lo, Tik. Gue juga perempuan dan paham!"
Aku sedikit tersenyum mendengar ocehan Amelia. Tetapi, untuk saat ini memang benar-benar tidak ada yang perlu aku lakukan, apalagi Amelia.
"Nggak usah lah, Mel. Kita semua kan teman, nggak perlu sampai ngelabrak kayak gitu. Nanti bisa-bisa pertemanan lo sama Della jadi rusak," kataku yang memberikan saran.
Jawaban Amelia yang langsung terdengar itu membuatku perlu menjauhkan sedikit ponselku dari telinga.
"Gue enggak peduli, Tik. Gue bahkan nggak butuh punya teman kayak Della. Teman kok nikung teman sendiri. Ya udah, tabrak aja kali."
Aku sudah lelah membahasa ini. "Kalau kata gue sih jangan. Lo nggak tahu alasannya. Yang lo tahu cuma Della dekat sama Jujung. Bahkan kalau lo ngeh, sebelum gue putus sama Jujung, Della juga selalu dekat sama dia."
"Ya itu berarti emang dari dulu Della suka sama Juwana dan mau nyingkirin lo, Tik. Sekarang Della udah berhasil. Masa lo nyerah aja sih?"
"Udah lah, Mel. Gue terima kasih banget kalo lo peduli sama gue, tapi saran gue jangan terlaku ikut campur ya. Takutnya malah ngerugiin lo sendiri. Ya udah ya, Mel. Gue mau beberes kamar nih. See ya!"
Tanpa menunggu jawaban dari Amelia, panggilan telepon itu langsung aku putus. Selanjutnya diriku hanya bisa duduk di tepi ranjang menghadap jendela. Dengan gerimis yang mulai turun, aku tidak mau membohongi diriku sendiri jika saat ini aku jadi memikirkan Jujung. Padahal, belum ada satu jam yang lalu Jujung menelfonku. Tetapi, baru saja aku malah mendapat laporan dari Amelia bahwa laki-laki itu sedang berada di pusat perbelanjaan bersama dengan Della. Pasti Jujung dan Della sedang jalan bersam, tertawa bersama, belanja, makan, atau nonton film bersama. Sebuah aktivitas yang dulunya sering kami lakukan berdua bahkan bertiga juga bersama dengan Della. Tetapi, sekarang malah hanya Della yang melakukan semua itu dengan Jujung. Seharusnya aku, tetapi memang semesta sedang tidak mengizinkanku.