Diyakinkan Keraguan

1037 Kata
Amelia datang menghampiriku dengan heboh. Padahal sedari tadi aku hanya duduk manis di selasar perpustakaan sembari mengecek tugas-tugas dari dosen yang harus aku kumpulkan beberapa jam lagi. Amelia duduk di sampingku, menatapku dengan tatapan penuh kasihan pada diri ini. Padahal sedari tadi aku tidak merasakan apa-apa. Jelas aku merasa bingung. Satu alisku terangkat, sementara Amelia tak kunjung memberitahuku ada apa sebenarnya ia sampai sebegini hebohnya. Tiba-tiba saja Amelia memelukku. Aku bingung harus membalas pelukan itu atau tidak. Namun, tidak berapa lama akhirnya perempuan itu melepaskan pelukannya, kemudian kembali menatapku dengan tatapan yang memprihatinkan. "Tika, lo harus sabar ya," katanya. Wajahnya mendung, matanya memerah, bahkan Amelia terlihat sangat ingin menangis. "Lah, kenapa? Ada apa sih? Ngomong yang jelas dong, Mel," kataku menanggapi dengan nada yang agak tinggi tapi tetap pelan. Amelia menyeka air matanya, yang sudah sejak kapan mengalir. "Kok lo nangis?" tanyaku. Kekhawatiranku mulai muncul. Bagaimana pun Amelia adalah temanku dan sebelumnya aku belum pernah melihat perempuan itu menangis. Jadi, wajar saja kalau saat ini aku merasa khawatir padanya yang tiba-tiba menangis tanpa sebab yang belum aku ketahui. Ditambah menangis di hadapan ku, padahal seingatku kami tidak pernah ada masalah dan setahuku juga Amelia bukan orang yang penuh dengan masalah hingga membuatnya menangis. "Amelia, cerita sama gue lo kenapa?" Amelia menggeleng. "Lo, Tik. Gue kasihan sama lo," katanya, membuatku semakim mengrenyit kan kedua alisku. "Kok kasihan sama gue? Kenapa deh?" tanyaku, sedikit merasa tidak terima karena Amelia yang kasihan pada diriku. Ya, dalam keadaan apapun aku tidak suka dikasihani. "Tadi gue dapat undangan," katanya yang hanya sepatah. Aku langsung bisa mengerti dengan maksud Amelia. Kini yang bisa aku lakukan hanya tersenyum singkat, lalu kembali pada tugas-tugas ku yang harus segera kuselesaikan. "Tik?" Aku tidak menggubris Amelia. Aku harus fokus, walau sebenarnya aku sangat tidak bisa untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Jujung dan Della, juga dengan pertunangan mereka. Ahhhh, itu sangat menyebalkan, kembali terkurung dalam pikiran. Cepat-cepat aku mengemasi barangku. Amelia yang melihatku begitu terburu-buru menjadi bingung. "Kok buru-buru banget? Lo mau ke mana?" tanyanya, tetapi diriku masih fokus mengemasi barang. "Tika!" Aku berdiri, diikuti oleh Amelia. "Lo mau ke mana?" Sebenarnya, ditanya seperti itu membuatku cukup bingung. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku mengemasi barangku dan ingin pergi dari sini. Pikiranku kembali kacau karena kabar pertunangan itu yang terdengar lagi. "Ngggg, gue ada urusan," kataku yang hendak pergi, tetapi tanganku ditahan oleh Amelia. "Kemana? Satu jam lagi kelas, Tik." Yap, betul. Satu jam lagi kelas dimulai dan tugas-tugasku masih belum selesai aku rapikan. Tetapi, pikiranku malah kacau seperti ini. Aku pun mengembuskan napas panjang. Kembali duduk di atas bangku dan Amelia juga ikut kembali duduk. Perempuan itu mengusap pundakku, berusaha mentransfer energi yang ia miliki tetapi tetap saja aku sudah tidak bersemangat. "Tika ...." "Kok Jujung jahat banget ya sama gue. Padahal kita pacaran dari zaman mahasiswa baru, tapi tiba-tiba minta putus dan kemarin ngasih undangan pertunangannya sama Della." Aku tidak bisa menahan lagi. Kukeluar kan saja apa yang ingin aku katakan. Toh semakin ke sini, aku dan Amelia semakin dekat saja. "Lo yang sabar ya, Tik." Memang selain sabar, aku bisa apa? Berdemo supaya pertunangan itu dibatalkan? Tidak mungkin kan? "Tapi ya, kenapa deh kok tiba-tiba banget Juwana mau tunangan sama Della. Kok bisa?" tanya Amelia yang terlihat bingung, yang sebenarnya aku juga bingung. Walau aku tahu mereka dijodohkan, tetapi aku tetap bingung saja mengapa secepat ini dan di saat Jujung adalah kekasihku. Mengapa Jujung tidak memutuskanku berbulan-bulan lama sebelum dia akan bertunangan dengan Della? Aku hanya menggeleng. Pasrah dengan keadaan. Bagaimana pun aku berusaha, yang paling tepat adalah berusaha untuk mengikhlaskan Jujung bertunangan bahkan menikah dengan Della. "Terus, rencana lo selanjutnya apa?" tanya Amelia. Apa? Aku tidak tahu. "Ya pasrah," jawabku dengan singkat. "Nggak mau berjuang dulu?" Aku menatap Amelia dengan tatapan tidak percaya. "Lo yakin nyuruh gue berjuang?" Aku bertanya balik. Amelia mengangguk. "Iya. Lo bisa berjuang." "Kalau Della yang nikung gue, bisa aja gue berjuang. Tetapi yang nikung gue itu restu kedua orang tua mereka. Gue nggak bisa melawan orang tua." Akhirnya Amelia sadar juga apa yang menjadi permasalahanku. "Gue kalo jadi lo, juga bakal susah sih berjuang," katanya dengan kesadarannya. "Tapi lo pernah mikir nggak sih? Kenapa Juwana baru mutusin lo beberapa hari sebelum undangan pertunangan ini ada?" tanyanya lagi, yang sebenarnya juga menjadi pertanyaanku. Aku pun menggeleng. "Lo nggak pernah tanya sama Jujung, kenapa secepat itu mereka tunangan. Dijodohin ya?" Tebakan Amelia memang benar. Aku pun mengangguk, sudah tidak mau menutupi ini semua. Biarkan Amelia tahu, karena cepat atau lambat bukan hanya Amelia yang tahu, tapi teman-teman kami yang lain yang mengenal aku Jujung, dan Della pun bakal tahu semuanya. "Susah sih, Tik, kalau urusannya dijodohin. Tapi seriusan mereka dijodohin?" Aku mengangguk lagi. "Iya. Ngapain gue bohong. Nggak ada untungnya juga," kataku, dengan nada yang mulai ketus karena aku cukup lelah setiap membahas Jujung dan Della. "Lo nggak curiga gitu?" "Curiga apa?" Amelia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Selanjutnya wajahnya mendekat padaku dan berbisik. Jika sudah seperti ini, sepertinya perkataan yang akan muncul dari mulut Amelia akan sedikit terdengar sensitif. "Lo nggak curiga gitu kalau sebenarnya Della udah nananinu sama Juwana?" tanyanya dengan suara yang sangat pelan, tetapi jelas terdengar dan aku langsung paham maksudnya apa. Kedua mataku melebar. Aku langsung memukul pipi perempuan itu. Walau tidak kasar, berhasil membuat mereka mengaduh. "Aduhhh. Sakit!" "Kalau ngomong jangan sekata-kata dong lo! Gue yakin banget Jujung nggak seperti itu, Mel!" Aku memarahinya. Kesal sekali ketika Jujung dituduh berbuat yang macam-macam seperti itu kepada Della. Amelia, kamu jahat. "Kalau Della?" Aku tertegun mendengar ucapan Amelia. Entah karena aku yang masih kesal dengan Della atau bagaimana, rasanya aku tidak emosi ketika Amelia berkata seperti itu. Berbeda dengan tanggapanku mengenai Jujung. Aku melirik Amelia. "Maksud lo, Della duluan? Bukan sama Jujung, tapi orang lain?" Entah mengapa pikiranku menjadi sangat buruk kepada Della. Ditambah anggukan dari Amelia, membuat diriku semakin yakin dengan pikiranku itu. "Terus Jujung?" tanyaku. "Bisa jadi, ini akal-akalan Della biar semuanya tertutupi dengan dia tunangan sama Juwana. Gue yakin, nggak lama mereka bakal nikah juga." Aku terdiam. Terpaku. Kaku. Napasku hampir tercekat membayangkan itu semua. Kejam sekali jika memang seperti itu. Bukan hanya pada Jujung, tetapi padaku juga. Lalu, apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Della. Ya, aku harus buat perhitungan pada perempuan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN