Kalau diingat-ingat selama dua tahun aku menjadi kekasih Jujung, kami tidak pernah sekalipun bertengkar. Paling-paling hanya ribut kecil beberapa jam lalu berbaikan lagi. Kata teman-teman, kami itu sudah sangat menjadi b***k cinta dan tidak bisa naik derajat menjadi raja atau ratu. Kami saling mencintai, saling sayang, saling percaya, dan saling segala-galanya.
Okai. Ini memang terdengar lebay. Tapi sungguh, kisah cintaku dengan Jujung memang selebay itu. Maksudku, kita terlalu lebay dalam hal mencintai. Hihihi.
Mungkin aku harus menceritakan sedikit bagaimana pertemuanku dengan Jujung.
Saat itu kami masih maba alias mahasiswa baru. Musim dingin tahun 2018, bulan Juli. Kenapa kusebut musim dingin, padahal sebenarnya adalah musim pancaroba. Di Kota Malang, sekitar bulan Juli dan Agustus memang terasa lebih dingin. Pertama kali kuinjakkan kakiku di lantai guesthouse, rasanya seperti menginjak es batu. Apalagi saat mencuci muka, wajahku langsung semriwing dan terasa membeku.
Juli itu aku dan maba lainnya diharuskan untuk datang ke Graha Matahaya untuk daftar ulang dan mengambil jas almamater. Aku memang berangkat dari Surabaya ke Malang bersama kakakku, tetapi aku berangkat daftar ulang hanya sendirian.
Singkatnya, aku terlebih dahulu mengenal Della dari grup ilegal yang kami buat. Semua orang tahu, jika mahasiswa baru Universitas Matahaya sangat dilarang untuk masuk grup ilegal, padahal tidak ada grup legal. Aku tidak tahu alasannya, tetapi aku tetap masuk grup tersebut yang kuperoleh dari seorang yang kutemukan di kolom komentar media sosial milik Universitas Matahaya. Orang itu adalah Della. Dengan kata lain, Della adalah pemilik grup ilegal tersebut.
Walau berasal dari Surabaya, tetapi aku sama sekali tidak mempunyai kenalan yang tinggal di Malang. Alhasil beberapa kali aku mengobrol dengan Della melalui grup dan terkadang pesan pribadi. Sampai akhirnya kami dipertemukan di acara daftar ulang mahasiswa baru, yang kebetulan saat itu Della sedang bersama dengan Jujung.
Iya. Aku tahu. Della terlebih dahulu mengenal Jujung daripada diriku. Tetapi hal itu bukan sebagai penanda bahwa Della menyukai Jujung dan atau Jujung harus menjadi milik Della, bukan? Karena pada akhirnya setelah aku berkenalan dengan Della dan Jujung, Jujung lebih sering dekat denganku walau aku dan Della juga sama-sama dekat.
Tidak perlu waktu lama. Kami terus bertukar kontak, berkirim pesan hingga satu bulan menuju ospek. Aku tidak tahu darimana perasaanku muncul. Yang jelas, saat itu sedang upacara tujuh belas Agustus di stadion Universitas Matahaya. Setelah semuanya selesai, tiba-tiba saja Jujung berkata bahwa dia memiliki perasaan padaku. Aku memang cukup terkejut karena secepat itu seseorang bisa menyukaiku. Jujur, aku jomlo sejak lahir sebelum akhirnya aku menjadi kekasih Jujung.
Akhirnya kami jadian di hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. So sweet, bukan?
Awalnya memang Jujung hanya mengutarakan perasaannya tanpa mengajakku berpacaran. Kami juga tidak pernah meresmikan kapan hari jadian itu. Hanya saja secara spontan, Jujung dan aku mengakui bahwa kami adalah sepasang kekasih sampai detik ini.
Aku masih memandangi wajah laki-laki yang dengan tenang sedang mengerjakan sesuatu di atas laptop. Tangannya aktif berlarian menekan tombol keyboard dan sesekali terhenti saat sebuah ide terlintas di otaknya.
Kami memang sering mengerjakan tugas bersama. Walau dengan tugas yang berbeda, kami bisa mengkondisikan satu sama lain. Tidak jarang aku dan Jujung saling bertanya dan bertukar isi kepala, meskipun waktu yang kami gunakan untuk mengerjakan satu tugas bisa berlipat ganda karena candaan di tengah keseriusan.
Jujung menghentikan aktivitas mengetiknya. Perhatiannya beralih padaku yang sedari tadi hanya meletakkan kepala di atas meja dan memandangi dirinya. Jujung tersenyum. Ia mengacak puncak rambutku secara perlahan yang selalu berhasil membuatku merasa nyaman.
"Udah selesai tugasnya?" ucapnya menyadarkanku saat mataku terpejam karena nyaman.
"Udah, dongggggggggg!" jawabku dengan nada mengejek. Praktis saja laki-laki yang menurutku sangat manis itu kembali mengacak rambutku.
"Jujung!" Aku memekik karena kurasakan rambutku yang sudah berantakan, sedangkan Jujung malah terbahak di sana saat kupasang wajah sebal.
"Jangan manyun. Jelek!"
Bukannya berganti ekspresi, tanpa komando dari otakku, mulutku malah lebih manyun lagi. Alisku berkerut dan napasku terengah-engah. Kutatap tajam pada Jujung yang sudah kembali sibuk dengan laptopnya.
"Nanti beli Thai Tea, yuk!"
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jujung membuat rasa sebalku hilang. Bagaimana tidak. Thai Tea adalah minuman favoritku sejak SMA. Hampir setiap hari aku membeli Thai Tea. Apalagi saat aku pindah ke kota ini, Original Thai Tea by Thaeyong adalah favoritku, bahkan aku sampai meminta kontak Mas Taeyoga si penjual Thai Tea tersebut karena beberapa kali kedai tersebut tutup saat kudatangi. Namun ketika aku mengenal Jujung dan sampai menjadi kekasihnya, laki-laki itu selalu saja mengomel ketika tahu kalau aku sedang meminum Thai Tea.
"Thai Tea by Thaeyoga?" ucapku penuh antusias.
Jujung menggeleng. Seketika wajahku menurun.
"Aku pengenya Thai Tea by Taheyoga." Aku memelas. Semoga saja Jujung mengizinkanku membeli minuman manis tersebut.
"Kenapa harus di sana? Yang lain aja."
"Yang lain nggak manis. Di sana itu yang paling manis." Aku mulai merengek, memaksa.
Selama ini Jujung selalu melarangku minum Thai Tea bukan tanpa alasan. Kata laki-laki itu, masih banyak minuman lainnya yang lebih sehat dan murah di kantong, mengingat harga Thai Tea by Thaeyoga hampir lima digit nol untuk satu gelas cupnya. Ditambah s**u kental manis dan gula yang dipakai, membuat Jujung langsung mual ketika melihat betapa banyaknya bahan manis yang sangat tidak sehat jika dikonsumsi terlalu sering.
Aku bergeser menjauh dari Jujung. Ngambek ceritanya. Kulipat kedua tanganku di depan d**a dan kupasang wajah sedatar mungkin.
Tidak butuh waktu lama untuk Jujung memahami bahwa aku sedang ngambek. Ia menghentikan aktivitasnya, lalu menggeser duduknya menjadi menghadapku.
"Kamu suka Thai Tea by Thaeyoga, apa Mas Thaeyoga?"
Tanganku menurun. Leherku berputar tiga puluh lima derajat hingga menatap Jujung. Sebelah alisku terangkat, tidak percaya dengan apa yang ditanyakan Jujung.
Jujung menatapku lamat-lamat namun nampak tenang. Di matanya, seperti ada isyarat bahwa ia sedang menunggu jawaban dan ia ingin mendapatkan sebuah kejujuran.
Kupejamkan mataku sejenak. Melihat manik Jujung yang berbicara seperti itu membuatku sangat lelah. Aku tidak tahu kenapa, sepertinya hari ini memang melelahkan.
"Jujung cemburu, ya?" ucapku dengan menggoda. Aku tidak mungkin membalas pertanyaan Jujung dengan nada serius atau sok bodoh, karena lebih baik aku melancarkan candaan daripada hubungan kami kembali renggang.
Jujung masih diam menatapku. Bahkan saat kutoel pipinya yang mulus, ia sama sekali tidak berkutik.
"Jujung ... Jujung ganteng, kamu cemburu?" godaku lagi.
"Nanti aku aja yang beli ke sana. Kamu tunggu di kost." Ia kembali pada posisinya di depan laptop setelah mengatakan hal tersebut.
Aku memilih mengangguk dan mengiyakan saja. Daripada aku terus melanjutkan godaanku, bisa jadi Jujung akan marah karena saat ini ia sangat terlihat serius.
Jujur, aku masih merasa tidak nyaman sejak Della bilang kalau dirinya suka dengan Jujung, walaupun itu semua hanya prank, katanya. Seperti ada sesuatu yang menahan diriku untuk berbucin ria macam biasanya kepada Jujung.
Aku memilih meletakkan kepala di atas meja dan menyumpal telingaku dengan earphone sembari menunggu Jujung menyelesaikan tugasnya. Sebuah lagu mengalun dengan lirik berbahasa Korea yang menyambar pikiranku. Aku memang tidak bisa berbahasa Korea. Tetapi aku cukup memiliki inisiatif untuk selalu mempelajari makna lagu-lagu yang akan kudengarkan.
Aku jadi membayangkan jika di masa depan ternyata aku dan Jujung tidak ditakdirkan untuk bersama. Diiringi lagu tersebut, pikiranku membawa diriku ke imajinasi perpisahan yang menyakitkan.
Tidak terasa mataku mulai berat. Sesuatu menggenang di sana, membuat pandanganku pada laki-laki itu mengabur. Ketika kututup mataku, ternyata cairan bening mengalir jatuh ke pipi. Kuusap perlahan cairan yang terasa asin tersebut, berjaga-jaga agar Jujung tidak menyadari bahwa air mataku lolos hanya karena memikirkan hubungan kami yang terasa merenggang ditambah lagu ballad yang mengalir melalui kabel earphone.
Jujung membanting tubuhnya pada punggung kursi. Ia tidak menatapku, melainkan masih menatap pada layar laptopnya. Kali ini ia benar-benar terlihat sedang serius, sampai-sampai ia tidak menyadari jika mata dan hidungku mungkin sudah memerah.
Aku tidak berniat mengganggu Jujung. Aku diam saja tanpa kata-kata, menunggu Jujung yang mengajakku berbicara.
~•0•~
"Jujung, kenapa diam?" tanyaku tidak tahan dengan Jujung yang masih saja diam padahal kita sudah berjalan menuju parkiran.
Kami berjalan bersebelahan. Tanpa berbicara dan tanpa bergandengan tangan seperti biasanya. Udara yang tadinya panas menyengat, kini berubah mendung dengan awan putih yang bertengger di angkasa.
Dan sekarang apa lagi. Tiba-tiba saja Jujung berhenti. Ia juga menarik tanganku untuk menghentikan langkahku. Aku tidak berbalik. Aku takut jika sesuatu yang buruk akan dikatakan Jujung padaku. Aku hanya diam sambil terus menatap ke depan dengan hati yang bergetar.
"Titik," ucap Jujung pelan di balik penggungku. Ia kembali menarik tanganku hingga aku berhasil menghadapnya.
Kulihat wajah laki-laki itu yang kini malah tersenyum. Perasaanku yang tadinya was-was dan bergetar, kini mulai hangat dan tenang.
"Kita kan nggak parkir di sini," ucapnya kemudian yang langsung membuatku tergelak.
Spontan saja aku memukul bahu Jujung. "Kenapa kita nggak fokus gini, sih?" Aku terbahak. Diikuti Jujung yang juga tertawa tidak percaya dengan keadaan saat ini.
Saat ini kami ada di parkiran FEB. Padahal tadi pagi kami parkir di parkiran FRSD, salah satu alasan kenapa kami terlambat masuk kelas.
"Udah jalan jauh-jauh dari perpus ke parkiran, eh ternyata kita parkir di FRSD."
"Maafin aku yang banyak diam, ya." Ucapan Jujung menghentikan langkah kami. Senyumku yang merekah akibat tawa tadi sekarang mulai menurun. Kutatap manik milik Jujung dan bisa kurasakan bahwa saat ini laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu nggak fokus karena mikir tugas, ya?" tanyaku. Kuharap Jujung memberiku jawaban jujur.
Jujung mengangguk. Ia mengulum bibirnya sesaat, lalu kami kembali melangkah menuju parkiran FRSD.
Dalam perjalanan mengantarku pulang ke kost, kami juga tidak banyak bicara. Suasana terasa sangat sepi padahal jalanan menuju kost cukup ramai. Entah kenapa kali ini aku sedikit memundurkan dudukku di jok belakang motor Jujung. Alhasil aku tidak bisa melihat pantulan wajah laki-laki itu dari kaca spion.
Saat kami melewati kedai Thai Tea by Thaeyoga, aku ingin sekali menagih ucapan Jujung yang katanya bersedia untuk membelikanku minuman manis tersebut. Tetapi karena keadaan saat ini yang cukup canggung, aku memutuskan untuk mengurungkan niatku.
Kami sudah sampai di depan g**g. Kami berdua turun dari motor. Kulepas helmku dan kuberikan pada Jujung. Setelah itu, ia membuka jok motornya dan memasukkan helm yang tadi kupakai ke dalam bagasi.
"Nanti malam jadi ngerjain tugas?" ucapku sembari merapikan helaian rambutuku yang berantakan.
"Nggak jadi dulu."
Hah! Nadanya kenapa datar sekali?
"Ah, i-ya. Nggak papa," jawabku sedikit terbata. Mendengar jawaban singkat dari mulut Jujung sangat sukses membuat jantungku mencelus. Rasanya sedikit sakit saat laki-laki yang biasanya selalu bersikap manis, tiba-tiba saja berubah dingin tanpa kutahu alasan yang pasti.
Jujung sudah duduk di atas motornya. Ia membuka kaca helm yang tiba-tiba turun. Ia menoleh menatapku. "Kamu masuk aja. Lima belas menit lagi aku bawain Thai Tea yang aku janjiin."
Belum juga aku mengangguk, tanpa pamit dan tanpa aba-aba, sekonyong-konyong laki-laki itu melajukan motornya.
Aku terlalu menjadi b***k cinta seorang Jujung. Laki-laki tampan dengan aura manis dan lembut itu sangat b******k sekali. Ia adalah satu-satunya laki-laki yang berhasil membuatku tidak jomlo setelah delapan belas tahun. Laki-laki itu juga yang berhasil membuat hariku lebih berwarna dengan perasaan berbunga setiap kali kulihat wajahnya.
Aku masuk ke dalam rumah kost dengan langkah gontai. Rasanya sisa semangatku hari ini telah habis karena perasaan yang berkecamuk mengenai hubunganku dengan Jujung.
"Yang berangkatnya semangat banget, kok pulangnya loyo?" ucap Mita yang ternyata sedang ada di ruang tamu dengan beberapa tumpuk buku dan camilan yang berserakan.
Jika biasanya saat melihat buku dan camilan bercampur berserakan, aku akan langsung mengomel dan membuat siapapun yang mendengar omelanku akan memutar bola mata. Tetapi untuk saat ini, aku tidak mau peduli. Aku langsung menuju kamarku tanpa menaanggapi ucapan Mita.
Baru saja kutemukan kunci pintu kamar yang terselip diantara buku-buku di dalam tas, ponselku berdering beberapa kali yang mengisyaratkan ada lebih dari satu pesan yang kuterima.
Kuurungkan niatku membuka pintu kamar. Aku berbalik memilih duduk di kursi panjang yang ada di depan kamarku.
Ada tiga pesan dari seseorang yang sontak membuatku melongo.
Mas Taeyoga Thai Tea:
Risha.
Jungwoo barusan beli Thai Tea. Dia sama cewek, pakai masker. Kirain kamu, tapi kok nggak nyapa aku. Ternyata emang bukan kamu.
Kamu udah putus sama pacar kamu?
15.36