Malam ini aku memaksa untuk datang ke rumah Jujung setelah siang tadi aku tidak mau menumui laki-laki itu saat dirinya kembali ke kostku untuk mengantar Thai Tea, dengan hasil Mita lah yang kusuruh untuk menerima Thai Tea dari Jujung dan ia pula yang meminumnya.
Aku sudah duduk di kursi yang ada di teras rumah Jujung. Lokasinya tidak jauh dari kampus, hanya sekitar tiga puluh menit tanpa macet, yah walaupun bagiku itu bisa terbilang lumayan jauh. Sebenarnya Jujung menolak saat kuberitahu kalau diriku akan pergi ke rumahnya. Tetapi, ia tetap saja tidak bisa menolak. Karena saat kuberi kabar, aku sudah ada di depan komplek perumahannya. Begitu lah salah satu cara agar aku tidak mendapat penolakan, yaitu memberi tahu ketika aku sudah melakukannya, hehe.
Tidak perlu waktu lama untuk menunggu, Jujung muncul di balik pintu dengan setelan santai. Laki-laki itu memakai kaos putih polos dengan celana biru berlogo Chelsea. Rambutnya tidak tertata, terlihat berantakan ala kadarnya seperti orang yang memang hanya ingin bersantai di rumah saja, dan bibirnya merona. Serta napasnya yang terdengar kasar membuktikan bahwa laki-laki itu sedang kepedasan.
"Makan apa, sih?" tanyaku menahan tawa melihat ekspresi Jujung.
Tidak menjawab pertanyaanku, Jujung malah ngacir masuk ke dalam. Aku hanya bisa memandangnya heran sampai tubuhnya lenyap di balik pintu. Kemudian, Jujung muncul lagi dengan botol air mineral dingin. Ia menegaknya sampai habis hingga muncrat kemana-mana.
"Jujung minumnya bar-bar!" ucapku dengan kekehan. Bar-bar begitu, Jujung tetap terlihat lucu saat kepedasan. Sudah tahu tidak terlalu tahan dengan rasa pedas, tetapi Jujung selalu memaksa untuk makan makanan pedas. Katanya sih enak, tetapi tetap saja lidahnya tidak kuat walau masih aman saja di pencernaan.
Aku sudah tertawa di sana. Kuambil tisu dari dalam tas, dan dengan spontan tanganku mengusap bibir Jujung yang masih merona.
Tingkah Jujung yang kepedasan mendadak tenang. Ia lalu memegang tanganku yang berada di bibirnya. Ia menatapku. Saat kubalas tatapan itu, perlahan ia menyunggingkan senyumnya, yang praktis saja membuatku ikut tersenyum.
"Kamu ada apa malam-malam kesini?" tanyanya setelah berhasil merebut tisuku. Dengan mandiri ia membersihkan sisa berlepotan di bibirnya. Masih dengan napas yang engap karena pedasnya entah makanan apa yang ia makan sampai membuatnya tersiksa seperti ini.
Aku beralih menatap jalanan. Kakiku bergoyang-goyang pertanda aku sedang berpikir untuk mencari sebuah alasan.
Suasana saat ini cukup tenang. Niatku memang untuk mempertanyakan dengan siapa Jujung datang ke kedai thai tea Mas Taeyoga, tetapi setelah sampai di sini, semua niat itu sudah sirna, bahkan aku sudah tidak terlalu memikirkannya.
"Aku tadi kan udah bilang kalau nggak jadi belajar bareng dulu," ucap Jujung sebelum kembali menegak air mineral.
"Kenapa batalin rencana belajar malam ini?" tanyaku tanpa berpikir. Seketika juga ingin sekali kupukul mulutku. Aku khawatir suasana akan kembali canggung seperti tadi siang. Ditambah nada bicaraku yang tidak terdengar menyenangkan, aku takut membuat Jujung tersindir.
Jujung meringis memperlihatkan deretan gigi putinya. "Maaf, ya-"
"Kenapa minta maaf?" tanyaku memotong perkataannya, ekspresiku memperlihatkan bahwa aku tidak suka Jujung yang mendadak minta maaf. Sekali lagi, aku tidak bisa mengontrol diriku.
"Ternyata malam ini Chelsea main jam delapan," katanya dengan polos. Ia meringis memamerkan deretan giginya. Saat ini rasa pedasnya sudah mulai berkurang.
Mendengarnya membuatku akhirnya mengelus d**a, tetapi juga merasa lega. "Ya ampun, ternyata gara-gara Chelsea? Kirain apa. Khawatir aku."
"Khawatir kenapa?"
Hah. Aku kembali merutuki diri dalam hati. Bisa-bisanya aku menunjukkan kekhawatiranku tentang nasib hubungan kami pada Jujung.
"Khawatir kamu sakit," ucapku berbohong. Walau jujur aku akan sangat khawatir jika Jujung sakit, tetapi kekhawatiranku tadi siang bukanlah tentang itu.
"Oiya, Tik."
"Apa?"
"Kamu sama siapa kesini?" tanya Jujung yang langsung mengubah arah pembicaraan.
"Sendiri," jawabkku dengan santai, memang tidak mengada-ada.
"Naik?"
"Ojol."
Air muka Jujung sudah berubah. Ia nampak tidak senang. Sedangkan kedua bola matanya membulat menatapku. "Kenapa nggak minta aku jemput aja?" ucapnya mengandung kekecewaan. Jika saja Jujung tahu bahwa aku akan pergi ke rumahnya sendirian, ia pasti menolak.
"Kan aku kira kamu sakit. Masa aku mau jenguk orang sakit, tapi malah si orang sakitnya yang jemput aku buat nganter ke rumahnya buat jenguk dia," balasku dengam belibet. Lagi pula Jujung aneh juga sih.
Jujung melongo, sepertinya ia bingung dengan apa yang baru saja aku ucapkan.
"Ah ...." Mendadak perutku sangat mulas. Ada sesuatu di dalam sana yang ingin segera dikeluarkan. Kugigit bibir bawahku untuk menahan rasa mulas yang seperti diremas. Keringat dingin mulai bisa kurasakan, bahkan saat ini kakiku sudah bergetar.
Jujung kembali menatapku dengan heran. Tidak mungkin juga aku bilang kalau sedang mulas. Bisa-bisa Jujung menertawakanku. Bukan hanya itu, laki-laki itu akan memarahiku terlebih dahulu. Jujung akan menyemburkan nasihatnya mengenai bahaya menahan kentut dan buang air besar, lalu ia akan memaksaku untuk periksa ke dokter. Padahal hal seperti ini sangat wajar dialami oleh seseorang.
"Titik, kenapa?" tanya Jujung yang mulai curiga dengan gelagatku.
Sungguh. Aku sangat butuh toilet!
"Aku mau pulang dulu, ya. Ada sesuatu yang kelupaan," ucapku asal. Aku langsung bangkit dan bergegas pergi dari sana. Tetapi, belum juga kakiku melangkah, Jujung telah menahanku.
Ia mencengkeram pergelangan tanganku. "Titik, tunggu."
Sial. Pasti saat ini Jujung bisa merasakan keringat dingin yang mengalir di sekujur tubuhku.
"Kamu keringat dingin. Kamu nggak papa?" Jujung sangat terlihat khawatir sekarang, sampai-sampai ia mengecek suhu badanku dengan menempelkan punggung tangannya di dahi dan leherku. "Kamu keringat dingin!"
Iya, aku mules, Jung!
"Kalau kamu nggak enak badan, aku anterin pulang, ya? Nanti mampir ke klinik dulu."
Aku menggeleng cepat. "Nggak usah, Jung. Aku nggak papa."
"Tapi keringat dingin. Malam-malam gini nggak mungkin orang bisa keringat dingin kayak giti. Ayo!" Jujung masuk ke dalam rumah. Sepertinya ia akan mengambil kunci motornya.
Baru saja aku ingin kabur, Jujung sudah kembali dengan tergopoh. "Ayo!" Ia menarik pergelangan tanganku.
Aduh. Rasa mulas di perutku semakin membabi buta. Aku sudah tidak sanggup lagi menyembunyikannya. Kuremas kuat-kuat bagian perutku, tidak lupa dengan wajahku yang meringis menahan sakit yang luar biasa. Jangan berpikir macam-macam. Memang kalau sehabis makan ayam goreng laos sambel bawang, aku akan langsung berlangganan ke toilet setiap jamnya selama lebih dari satu hari.
Jujung sudah siap dengan motornya. Ketika ia melihatku memegangi perut dengan rintihan, ia beringsut dari jok motornya.
"Titik! Kamu tahan, ya. Kita ke klinik sekarang." Ia menuntunku. Sungguh, saat ini aku seperti seorang ibu hamil yang sedang dituntun sang suami karena sebentar lagi mau melahirkan. Ah, tolong doakan yang terbaik untuk hubunganku dengan Jujung, ya!
"Sakit banget, ya?"
Aku tidak menjawab. Rasanya sudah di ujung dan bisa kurasakan bahwa itu bukanlah angin, tetapi benda padat yang mencair.
"JUJUNG, PERUT AKU MULES! AKU BUTUH TOILET!" Akhirnya aku berteriak di sana. Jujung praktis menghentikan segala aktivitasnya, dan aku harap tidak ada orang di rumah Jujung yang mendengar perkataanku barusan.
Sedetik kemudian, Jujung kembali menampakkan raut kegelisahannya. Sedangkan aku mati-matian agar tidak keluar di sini, di depan Jujung.
"Ayo!"
Jujung menarik pergelangan tanganku. Ia bukan membawaku masuk ke dalam rumah, malah keluar dari halaman rumahnya. Apakah Jujung ingin mengusirku?
Jujung terus membawaku memasuki halaman rumah orang lain, hingga pada akhirnya kami sudah berada di depan pintu rumah tetangganya.
"Pak, permisi. Assalamualaikum!" ucap Jujung tidak lupa sambil menggedor pintu cukup keras. "Pak, Pak Agus?"
"Jujung ngapain kesini?" tanyaku pelan. Rasa sakit di perutku sudah mereda, tetapi tetap saja sisa makananku sangat memberontak ingin dikeluarkan.
Pintu terbuka perlahan. Bukan seorang bapak-bapak yang muncul di balik pintu besar itu, melainkan seorang gadis remaja yang memasang wajah aneh ketika melihat kami berdua.
"Siska, pinjem toilet, ya."
Hah, pinjem toilet?
"Pacar gue mules, butuh toilet. Di rumah gue lagi nggak ada orang. Jadi gue nggak bisa bawa Titik masuk. Plis, pinjem toiletnya, ya?" Jujung tampak memohon. Demi apapun, aku sangat terharu melihat apa yang dilakukan kekasihku itu.
Sedangkan gadis yang bernama Siska hanya mengangguk dan membuka pintu lebih lebar.
Aku kira, Siska yang akan mengantarku ke toilet. Ternyata Jujunglah yang langsung masuk dengan menarik pergelangan tanganku.
Sepertinya laki-laki itu sudah sangat akrab dengan rumah ini. Buktinya, ia tidak butuh waktu lama untuk menemukan kamar mandi.
"Maaf, ya. Aku nggak bisa pinjemin toilet aku. Di rumah nggak ada orang sih. Kamu pake toilet tetanggaku aja, ya? Aku tunggu di luar."
Perutku memang sangat suka bercanda. Saat aku sudah nangkring, rasanya sangat hampa. Tidak ada lagi rasa mulas dan tidak ada rasa yang ingin dikeluarkan.
Aku menatap langit-langit toilet tetangga Jujung. Tidak ada yang spesial, semuanya sama seperti langit-langit toilet pada umumnya. Tetapi, seolah menjadi unik, di sana terekam jelas bagaimana ekspresi Jujung saat khawatir padaku, apalagi saat ia minta izin untuk meminjam toilet Siska. Lucu sekali. Sekarang aku berhasil tersenyum ketika mengingat yang hal sebenarnya cukup memalukan.
"Titik, kamu nggak papa, kan?"
Suara Jujung berhasil menyadarkanku dari lamunan.
"Nggak papa."
Saat ini keringat dingin sudah tidak lagi kurasakan. Mungkin sudah cukup. Lebih dari lima belas menit nangkring di toilet akan membuat Jujung sangat khawatir padaku.
Pintu toilet terbuka. Dan betapa terkejutnya diriku, ternyata Jujung sudah berdiri di sana.
"Kamu nggak papa?" tanyanya dengan ekspresi yang terlihat jauh lebih khawatir.
Aku meringis, lalu mengangguk pelan. Kulihat laki-laki itu mengehela napas panjangnya.
"Seriusan?"
Aku mengangguk lagi. Sepertinya Jujung belum percaya kalau saat ini aku sudah baik-baik saja.
Sejurus kemudian, ekspresi khwatir Jujung berubah sebal. Ia menatapku lamat dan aku sudah bisa menebak kalau Jujung akan segera memulai ceramahnya.
"Kamu makan ayam laos pake sambel bawang?" tanyanya dengan begitu datar dan dingin.
Aku meringis.
"Ck. Udah dibilang kalau perut kamu itu nggak kuat makan sambel bawang di ayam laos. Kan ada sambel bawang yang lain, atau kamu bisa bikin sambel sendiri juga. Kenapa ngeyel?"
"Ya tadi aku lagi kesel sama kamu. Jadinya aku lampiasin ke ayam laos sambel bawang!"
Bodoh, bodoh.
Titik, kenapa mulut kamu nyerocos kaya gitu?
Mulutku langsung terkatup. Setelah ucapanku barusan, ekspresi Jujung langsung berubah menyendu. Ia bergerak satu langkah lebih dekat padaku. Perlahan kedua tangannya terbuka, merengkuhku, membawaku pada pelukannya.
Sontak saja hal itu membuatku mengerjap beberapa kali. Pasalnya, ini adalah kali pertama dalam dua tahun Jujung menjadi kekasihku, dirinya memelukku.
"Titik, maafin aku tadi siang, ya," ucapnya tepat di sebelah telingaku. Aku tidak tahu dalam situasi semacam ini, apa yang harus aku lakukam selain diam.
Bisa kurasakan, Jujung semakin menguatkan pelukannya. Ia menenggelamkan wajahnya pada ceruk leherku yang terselimut geraian rambut. Ah, aku jadi merasa risih, karena sudah tiga hari ini aku tidak keramas. Semoga saja Jujung tidak peduli dengan rambutku yang sedikit kusut dan tidak bau wangi.
Akhirnya Jujung melepaskan pelukannya. Ia tersenyum simpul dan mengacak puncak kepalaku. "Maaf, ya. Tadi siang aku cemburu sama Mas Taeyoga."
Alisku terangkat, tetapi tidak sepatah kata kuucapkan.
"Maaf, ya. Aku nggak tau kenapa aku jadi cemburuan kayak gini." Jujung menunduk dalam-dalam.
"Kamu tadi siang ke kedai thai tea Mas Taeyoga sama Della, ya?" Lagi-lagi, ingin rasanya kupukul mulutku sendiri.
Tolong dong, Tik. Jangan nambah-nambahin!
Sekarang aku mulai takut.
Masih menunduk, Jujung mengangguk perlahan. Kemudian ia mulai kembali menatapku. "Tadi ketemu Della di jalan, dia lagi beli siomay. Terus aku sapa, ternyata dia lagi nggak bawa motor-"
"Kamu anter Della pulang?" ucapku memotong ucapan Jujung. Sekarang aku sudah seperti cewek posesif.
Jujung kembali mengangguk. "Maaf, ya. Kalau kamu nggak suka. Nggak bakal lagi deh aku anterin Della pulang." Ucapannya cukup serius. Sampai-sampai ia menunjukkan kelingkingnya. "Janji!"
Melihat itu membuatku praktis terkekeh. Jujung menurunkan kelingkingnya. Ia tidak ikut terkekeh. Ekspresinya masih serius.
"Titik, maafin aku." Nada bicaranya sangat rendah, lirih, dan terdengar penuh penyesalan.
Okai. Sekarang justru aku yang merasa sangat bersalah. Tidak seharusnya aku melarang Jujung untuk mengantar Della pulang. Wong Della saja sudah terlebih dahulu mengenal Jujung daripada diriku. Toh, selama mereka tidak berbuat macam-macam, tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Tapi Della pernah bilang kalau suka sama Jujung!
Tapi katanya cuma prank!
Aku berusaha menampik pikiran buruk yang sempat terbesit dalam benakku. Kusunggingkan sebuah senyum menatap Jujung. "Nggak perlu minta maaf. Della kan teman kita."
"Tapi, apa kamu nggak kepikiran sama ucapan Della yang katanya suka sama aku?"
Aku menggeleng. "Kan cuma prank."
Akhirnya Jujung menarik kedua sudut bibirnya. Tetapi, yang aku lihat, senyum itu tidak sepenuhnya ikhlas.
"Aku cinta kamu, Jujung," ucapku penuh penekanan pada setiap katanya. Kugenggam lebih erat kedua tangan Jujung dan tibalah senyum ikhlas Jujung bisa kurasakan.
"Aku cinta kamu, Titik!" ucapnya dengan penekanan yang sama.
"Pakai tanda seru?"
Jujung mengangguk. "Karena aku suka kamu."
Setelahnya, acakan lembut di puncak kepalaku semakin membuat kami melebarkan senyuman.
"Mas Jujung, Mbak pacaranya Mas Jujung! Tolong dong. Ini rumah gue, di dapur, di depan kamar mandi. Kenapa kalian uwu-uwuan di sini?"
Maaf ya, Siska. Aku lagi bahagia.