Terakhir kali aku dan Jujung saling berkomunikasi, yaitu pagi tadi, saat Jujung mengucapkan selamat pagi untukku.
Sekarang sudah sore, hampir pukul empat. Aku berjalan dengan setengah sempoyongan setelah dari pagi sampai hari ini penuh dengan mata kuliah yang sangat membuatku lelah. Bayangkan saja, sejak pagi perutku tidak terisi apapun kecuali air putih, dan jam istirahat tadi kuhabiskan waktuku untuk mengantre wudhu karena ada masalah dengan air yang tidak mengalir dengan deras.
Aku sudah berdiri di depan gedung FEB. Suasana cukup sepi karena memang sudah sore. Parkiran dosen pun tinggal tiga atau empat mobil yang tersisa. Dan kulihat di sekelilingku, sudah tidak ada orang yang sibuk berlalu-lalang.
Kusenderkan tubuhku pada tiang, lalu kuambil ponsel yang sedari pagi asyik beristirahat di dalam tas. Memang, saking sibuknya mata kuliah hari ini, sampai-sampai aku tidak sempat membuka ponsel.
Ternyata ada beberapa pesan dari Jujung. Seperti biasa, Jujung bertanya apakah aku sudah makan, apakah aku baik-baik saja, dan yang pasti pertanyaan mengapa aku tidak membalas pesannya tidak lupa ia kirimkan. Padahal, sejak pagi tadi sudah kukatakan bahwa aku akan sibuk hari ini. Tetapi tetap saja, yang namanya Juwana alias Jujung alias kekasihku itu selalu khawatir saat aku tidak membalas pesannya. Mungkin aku adalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang harus bersyukur karena memiliki kekasih yang sangat perhatian.
Entah kenapa tubuhku yang lesu mendadak kembali bersemangat. Walau perutku sangat keroncongan, tetapi setelah membaca pesan dari Jujung, energiku telah kembali. Yaitu energi untuk melangkah ke kantin dan segera memberi makan cacing-cacing menggemaskan yang ada di perutku.
Udara cukup sejuk. Angin yang berembus menemaniku berjalan di g**g sempit antara gedung FEB dan FRSD. Sesekali rambutku yang tergerai itu berterbangan, sampai-sampai beberapa helainya berhasil masuk ke dalam mulutku. Untungnya aku sudah keramas pagi tadi. Jadi, aroma buah-buahan segar masih menempel kuat walau seharian kepalaku sangat penat. Ah, aku jadi berharap Jujung akan memelukku lagi dan menenggelamkan wajahnya di rambutku yang wangi.
Okai. Aku sedang tidak beruntung. Lebih tepatnya, aku lupa kalau hari ini sudah sore dan yang pasti kios makanan di kantin sudah tutup. Walau begitu, bangku-bangku di kantin ini tidak serta merta kosong dan sepi. Beberapa mahasiswa masih betah berlama-lama duduk sambil memandangi laptopnya atau hanya sekadar mengobrol dengan kawannya.
Kubanting tubuhku di salah satu bangku di sudut kantin. Kuembuskan napas yang cukup lelah sebelum akhirnya kuketikkan sesuatu di ponselku. Siapa lagi yang kuhubungi kalau bukan Jujung? Hehe. Aku berharap Jujung masih ada di kampus dan kita bisa pergi makan bersama.
Baru saja ingin kukirim pesanku pada Jujung, panjang umur sekali, aku melihatnya melintas di depanku. Niat hati ingin menyapa, tetapi semuanya kuurungkan. Ternyata di belakang Jujung ada Della yang sedang mengekor.
Seingatku saat keluar kelas tadi, Della terburu-buru karena harus cepat pulang. Katanya, ada acara keluarga yang harus dihadirinya. Tetapi, kenapa sekarang Della malah mengekor di belakang Jujung? Apakah mungkin jika keluarga Della dan Jujung sedang mengadakan acara bersama? Apa mungkin, Della dan Jujung itu sebenarnya masih saudara jauh?
Entahlah. Aku hanya bisa terus memandangi mereka berdua yang cukup terburu-buru. Mereka berjalan menuju parkiran FEB yang memang berada di samping kantin. Setelah tubuh mereka berdua menghilang di balik tembok, tidak lama keduanya muncul dengan Della yang dibonceng motor Jujung.
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain memandangi mereka berdua sampai akhirnya lenyap ditelan keterbatasan pandangan.
Aku hanya bisa diam dengan segala pikiran yang berpetualang. Sebenarnya tidak ada masalah jika Jujung dan Della terlihat dekat, berboncengan, atau asyik bercanda. Tetapi, setelah Della mengatakan kalau dirinya menyukai Jujung walau itu hanya prank, hal itu membuatku merubah penilaian saat Jujung dan Della sedang bersama.
Kuurungkan niatku untuk mengirim pesan pada Jujung. Ponselku kembali nyaman masuk ke dalam tas sebelum akhirnya aku memilih bangkit dan pergi dari sini. Suasana hatiku berubah buruk. Rasa laparku sirna. Sepertinya cacing di perutku sangat tahu jika babunya sedang cemburu karena sang kekasih yang terlihat berboncengan dengan perempuan lain.
"Risha!"
Suara berat yang memanggil namaku berhasil membuatku menoleh. Entah mengapa, senyumku langsung mengembang ketika melihat sosok yang memanggilku tadi juga mengembangkan senyumnya.
Jika aku pernah bilang bahwa senyum Jujung sangat menular, mungkin aku juga harus mengatakan pada kalian kalau senyum Mas Taeyoga juga berhasil membuatku ketagihan!
"Mas Taeyoga? Kedai tutup, dong. Yahhh," ucapku dengan nada kecewa. Padahal, senyumku masih mengembang.
Jangan heran. Mas Taeyong itu selain pemilik kedai Thai Tea by Thaeyoga, ia juga seorang mahasiswa tingkat akhir di FRSD Universitas Matahaya. Hebatnya, Mas Taeyoga sangat jarang sekali tutup kedai. Kalau ada pekerjaan kelompok yang harus sekali dikerjakan dengan diskusi langsung, seringnya Mas Taeyoga mengajak teman-temannya berdiskusi di kedai. Selain tetap bisa buka kedai, thai tea Mas Taeyoga juga akan laris oleh teman-temannya. Strategi yang wow sekali!
"Ini langsung mau ke kedai. Tadi cuma tutup dua jam, soalnya ada kelas," ucapnya begitu ia berada di sampingku. "Mau langsung pulang?"
Aku menggeleng. "Aku boleh ikut kamu, Mas?" tanyaku, yang langsung saja membuat alis laki-laki itu menaut.
"Ikut kemana?"
"Ke kedai. Katanya mau ke kedai?" tanyaku balik.
Mas Taeyoga terkesiap. Ia terkekeh. "Iya. Tapi mau mampir ke beli sarapan dulu."
"Kok sarapan?"
"Dari pagi belum makan, nih. Nggak sempet." Mas Taeyoga mengelus perutnya yang datar. "Kamu udah makan siang? Kalau belum, mau sekalian bareng?"
Aku mengangguk dan ikut-ikutan mengelus perutku. "Aku juga belum sarapan, Mas. Ayok!"
"Mau dimana?"
"Terserah kamu aja, Mas."
"Yakin?"
Detik berikutnya aku berhasil dibuat terkejut karena Mas Taeyoga yang tiba-tiba menggandeng tanganku. Ia membawaku berjalan pergi dari kantin ini masih dengan perasaan keterkejutanku. Sebenarnya aku ingin melepaskan tangan Mas Taeyoga, tetapi entah mengapa berjalan bersama sambil bergandengan dengan Mas Taeyoga rasanya cukup nyaman.
"Eh, maaf," ucap Mas Taeyoga begitu kami sampai di parkiran. Sepertinya Mas Taeyoga baru menyadari bahwa sedari tadi kami bergandengan.
Aku tidak menjawab, hanya tersenyum simpul karena merasa tidak enak.
"Nih, pake." Mas Taeyoga menyodorkan sebuah helm berlogo ojol kepadaku. Iya. Selain mempunyai usaha kedai thai tea, Mas Taeyoga juga sering ngojol kalau lagi gabut. Seru sih, siapa juga yang tidak mau dapat driver yang lumayan ganteng plus motor gede keluaran terbaru? Kalau aku sih jangan ditanya, pasti mau! Hehe.
Aku tidak menyangka. Aku kira kami akan makan di belakang kampus atau paling tidak di ayam geprek yang cukup terkenal di samping kampus. Ternyata, Mas Taeyoga membawaku ke Transmart yang berada tepat di sebelah kampus. Aku harus menghirup napas dalam-dalam karena aku sangat yakin sekali jika aku tidak membawa dompet dan uang yang ada di tasku tidak lebih dari dua puluh ribu.
Bukan. Aku tidak mengandalkan Jujung atau siapapun untuk mentraktirku. Tetapi, memang inilah kebiasaanku. Aku tidak mau membawa uang lebih saat ke kampus, karena aku sangat mudah sekali terkena godaan setan yang terkutuk untuk membeli barang-barang yang tidak berguna, atau fast food yang harganya bisa lima kali lipat dengan gado-gado yang ada di kantin FKIP.
Tetapi, aku juga tidak sepengiritan itu. Ada masanya aku akan membawa uang lebih ketika aku dan teman-temanku sedang ingin berbelanja bersama. Biasanya satu kali dalam satu bulan. Itupun jika ada diskon besar-besaran.
Kami sudah duduk di area food court. Pandangan Mas Taeyoga sedang berkeliling mencari santapan nikmat apa yang akan ia nikmati.
"Kamu mau apa?" tanyanya masih mengedarkan bola matanya.
Aku tidak menjawab. Kuturunkan tas yang bertengger di punggungku, kucoba untuk mengecek apa warna uang kertas yang kubawa hari ini.
Oke. Siap. Ada tiga lembar uang berwarna dominan cokelat. Itu artinya aku hanya membawa uang sebesar lima belas ribu rupiah.
Apa yang bisa kudapat dengan uang itu? Untuk beli thai tea saja tidak akan cukup!
"Risha?" Mas Taeyoga sudah mengibaskan telapak tangannya di depanku saat aku masih menunduk meratapi betapa miskinnya diriku saat ini.
Kuangkat kepalaku, kutatap balik Mas Taeyoga yang menatapku dengan heran. Lalu tiba-tiba saja laki-laki itu terkekeh. Aku yang tadinya diam menatapnya, sedikit berjengit karena kekehan itu.
"Hei, kamu kenapa?" tanyanya dengan senyum yang merekah.
"Mas, aku cuma bawa lima belas ribu. Pinjem uang kamu dulu ya, Mas, kalau nanti kurang," kataku. Walau aku sangat malu, kupaksakan untuk meringis.
Mas Taeyoga mengangguk sambil terkekeh. "Kamu mau apa?"
"Samain aja, Mas."
Namanya juga makan dibayarin Mas Taeyoga dulu, alangkah lebih baik jika aku samain saja menu sarapan sore kami hari ini.
Tetapi, Mas Taeyoga malah mengangkat sebelah alisnya. Duh, aku jadi gemas. Kenapa Mas Taeyoga bisa mengangkat sebelah alisnya, tetapi hal itu tidak bisa kulakukan?
"Fast food?"
Kenapa nggak nasi padang aja sih, Mas:(
"Burger atau Chicken?"
Aku bergeming sejenak. .
"Apa mau soto? Nasi pad-"
"Nasi padang!" jawabku spontan. Tidak sadar kedua tanganku sampai menggebrak meja dengan cukup kuat, sampai-sampai berhasil membuat Mas Taeyoga dan beberapa pengunjung terperanjat.
Aku langsung mendelik, berharap rambutku yang tergerai dapat menutupi kedua pipiku yang mungkin sudah memerah karena malu.
"Kalau mau nasi padang, di depan g**g enam ada nasi padang yang enak. Mau ke sana?"
"Tapi udah terlanjur sampai di sini, Mas. Sayang duit parkirnya."
"Dua ribu perak doang. Nggak papa."
"Satu rupiah pun pasti ada pertanggung jawabannya, Mas. Bisa-bisa harus ngitung dari awal kalau ada selisih satu rupiah, apalagi dua ribu rupiah."
Mas Taeyoga sudah berdiri. Ia berjalan mendekat padaku dan menarik tanganku. Alhasil, saat ini kami sudah sama-sama siap melangkah keluar dari Transmart, tidak lupa dengan tangan kami yang saling bergandengan.
"Kalau nggak jelas kemana duit itu pergi, baru deh diitung ulang. Tapi ini kan jelas, duitnya dipakai buat bayar parkir."
Tanpa kusadari aku sudah mengangguk-angguk saja.
"Mau kopi?"
Langkah kami terhenti. Lebih tepatnya, aku yang menghentikan langkah kami. Kutoleh pada Mas Taeyoga. Lalu aku mengangguk dengan pasti. "Mau!"
Bukannya berbelok untuk membeli kopi, Mas Taeyoga malah membawaku berjalan menuju pintu keluar.
"Nggak, ah. Kamu belum sarapan. Nggak bagus minum kopi," gumamnya pelan.
Sungguh. Aku sedikit kecewa. Kalau memang tidak mau beli kopi, ya jangan menawari. Apalagi kepadaku yang sangat suka es kopi kental. Aku tidak tahu apa namanya, tetapi kata teman-temanku namanya es americano. Bodo amat juga. Aku menyebutnya es kopi hitam sedikit gula.
Dalam hati memang terbesit kekecewaan karena segelas kopi. Tetapi, aku tidak boleh menampakkan kekecewaanku. Mas Taeyoga dan aku memang sudah kenal lama, tetapi kami tidak sedekat nadi seperti hubunganku dengan Jujung. Bagaimanapun juga, Mas Taeyoga dan aku hanya sebatas teman biasa. Jadi, jika hanya karena tidak jadi beli kopi dan aku langsung ngambek, akan sangat terlihat sekali jika aku sangat kekanak-kanakan. Namun, jika aku ngambeknya di depan Jujung, lain lagi, karena kita sudah seperti daging dan kulit ari. Ah, aku sedikit geli dengan perumpamaan itu.
Kami sudah berada di luar Transmart. Kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, masih menunjukkan pukul setengah lima sore. Aku sedikit terkejut, karena langit yang begitu gelap membuat lampu kendaraan bermotor menyala-nyala menyorot apapun yang ada di depannya. Aku kira sudah hampir magrib, ternyata memang sore ini sangat mendung sekali.
Angin yang berembus juga cukup kencang, tidak lupa hawa dingin yang dibawanya berhasil menusuk pori-poriku. Selain menyejukkan, angin sore ini cukup membuatku kesal. Bagaimana tidak, rambutku yang tergerai menjadi berhamburan kemana-mana. Dan ketika kutengok pada Mas Taeyoga yang berdiri tepat di sebelahku, rupanya sedari tadi ia berusaha menyingkirkan helaian rambutku yang mengenai wajahnya.
Dengan spontan, aku menjauh satu langkah dari Mas Taeyoga. "Maaf, Mas. Rambut aku nakal!" seruku masih berusaha menjinakkan rambut.
Mas Taeyoga hanya terkekeh, tidak menjawab permintaan maafku.
"Ayo?"
"Ayo kemana, Mas?"
Terkadang aku memang sedikit lemot. Jelas-jelas aku dan Mas Taeyoga akan pergi ke warung makan padang, malah aku masih saja bertanya kemana!
"Risha."
"Hm?"
"Aku suka sama kamu."
Tunggu. Telingaku sedang tidak salah dengar, kan? Apa yang dikatakan Mas Taeyoga bukan halusinasiku, kan?
Mataku memincing menatap Mas Taeyoga yang terlihat sangat tenang. Tatapan Mas Taeyoga juga sangat teduh seperti biasanya. Berarti memang benar, aku sedang berhalusinasi bahwa baru saja Mas Taeyoga bilang kalau dia suka padaku.
"Mas, aku tadi kayak denger sesuatu. Tapi kayaknya itu cuma imajinasi aku doang, deh," ucapku selanjutnya. Aku berusaha membangun suasana menyenangkan dengan kondisi pikiranku yang masih mencari tahu tentang kebenaran, apakah hal tadi merupakan imajinasi atau asli.
"Aku suka sama kamu, Sha."
"Ha?"
Mas Taeyoga menatapku lekat-lekat. Tidak peduli dengan keramaian yang ada, sepertinya laki-laki itu sedang mengunci dirinya dari kegaduhan dunia dan hanya berfokus pada kedua netraku yang berusaha kabur dari pandangannya.
Tidak tahu mengapa, spontan saja kepalaku mengangguk dan praktis membuat Mas Taeyoga sedikit memiringkan kepalanya yang mungkin saja sedang bertanya apa maksud dari anggukanku.
"Ah anu, Mas." Ucapanku terdengar sangat aneh. Rasanya sangat kikuk dan mulutku sangat berat untuk berucap.
Tiba-tiba saja gemuruh dari angkasa terdengar menggelegar. Sejurus kemudian, tanpa gerimis, hujan lebat langsung datang, dan membuatku juga Mas Taeyoga terjebak dalam suasana hujan yang penuh kecanggungan.