"Jujung, kemarin aku sama Mas Taeyoga jalan bareng,” ucapku dengan santai kepada kekasihku yang paling tampan sedunia itu.
Jujung yang sedang menegak lebih dari setengah air yang ada di botolku langsung menyemburkannya secara bar-bar. Ia terkejut bukan main dan langsung menatapku dengan tatapan tidak suka yang berusaha ia sembunyikan. Aku yakin jika Jujung memiliki perasaan tidak suka jika aku terllau dekat dengan Mas Taeyoga, karena sudah pasti laki-laki itu akan merasa cemburu. Ah, semoga saja memang benar begitu, karena jika Jujung cemburu, berarti dia benar-benar mencintaiku. Ah, bukannya jika aku ragu seperti ini, akan berbahaya bagi hubungan kami?
Karena Jujung yang tiba-tiba menyemburkan air yang ia minum itu, membuatku ikutan terkejut. Harusnya aku tidak terkejut, karena yang pasti Jujunglah yang akan terkejut. Tetapi tetap saja, aku terkejut hingga tanganku otomatis terangkat dan menggeplak seseorang yang sedang berjalan di sampingku, lagi-lagi membuatku terkejut.
Ah, dia ... Della.
"Aduh, Risha! Belum juga gue ngagetin lo, udah kena gampar duluan!" rengeknya sambil mengelus pipinya yang terkena geplakkanku. Wajahnya jadi masam, kemungkinan karena geplakanku yang cukup kuat sampai ia cemberut seperti itu. Setidaknya Della tidak kesakitan, itu sudah membuatku sedikit lega walau tetap perempuan itu akan mengomel karena itu lah kegemarannya.
Namun, aku hanya mendengus dan berusaha untuk bersikap biasa saja. Bagaimanapun juga, aku tidak mau merusak hubungan pertemananku dengan Della. Della itu teman baikku, bahkan ia lebih dari sekadar teman baik.
"Lo pikir geplak dibayar di muka?" katanya dengan nada yang masih kesal, dia masih berdiri di sebelahku, belum berniat untuk duduk di bangku yang masih kosong di dekatku.
Aku tergelak. "Udahlah. Apa-apa jangan disangkut-pautin sama akuntansi. Pusing, gue,” kataku yang juga kesal, karena kuliah di jurusan akuntansi itu cukup membuat mumet, jadi jangan mengikutsertakan keseharian dikaitkan dengan akuntansi juga, cukup ketika di dalam kelas.
"Yaudah. Kan Della udah kena geplak kamu, Tik. Sekarang giliran Della deh yang ngagetin kamu," ucap Jujung yang terkekeh menengahi perdebatan kami. Ia sampai mendorong tubuh Della menjauh dariku. Maksudnya, Jujung menyuruh Della untuk mengulang kedatangannya agar bisa mengangetkanku. Masuk akal juga gaya candaan Jujung.
Kali ini aku terkekeh, aku tersenyum, dan semua itu terasa ikhlas. Sebenarnya, saat aku tidak terlalu memikirkan hubungan apa yang terjadi diantara Jujung dan Della, semuanya akan baik-baik saja. Tetapi, terkadang pikiran itu datang dengan sendirinya tanpa bisa kutahan.
"Della, udah sarapan?" tanya Jujung pada Della yang sudah duduk di sampingku. Jujur saja kadang aku merasa cemburu ketika Jujung seperhatian itu dengan Della, tetapi seharusnya tindakan Jujung tersebut menjadi hal yang wajar mengingat Della yang lebih dahulu mengenal Jujung dari pada diriku.
Della memajukan tubuhnya supaya bisa menjawab pertanyaan Jujung tanpa terhalang tubuhku. "Udah kok. Omlete mie sama sambel bawang."
"Enaknya. Tiap pagi bisa langsung sarapan tanpa kudu ribet masak atau beli di warung," gumamku perlahan namun masih dapat didengar.
"Emang Jujung nggak pernah bawain lo bekal? Masakan mamanya pasti enak!"
Aku melirik pada Jujung. Sedangkan Jujung membuang wajahnya berlaga tidak mendengar perkataan Della.
Tidak lama, Jujung mengembuskan napasnya panjang-panjang. Ia menggeserkan duduknya hingga tubuhnya menghadapku. "Oke, besok aku bawain kamu bekal, deh," ucapnya dengan lengkungan senyum yang dipaksakan. Aku tahu, senyum tersebut bukan semata-mata mendiskripsikan dirinya yang terpaksa akan membawakanku bekal. Tetapi, senyum itu lebih ke senyum sok imut yang dibuatnya entah dengan tujuan apa.
"Aku nggak minta, sih. Tapi kalau kamu mau, ya nggak masalah," balasku santai, tidak lupa dengan mengedikkan bahuku. "Tapi jangan deh, Jung. Takut ngerepotin mama kamu."
"Mantap. Kamu tahu diri juga ya, Tik!" Kata-katanya sangat menohok. Jujur. Walau aku tahu jika itu sebuah candaan, tetap saja diriku terasa terbebani dengan ucapan Jujung yang barusan.
"Iya, kok. Aku tahu diri."
Aku tidak tahu. Suasana hatiku mendadak buruk. Kumasukkan botol airku ke dalam tas, lalu segera aku berdiri dan hendak pergi dari sana.
"Tik." Tangan Jujung menahanku. Sedangkan Della, aku tidak tahu dia sedang apa, pasalnya aku sedang tidak menghadapnya.
Kutepis ringan tangan Jujung hingga melepaskan tahanannya. Kemudian aku mulai melangkah pergi menjauh dari sana. Nampaknya Jujung hanya pasrah. Ia tidak memanggilku ataupun mengerjarku.
Sungguh. Dalam situasi seperti ini sebenarnya aku sangat yakin jika diriku hanya mencari perhatian, dengan berlaga menjadi orang yang paling tersakiti dan berharap ada yang memohon maaf di hadapanku. Tetapi, sepertinya aku terlalu memaksakan semuanya. Aku rela membuat hubunganku dengan Jujung bisa saja berantakan karena sifat kekanak-kanakanku. Jika sudah begini, aku yakin sekali kalau Jujung perlahan-lahan akan hilang rasa padaku, dan cepat atau lambat Jujung akan memutuskan hubungan yang sudah terjalin selama lebih dari dua tahun ini.
Aku berhasil sampai di toilet. Kulihat pantulan wajahku yang sama sekali tidak ada rona di pipi yang menunjukkan sebuah keceriaan di pagi hari. Bahkan, kutemukan kantung mataku yang mulai menghitam dengan garis lengkung yang sangat menonjol yang membuktikan bahwa semalam aku sangat tidak bisa tidur.
Kalau boleh cerita, memang benar semalam aku baru bisa tidur pada pukul tiga dan kembali terbangun saat adzan subuh.
Semalaman aku tidak memikirkan Jujung, kami juga tidak banyak saling mengirim pesan. Paling-paling hanya ucapan selamat malam dan menanyakan apakah aku sudah makan.
Kemarin memang cukup melelahkan. Selain aku melihat Jujung yang berboncengan dengan Della, kemarin juga aku mendengar kenyataan bahwa Mas Taeyoga menyukaiku.
Sungguh, aku tidak tahu kenapa Mas Taeyoga bisa menyukai perempuan seperti diriku. Maksudku, tidak ada yang spesial dari perempuan berusia dua puluh satu tahun ini. Aku tidak memiliki kelebihan selain malas-malasan. Aku juga tidak pernah menunjukkan sisi cantik atau feminimku di depan Mas Taeyoga. Hmm, sepertinya aku memang tidak mempunyai sisi tersebut.
Lantas, mengapa Mas Taeyoga suka padaku?
Aku belum sempat menanyakan. Kemarin setelah kami terjebak hujan, yang ada hanyalah kami saling diam dalam kegamangan. Setelah reda, langsung saja kuputuskan untuk pulang dengan memesan ojek online, walau sayangnya yang driver yang kudapat adalah Mas Taeyoga.
Aku sempat tidak menyangka, bagaimana bisa laki-laki itu mengaktifkan aplikasinya padahal ia sedang bersamaku. Maksudku, apa dia tetap akan menerima orderan ketika kami sedang makan? Ah, atau mungkin Mas Taeyoga sudah mempersiapkan semuanya, saat ia akan mengatakan bahwa dirinya suka padaku, lalu ia bisa menebak kalau aku akan memutuskan untuk pulang saja sendirian? Ah, cenayang!
Ponselku bergetar. Lamunanku hilang dan kembali kutatapan pantulan wajahku di depan cermin dengan fokus yang buyar.
Sekali lagi, ponselku bergetar panjang. Ada sebuah panggilan yang bisa kutebak siapa pemanggilnya.
Namun, setelah kuambil ponselku yang masih bergetar, tidak ada nama dan foto Jujung yang tampil di sana seperti dugaanku. Yang kulihat adalah foto sebuah kedai dengan d******i warna cokelat dan bertuliskan Thai Tea by Taeyoga dan tidak lupa dengan keterangan Mas Taeyoga Thai Tea memanggil.
Oke, sip.
Setelah beberapa detik, barulah ponselku kembali tenang. Aku masih di dalam toilet dan jam di ponselku sudah menunjukkan pukul tujuh kurang satu menit. Kuputuskan untuk bergegas masuk ke dalam kelas, karena pagi ini dosen pengampu adalah beliau yang sangat rajin datang tepat waktu.
Benar saja. Kulirik dari jendela kaca, Pak dosen yang terhormat sudah duduk manis dan sibuk dengan laptopnya. Padahal, belum banyak mahasiswa yang masuk kelas, belum ada separuh.
"Risha!"
Langkahku terhenti ketika sebelah tanganku sudah memegang gagang pintu. Aku juga bisa melihat bahwa beberapa mahasiswa yang sudah berada di dalam kelas menatap ke arahku karena pintu transparan yang terbuat dari kaca. Beruntung, Pak dosen tidak menghiraukan.
"Mas Taeyoga, ada apa?" ucapku menatap Mas Taeyoga yang berjalan mendekat ke arahku. Dia tersenyum dengan dua bola matanya yang terlihat cerah. Poninya yang menutupi dahi itu terguncang seirama dengan langkah kakinya, dan dia juga membawa sebuah paper bag yang dibentuk menyerupai bentuk kelinci.
"Ini, buat kamu." Ia menyodorkan paper bag kelinci itu sesampainya di depanku. Senyumnya masih terpajang di sana, membuatku ikut tersenyum membalasnya.
Kulirik sekilas ke dalam kelas, ternyata semakin banyak mahasiswa yang mendangiku bersama Mas Taeyoga. Karena sedikit risih, kutarik tangan Mas Taeyoga untuk sedikit bergeser agar kami tidak lagi dalam jangkauan pandangan mereka.
"Ini apa, Mas?" tanyaku keheranan. Selain itu, aku juga merasa gugup. Ini kali pertama Mas Taeyoga berhasil membuatku gugup, padahal biasanya laki-laki itu selalu memberikanku aura positif dan penuh semangat.
"Roti isi. Kamu belum sarapan, kan?"
Benar. Aku belum sarapan. Ketika di kantin bersama Jujung, kami memutuskan untuk tidak sarapan. Karena rencananya kami akan makan setelah kelas pagi ini di kantin FKIP yang terkenal murah meriah.
"Mas-"
"Ini, ambil." Ia kembali menyodorkan bungkusan itu hingga akhirnya aku menerimanya.
Mas Taeyoga tersenyum kemudian. "Cobain, ya. Jangan lupa kasih krisarnya. Kurang garam, kurang manis, atau kurang apa gitu. Soalnya mau aku jual di kedai."
Entah mengapa, mendadak aku berubah excited. "Seriusan, Mas?" Kedua alisku terangkat.
"Makanya, jangan lupa dicicip, ya!"
Aku mengangguk antusias. Kuberikan acungan jempol kanan di depan wajah Mas Taeyoga. "Pasti!"
"Yaudah, kamu masuk kelas, gih. Maaf ya, udah ganggu waktu kamu."
"Santai, Mas. Yaudah, aku masuk dulu, ya. Makasih rotinya!" Tidak lupa, kebiasaanku adalah melambaikan tangan ketika akan berpisah dengan seseorang, begitupula dengan Mas Taeyoga.
Begitu aku masuk ke dalam kelas, tidak lama kulihat Jujung bersama Della juga memasuki kelas. Iya, lagi-lagi di mata kuliah ini aku dan Jujung satu kelas.
Della duduk di sampingku, sedangkan Jujung duduk di sebelah Della. Tidak ada satu katapun yang terucap baik dari mulut Della atau Jujung. Rasanya mereka berdua seperti tidak menyadari bahwa aku ada di sini. Terlebih Pak dosen yang belum memulai kelasnya, jadi masih ada waktu bagi mahasiswa untuk saling mengobrol. Harusnya Della mengajakku bicara!
Satu menit, dua menit, bahkan lima menit berlalu hingga pak dosen mengucapkan salam, Juuung dan Della juga tidak menegurku. Bahkan, Della tidak sedikitpun melirik ke arahku. Memang sepertinya mereka sedang tidak sadar.
***
Dua SKS di pagi hari itu sangat menyenangkan. Selain tidak ada salahnya untuk skip sarapan, otak juga tidak dipaksakan untuk berpikir lebih lama.
Aku memutuskan diam di tempatku sampai Jujung dan Della benar-benar keluar.
Dan benar saja. Mereka berdua keluar bersama dengan sesekali bercanda.
Aku jadi ragu, sepertinya memang keberadaanku di sini sangatlah tidak nampak alias ghaib.
Yasudah. Kalau memang kalian seperti itu, tidak masalah. Setelah kelas ini, aku tidak perlu pergi ke kantin FKIP seperti yang aku dan Jujung rencanakan. Aku sudah punya roti isi dari Mas Taeyoga yang bisa kujamin rasanya akan sedap.
Sedikit kesal dan kecewa, langkahku terasa lemas hingga kupilih duduk di selasar di samping kantor jurusan.
Ingatanku beralih pada Mas Taeyoga ketika memberikanku paper bag berbentuk kelinci yang sedang kutatap. Sepertinya aku tidak pernah memberi tahu jadwal kuliahku, kelasku, dan lainnya mengenai perkuliahan. Tetapi, entah kebetulan atau apa, mengapa Mas Taeyoga bisa menemukanku di dalam gedung FEB yang bahkan dirinya adalah mahasiswa FSRD?
Ah, itu bisa kutanyakan nanti.
Sekarang, perutku mulai keroncongan saat aroma sedap dari bungkusan yang baru saja keluar itu menyeruak ke dalam rongga pernapasanku.
Mulutku langsung terbuka saking terpananya ketika kulihat roti bawang tersebut. Warna panggangnya yang tidak terlalu coklat beserta toping di atasnya, dan yang pasti isian di dalamnya tidak kalah menarik.
Tetapi, tunggu. Kenapa bentuk roti ini seperti bentuk ... cinta?
Kalau saja Mas Taeyoga tidak pernah mengatakan bahwa dirinya menyuaiku. Pasti pikiranku tidak akan travelling ketika melihat roti bawang yang ia berikan ini.
Selanjutnya, suara seorang laki-laki yang sangat familiar berhasil membuatku tersadar dari barbagai lamunan yang mengeliliku.
"Wah, yang barusan dapet roti dari Mas Taeyoga. Enak ya, Tik?"