Chapter 3

1960 Kata
''Jadi benar, kau sedang menjalin hubungan dengan artis bernama Sonya?'' Pertanyaan Rieta selaku ibunya membuat Nevan mengangguk pelan. Saat ini pria itu sedang melakukan pemanggilan video lewat laptop miliknya. Ia duduk di depan televisi pada apartemen Erlangga. ''Bagaimana Ibu tahu bahwa Sonya adalah artis?'' Nevan merasa bahwa ibunya hanya mengenal artis-artis yang naik daun ketika tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan. Rieta mengulas senyum tipis, lalu memperbaiki kacamata yang melekat di hidungnya. ''Para pegawai di kedutaan ramai membahasnya. Katanya kau bahkan membawanya ke apartemen Erlangga.'' Rieta yang bekerja sebagai diplomat di Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia menjadikan beberapa pegawai kedutaan mengenal baik keluarga Rieta, termasuk Erlangga dan Nevan. Sebagian besar dari mereka sudah cukup mengenal Erlangga yang seorang artis dan sering mempublikasikan kegiatannya melalui media sosial. Berbeda dengan Nevan yang cenderung tertutup akan kehidupan pribadinya serta lelaki itu tidak memiliki satu pun media sosial. ''Ibu tidak menyangka bahwa kau akan jatuh cinta dengan seorang publik figur, bukankah kau tidak suka jadi pusat perhatian?'' tukas Rieta mencoba memandang Nevan lebih jelas, meski melalui via virtual. ''Sonya adalah wanita yang menarik.'' Tepat saat Nevan mengatakan hal tersebut, Erlangga baru saja keluar dari kamar. Lelaki itu baru saja mandi dan mendengar sesuatu yang lebih menyegarkan daripada air membasuh tubuhnya tadi. ''Tentu saja Sonya menarik. Ibu sudah melihat foto-fotonya lewat i********: dan sangat cantik.'' Ucapan Rieta ikut didengar oleh Erlangga, karena Nevan memang tidak memakai earphone. ''Ibu sudah mengetahuinya bukan, jadi kuharap Ibu tidak akan mengatur pertemuan aneh lagi dengan anak perempuan teman Ibu ataupun Ayah,'' ujar Nevan ingin memberi inti perkcakapannya dengan sang ibunda. Rieta tertawa pelan. ''Seandainya kau hanya mengakui wanita biasa sebagai kekasihmu, maka Ibu akan menganggapnya sebagai sandiwara belaka, tetapi kudengar Sonya ini termasuk artis papan atas yang pastinya bukan seseorang akan mudah dirayu dengan uang.'' Erlangga hampir tertawa mendengarnya. Namun tatapan tajam Nevan padanya, menjadikannya segera menyingkir menuju dapur untuk mengambil minuman dingin. ''Ibu harap kau bisa bahagia dengan Sonya,'' ujar Rieta bersungguh-sungguh dan Nevan hanya mengangguk singkat. ''Kau mencintainya?'' tanya Rieta yang kini bukan hanya membuat Nevan membeku, tetapi juga Erlangga yang memegang kaleng minuman. Kedua pria itu saling menatap sekilas, sebelum suara ibu mereka kembali memanggil si sulung. ''Nevan?'' ''Ya, aku mencintainya.'' ''Baiklah. Ibu akan pulang bulan depan, ajaklah Sonya untuk bertemu denganku nanti. Selamat malam waktu setempat ya,'' ujar Rieta lalu memutus panggilan. Tidak memberi kesempatan untuk Nevan membantah atau mengelak. ''Wow.'' Erlangga hanya menepuk tangannya sekali. Ia bukan terpukau oleh ucapan Rieta yang ingin bertemu dengan Sonya, tetapi pernyataan cinta Nevan yang setelah sekian lama baru didengarnya kembali. Nevan menghela napas kasar. Tidak memiliki tenaga untuk meladeni pandangan Erlangga kepadanya. ''Aku segera bertemu dengan Sonya setelah ini,'' ujar Nevan bangkit daro sofa, lalu berjalan mengambil jaketnya yang digantung. ''Kau sudah mau pulang?'' Nevan berbalik badan. ''Ya, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.'' ia kemudian membereskan laptop miliknya dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. ''Ada apa?'' Erlangga menatap serius kakak laki-lakinya itu. ''Kuharap kali ini Kak Nevan benar-benar bisa bahagia,'' ujarnya penuh makna. Sedangkan Nevan hanya mendengus pelan, lalu melambaikan tangannya, tanda akan meninggalkan apartemen adik laki-lakinya itu. * ''Tofu ya,'' seru pelan Sonya menggunakan kedua tangannya untuk mengelus kucing berwarna kecokelatan berjenis scottish fold. ''Kau pasti rindu jalan-jalan bukan?'' SSonya mengangkat kucing peliharaannya itu, lalu duduk di atas sofa. Sang kucing yang diberi nama Tofu lalu mulia mengeong, seolah membenarkan perkataan tuannya itu. ''Sonya, kau perlu singgah ke agensi sebentar sebelum ke lokasi syuting iklan,'' ujar Farah yang baru masuk ke dalam apartemen Sonya sambil membawa pakaian sponsor untuk perempuan itu. Sonya mendongak pelan. ''Untuk apa?'' tanyanya dengan tangan terus mengelus bulu Tofu. ''Mbak Sesil mau membahas sesuatu denganmu,'' balas Farah yang hanya membuat Sonya mengangguk pelan. ''Baiklah, aku mau mandi dulu.'' Sonya bangkit lalu meletakkan Tofu di sofa. ''Tolong isi tempat makan Tofu ya Mbak Farah. Entah mengapa aku merasa akan pulang terlambat hari ini.'' Sebelah alis Farah terangkat sebelah, namun ia hanya mengangguk pelan. Sebagai manajer dari Sonya, ia sangat tahu jadwal keartisan perempuan dan hari ini hanya ada syuting iklan produk makanan yang diestimasinya akan selesia kurang dari tiga jam. Sonya yang merupakan salah satu brand ambassador lokal Indonesia untuk salah satu merek luar, terbiasa mendapat kiriman produk berupa tas dan sepatu. Dengan pakaian sponsor, meskipun tidak setiap hari dipakainya, tetapi hal itu selalu membuat penampilannya selalu ciamik dan mengundang perhatian media serta publik. Bahkan beberapa kali nama Sonya menjadi trending topic di Twitter, akibat potretan dari masyarakat atas penampilannya. Tidak heran beberapa produk yang selalu dipakainya selalu jadi incaran para wanita kalangan remaja hingga dewasa. Sonya meninggalkan apartemennya dengan riasan tipis, karena akan dihias kembali ketika telah sampai di lokasi syuting. Ia memasuki mobil van, di mana hanya ada Farah duduk di depan bersama dengan Yono--sopir yang disediakan oleh agensi. Adanya layar televisi di dalam van selalu digunakan Sonya untuk menghilangkan rasa bosan, apabila macet mulai mendera jalanan ibukota. Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya ia sampai di SS Entertaiment. Tanpa membuang waktu untuk menyapa para pegawai sambil membawa kopi seperti biasanya, Sonya kali ini langsung menuju ruangan Sesil, karena dikejar waktu untuk syuting iklan. ''Oh, kau sudah sampai.'' Sesil bangkit dari kursi kerjanya, kemudian duduk di depan Sonya pada sofa yang berada di ruangan kerjanya tersebut. ''Ada apa Mbak Sesil? Hari ini aku ada syuting iklan,'' ujar Sonya yang merupakan jenis orang yang berusaha sebisa mungkin tepat waktu jika menyangkut kegiatan yang melibatkan banyak orang. Sonya selalu merasa bertanggung jawab untuk hadir tepat waktu bahkan hadir lebih awal jika memungkinkan, apabila ada jadwal syuting. Ia merasa bahwa bukan hanya dirinya yang bekerja keras dalam proses syuting, tetapi juga artis lain serta para staf yang terlebih dahulu selalu datang lebih awal untuk mempersiapkannya. ''Baiklah, langsung saja. Ingat project film romantis yang kukatakan padamu dulu?'' ujar Sesil mulai menjelaskan. ''Film romantis dengan Erlangga?'' Sesil mengangguk cepat. ''Ya itu, setelah rapat dengan pihak produksi, kami sepakat untuk mengganti peranmu menjadi antagonis.'' Mata Sonya terbelalak mendengarnya. ''Apa? Bukankah peranku protagonis?'' ''Ayolah Sonya, publik mengetahui bahwa kau adalah kekasih Nevan, kakak dari Erlangga. Bagaimana mungkin kau dan Erlangga akan beradegan romantis jika publik melihatmu menjalin hubungan dengan sang aktor?'' ''Tapi masyarakat sudah cerdas dan bisa membedakan mana dunia seni peran, mana dunia nyata,'' balas Sonya keberatan. ''Tidak selalu Sonya.'' Sonya menghela napas pelan. ''Ini adalah film pertamaku untuk peran sebagai wanita yang cukup dewasa,'' balasnya beralasan. Ia yang selama ini selalu diberi peran sebagai gadis remaja baik-baik dan polos, tentunya ingin mencoba jenis peran lain. ''Lainkali ... lainkali, aku akan memberimu naskah melodrama dewasa,'' ujar Sesil membujuk salah satu artis yang tidak ditampiknya sebagai pemberi laba keuntungan besar bagi SS Entertaiment. ''Baiklah aku mengerti,'' balas Sonya pelan, kemudian mulai bangkit untuk menuju ke lokasi syuting. Meskipun Sonya tidak puas mendapat peran antagonis, tetapi ia juga menyadari bahwa bagaimana dirinya bisa berada pada posisi tersebut, karena keputusan yang diambilnya untuk bersandiwara dengan Nevan, kakak kandung Erlangga yang menjadi lawan mainnya dalam film. Begitu sampai di lokasi syuting, Sonya langsung ditangani para stylist untuk mengubah kostum yang dipakainya serta wajah yang perlu dihias. Akan melakukan syuting di lokasi outdoor menjadikan wanita itu selalu membawa kipas angin mini portable untuk menghalau hawa panas. ''Oh ini enak,'' gumam Sonya mencoba produk makanan yang diiklankannya, yaitu produk yang terbuat dari olahan cokelat. Ia mengunyah camilan tersebut sambil rambutnya ditata. Farah tersenyum sekilas. ''Habiskanlah untuk memperbaiki mood akibat perubahan peran yang diucapkan Mbak Sesil tadi.'' Sonya merenggut pelan. ''Aku sempat membaca naskah keseluruhan dan ... porsi adegan untuk pemeran utama pria dengan antagonis cukup banyak juga,'' balasnya merasa bahwa akan sering bertemu dengan Erlangga di lokasi syuting film nanti. ''Berarti Mbak Sonya akan bertemu dengan calon adik ipar lebih sering,'' komentar penata rambut yang usianya sedikit lebih muda dari Sonya. Ia tentunya telah mendengar kabar penggarapan film Sonya bersama Erlangga. Sonya hanya mengulum senyum tipis mendengarnya. Ia sedikit merinding ketika penata rambut berucap tentang adik ipar, sesuatu yang terlalu jauh dari imajinasi sandiwaranya. Setelah Sonya selesai dihias, wanita itu langsung menuju lokasi syuting yang berada di sebuah taman. Ia harus berpindah sekitar tiga kali, mulai dari bangku taman, dekat air mancur hingga ke bagian taman yang ditanami banyak bunga yang sedang bermekaran. Senyum dan raut wajah ceria selalu ditunjukkan oleh Sonya kala pengambilan gambar dan membuat sutradara iklan tidak harus mengulang adegan, karena puas dengan mimik wajah dan energi dari Sonya. ''Kerja yang bagus Sonya,'' ujar sang sutradara menepuk bahu Sonya sekilas. ''Terima kasih Mas Arief,'' balas Sonya sambil tersenyum. Sonya kemudian kembali dituntun oleh Farah untuk masuk ke tenda dan mengganti kostum ke pakaian yang dikenakan oleh Sonya saat meninggalkan apartemennya. ''Apakah makan siang sudah dipesan?'' tanya Sonya yang merasa perutnya sudah keroncongan , karena tidak sarapan tadi pagi. Farah melirik jam tangannya. ''Ya, sekarang jam makan siang jadi mungkin macet di jalan.'' Selaku manajer Sonya, ia sangat tahu menu makanan sehat yang selalu dipesan Sonya pada salah satu katering. Salah satu anggota kru syuting kemudian memasuki tenda. ''Ada yang mencari Sonya.'' ''Oh mungkin itu pengantar makanan,'' balas Sonya membasahi bibir bawahnya membayangkan nasi merah, ikan salmon serta brokoli dicampur wortel dan jagung yang sering menjadi menu utama makan siangnya. ''Bukan tapi ....'' Anggota kru tersebut tampak ragu mengatakannya, menjadi Farah bangkit dari kursi dan keluar mengeceknya sendiri. Faraha kemudian masuk kembali dengan tergesa-gesa. ''Sonya itu Nevan!'' Sonya terlonjak di tempat dan ikut bangkit berdiri. ''Apa? Bagaimana dia bisa ke sini?'' ''Dia bahkan membawakanmu makan siang. Apa perlu aku memanggilnya ke sini?'' tanya Farah pelan. Sonya berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. ''Biar aku yang keluar.'' Kedatangan Nevan seolah seperti anggota keluarga kru syuting iklan. Ia dipersilakan duduk di bawah sebuah payung besar yang terdapat sebuah meja kecil dan dua kursi. ''Mas Nevan,'' seru Sonya berjalan mendekati Nevan yang telah duduk. Ekor matanya lalu melirik sekitar yang tampak menatap ke arahnya. Nevan bangkit berdiri sejenak dan tersenyum menyambut Sonya. ''Aku membawakanmu makan siang.'' Raut wajah tercengang Sonya kemudian berganti kekehan kecil yang dibuat-buat olehnya. ''Bagaimana kau tahu aku di sini?'' tanyanya berbisik begitu duduk di sebelah Nevan yang juga mulai duduk kembali. ''Bos agensimu yang mengatakannya.'' ''Kau mendatangi SS Entertaiment?'' Nevan menggeleng pelan. ''Aku meneleponnya tapi ... sebaiknya kau makan dulu, Mbak Sesil yang memberiku saran untuk membawakan makanan ini.'' Sonya yang akan membalas ucapan Nevan menjadi terhenti. Ia mulai menghirup aroma makanan yang menggugah seleranya. ''Kurasa kau datang bukan hanya kunjungan pribadi demi pencitraan hubungan kita bukan?'' ujar Sonya sambil mengunyah. Tangan Nevan yang bagian pergelangan kemejanya telah disampirkan ke atas hingga siku menjadi terulur mengambil air botol yang masih tersegel dan dengan sekali putar, ia berhasil membukanya. ''Minumlah sebelum bicara,'' ujarnya menyodorkan air tersebut. Pandangan para kru syuting lalu berdecak kagum melihat dari kejauhan interaksi Sonya dan Nevan yang tampak romantis, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dua orang tersebut. Sonya menegak air yang diberikan oleh Nevan, lalu melirik para kru yang mulai tersenyum bawa perasaan. ''Kurasa sandiwara ini mulai berjalan baik.'' ''Ibuku akan kembali ke Indonesia bulan depan dan dia ingin bertemu denganmu. Maka sebelum itu terjadi, ada beberapa hal yang perlu kita bahas,'' ucap Nevan dengan raut wajah serius. ''Membahas tentang apa?'' tanya Sonya ikut serius. ''Kapan kita bertemu, jatuh cinta dan ... beberapa hal yang harus kau ketahui tentangku, apabila Ibuku menanyakannya dan begitu pula denganku, aku perlu mengenalmu lebih dalam,'' ujar Nevan menjelaskan. Mata lelaki itu menatap lekat Sonya saat mengatakan perlu mengenal wanita itu lebih dalam. Menjadikan Sonya tenggelam oleh iris mata cokelat milik Nevan yang begitu indah. ''Kenapa kau tidak menjadi aktor seperti Erlangga? Kuyakin kau akan sangat terkenal jika melakukannya.'' Pernyataan Sonya yang tidak relevan membuat Nevan mengangkat sebelah alisnya, karena bingung. Lelaki itu tidak menyadari bahwa Sonya memujinya secara tidak langsung. ''Lalu kau sendiri? Apakah menjadi aktris adalah impianmu yang sangat kau dampakan?'' Seketika Sonya terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis penuh maksud. ♡♡♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN