Northcliff tengah berkemas-kemas di kamarnya, semua barang yang menurutnya perlu untuk dibawa, sudah dia masukkan ke dalam tas kain. Tak banyak benda yang dia bawa karena tidak ingin terlalu membawa banyak beban.
“North.”
Northcliff menoleh ke belakang begitu suara sang ibu terdengar memanggil namanya. “Ya, Bu.”
“Maaf tadi Ibu ada urusan sebentar.”
Northcliff mengulas senyum, dia memaklumi. “Tidak apa-apa. Lagi pula, pembicaraanku dengan ayah sudah selesai.”
“Bagaimana hasilnya?” tanya Adreana, tapi begitu melihat Northcliff sedang mengemasi barang, tanpa mendengar Northcliff memberikan jawaban pun, dia sudah tahu apa yang terjadi. “Sepertinya dia sudah mengizinkanmu untuk pergi?”
Northcliff mendengus, “Lebih tepatnya aku yang memaksa, Bu. Ayah tidak pernah mengizinkanku, dia justru berpikir aku ini begitu bodoh karena bisa tertipu oleh orang asing. Dia bersi keras tidak mempercayai ucapan kakek yang aku ceritakan pada Ibu. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap akan melakukan perjalanan ini dan membuktikan pada semua orang termasuk pada Ayah, bahwa aku tidak seburuk yang mereka duga.”
Adreana merangkul putranya, mengusap punggungnya penuh sayang karena sekali lagi dia selalu merasa iba dan prihatin melihat putra bungsunya yang selalu dipandang sebelah mata oleh orang lain. Dia pun mengulas senyum untuk menguatkan. “Ibu percaya kau pasti bisa. Kelak tidak akan ada lagi orang yang meremehkanmu.”
“Terima kasih, Bu.”
Northcliff terenyak tatkala menemukan sang ibu tiba-tiba meneteskan air mata, cepat-cepat dia menggenggam kedua tangan ibunya, “Kenapa Ibu menangis?”
“Karena kau akan pergi. Mana mungkin Ibu tidak merasa sedih dan khawatir.”
“Aku pasti baik-baik saja, Bu. Aku berjanji akan kembali dengan selamat. Saat aku kembali nanti, aku pasti akan melakukan banyak perubahan. Karena itu, Ibu berjanjilah … tunggu aku pulang ya. Ibu juga harus menjaga diri baik-baik. Aku ingin ibulah, orang pertama yang akan menyambut kepulanganku nanti.”
Adreana mengulas senyum meski air mata tak bisa berhenti mengalir dari kedua matanya. “Ibu pasti akan selalu menunggumu, North. Ibu juga akan selalu mendoakan untuk keberhasilanmu. Kau hati-hati ya. Pastikan kau kembali dalam kondisi baik-baik saja nanti.”
Northcliff mengangkat ibu jari, “Pasti,” jawabnya penuh percaya diri.
Adreana lantas menatap barang-barang yang dibawa oleh Northcliff, hanya sedikit yang dibawanya, wanita paruh baya itu mengerutkan kedua alis, “Kau hanya membawa sedikit barang, North? Pakaian gantimu juga hanya dibawa sedikit? Perlu Ibu bantu menyiapkan barang-barangmu?”
Adreana sudah berniat untuk berjalan ke arah lemari, guna membantu sang putra mengemasi pakaiannya, tapi dengan cepat Northcliff menghentikan.
“Tidak perlu, Bu. Aku memang sengaja hanya membawa sedikit barang karena tidak ingin membawa beban terlalu banyak. Perjalanan ini bukan sekadar jalan-jalan, Bu. Tapi ini petualangan penting untuk menemukan pedang legendaris, Gladius. Aku tidak akan main-main selama perjalanan ini.”
Adreana terdiam beberapa saat seolah tengah mencerna baik-baik ucapan putranya yang begitu penuh tekad tersebut. Dia lantas mengeluarkan sesuatu dari gaun yang dikenakannya, sebuah kantong terbuat dari kain. Sekilas pun terlihat itu kain berisi sejumlah uang. Adreana menengadahkan salah satu telapak tangan Northcliff dan meletakkan kantong berisi uang itu di sana. “Bawa ini untuk bekal di perjalananmu, North.”
“T-Tapi Bu, ini sepertinya terlalu banyak.” Northcliff berniat mengembalikan uang itu tapi Adreana bergegas menolaknya.
“Ambil saja. Ibu tahu kau akan membutuhkannya. Kau pikir bisa mendapatkan makanan gratis di luar sana seperti di sini? Tidak, North. Di luar sana, semuanya menggunakan uang jadi kau memang akan membutuhkannya.”
Northcliff tertegun sembari menatap nanar pada kain berisi banyak uang tersebut.
“Bawa saja. Percaya pada Ibu, kau pasti akan membutuhkannya nanti.”
“Apa Ayah tidak akan marah Ibu memberiku uang sebanyak ini?”
Adreana menggeleng dengan tegas, “Tidak akan. Lagi pula, itu uang pribadi Ibu. Ayahmu sama sekali tidak tahu Ibu memiliki uang itu. Ibu menyimpannya untuk jaga-jaga saja selama ini. Ibu bersyukur menyimpannya karena ternyata benar kan, uang itu begitu dibutuhkan sekarang.”
Northcliff begitu terharu karena dia memiliki ibu sebaik itu. Dia pun memeluk ibunya untuk menyalurkan rasa sayang dalam hati yang dia rasakan untuk wanita paruh baya yang telah melahirkannya ke dunia tersebut. “Terima kasih, Bu,” katanya.
“Tadi Ibu bertemu dengan Aezar. Dia bilang sudah menyiapkan kuda untuk kalian berdua melakukan perjalanan ini. Menunggangi kuda memang lebih cepat, bukan? Ibu menyetujui keputusan Aezar ini.”
Northcliff tersenyum lebar, merasa lega karena rupanya Aezar sudah menyiapkan segalanya. Pria itu ternyata benar-benar serius untuk menemaninya melakukan perjalanan ini.
“Tapi Ibu minta maaf ya, North. Ibu tidak sanggup melihat kepergianmu karena itu Ibu tidak akan mengantarmu.”
Northcliff mengusap jejak air mata yang membasahi wajah cantik sang ibu, dia lalu mengulas senyum, sangat memaklumi perasaan ibunya. “Tentu, Bu. Tidak masalah. Lagi pula, aku juga tidak akan sanggup menahan kesedihan jika melihat Ibu mengantarku pergi. Ibu tunggu saja di sini ya, aku janji akan berjuang agar bisa cepat kembali ke pelukan Ibu lagi.”
Untuk terakhir kalinya, Adreana kembali memeluk sang putra. Ya, untuk terakhir kali karena setelah ini dia tak tahu kapan tepatnya akan bisa bertemu dengan Northcliff lagi.
***
Begitu keluar dari area camp Prajurit Guardian, benar saja seperti yang dikatakan ibunya, Northcliff melihat sosok Aezar sudah menunggu dengan dua ekor kuda yang sudah dia persiapkan sebagai kendaraan mereka melakukan perjalanan ini.
“Lama sekali kau, North?”
Northcliff mendengus, “Wajar aku lama karena banyak hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu.”
“Jadi Tuan Labhrainn sudah mengizinkanmu pergi?”
Northcliff mengangkat kedua bahu, “Dia tidak mengizinkan sebenarnya, tapi aku yang memaksa pergi. Perjalanan ini akan menjadi ajang pembuktianku pada ayah bahwa semua penilaiannya tentangku selama ini sebenarnya salah besar.”
“Penilaian apa?”
“Dia yang selalu menganggap aku tidak berguna, tidak bisa diandalkan dan sangat lemah.”
“Bukannya itu benar ya? Semua yang dikatakan Tuan Labhrainn tentangmu itu kurasa memang kenyataan.” Aezar terkekeh melihat Northciff kini mendelik tajam padanya.
“Akui saja itu memang benar, North.”
“Huh, sepertinya bukan hanya pada orang-orang di camp, tapi aku juga harus membuktikan padamu agar mulut kotormu itu bisa aku sumpal nanti.”
Aezar tertawa lantang karena biasanya dia yang dikerjai oleh Northcliff, sehingga saat dirinya yang balas mengejek pria itu, dia begitu puas dan senang. Merasa semuanya sudah impas sekarang.
“Ngomong-ngomong soal meminta izin, kau sudah meminta izin pada Lamia?”
Tawa Aezar seketika terhenti, digantikan rona merah yang menjalar di wajahnya.
Melihat ekspresi itu Northcliff menyeringai, “Sudah kuduga kau pasti tidak akan berani menyatakan perasaanmu padanya. Kau tidak takut nanti dia direbut pria lain?”
Aezar mengembuskan napas pelan, terlihat frustrasi. “Aku hanya bisa pasrah. Mau bagaimana lagi, jangankan bicara dengannya, melihatnya dari jauh saja sudah membuatku gugup dan panik. Aku tidak sanggup mengatakannya.”
“Dasar payah,” ejek Northcliff.
Tentu saja Aezar tak terima diejek seperti itu. “Kau sendiri bagaimana?”
Northcliff yang hendak naik ke punggung kudanya pun seketika mengurungkan niat. “Aku?” tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri.
Aezar mengangguk, “Ya, kau. Sudah mengucapkan perpisahan juga?”
“Jika yang kau maksud aku mengucapkan perpisahan pada keluargaku, terutama ibuku, maka jawabannya sudah. Itu sebabnya aku di sini sekarang.”
Aezar menggelengkan kepala untuk memberitahu Northcliff bahwa dia salah menangkap maksud ucapannya. “Bukan keluargamu. Tapi tunanganmu yang aku maksud.”
Northcliff memasang raut datar, melihat Aezar kini kembali tertawa, menurutnya ucapan pria itu sama sekali tidak lucu.
“Kau sudah mengucapkan salam perpisahan pada Jenedith belum?” tanya Aezar sebelum tawanya menggelegar karena puas melihat wajah datar Northcliff, dia tahu teman sekaligus sahabatnya itu tak suka jika membahas masalah ini.
“Tutup mulutmu, Aezar. Pertunanganku dengan dia belum diresmikan. Jadi jangan asal menyebutnya sebagai tunanganku.”
“Tapi dia memang tunanganmu, kan? Kalian sudah jelas akan dijodohkan. Bahkan mungkin seandainya serangan demon ini tidak pernah terjadi, kau dan dia sudah menikah sekarang.”
Northcliff mendengus, “Seperti aku mau saja menikah dengannya?”
“Hah? Memangnya kau tidak mau? Padahal dia itu incaran para pria di sini. Dia wanita yang sempurna. Cantik, baik, lembut, ramah, dan yang paling penting ….” Aezar bersiul. “Body-nya menggoda. Kau beruntung karena dia yang kelak akan menjadi istrimu.”
“Sayangnya dia lebih tua dariku. Maaf, maaf saja. Sebenarnya aku tidak tertarik pada wanita yang lebih tua dariku.”
Aezar menyeringai, seolah umpannya berhasil karena kini Northcliff telah masuk dalam jebakannya. “Oh, berarti ini artinya kau sebenarnya ingin Courtney yang menjadi istrimu, kan? Sudah kuduga ini alasanmu begitu berambisi untuk menyelamatkannya, kau diam-diam menaruh perasaan padanya.”
Northcliff sungguh tak ingin meladeni ejekan Aezar yang tidak ada habisnya sehingga dia bergegas menaiki punggung kuda tanpa merespons apa pun.
“Kenapa diam, North? Apa ini artinya aku benar, kau memang diam-diam mencintai Courtney?”
“Katakan apa pun sesukamu. Yang perlu kau tahu hanyalah aku serius ingin menyelamatkan Courtney karena aku merasa keselamatannya menjadi tanggung jawabku sekarang. Lagi pula, aku sudah berjanji pada keluarganya akan membawa dia kembali dengan selamat.”
Karena melihat begitu serius wajah Northcliff saat ini, Aezar pun tak berani lagi mengajaknya bercanda. Mengikuti Northcliff yang kini sudah duduk tegak di punggung kuda, Aezar pun ikut menaiki punggung kudanya.
“Ibumu tidak mengantar kau pergi, North?” tanya Aezar begitu dia menoleh ke belakang dan yang dia lihat hanyalah beberapa Prajurit Guardian yang menatap mereka bingung karena tak tahu menahu tentang rencana perjalanan mereka.
Northcliff menggelengkan kepala, “Tidak. Karena jika Ibu mengantarku pergi mungkin aku tidak akan tega meninggalkannya. Ayo berangkat, jangan banyak bicara terus.”
Northcliff pun memacu kudanya agar berlari, diikuti Aezar yang cepat menyusulnya.
Kuda mereka berlari begitu kencang, tapi belum jauh meninggalkan area camp Prajurit Guardian, mereka dikejutkan oleh sosok seseorang yang berdiri seorang diri di pinggir jalan, tak jauh dari kastil Kaum Paladin, seolah dengan sengaja dia sedang menunggu kedatangan mereka.
“Itu tunanganmu sedang menunggu. Temui dia dan ucapkan salam perpisahan padanya, North.”
Northcliff mengernyitkan dahi, heran melihat Jenedith sedang berdiri di pinggir jalan sambil memeluk sesuatu yang terbungkus kain. “Kenapa dia bisa tahu kita berangkat sekarang?”
Melihat Aezar menyeringai, dia sudah tahu jawabannya. Tentu saja Aezar yang memberitahunya di saat mereka mungkin tak sengaja bertemu.
Northcliff melompat turun dari kudanya, dia berjalan menghampiri kakak Courtney tersebut.
“Kalian akan berangkat sekarang?” tanya Jenedith, begitu Northcliff kini berdiri tepat di hadapannya.
Northcliff mengangguk, mengiyakan. “Ya,” katanya. “Semakin cepat melakukan perjalanan ini, semakin baik. Kau sudah tahu tujuan kami melakukan perjalanan ini?”
Jenedith mengangguk, “Ya. Tadi pagi tidak sengaja aku bertemu dengan Aezar. Dia menceritakan semuanya padaku.”
“Kau percaya pada ucapan kakek itu?”
Jenedith mengulas senyum, “Kalau kau saja percaya, kenapa aku tidak? Aku yakin keputusanmu ini tepat dan aku akan mendukungmu.”
Northcliff tak mengatakan apa pun tapi tatapannya tertuju pada benda terbungkus kain yang sedang dipeluk oleh Jenedith. Menyadari arah yang ditatap pria itu, Jenedith pun bergegas mengulurkannya pada Northcliff. “Sebenarnya aku menunggumu di sini karena ingin menyerahkan ini padamu.”
Satu alis Northcliff terangkat, “Apa itu?”
“Kau buka saja. Nanti juga kau akan mengetahuinya.”
Karena penasaran, Northcliff pun menerimanya. Dia lantas membuka kain yang membungkus entah benda apa pun yang cukup panjang itu. Kedua matanya terbelalak begitu kini bisa dia lihat benda di balik kain itu dengan jelas. “Ini kan ….”
“Pedang yang kau dan Courtney pernah perebutkan. Kau pasti membutuhkan pedang itu, kan? Ambillah dan bawa pedangnya bersamamu sebagai senjata jika kau harus melawan musuh.”
Northcliff tertegun, menatap pedang itu semakin membuatnya teringat pada Courtney yang entah bagaimana nasibnya sekarang setelah dibawa pergi salah satu demon yang menangkapnya.
“Jika sedang menggunakan pedang itu, aku harap kau akan mengingat Courtney. Karena pedang itu miliknya, kan?”
Northcliff mengepalkan tangan, keinginannya untuk menyelamatkan Courtney terasa semakin besar di dalam hati. Dia pun tanpa ragu menyampirkan pedang itu di pinggangnya. “Baik. Aku akan membawanya dan bertarung menggunakan pedang ini. Terima kasih sudah mengantarkannya untukku.”
Jenedith menggelengkan kepala, “Tidak. Akulah yang harus berterima kasih karena kau mau menyelamatkan adikku.”
“Tidak perlu sungkan karena bagiku keselamatan Courtney merupakan tanggung jawabku sekarang.”
Jenedith tak mengatakan apa pun tapi terpancar di wajahnya, dia merasa sangat lega.
“Aku berangkat dulu.”
“Ya, berhati-hatilah. Doa dan dukunganku selalu menyertaimu, North.”
Untuk terakhir kalinya Northcliff mengulas senyum untuk Jenedith, sebelum dia kembali berjalan ke arah kudanya dan duduk kembali di sana.
“Apa sekarang kau lebih bersemangat setelah mendapatkan cendramata dan dukungan dari tunanganmu?”
Northcliff mendelik tajam pada si pemilik suara, siapa lagi jika bukan Aezar yang kembali mengejeknya. “Tutup mulutmu. Kau sudah siap melakukan perjalanan ini?”
Dengan penuh percaya diri Aezar mengusap ujung hidung, “Sejak tadi juga aku sudah siap, North.”
“Bagus. Kalau begitu petualangan kita dimulai.”
“Ya,” sahut Aezar penuh semangat.
Mereka pun memacu kuda agar berlari cepat, walau kini mereka tak tahu dimana keberadaan pedang Gladius yang diceritakan sang kakek misterius. Tapi mereka sangat yakin akan berhasil memecahkan petunjuk keberadaan pedang itu. Kini, petualangan panjang dan berbahaya pun siap mereka arungi.