Northcliff terlihat gelisah di depan sebuah tenda, dia terus berjalan mondar-mandir, tak tentu arah. Kecemasan tercetak jelas di wajahnya yang tampan. Dia sepertinya sedang menunggu seseorang di sana.
Benar saja karena begitu sosok ibunya muncul, kini kepanikan yang tersirat di wajah pria berusia 20 tahun tersebut.
“Masuklah, North.”
“Hm, Ayah mau menemuiku, Bu?”
Adreana mengangguk, “Ya. Ibu sudah menjelaskan semuanya pada ayahmu. Tapi kau juga harus menjelaskannya lagi agar dia mengerti dan memberimu izin untuk pergi.”
“Apa Ayah mempercayai cerita ibu?” tanya Northcliff, inilah yang dia khawatirkan. Dia takut ayahnya tak percaya dan justru berakhir dengan memarahi dirinya.
“Kau jelaskan sendiri, nanti juga kau akan mengerti. Ibu sudah membantumu menjelaskan, sekarang giliranmu yang membujuknya.”
Northcliff menghela napas panjang, merasa tidak ada pilihan selain menuruti perkataan sang ibu. Meski rasa enggan itu masih menggelayuti hati, dia memantapkan hati untuk bertemu dengan ayahnya. “Baiklah, Bu. Aku akan bertemu dan bicara dengan ayah.”
Northcliff melangkah masuk ke tenda tersebut, dia meneguk ludah ketika melihat sang ayah sedang membersihkan bilah pedangnya dengan kain. Bilah pedang yang berkilauan itu entah kenapa begitu mengerikan di mata Northcliff. Membayangkan jika sampai kata-katanya membuat sang ayah marah, bisa jadi pedang itu akan menancap di tubuhnya. Ayahnya seseorang yang tegas dan kejam jika sedang marah, Northcliff pikir tidak mustahil ayahnya akan tega menusuknya dengan pedang yang terlihat luar biasa tajam itu.
Northcliff berdeham untuk menarik atensi Labhrainn, tapi rupanya tak berhasil karena sang ayah yang dalam posisi membelakanginya itu masih tetap tak mengubah posisinya.
“Sayang, Northcliff ingin bicara denganmu. Kenapa kau …”
“Apa dia memanggilku?” sela Labhrainn yang seketika membuat Adreana mengatupkan kembali mulutnya. “Apa dia memiliki sopan santun? Jika ingin mengajak bicara seharusnya dia memanggilku, bukannya berdeham seperti orang yang tidak bisa bicara.”
“Maaf, Ayah,” sahut Northcliff seraya menundukan kepala karena menyadari belum apa-apa dia sudah membuat ayahnya kesal.
Labhrainn pun berbalik badan, menoleh pada istrinya sembari berkata, “Tinggalkan kami.”
Bukan hanya Adreana yang terkejut, Northcliff pun demikian terlihat dari pria itu yang bergegas mengangkat kepala, menatap sang ibu seolah berharap agar dirinya tidak ditinggalkan berdua dengan ayahnya.
“Aku di sini saja. Biarkan aku menemani kalian.”
“Aku bilang tinggalkan kami. Biarkan dia mengatakan apa yang ingin disampaikannya padaku. Ini pembicaraan antar pria, wanita sepertimu tunggu saja di luar.”
“Tapi …”
“Kau jangan khawatir, semarah apa pun aku padanya tidak mungkin aku sampai membunuhnya, jika itu yang kau takutkan, Adreana.”
Adreana pada akhirnya memilih mengalah, meski dia mengkhawatirkan Northcliff karena hubungan antara ayah dan anak itu sama sekali tidak berjalan dengan baik. Apalagi dia tahu suaminya begitu tegas dan kejam, dia khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan pada putra kesayangannya.
Adreana mengusap punggung Northcliff untuk menenangkan, “Ibu akan menunggu di luar. Kalian bicaralah berdua.”
Northcliff mengangguk-anggukan kepala, meskipun enggan ditinggalkan berdua dengan ayahnya, tapi dia tahu menahan ibunya pun merupakan sesuatu yang percuma. Tidak ada seorang pun yang berani membantah jika Labhrainn sudah memberikan perintah.
Northcliff hanya menatap punggung ibunya dengan tatapan nanar sampai sosok wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda itu menghilang begitu dia melewati pintu keluar.
“Jadi sebenarnya apa yang kau inginkan?”
Suara berat dan serak khas Labhrainn mengalun di dalam tenda, tatapan Northcliff kini tertuju pada sosok pria yang merupakan ayah sekaligus pemimpin Prajurit Guardian tersebut. “Bukankah ibu sudah menceritakannya pada Ayah? Aku datang ke sini untuk meminta izin pada Ayah karena aku akan melakukan petualangan untuk mencari pedang legendaris.”
Labhrainn mendengus, “Pedang legendaris? Aku yang seorang ksatria ini bahkan baru mendengar nama pedang itu. Aku tahu kau masih muda, tapi aku tidak menyangka kau sebodoh ini sampai bisa dibohongi orang asing.”
Mendengar ucapan ayahnya, Northcliff merasakan kekesalan di dalam hati, kedua tangannya terkepal erat. Raut kecemasan di wajahnya sirna karena kini digantikan oleh tatapan tajam. “Pedang legendaris itu memang ada, Ayah. Aku percaya kakek itu tidak mungkin berbohong. Dia sudah membuktikan sendiri bahwa dia bukan orang sembarangan.”
“Adreana bilang kakek itu memberimu obat ajaib yang bisa menyembuhkan semua jenis luka hingga tak berbekas?”
“Ya,” sahut Northcliff seraya menganggukan kepala, “Nama obat ajaib itu elixcir. Jika ayah tidak percaya, aku bisa membuktikan bahwa obat itu memang ajaib. Ibu juga awalnya tidak percaya seperti Ayah, tapi setelah melihat obat ajaib itu, ibu jadi mempercayaiku.”
Labhrainn berdecak kali ini, “Kau pikir aku sama seperti ibumu yang bisa dibodohi semudah itu? Jika memang benar ada obat seperti itu, artinya itu bukan obat ajaib melainkan ramuan sihir. Kakek yang mengatakan kebohongan padamu pastilah seorang penyihir. Kau bodoh sekali jika tertipu olehnya.”
“Penyihir?” gumam Northcliff, dia memang sering mendengar sekumpulan manusia yang memiliki kekuatan luar biasa yang bisa mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mungkin, kekuatan itu bernama ilmu sihir. Namun, dia tak percaya penyihir benar-benar ada karena dia tak pernah melihatnya secara langsung. Dia hanya mendengar rumor yang beredar tentang keberadaan para penyihir di bumi.
“Penyihir itu pasti memiliki niat jahat. Jangan dengarkan dia. Daripada membicarakan omong kosong tentang berpetualang mencari pedang legendaris untuk menyelamatkan umat manusia dari teror para demon, lebih baik kau berlatih agar menjadi kuat. Sudah cukup kau membuatku malu dengan kelakuanmu, North. Sudah saatnya kau bersikap dewasa dan bisa berguna untuk kerajaan ini. Jujur, aku malu memiliki anak sepertimu yang bahkan dijuluki sangat lemah dan seorang pecundang. Apa kau tidak malu dijuluki seperti itu oleh semua orang?”
Northcliff tertegun, ini bukan pertama kali ayahnya mengatakan kalimat pedas seperti itu padanya. Tapi tetap saja dia begitu sakit hati jika mendengarnya.
“Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, lebih baik kau pergi. Melihat wajahmu saja sudah membuatku kesal.” Labhrainn mengibaskan tangan, seolah memberi isyarat dengan tangannya bahwa dia sedang mengusir Northcliff.
Karena rupanya Northcliff tak menurut, dia tetap berdiri dalam diam di posisinya semula, Labhrainn menaikkan sebelah alis, “Tunggu apa lagi? Kenapa masih berdiri di sana?”
“Aku akan tetap pergi dengan atau tanpa izin dari Ayah.”
Labhrainn mengerutkan wajah, kini amarahnya mulai naik ke permukaan. “Jadi kau tidak mau menuruti perintahku? Kau ingin membuktikan pada semua orang bahwa selain lemah dan payah, kau juga sangat bodoh sehingga dengan mudah tertipu orang tidak dikenal?”
“Sebaliknya Ayah, aku pergi justru untuk membuktikan pada semua orang bahwa penilaian kalian padaku salah. Aku tidak lemah dan aku bisa menjadi orang yang berguna. Aku pasti akan menemukan pedang legendaris itu karena aku percaya kakek yang kutemui kemarin mengatakan yang sebenarnya. Dia sama sekali tidak berbohong. Aku pasti akan menumpas para demon itu dengan pedang Gladius.”
Labhrainn bisa melihat tekad kuat dan kepercayaan diri yang terpancar dalam sorot mata Northcliff, sesuatu yang baru pertama kali dia lihat dari sosok putranya yang selalu membuatnya kesal dan kecewa itu.
“Aku juga akan membuktikan pada Ayah bahwa aku juga bisa membanggakan seperti Kak Leicester maupun Kak Therion.”
Seketika Labhrainn tertawa lantang hingga hanya suara tawanya yang menjadi satu-satunya suara yang terdengar di tenda itu. “Omong kosong. Anak pemalas sepertimu yang begitu egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Mengutamakan bersenang-senang dan bermalas-malasan dibandingkan menempa diri agar menjadi kuat, bagaimana mungkin bisa seperti Leicester dan Therion. Terkadang aku berpikir, apa kau ini benar anakku? Kau terlalu berbeda denganku dan kedua anakku yang lain.”
Northcliff tersentak, dia sering merasakan sakit hati seperti ini setiap bicara dengan ayahnya, tapi baru kali ini dia merasa ucapan ayahnya sudah sangat keterlaluan.
“Dibandingkan Leicester, aku merasa lebih baik kau saja yang mati. Karena kau sama sekali tidak berguna, jadi tidak ada gunanya kau hidup. Sedangkan Leicester, anak hebat itu justru yang memiliki takdir setragis itu.”
Cukup sudah, Northcliff tak kuasa lagi menahan amarah dan sakit hatinya. “Jadi begitu ya? Bagi Ayah lebih baik aku yang mati dibandingkan Kak Leicester.” Northcliff mendengus, “Kalau begitu seharusnya Ayah biarkan aku pergi dari sini. Bukankah dengan begitu Ayah tidak perlu lagi melihat wajahku? Ayah juga tidak perlu merasa kesal lagi jika aku tidak ada di sini, bukan?”
“Jadi ini keputusanmu? Kau akan tetap pergi?”
“Ya,” jawab Northcliff. “Sudah kukatakan aku akan tetap pergi dengan atau tanpa dukungan dari Ayah. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa berguna untuk orang lain. Ayah akan lihat suatu hari ini nanti aku pasti akan menjadi seseorang yang bisa diandalkan semua orang.”
“Aku harap yang kau katakan ini bukan hanya omong besar. Buktikan kau memang bisa melakukannya.”
Northcliff mengangguk dengan tegas, “Ya. Ayah tunggu saja. Aku akan membuktikan ucapanku ini. Aku akan pergi bersama Aezar. Hanya ini yang ingin aku katakan pada Ayah. Aku permisi.”
Northcliff membungkukan badan sebagai bentuk penghormatan, sebelum dia berbalik badan dan bersiap melangkah pergi.
“Dulu aku memberimu nama Northcliff dengan harapan kelak kau akan menjadi anak yang hebat. Aku selalu percaya kau akan menjadi ksatria yang tangguh dan bisa diandalkan semua orang. Tapi kenyataannya kau begitu mengecewakan. Aku jadi menyesal telah menaruh harapan sebesar itu saat kau lahir.”
Northcliff mengulas senyum, senyum getir yang menunjukan suasana hatinya yang bagai ditikam benda tajam tak kasat mata. “Ayah bisa katakan ini padaku nanti jika aku kembali setelah menyelesaikan misi ini. Jika aku gagal mendapatkan pedang itu, aku akan menerima apa pun penghinaan Ayah. Tapi jika aku berhasil menemukannya dan membasmi para demon, aku mohon Ayah tarik kembali kata-kata itu karena sungguh hatiku sakit sekali mendengarnya.”
Northcliff benar-benar melangkah pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan Labhrainn yang memicingkan mata saat melihat punggung putra bungsunya yang menghilang di balik pintu keluar.
Awalnya, Northcliff pikir orang yang akan dia temui di luar tenda adalah ibunya. Namun, rupanya dia salah karena orang yang sedang berdiri sambil bersedekap d’ada di hadapannya kini adalah orang itu, kakak keduanya … Therion.
“Jika kau mencari ibu, dia sudah pergi karena ada sesuatu yang harus diurus. Dan alasanku di sini karena ibu yang meminta. Dia menyuruhku memastikan ayah tidak membunuhmu.”
Northcliff mendengus, “Kau pasti mendengarkan semua pembicaraanku dengan ayah, bukan?”
“Tidak bermaksud mendengarkan tapi suara kalian memang terdengar sampai ke sini.”
Northcliff tak terkejut jika Therion mendengar pembicaraan mereka, hanya saja dia kesal karena dari sekian banyak orang kenapa harus kakaknya itu yang menguping pembicaraan mereka. Sosok kakak yang tidak ubahnya seperti ayah mereka yang selalu merendahkannya.
“Apa kau ingin mengejekku sekarang, Kak?” tanya Northcliff, dia sudah bisa menebak kakaknya yang satu itu tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk menghinanya habis-habisan.
Therion menipiskan bibir, “Tidak. Karena semua yang ingin kukatakan padamu sudah dikatakan oleh Ayah. Aku setuju dengannya. Kau ini begitu bodoh karena mau saja ditipu orang asing.”
Northcliff sungguh tak peduli apa pun yang dikatakan semua orang yang menentangnya melakukan petualangan ini karena walau bagaimanapun dia akan tetap mempercayai ucapan sang kakek misterius.
“Jika kami yang ksatria hebat saja tidak mengetahui adanya pedang legendaris, mana mungkin kakek renta yang kau ceritakan itu bisa mengetahuinya? Apa kau tidak menyadari dia hanya menipumu, North?”
Northcliff terkekeh sembari balas bersedekap d’ada seperti sang kakak, posisi menantang karena dia tak mau lagi diremehkan siapa pun termasuk keluarganya sendiri. “Silakan katakan apa pun sesukamu, Kak. Aku tidak akan terpengaruh. Aku tetap akan mempercayai ucapan kakek itu karena aku tahu persis dia bukan orang sembarangan. Daripada kau terus membujukku agar tidak pergi, lebih baik kau tunggu saja di sini. Sama seperti ayah yang sedang menunggu pembuktian dariku.”
“Bukan membujuk, tapi menyadarkanmu dari kekonyolan ini. Karena jika terbukti kau sudah tertipu, kami juga yang malu sebagai keluargamu. Oh, ya. Boleh aku meminta sesuatu darimu, North?”
Northcliff memicingkan mata, penuh antisipasi. “Meminta apa?”
Therion berjalan menghampiri, berdiri tepat di depan Northcliff seraya mendaratkan salah satu tangannya di bahu sang adik. Lalu berkata, “Jika ternyata terbukti kau telah tertipu, aku mohon padamu jangan kembali lagi ke sini. Pergi sejauh mungkin dan jangan pernah menunjukan batang hidungmu di depan kami lagi. Dengan begitu setidaknya kau tidak akan mempermalukan keluarga kita dengan kelakuan konyolmu lagi. Bagaimana? Mau mengabulkan permintaanku ini?”
Sudut bibir Northcliff membentuk kurva, sebuah seringaian seolah dia tertarik dengan kesepakatan yang ditawarkan oleh kakaknya tersebut. “Aku setuju. Tapi jika ternyata aku bisa membuktikan ucapan kakek itu benar. Jika aku berhasil mendapatkan pedang legendaris itu dan berhasil menumpas para demon agar kembali ke tempat asal mereka maka Kak Therion … kau harus memohon maaf padaku di depan semua orang.”
Therion tertawa, secara terang-terangan mencemooh perkataan Northcliff. “Baiklah. Aku setuju. Semoga berhasil, Adikku. Bermimpilah terus pedang konyol itu benar-benar ada,” katanya sambil menepuk-nepuk bahu Northcliff.
Therion tertegun ketika Northcliff balas memegang kedua bahunya, “Kakak juga ya, persiapkan diri untuk mempermalukan diri sendiri dengan memohon maaf padaku di depan semua orang. Oh, ya. Satu lagi, selama aku pergi tolong jaga ibu untukku. Lindungi ibu jika para demon itu kembali menyerang. Jika sampai sesuatu yang buruk menimpa ibu maka kau orang pertama yang akan aku cari, Kak Therion.”
“Tanpa kau meminta pun aku pasti melindungi ibu. Jangan samakan aku denganmu, North. Aku selalu bisa diandalkan, tentu saja termasuk urusan melindungi orang tua kita. Tidak seperti dirimu yang hanya bisa mempermalukan nama baik keluarga dan membuat kami kecewa.”
Northcliff tak berselera lagi meladeni ucapan pedas sang kakak, dia memilih melenggang pergi untuk mempersiapkan diri karena sebentar lagi petualangannya mencari pedang Gladius akan segera dimulai.