CHAPTER 12 IZIN DARI SANG IBU

2183 Kata
Northcliff memejamkan mata, tampak menikmati sentuhan lembut yang diberikan sang ibu padanya. Pria itu sedang bermanja-manja, merebahkan diri dengan menjadikan paha ibunya sebagai bantalan.  Di pagi hari yang cerah, alih-alih membantu para Prajurit Guardian yang sedang sibuk mengumpulkan para jasad yang menjadi korban serangan para demon, pria itu justru sedang bersantai di tenda bersama ibunya. Walaupun bukan tanpa alasan dia menemui ibunya di pagi hari seperti ini, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada sang ibu, tapi bingung harus memulai pembicaraan dari mana.  “North, ibu dengar Maksimus memarahimu kemarin? Apa itu benar?”  Kedua mata Northcliff yang terpejam, kini perlahan terbuka. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah cantik ibunya yang pucat dengan mata sembap karena terlalu banyak menangis. Sesuatu yang wajar mengingat wanita paruh baya itu baru saja kehilangan seseorang yang sangat dia sayangi. Leicester yang merupakan putra sulung sekaligus putra kebanggaannya.  Northcliff mengangguk, dia tak pernah berani membohongi sang ibu, “Benar, Bu. Paman Maksimus sangat marah padaku sampai dia memukul wajahku.” Saat mengatakan ini, Northcliff memegang salah satu pipi yang dia ingat betul pernah merasakan kerasnya tamparan dari ayah Courtney tersebut.  Adreana nama ibu Northcliff … refleks menyentuh pipi Northcliff yang terkena tamparan Maksimus, mengusapnya pelan dan penuh kasih sayang seolah dia tak rela karena putra kesayangannya dikasari orang lain. “Kenapa kau tidak melawan? Seharusnya kau tidak membiarkan dia menamparmu.”  “Aku rasa sudah sepantasnya aku ditampar olehnya, Bu.” Kening Adreana mengernyit dalam, “Kenapa kau bicara begitu?” “Karena aku penyebab Courtney diculik.”  Adreana menggelengkan kepala seolah dia tidak menyetujui sang putra yang menyalahkan dirinya sendiri atas sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahannya. “Tidak, North. Itu bukan salahmu. Ibu sudah bertanya pada beberapa penduduk yang menjadi saksi mata kejadian itu. Mereka bilang Courtney diculik oleh makhluk itu tanpa disadari siapa pun. Makhluk itu begitu cepat mengambilnya. Kau juga sudah berusaha menyelamatkan Courtney tapi …” Adreana tak melanjutkan ucapannya, ikut merasa iba dengan nasib sang gadis yang entah bagaimana sekarang, tak ada seorang pun yang tahu.  Northcliff tak merasa heran ibunya bertanya pada para penduduk yang saat itu dia dan Courtney selamatkan dari insiden kebakaran pemukiman mereka, para penduduk kini mengungsi di camp Prajurit Guardian. Hanya sementara sampai pihak kerajaan memberikan mereka tempat tinggal yang baru. Karena pihak kerajaan sedang sibuk menangani kerusakan yang terjadi di semua wilayah akibat serangan para demon, untuk sementara waktu … sampai kondisinya membaik maka para penduduk itu akan tetap mengungsi di camp Prajurit Guardian. “Demon,” gumam Northcliff pelan. Satu alis sang ibu terangkat naik karena tak mendengar dengan jelas ucapan putranya.  “Kau bilang apa barusan?” “Makhluk yang tempo hari menyerang dan menculik Courtney itu disebut demon. Sekarang mereka mungkin tidak muncul. Tapi seperti yang ibu lihat, awan hitam masih menutupi langit, itu pertanda kapan pun mereka kemungkinan akan kembali muncul dan menyerang umat manusia lagi.”  Mendengar kengerian itu, Adreana refleks membekap mulut. Sedangkan Northcliff bangkit dari posisi berbaring karena merasa inilah waktu yang tepat untuk membicarakan apa yang ingin dia sampaikan pada sang ibu. Sesuatu yang menjadi alasannya mendatangi camp orang tuanya.  “Kau tahu darimana makhluk itu disebut demon, North?” Northcliff tersenyum tipis, ini dia waktu yang tepat untuk menceritakan segalanya. Sangat kebetulan karena ibunya baru saja bertanya demikian. Northcliff pun dengan lantang menceritakan tentang semua yang diceritakan oleh sang kakek misterius padanya. Semua dia ceritakan, tanpa ada satu pun yang ditutupi ataupun disembunyikan.  Selama mendengarkan cerita Northcliff, Adreana hanya terdiam dengan mata melebar karena terlalu terkejut dengan informasi yang baru saja dia dengar ini.  “Kau bilang mereka adalah demon yang kabur dari neraka?” tanya Adreana seolah sulit baginya mempercayai hal ini. Namun, mengingat penampilan makhluk itu yang memang mengerikan dan mereka sangat kejam, hati kecil wanita paruh baya itu mulai mempercayai cerita Northcliff. “Benar, Bu. Infernum lebih tepatnya nama tempat asal para demon. Kita harus segera mengembalikan mereka ke tempat asal karena jika mereka terus dibiarkan seperti ini maka nasib umat manusia akan terancam. Samua manusia bisa punah jika terus dibunuh oleh mereka. Dan lagi bumi ini mungkin akan ikut hancur.” “Kau bilang tadi hanya pedang legendaris yang mampu mengalahkan mereka?” Tanpa ragu Northcliff mengangguk, “Ya, benar. Nama pedang itu Gladius. Aku harus mencarinya agar aku bisa menumpas para demon itu.” “Tidak. Ibu tidak setuju.”  Northcliff tak heran mendengar penolakan ibunya. Sudah dia duga sang ibu akan melarangnya untuk pergi. Tapi Northcliff sudah mempersiapkan diri, dia akan terus membujuk sampai ibunya bersedia mengizinkannya pergi berpetualang untuk mencari pedang Gladius.  “Aku harus tetap pergi, Bu. Ibu mengerti kan apa yang aku ceritakan tadi? Para demon kapan pun bisa kembali muncul dan menyerang kita seperti kemarin. Ibu melihat sendiri bukan, betapa kejam dan brutalnya mereka?”  “Tapi ibu tidak ingin kehilanganmu setelah baru saja kehilangan Leicester. Kalau kau pergi, bagaimana dengan ibu?”  Northcliff tertegun, apalagi melihat air mata sang ibu mulai jatuh bercucuran. Dia tak pernah tega melihat ibunya seperti itu, karenanya dengan sigap dia menggenggam erat kedua tangan ibunya seraya menatapnya serius berharap ibunya bisa melihat ketulusan dan tekadnya.  “Bu, jika aku berdiam diri dan tetap di sini, ibu pikir tidak ada kemungkinan aku akan bernasib seperti Kak Lei?”  Adreana terenyak, terkejut karena pertanyaan Northcliff seperti itu. “Jangan bicara begitu, North.” “Aku mengatakan kebenaran. Jika para demon kembali menyerang, bukan hanya aku yang kemungkinan menjadi korban mereka. Tapi siapa pun bisa, Bu. Ayah, Kak Therion bahkan ibu sendiri, bisa saja menjadi korban keganasan mereka seperti Kak Lei. Inilah alasan aku memutuskan untuk pergi karena aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi. Sudah cukup Kak Lei yang menjadi korban mereka, kali ini tidak akan kubiarkan ada anggota keluargaku yang pergi lagi.”  Adreana tertegun, bisa dia lihat tekad kuat yang terpancar dalam sorot mata Northcliff. Tapi ibu mana yang rela melepaskan putranya pergi. Apalagi melakukan petualangan yang panjang dan sangat berbahaya. Selain itu, ada hal lain yang membuatnya ragu untuk mengizinkan Northcliff pergi.  “North, walaupun kau sangat yakin dan sudah memutuskan untuk pergi, tapi bagaimana jika informasi keberadaan pedang Gladius sama sekali tidak benar? Bagaimana jika kakek misterius itu hanya mengarang cerita?”  Northcliff mendengus, pertanyaan yang sama seperti yang dilontarkan Aezar kemarin, kini terucap dari mulut sang ibu. Wajar menurutnya mereka tidak percaya karena Northcliff sendiri awalnya tidak percaya jika saja kakek itu tak membuktikan sendiri bahwa dia bukan orang sembarangan.  Untuk menjawab pertanyaan sang ibu, Northcliff merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah botol kecil. Botol berisi cairan ajaib bernama elixcir yang diberikan kakek misterius itu padanya.  “Ibu lihat botol ini?” Dengan kedua alis yang menyatu karena heran, Adreana mengangguk, “Ya, ibu melihatnya. Apa isi di dalam botol kecil itu?” tanyanya karena bisa dia lihat cairan yang tersisa di dalam botol.  “Ini obat ajaib, Bu. Namanya elixcir. Kenapa aku katakan ajaib karena tentu saja ada alasannya.” Northcliff menjeda ucapannya, pria itu menggulirkan mata untuk menatap sekeliling camp. Ketika melihat sebuah pisau untuk mengupas buah, Northcliff menyeringai. Dia bangkit berdiri dan tanpa ragu mengambil pisau itu.  “North, apa yang akan kau lakukan?” tanya Adreana, mulai khawatir karena dia melihat putranya berdiri sambil memegang pisau di tangannya. “Aku akan membuat ibu percaya bahwa kakek itu bukan orang sembarangan.”  Adreana hanya bisa mematung di tempat dengan mata terbelalak begitu melihat Northcliff menggores lengannya dengan pisau itu. Pisau yang tajam tersebut sangat mampu menciptakan luka yang memanjang dan cukup dalam di lengan Northcliff sampai mengeluarkan darah yang sangat banyak.  “North, apa yang kau lakukan?”  Adreana panik bukan main, dia menekan luka sayatan pisau yang cukup dalam sehingga terus mengeluarkan darah itu dengan kedua tangannya. Dia lalu berniat mengambil obat untuk menghentikan pendarahan, tapi gerakannya terhenti karena tangan Northcliff yang lain tiba-tiba mencekalnya.  “Tenang, Bu. Aku baik-baik saja.” Adreana melotot, terlihat kesal luar biasa. “Baik-baik saja apanya, North? Lihat lukamu, terus mengeluarkan darah. Lagi pula kau ini kenapa mengiris tanganmu sendiri?” “Sudah kukatakan akan kubuktikan pada ibu bahwa isi di dalam botol ini adalah obat yang ajaib.”  Tanpa ragu Northcliff menenggak cairan di dalam botol. Seperti halnya kemarin, Northcliff merasakan tubuhnya memanas dan rasa sakit yang teramat sangat pada luka di lengannya tersebut. Namun, tak bertahan lama karena setelah itu luknya menutup dengan sendirinya. Luka itu sembuh dalam sekejap tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.  “Ibu lihat, lukaku sembuh dalam sekejap tanpa perlu diobati hanya karena aku meminum obat ajaib bernama elixcir ini.”  Adreana nyaris tak mempercayai apa yang baru saja dia lihat, dia memegangi tangan putranya, memeriksanya dengan seksama untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak keliru. Rupanya memang benar, luka itu menutup dan sembuh dalam sekejap hanya karena Northcliff meminum cairan di dalam botol.  “Kenapa bisa lukanya tiba-tiba sembuh, North?” “Karena obat ini ajaib, Bu. Obat ini diberikan oleh kakek itu. Sekarang ibu percaya kan, informasi yang diberikan kakek itu memang kenyataan, dia bukan kakek sembarangan?”  Adreana terdiam seolah-olah sedang menimbang-nimbang keputusan apa yang harus dia ambi. Tapi kejadian barusan memang telah sukses menghilangkan keraguan di dalam hatinya. Sosok kakek yang diceritakan Northcliff sepertinya memang bukan orang sembarangan.  Karena ibunya tak kunjung merespons, Northlcliff kembali menggenggam erat kedua tangan ibunya, “Bu, aku mohon percayalah padaku. Aku yakin pedang Gladius benar-benar ada. Aku pasti akan menemukannya dan akan kugunakan pedang itu untuk mengembalikan para demon ke tempat asal mereka. Lagi pula, aku tidak ingin ada yang menjadi korban mereka lagi, entah itu keluargaku maupun semua umat manusia di bumi.”  “Kau bilang kakek itu tidak menyebutkan dengan pasti nama tempat keberadaan pedang itu?” “Memang benar. Tapi dia memberikan petunjuk yang harus aku pecahkan. Jika aku sudah mengetahui jawaban dari petunjuk itu, aku yakin akan menemukan pedangnya.” “Kau yakin bisa memecahkan teka-teki itu, North?”  Northcliff berdecak karena merasa ibunya begitu meremehkan kemampuannya, “Tentu saja aku pasti bisa. Apa ibu pikir aku sebodoh itu? Lagi pula, ada Aezar yang akan membantuku memikirkan jawaban dari petunjuk itu. Aku tidak akan berpetualang sendirian, Bu. Ada Aezar yang akan menemaniku.”  Adreana masih tak memberikan dukungannya, wanita itu hanya menunduk dengan raut wajah yang menunjukan keengganan mengizinkan Northcliff untuk pergi berpetualang.  “Aku juga sudah berjanji pada Paman Maksimus dan keluarganya akan membawa kembali Courtney. Aku sudah berjanji akan menyelamatkannya.” “Courtney? Tapi mungkin dia sudah …” “Tidak, Bu. Aku yakin dia masih hidup. Courtney pasti baik-baik saja. Dia sedang berada di suatu tempat dan sedang menungguku untuk menyelamatkannya.” “Kenapa kau bisa seyakin itu, North? Kakakmu saja mati di tangan para demon itu, apalagi gadis lemah seperti Courtney.”  Northcliff meletakan tangan kanan di d’ada kiri, “Di dalam sini aku mendengar bisikan bahwa Courtney baik-baik saja. Aku bisa merasakannya, Bu. Dia masih hidup. Aku harus menyelamatkannya.” “Tapi North ….” “Ayah selalu mengatakan seorang pria harus menepati janjinya. Pria yang tidak bisa menepati janji adalah seorang pecundang. Selama ini ayah dan Kak Therion … ah, tidak, lebih tepatnya semua orang … selalu menganggapku lemah dan tidak berguna. Sekarang waktunya aku membuktikan pada mereka bahwa aku tidak seburuk yang mereka pikirkan. Aku akan membuktikan bahwa aku juga bisa menjadi seseorang yang bisa diandalkan dan dibanggakan.”  Ardeana tahu betul bagaimana ejekan dan hinaan selalu didengar Northcliff dari semua orang, bahkan dari ayahnya sendiri. Hal inilah yang membuat dia begitu iba pada putra bungsunya, salah satu alasan yang membuatnya begitu menyayangi Northcliff karena anak itu yang selalu dikucilkan semua orang, dianggap sangat lemah dan tidak berguna. Bahkan suaminya sendiri seolah tak lagi menganggap Northcliff sebagai putranya.  Adreana menyeka air mata yang membekas di pipinya dengan punggung tangannya sendiri, dia lalu memegang kedua bahu Northcliff. “Kau benar, North. Inilah saatnya kau membuktikan pada semua orang bahwa penilaian mereka padamu sama sekali tidak benar.”  Northcliff tercengang, “Apa ini artinya ibu memberikan izin dan dukungan padaku untuk pergi?”  Adreana mengulas senyum sebelum kepalanya mengangguk tegas, “Ya, ibu akan mengizinkan dan mendukungmu. Karena ibu percaya putra ibu ini sebenarnya seorang pria yang hebat, kuat dan bisa diandalkan. Kelak semua orang akan menarik kata-kata mereka yang selalu meremehkanmu. Kau yang dianggap tidak berguna kelak akan menjadi seorang pahlawan, ibu percaya ini. Putraku bukan pria lemah.”  Seketika Northcliff menghamburkan diri dalam pelukan sang ibu, “Terima kasih, Bu. Terima kasih atas dukungan dan kepercayaannya. Hanya itu yang aku butuhkan sekarang.”  Adreana membalas pelukan sang putra, mengusap-usap punggungnya dengan penuh semangat. “Baiklah. Karena sekarang ibu sudah mengizinkan dan mendukungmu, kau juga harus berjuang mendapatkan izin dan dukungan dari ayahmu.” Northcliff terbelalak seraya melepaskan pelukannya pada sang ibu, “Hah? Aku harus meminta izin dan dukungan juga pada ayah?” “Tentu saja. Dia ayahmu. Kau tidak bisa pergi sebelum mendapat izin dan dukungan juga darinya.”  Northcliff hanya bisa menggigit bibir, inilah yang paling dia takuti, meminta izin dan dukungan pada sang ayah yang selalu memarahi dan mengatakan kata-kata yang membuat hati Northcliff terluka setiap mendengarnya. Sosok ayah yang tak lagi menganggapnya sebagai anak. Bagaimana caranya meyakinkan sang ayah? Pertanyaan itulah yang kini menggelayuti hati dan pikiran Northcliff.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN