Alasan Northcliff selalu menjalani hidupnya dengan santai karena dia menganggap tinggal di bumi sangat damai. Tak ada hal apa pun yang bisa membahayakan hidupnya. Tentu saja pengecualian untuk peperangan yang biasa terjadi antara Prajurit Guardian dan Kaum Paladin. Menurutnya perang itu bisa terjadi karena kedua kubu itu sendiri yang menciptakannya. Padahal tak ada gunanya melakukan perang, Northcliff sendiri sama sekali tak tertarik ikut serta dalam peperangan tak berguna itu. Tak peduli meskipun hujatan demi hujatan dia terima dari keluarga dan rekannya sendiri di dalam camp Prajurit Guardian, Northcliff tetap pada prinsipnya yaitu menjalani hidup sesuka hatinya.
Namun, kini jelas di depan matanya kengerian tengah terjadi. Bumi yang damai seolah-olah tak ada lagi karena makhluk-makhluk menyeramkan tiba-tiba saja bermunculan tanpa sebab. Apa pun makhluk itu, satu hal yang Northcliff tahu, mereka sangat berbahaya.
Melihat tanah mulai retak dan terbelah, tak ada alasan bagi Northcliff untuk tetap berdiam diri di sana dalam posisi dirinya dan Courtney masih terbaring di tanah. Dia bergegas bangun, mendorong bahu Courtney agar menjauh darinya.
“Courtney, berdiri.”
Northcliff berdecak menyadari kondisi gadis itu sama sekali tidak baik-baik saja. Dari kedua matanya yang berkaca-kaca nyaris menumpahkan air mata dan dari tubuhnya yang gemetaran itu dia tahu persis Courtney sedang ketakutan. Northcliff berdiri sambil menggenggam tangan Courtney, membawa gadis yang kini bagai patung itu untuk berlari bersamanya.
“Northcliff, apa yang terjadi di sini? Aku takut sekali.”
“Jangan banyak bicara. Yang penting kita harus lari dari sini. Di sini sangat berbahaya.”
Mereka berdua berlari meninggalkan area padang rumput yang indah seketika berubah menjadi mencekam. Tanah meskipun bergetar tak terlalu kuat seperti sebelumnya tapi retak yang terjadi masih belum berhenti seolah bumi akan terbelah menjadi dua, tanah itu menciptakan celah dan makhluk-makhluk mengerikan terus bermunculan dari celah tersebut. Begitu pun di udara, makhluk-makhluk itu terus keluar dari awan hitam yang menghalangi langit.
Northcliff masih kebingungan dengan kengerian yang mendadak terjadi ini tapi satu hal yang dia tahu, dia harus bersembunyi di suatu tempat karena firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika makhluk-makhluk itu menangkap mereka.
Di tempat lain, Prajurit Guardian tengah sibuk melindungi istana. Para monster yang sebenarnya adalah demon itu mulai melakukan serangan ke seluruh penjuru bumi, termasuk istana.
Sang raja dan keluarga inti kerajaan tengah meringkuk di dalam istana. Menyaksikan kondisi di luar yang begitu kacau, mereka ketakutan. Tak ada satu pun yang berani meninggalkan bangunan megah bernama istana yang bagi mereka menjadi satu-satunya tempat yang paling aman untuk saat ini.
Sedangkan para Prajurit Guardian kini tengah mati-matian melawan para demon. Dengan menggunakan keahlian bertarung mereka, mereka berusaha menebas demon yang menyerang dengan senjata masing-masing. Akan tetapi, semuanya berakhir sia-sia. Senjata mereka tak mempan untuk para demon. Bahkan dengan mudah para prajurit kuat itu dikalahkan. Para demon menangkap mereka, menghisap hawa kehidupan mereka. Menghisapnya sampai tubuh mereka kering. Tubuh manusia yang utuh itu perlahan terkikis habis, hanya menyisakan seonggok tulang belulang yang dibiarkan tergeletak di tanah begitu sang demon sudah selesai menghisap seluruh kehidupan manusia tersebut. Dalan hitungan detik, jasad-jasad manusia dalam kondisi mengenaskan bergelimpangan di mana-mana.
Teror para demon sungguh mengerikan, tak sanggup digambarkan secara jelas dengan kata-kata. Mereka turun ke bumi seolah dengan satu tujuan yaitu memburu dan menghancurkan seluruh umat manusia. Jumlah mereka tak terhingga, terus keluar dari awan hitam maupun dari perut bumi. Suara mereka yang menyerupai geraman monster itu sungguh membuat tubuh siapa pun merinding dan gemetaran mendengarnya.
Umat manusia yang biasa ramai melakukan aktivitas di siang hari, kini saling berlarian untuk menyelamatkan diri dari demon yang mengejar mereka. Namun, manusia yang lemah tentunya tak mampu berkutik melawan makhluk yang diciptakan dari api tersebut. Dengan mudah mereka tertangkap, begitu hawa kehidupan mereka dihisap habis maka kematian adalah satu-satunya takdir mereka.
Kejadian ini sungguh pukulan telak bagi Northcliff yang menganggap hidup di bumi tak akan membahayakan nyawanya. Bumi itu sangat damai sehingga dia bisa menikmati hidupnya dengan santai. Namun, kini dalam sekejap semuanya berubah. Bumi yang damai itu dalam hitungan detik telah berubah menjadi penuh teror. Satu-satunya suara yang terdengar sekarang adalah geraman para demon dan jeritan ketakutan dari manusia yang berusaha menyelamatkan diri.
***
Northcliff dan Courtney bersembunyi di salah satu gua. Berada tak jauh dari padang rumput, Northcliff pernah menemukan gua itu saat dirinya masih anak-anak. Kini dia membawa Courtney ke sana, nekat masuk dan bersembunyi di dalam berharap para demon tak akan mampu menemukan mereka. Kondisi gua terlihat remang-remang tapi Northcliff masih bisa melihat meski tak jelas.
Tubuh Courtney masih gemetaran dengan hebat, untuk menenangkan gadis itu Northcliff memeluknya seerat yang dia bisa.
“North, sebenarnya makhluk apa itu? Kenapa tiba-tiba mereka bermunculan dari langit dan tanah?”
Northcliff menggelengkan kepala karena sungguh dia pun tak tahu menahu masalah ini.
“Apa mereka akan membunuh kita?”
“Mungkin iya. Karena itu kita harus bersembunyi di tempat yang aman. Aku rasa di sini cukup aman.”
“Kita harus kembali ke rumah. Di dalam rumah pasti lebih aman, North.”
Northcliff berdecak, inilah yang membuatnya malas berurusan dengan wanita karena menurutnya mereka makhluk yang berisik dan tidak sabaran.
“Kita tidak bisa pergi sekarang. Di luar masih berbahaya. Makhluk itu masih terus bermunculan. Jangan sampai mereka melihat dan menangkap kita. Biarkan kondisinya aman dulu. Baru kita keluar dari sini dan kembali ke rumah.”
“Tapi ….”
Ggggggrrrrr …ssshhh
Cortney tak melanjutkan ucapannya lagi, kedua matanya yang sudah banjir air mata itu kini terbelalak sempurna. Salah satu tangannya membekap mulut tatkala telinganya mendengar suara geraman menyeramkan yang seperti tak jauh dari tempat persembunyian mereka.
Reaksi serupa ditunjukan Northcliff, dia pun merasakan ketakutan yang sama. Dia yang berusaha bersikap tenang di depan Courtney kentara mulai panik karena dia yakin makhluk itu memang ada di dekat gua yang mereka jadikan tempat persembunyian.
“North, itu ….”
“Sssshhhh…” Northcliff memberikan isyarat dengan meletakan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri agar Courtney diam dan tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Suara geraman itu semakin terdengar mendekat, sangat dekat seolah sudah berada di depan pintu masuk gua. Northcliff menatap sekeliling, berusaha mencari tempat apa pun yang bisa mereka jadikan persembunyian. Begitu tatapannya tertuju pada celah sempit yang tertutupi batu besar, Northcliff bergegas melepaskan pelukannya pada Courtney, dia genggam tangan gadis itu dan menariknya untuk melewati celah tersebut. Meskipun susah untuk melewatinya karena celah begitu sempit, mereka akhirnya berhasil. Kini mereka bersembunyi di sana, menjadikan batu besar yang menghalangi celah sebagai pelindung mereka agar tak terlihat.
Northcliff dan Courtney sangat beruntung karena mereka bergerak cepat untuk bersembunyi. Karena tak lama berselang, tiga demon masuk ke dalam gua. Penampilan mereka menyeramkan dengan mata melotot dan menyala-nyala berwarna merah, wajah mereka selalu terlihat menyeringai sehingga deretan taring yang tajam mencuat keluar. Hidung mereka begitu besar layaknya kerbau dan sapi. Ada dua tanduk di atas kepala mereka. Warna kulit mereka hitam, meski salah satu ada yang berwarna kemerahan. Mereka kini sedang berada di tempat Northcliff dan Courtney tadi berdiri sebelum mereka menyembunyikan diri.
Northcliff meneguk ludah begitu menatap makhluk-makhluk yang tak dia ketahui jenisnya itu. Hanya saja seumur hidupnya baru sekarang dia melihat ada makhluk menyeramkan seperti itu.
Hiks … Hiks
Pria itu bergegas menoleh ke samping begitu mendengar suara isak tangis, tentu Courtney pelaku yang mengeluarkan suara itu. Northcliff berdecak kesal dalam hati sebelum dia melakukan tindakan cepat dengan membungkam mulut Courtney dengan tangannya agar tak mengeluarkan suara apa pun lagi karena jika sampai terdengar makhluk-makhluk itu maka tamat sudah riwayat mereka berdua.
Untuk kesekian kalinya Nortcliff memberi isyarat dengan meletakan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri agar Courtney tak mengeluarkan suara. Meskipun dia tahu Courtney tak sengaja mengeluarkan suara isak tangis itu karena dia begitu ketakutan sekarang.
Ketiga demon masih menelisik sekitar. Ketika salah satu di antara mereka menatap ke arah celah tempat Northcliff dan Courtney bersembunyi, Northcliff bergegas menarik tubuh Courtney agar berjongkok bersamanya di belakang batu. Jantungnya berdetak dengan cepat karena khawatir makhluk itu melihat sosok mereka.
Terlebih ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat, begitu pun dengan suara geraman yang semakin terdengar jelas, tubuh Northcliff mulai gemetaran sama halnya dengan Courtney. Suara detak jantungnya begitu keras seolah telinganya bisa mendengarnya dengan jelas. Northcliff mengepalkan tangannya yang bebas agar tak terlihat sedang gemetaran. Sedangkan tangannya yang lain masih membekap mulut Courtney yang semakin deras meneteskan air mata.
Northcliff memejamkan mata tatkala meyakini makhluk itu kini berada tepat di balik batu yang menghalangi mereka. Dalam situasi seperti ini dia hanya bisa berharap agar makhluk itu tak menyadari keberadaan mereka.
Gggggrrrrrhhh
Pelukan Courtney, Northcliff rasakan semakin kuat. Pria itu membiarkannya karena tak ada lagi yang dia pikirkan selain ingin terbebas dari rasa takut ini secepatnya. 20 tahun dia hidup sebagai manusia di bumi dan inilah pertama kalinya dia merasa begitu ketakutan seperti ini.
Napas Northcliff semakin memburu dengan dadanya yang naik turun dengan cepat begitu melihat jemari sang demon yang disertai cakarnya yang panjang dan runcing kini sedang mencengkeram batu seolah bermaksud untuk menghancurkannya.
Northcliff kembali memejamkan mata, memohon pada siapa pun agar menolongnya dan Courtney. Seolah harapannya terkabul dan keajaiban itu benar-benar ada, suara geraman tiba-tiba terdengar menjauh. Begitu membuka mata, Northcliff pun tak melihat lagi tangan sang demon yang mencengkeram batu. Perlahan dia melepaskan pelukan Courtney, dia pun beranjak berdiri untuk mengintip dari celah batu apa yang terjadi di depan sana. Kenapa suara geraman itu terdengar menjauh?
Detik itu juga Northcliff mengembuskan napas lega begitu melihat ketiga demon mulai berjalan menuju pintu keluar, mereka pergi meninggalkan gua seolah sudah menyerah untuk mencari mereka.
Northcliff kembali berjongkok dan memeluk Courtney yang masih menangis dengan tubuh gemetaran. “Mereka sudah pergi. Kita sudah aman,” katanya mencoba menenangkan gadis itu.
“Siapa mereka, North?”
Northcliff menggelengkan kepala, “Aku juga tidak tahu.”
“Kenapa mereka tiba-tiba pergi? Aku pikir kita akan tertangkap.”
“Aku juga tidak tahu. Yang pasti sejak tadi aku berharap ada yang mau menolong kita. Mungkin doaku terkabul. Keajaiban mungkin memang ada sehingga mereka menyerah mencari kita.”
Northcliff mengusap wajahnya yang entah sejak kapan sudah banjir oleh keringat. Dia juga berusaha mati-matian menormalkan deru napasnya yang begitu cepat. Ritme detak jantungnya perlahan melambat, tak lagi nyaris melompat keluar dari rongga d'ada seperti tadi.
“Jika mereka sampai mengejar kita ke dalam gua ini, bagaimana nasib orang-orang di luar sana? Apa makhluk-makhluk itu menyakiti semua orang?”
Northcliff tertegun, dia juga baru memikirkan hal ini. Entah apa yang terjadi di luar sana sekarang, dia mulai mengkhawatirkan semua orang.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, North?”
Sebuah pertanyaan yang meluncur dari mulut Courtney dan seketika membuat Northcliff kini berpikir keras, memikirkan tindakan yang harus mereka lakukan selanjutnya. Tetap berdiam diri di tempat yang aman ini atau mereka nekat keluar untuk melihat situasi di luar sana?
“Aku khawatir pada keluargaku,” ucap Courtney. “Ayah ibuku, kakakku juga. Bagaimana kondisi mereka sekarang?” Courtney menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan air mata yang belum mampu dia hentikan sehingga terus mengalir tanpa henti.
Sebenarnya Northcliff merasakan ketakutan yang sama, dia kini sedang memikirkan nasib keluarganya, terutama ayah dan kedua kakaknya. Mereka adalah Prajurit Guardian yang bertanggung jawab penuh atas perdamaian di wilayah Eartland Kingdom. Tentu mereka kini menjadi garda terdepan dalam menghadapi makhluk-makhluk yang akan membahayakan kerajaan dan semua rakyat. Sebuah fisarat buruk kini kembali dirasakan Northcliff dan menghantam relung hatinya tiada ampun. Dia takut terjadi sesuatu pada keluarganya.
“North, aku takut sekali. Aku belum mau mati. Apalagi mati di tangan makhluk menyeramkan itu.”
Lamunan Northcliff buyar begitu mendengar ucapan Courtney yang sedang mengutarakan rasa takutnya.
“Aku masih muda, belum menikah juga. Padahal impianku sangat sederhana. Aku hanya ingin menikah dengan pria yang kucintai, menjadi istri yang setiap hari menunggu kepulangan suamiku di rumah. Dicintai oleh suamiku dan kami memiliki keluarga kecil yang bahagia. Memiliki keturunan, anak-anak yang akan menambah kemeriahan rumah. Hanya sesederhana itu keinginanku, mungkinkah aku akan mati sebelum bisa mewujudkannya?”
Karena tak mendengar Northcliff menyahutinya, Courtney pun mendongak, memakukan pandangan pada wajah pria itu.
“Kenapa kau diam, North? Apa menurutmu tidak ada harapan bagiku untuk mewujudkan keinginan itu?”
Northcliff mendengus pelan, “Impianmu akan terkabul. Aku yakin kelak kau akan menikah dengan seorang pangeran tampan yang mencintaimu dan akan berusaha membahagiakanmu. Keinginanmu untuk menciptakan keluarga kecil bahagia itu pasti akan menjadi kenyataan.”
“Pangeran tampan? Aku tidak berharap atau bermimpi setinggi itu sampai menginginkan menikah dengan pangeran tampan. Tidak perlu seorang pangeran, yang penting dia baik dan tulus mencintaiku.”
“Gadis bangsawan sepertimu hanya cocok menikah dengan seorang pangeran. Lagi pula, aku yakin ayahmu pasti akan mencarikan pria terbaik untukmu nanti. Jangan khawatir, kau pasti akan bisa mewujudkan keinginanmu.”
Courtney mengulum senyum, “Kenapa kau bisa seyakin itu?”
“Jawabannya sederhana.” Dengan serius Northcliff menatap wajah Courtney, “Karena aku akan melindungimu bagaimanapun caranya.”
Kedua mata Courtney melebar sempurna, sungguh tak menyangka ucapan seperti itu akan terlontar dari pria yang selama 20 tahun ini menjadi musuh bebuyutannya yang selalu bertengkar setiap kali mereka bertemu. Namun, entah kenapa tiba-tiba dia merasa nyaman ada di dekatnya sehingga tanpa sadar Courtney menceritakan keluh kesahnya.
Northcliff tiba-tiba bangkit berdiri seraya menarik tangan Courtney agar ikut berdiri bersamanya, “Kita keluar sekarang. Kita lihat kondisi di luar.”
“Apa ini tidak apa-apa? Kau yakin kita akan baik-baik saja jika keluar sekarang?”
Northcliff memejamkan mata, sebelum dia mengangguk tanpa karaguan, “Ya, kita akan baik-baik saja karena seperti yang kukatakan tadi, aku akan melindungimu. Ayo, keluar.”
Karaguan dan ketakutan di benak Courtney lenyap seketika, begitu Northcliff melangkahkan kaki, dia pun mengikuti pria itu.
Mereka berdua berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar, begitu tiba di dekat pintu keluar gua, Northcliff melongokan kepala untuk melihat kondisi di luar. Dia seketika kembali mendesak mundur dengan mata terbelalak, membuat Courtney ikut-ikutan panik.
“Ada apa?” tanya Courtney.
“Ketiga makhluk tadi masih ada di luar.”
Courtney membekap mulut, “A-Apa ini artinya kita tidak bisa keluar dari sini?”
Northcliff tertegun, ditanya seperti itu dia juga tak tahu jawabannya karena yang dia lihat tadi adalah ketiga demon yang nyaris menemukan mereka masih berdiri tak jauh dari pintu masuk gua.