CHAPTER 6 SERANGAN DEMON

2740 Kata
Suara pedang yang diayunkan menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan tersebut. Sebuah ruangan menyerupai lapangan kosong tanpa ada benda apa pun di sana seolah tempat itu memang didirikan untuk berlatih bela diri.  Sosok gadis cantik, Courtney lebih tepatnya … tengah memainkan pedang yang dia dapatkan dua hari yang lalu. Pedang yang berhasil dia menangkan setelah mengalami persaingan dengan Northcliff saat memperebutkan pedang itu.  Courtney meliukkan tubuhnya dengan lincah seiring dengan gerakan kaki yang sesekali melompat juga tangan yang memegang pedang bergerak seolah sedang memperlihatkan keahliannya sebagai pendekar pedang. Nyatanya tidak, gadis itu hanya sedang bermain-main dengan pedang itu. Melakukan gerakan tarian sembari memegang pedang. Dia seorang wanita dan di zaman ini wanita belajar bela diri masih tabu untuk dilakukan. Ya, meski tanpa sepengetahuan orang lain, gadis itu sering berlatih bela diri secara sembunyi-sembunyi.  Merasakan tubuhnya mulai berkeringat karena terlalu banyak bergerak, Courtney pun menghentikan aksi konyolnya dengan menjadikan pedang untuk menebas orang itu sebagai sarana menari. Dia berjalan menghampiri sarung pedang yang tergeletak kesepian di lantai. Dia pun memasukan pedang itu ke dalam sarung.  Ketika menatap pedang itu seketika ingatan kejadian dua hari yang lalu kembali terngiang di pikirannya. Courtney terkekeh, “Si pria lemah belagu itu pasti kesal sekali karena gagal mendapatkan pedang ini. Salah sendiri dia berani menantangku. Apalagi menantangku dalam urusan uang, tentu saja aku lebih unggul darinya. Semua orang juga pasti tahu aku yang akan keluar sebagai pemenang.” Bibir Courtney terus mengulas senyum karena dia puas sekali berhasil mengalahkan Northcliff dalam memperebutkan pedang tersebut.  Gadis itu masih tetap tersenyum bahkan ketika seseorang masuk ke dalam ruangan tanpa disadari olehnya. Sosok itu berjalan menghampiri Courtney, posisi gadis itu yang membelakangi pintu membuatnya tak menyadari ada seseorang yang sedang berjalan mendekatinya.  “Kenapa kau senyum-senyum sendiri sambil menatap pedang itu?”  Courtney terenyak begitu mendengar suara seseorang yang begitu familiar baginya, tak perlu menoleh pun dia sudah mengetahui pemilik suara itu. Courtney berbalik badan dan hanya mendengus saat menemukan Jenedith sedang terkikik karena menertawakannya yang tertangkap basah sedang tersenyum sendiri sambil menatap pedang.  “Kak Jenedith sejak kapan berdiri di situ?” “Sejak aku melihat kau senyum-senyum sendiri sambil menatap pedang itu. Bukankah itu pedang yang kau perebutkan dengan Northcliff kemarin?”  Courtney mengangguk, “Ya. Ini pedang yang kumenangkan darinya. Aku puas sekali, Kak. Aku yakin pria lemah belagu itu pasti kesal sekali karena gagal mendapatkan pedang ini. Lagi pula, salahnya sendiri terlalu percaya diri sampai berani melawanku yang jelas-jelas seorang keturunan bangsawan.”  Jenedith mengulas senyum tipis, sudah biasa baginya mendengar Courtney yang menggerutu karena meluapkan kekesalannya pada Northcliff. Namun, senyum itu tak bertahan lama karena setelah itu Jenedith memasang raut wajah serius.  “Courtney, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi kau janji ya harus menjawabnya dengan jujur.”  Courtney menoleh, memasang wajah melongo karena dia heran kakaknya tiba-tiba berkata demikian seolah-olah yang ingin ditanyakannya itu sesuatu yang sangat serius sampai dia harus berjanji. Courtney pun mengangguk, “Iya, aku janji akan menjawabnya dengan jujur. Memangnya Kak Jenedith ingin bertanya apa?” “Ini tentang Northcliff.” “Kenapa dengan si pria lemah belagu itu?”  Jenedith menyentuh lengan adiknya, mengajaknya berjalan mendekati kursi yang ada di pinggir ruangan, gadis itu pun mengajak sang adik duduk di salah satu kursi. Kini mereka duduk dalam posisi saling berhadap-hadapan dengan tangan yang saling bergandengan.  “Apa yang kau rasakan pada Northcliff?”  Seketika Courtney mengernyitkan dahi mendengar Jenedith memulai pertanyaannya. Tapi pertanyaan macam apa itu? Courtney tak habis pikir kenapa kakaknya tiba-tiba membahas ini.  “Kakak kenapa bertanya seperti ini?” “Jawab saja. Bagaimana perasaanmu padanya? Kau mencintainya atau tidak?”  Sebuah pertanyaan yang sukses membuat kedua mata Courtney melebar sempurna, terkejut bukan main. Bisa-bisanya sang kakak berpikir demikian tentangnya. “Hah? Tentu saja tidak. Aku jatuh cinta pada pria lemah belagu itu?” Courtney tertawa lantang. “Itu sesuatu yang paling mustahil bisa terjadi, Kak.” “Jadi, kau tidak mencintainya?” “Tidak,” jawab Courtney tegas. “Lalu apa yang kau rasakan padanya?”  Courtney mengerjapkan mata, sungguh dia heran karena kakaknya terus membahas tentang Northcliff, ini sesuatu yang tak biasa menurutnya karena sebelumnya Jenedith jarang bahkan nyaris tidak pernah membahas musuh bebuyutan Courtney tersebut.  “Kakak tahu kan, aku dan dia tidak pernah akur. Setiap bertemu kami selalu bertengkar.” “Iya, terkadang aku heran kenapa hubungan kalian bisa seburuk itu padahal kalian ini lahir di hari yang sama seharusnya kalian bisa akrab seperti sahabat.” Courtney meringis, seolah membayangkan dia bersahabat dengan Northcliff merupakan hal yang paling tidak dia inginkan di muka bumi. “Aku juga tidak tahu, hanya saja melihat wajahnya membuatku kesal. Rasanya ingin marah-marah terus. Dia juga menyebalkan, Kak. Apalagi mulutnya itu, kalau sudah menghina sangat bisa melukai hati. Aku benci padanya.” “Benar kau benci padanya?” Dengan tegas Courtney mengangguk, “Tentu saja benar. Dia itu orang yang paling aku benci di muka bumi ini. Kenapa juga dia harus terlahir di dunia? Padahal dia itu tidak berguna sama sekali. Bahkan semua Prajurit Guardian saja menjuluki dia prajurit paling lemah. Dia itu pecundang, Kak.”  Jenedith terkekeh setiap kali melihat Courtney menggerutu tiada henti jika sudah membahas tenang Northcliff, menurutnya ekspresi sang adik begitu lucu dan menggemaskan. Hah, betapa dia sangat menyayangi adik perempuannya itu. Satu-satunya saudara kandung yang dia miliki di dunia ini.  Courtney tiba-tiba bangkit berdiri dari duduknya, Jenedith memperhatikan dalam diam apa gerangan yang akan dilakukan adiknya tersebut. Rupanya Courtney yang terus mengoceh merasa kehausan, bisa dilihat dari gadis itu yang kini berniat meminum air.  “Padahal menurutku, kau dan Northcliff itu serasi. Aku selalu berharap kalian akan menjadi pasangan di masa depan nanti.”  Air yang sudah memenuhi mulut Courtney seketika menyembur keluar karena gadis itu yang terbatuk mendengar ucapan kakaknya yang melantur. “Hah? Kakak ini bicara apa? Jangan bicara sembarangan, Kak. Memangnya siapa yang mau menjadi pasangan pria itu? Hiih, aku tidak sudi.”  Jenedith ikut berdiri, dia berjalan menghampiri sang adik yang kembali minum air setelah air yang belum sempat dia telan itu kembali dia semburkan karena terlalu terkejut mendengar ucapan konyol sang kakak.  “Aku barusan mendengar kabar penting.” “Oh, ya? Kabar apa?” “Tentang hasil perang.” Courtney mendengus, “Aku tebak pasti pasukan kita kalah lagi, kan? Seperti biasa kalau kita berperang dengan Prajurit Guardian.” “Ya, kali ini juga kita kalah lagi.”  Courtney menggelengkan kepala, terlihat kecewa meski sebenarnya dia sudah menduganya sejak awal karena kekalahan mereka dalam perang sudah menjadi kabar sehari-hari yang dia dengar.  “Aku dengar ayah dan Paman Romulus memutuskan untuk mengajukan gencatan senjata dengan Prajurit Guardian.”  Tatapan Courtney yang awalnya tertuju pada pedang yang masih dia pegang, kini langsung menatap pada Jenedith. “Serius? Ayah dan Paman Romulus menawarkan perdamaian pada mereka?” Jenedith merespons dengan anggukan berulang kali.  “Ck, kenapa mereka melakukan itu? Ini artinya kita mengaku kalah pada mereka. Hah, ini kacau. Jika Northcliff mengetahui kabar ini dia pasti semakin besar kepala dan akan menjadikan kejadian ini sebagai bahan ejekan jika bertemu denganku. Aku tidak setuju dengan keputusan ayah dan Paman Romulus. Aku mau mengajukan protes.”  Courtney serius dengan ucapannya karena dia berniat melangkah pergi. Namun, belum sempat kakinya melangkah, tangannya dicekal sang kakak sehingga dia tak bisa bergerak ke mana pun.  “Jangan. Kau jangan ikut campur. Aku justru setuju dengan keputusan ini.” Courtney tercengang, “Kenapa Kakak setuju? Kita mengajukan perdamaian artinya kita baru mengakui kekalahan pada Prajurit Guardian yang sombong itu, Kak?” “Tapi ini memang kenyataannya, kan? Mereka memang jauh lebih kuat dari pasukan Kaum Paladin. Lagi pula, apa kau tidak menyadarinya?” “Menyadari apa?” tanya Courtney ketus karena dia tak suka dengan Jenedith yang justu mendukung pengajuan perdamaian itu.  “Kita selalu mengalami kekalahan. Setiap peperangan terjadi pasti banyak korban berjatuhan. Jika terus seperti ini lama-kelamaan Kaum Paladin bisa punah, Court. Kau tahu apa artinya jika kaum kita punah?”  Courtney melebarkan mata, jika dipikir-pikir dia baru menyadari perkataan kakaknya memang benar.  “Ayah dan Paman Romulus sedang mencegah agar hal mengerikan seperti itu tidak terjadi. Dibandingkan harga diri, bukankah mempertahankan generasi Kaum Paladin jauh lebih penting?”  Courtney mengggaruk kepalanya karena dia tak mampu berkata-kata lagi sekarang. Dia mengakui ucapan kakaknya tidak ada yang salah.  “Beruntung pihak Prajurit Guardian menyetujui perjanjian damai ini.” “Benarkah?” tanya Courtney, seolah tak percaya semudah itu musuh mereka menyetujui gencatan senjata ini. “Ya, tapi mereka meminta bukti bahwa Ayah dan Paman Romulus serius mengajak berdamai ini.” “Bukti? Lalu bagaimana cara ayah dan Paman Romulus membuktikan keseriusan mereka?” “Dengan perjodohan untuk menyatukan dua kubu yang selalu bermusuhan ini agar menjadi keluarga.”  Satu detik pertama, Courtney hanya terdiam seolah dia masih mencerna dengan baik kabar yang baru didengarnya ini. Namun, di detik berikutnya gadis itu memekik kencang karena terlalu terkejut. “Hah? Perjodohan? Siapa yang akan dijodohkan, Kak?”  “Salah satu dari kita.” Courtney kini menegang di tempatnya berdiri. “Salah satu dari kita dijodohkan? Dengan siapa?” “Siapa lagi kalau bukan Northcliff karena kedua kakaknya sudah menikah jadi hanya dia yang tersisa.”  Detik itu juga Courtney membekap mulut, membayangkan dia harus menikah dengan musuhnya itu sungguh Courtney tak sanggup.  “J-Jangan katakan aku yang dijodohkan dengan dia, Kak?” “Kau mau menikah dengannya, Court?” “Tidak,” tegas Courtney lantang, tanpa keraguan. “Aku tidak sudi menikah dengannya. Dia itu musuhku, Kak. Jadi, tidak mungkin aku menikah dengannya.”  Jenedith melihat Courtney begitu panik, demi menenangkannya gadis itu pun menyentuh bahu sang adik. “Jangan khawatir, bukan kau yang akan dijodohkan dengannya. Tapi aku.”  Di detik berikutnya yang terjadi adalah Courtney yang tanpa sengaja menjatuhkan pedang di tangannya karena terlalu terkejut mendengar kabar ini.  ***  Courtney berjalan seorang diri tanpa ditemani siapa pun. Berjalan di luar sambil menelusuri jalan setapak yang sepi. Entah kemana tujuan gadis itu, yang pasti dari raut wajahnya yang terlihat serius sepertinya dia ingin menemui seseorang.  Ternyata benar saja karena begitu dia sampai di sebuah lahan kosong seperti padang rumput, dia bergegas menghampiri seseorang yang sedang berbaring santai di bawah salah satu pohon.  “Ck, sudah kuduga dia sedang tidur di sini.”  Seolah-olah pemandangan yang dilihatnya sekarang merupakan sesuatu yang sudah sering dia temukan, Courtney tak terlihat terkejut. Tanpa ragu dia menendang pinggang orang itu. Tendangan yang cukup keras sehingga menyebabkan suara lenguhan khas orang bangun tidur terdengar. Courtney bersedekap d**a dengan angkuh saat orang itu mulai mengerjap-erjapkan mata, akhirnya berhasil dia bangunkan dari tidur lelapnya.  “Kau? Sedang apa kau di sini?” tanya orang itu, yang tidak lain merupakan Northcliff dengan raut jengkel bukan main karena wajahnya tengah mengerut, tak suka karena tidurnya diganggu oleh seseorang yang kehadirannya sama sekali tidak dia harapkan.  “Kau ini benar-benar payah dan tidak berguna, ya? Di saat orang lain sibuk, kau justru malas-malasan tidur di sini.”  Tersinggung mendengar Courtney yang ikut campur urusannya, Northcliff pun bangkit berdiri dari posisi berbaring. Kini kedua orang yang selalu perang mulut itu berdiri saling berhadap-hadapan seraya sama-sama melayangkan tatapan tajam.  “Apa urusannya denganmu? Terserah aku mau tidur di mana. Urus masalahmu sendiri, mulut terompet.” Courtney berdecak, dari reaksi santai yang ditunjukkan Northcliff, dia menebak pria itu belum mengetahui tentang kabar perjodohan yang sudah disetujui dan disepakati orang tua mereka.  “Sepertinya kau belum tahu apa-apa ya?” Satu alis Northcliff terangkat naik, “Apa maksudnya?” “Apa kau tahu Kaum Paladin dan Prajurit Guardian yang selalu bermusuhan itu baru saja sepakat melakukan perdamaian?”  Dari ekspresi wajah Northcliff yang terbelalak, Courtney tahu tebakannya memang tepat, pria itu belum mengetahui apa pun.  “Kenapa bisa? Pasti keluargamu yang mengajukan perdamaian karena kalian menyerah melawan kami. Benar, kan?” Northcliff pun tertawa lantang, tampak puas menertawakan Courtney yang kini memasang wajah cemberut.  “Kau tidak bertanya dengan cara apa mereka melakukan perdamaian itu?” Ditanya seperti itu tawa Northcliff pun seketika terhenti. “Mungkin dengan menandatangani surat perjanjian damai.” Pria itu mengedikkan bahu. “Apa pun itu aku tidak peduli. Mereka mau bermusuhan atau berdamai sama sekali bukan urusanku.”  “Masih berani kau menganggap bukan urusanmu walaupun aku mengatakan mereka berdamai dengan melakukan perjodohan putra putri mereka?” Northcliff menegang di tempatnya berdiri, kata-kata Courtney sukses membuatnya luar biasa terkejut. “Perjodohan? Memangnya siapa yang mau dijodohkan?” “Menurutmu siapa di antara kau dan kedua saudaramu yang belum menikah?”  Kini Northcliff seolah membeku di tempatnya berdiri, satu pertanyaan dari Courtney dan dia tahu persis siapa orang yang dimaksud. Tentu saja hanya dirinya karena kedua kakaknya sudah menikah dan memiliki anak.  Northcliff kembali terbelalak saat baru menyadari sesuatu, “T-Tunggu, jangan bilang aku dijodohkan denganmu?” tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri lalu beralih menunjuk Courtney dengan jari telunjuk.  “Bukan aku. Kau dijodohan dengan kakakku.” “Kakakmu? Jenedith? Yang benar saja, dia itu lebih tua dariku. Mana mungkin aku menikah dengan wanita yang lebih tua.” “Aku pikir juga begitu. Aku tidak setuju kakakku dijodohkan denganmu,” balas Courtney. Northcliff yang menggigit bibir bawah karena kesal mendengar kabar ini tiba-tiba menyeringai tatkala mendengar ucapan Courtney barusan. “Kenapa kau tidak setuju aku dan kakakmu dijodohkan? Jangan bilang, sebenarnya kau berharap kita berdua yang dijodohkan?”  Courtney mendecih detik itu juga dengan kedua mata memelotot hingga nyaris menggelinding keluar karena mendengar tebakan Northcliff yang melantur. “Idiiih, aku justru bersyukur karena bukan aku yang dijodohkan denganmu. Tapi aku juga tidak setuju kakakku yang dijodohkan denganmu. Kakakku terlalu baik dan berharga untuk memiliki suami seorang pria tidak berguna dan payah sepertimu.”  Northcliff tak terima tentu saja mendengar dirinya dihina karena itu dia membalas, “Eh, tadinya aku ingin menolak perjodohan ini tapi setelah aku pikir-pikir ini bukan sesuatu yang buruk. Bagus juga kalau Jenedith yang dijodohkan denganku. Dia cantik, cerdas, lembut, baik lagi. Tidak sepertimu … sudah j'elek, bodoh, bar-bar, mulutmu berisik lagi seperti terompet. Baiklah, sepertinya akan seru jika aku menikah dengannya. Aku akan menjadi kakak iparmu juga, kan? Aku dengar Kaum Paladin sangat menjunjung tinggi adat. Kalian tidak diizinkan membantah ucapan orang yang lebih tua. Ini bagus, jika aku menjadi kakak iparmu maka kau tidak akan bisa bersikap kurang ajar lagi padaku. Sebaliknya, kau harus menuruti perintahku.”  Courtney merasa sekujur tubuhnya merinding mendengar ucapan Northcliff, membayangkan pria itu akan menjadi kakak iparnya dan mungkin akan menindasnya nanti … tidak. Courtney tak akan tinggal diam. Dia tak akan membiarkan pernikahan kakaknya dan Northcliff sampai terjadi.  “Tidak, tidak, tidak. Kau tidak boleh menikah dengan kakakku. Kau dan kakak harus menolak perjodohan itu.” “Tidak akan. Aku akan menerimanya dengan senang hati. Hah, menikah dengan Jenedith ya. Ini kabar bagus. Aku akan menjadi bagian dari keluarga bangsawan. Bersiaplah menjadi adik iparku sebentar lagi. Jadilah adik yang penurut ya.”  Courtney tak kuasa lagi menahan kesal karena itu dia berniat maju ke depan untuk menerjang Nothcliff, bermaksud menyerangnya dengan bela diri yang dia kuasai. Namun, suatu kejadian tak terduga tiba-tiba terjadi ketika tanah yang mereka pijak bergetar hebat seolah sedang terjadi gempa bumi berkekuatan besar. Courtney jatuh terjerembab ke depan dan menabrak Northcliff, membuat tubuh mereka sama-sama terjengkang ke tanah dalam posisi Courtney yang menindih pria itu.  Namun, fokus kedua insan itu tidak lagi pada posisi mereka yang begitu intim, melainkan pada langit cerah di siang hari yang terik dalam sekejap berubah menjadi gelap layaknya tengah malam dalam hitungan detik. Langit cerah itu seolah terhalangi awan hitam yang membuat bumi menjadi gelap gulita tanpa cahaya.  “A-Apa yang terjadi?” gumam Northcliff melihat fenomena alam yang mengerikan ini, terlebih tanah yang bergetar tak kunjung reda, bahkan terasa semakin hebat seiring berjalannya waktu. Beberapa pohon yang tumbuh di sekitar mereka berdua berada, tumbang dengan sendirinya karena gempa bumi yang terasa begitu dahsyat tersebut. Yang paling mengerikan adalah dari awan hitam seolah bermunculan makhluk aneh yang kini beterbangan di udara, begitupun tanah yang bergetar seolah terbelah dan sekelompok makhluk aneh menyerupai monster keluar dari perut bumi.  “North, itu … makhluk apa itu?”  Northcliff sendiri tak tahu monster apa yang bermunculan dari awan hitam yang menutupi langit, juga keluar dari tanah yang tiada henti bergetar bahkan mulai terbelah sedikit demi sedikit.  Makhluk dengan rupa buruk rupa yang begitu menyeramkan disertai tanduk di kepala mereka, tidak salah lagi merupakan para demon penghuni Infernum. Yang jadi pertanyaannya … kenapa para penghuni Infernum itu bisa berdatangan ke bumi? Dan akan jadi seperti apa nasib bumi beserta umat manusia setelah ini karena kedatangan para demon jelas akan membawa malapetaka besar bagi seluruh penghuni bumi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN