Setelah berdiri cukup lama menatap wajah istrinya yang tertidur damai, Revan menghela napas panjang. Ia masuk ke kamar mandi, membasuh wajah, mengganti pakaiannya dengan kaus dan celana santai, lalu berjalan pelan menuju ranjang. Ia merebahkan diri di samping Kenanga. Matanya tak berkedip menatap wajah perempuan yang dulu ia perjuangkan mati-matian. Perempuan yang kini sedang terlelap… dengan rahasia yang tak sepenuhnya ia ketahui. Wajah itu masih sama, lembut, tenang, bahkan tampak polos. Tapi hati Revan… sudah tak sesederhana dulu mempercayai segalanya. Tanpa sadar, Kenanga menggeliat dalam tidurnya. Ia mengerjapkan mata perlahan, lalu mendekat. Lengan kirinya melingkari tubuh Revan, dan kepala mungilnya bersandar di d**a suaminya yang terasa hangat. “Mas Revan…” bisik Kenanga pelan.

