Sofa ruang kerja Revan terasa dingin di punggung Kenanga saat tubuhnya terhempas lemah di sana. Air matanya jatuh satu-satu, seperti hujan kecil yang tak kunjung reda. Isaknya tertahan, namun sesekali pecah juga dalam gumaman pelan yang tak sanggup lagi ia sembunyikan. Ia menunduk, meraih kotak bekal yang sedari tadi masih ia genggam erat. Dengan langkah gontai, ia membawanya keluar dan menyerahkannya pada sekretaris Revan yang menyambut dengan ekspresi penuh iba. “Ibu Kenanga…” ucap sang sekretaris, hati-hati. “Yang sabar ya, Bu. Semoga keadaan segera membaik.” Kenanga hanya mengangguk kecil. Senyum tipisnya terpaksa. Langkahnya kembali menyusuri lorong kantor—kali ini lebih lambat, lebih berat. Bayangan Revan dan semua kata-katanya tadi masih bergema di kepalanya. Di parkiran, Pak Bu

