Bab 35

1569 Kata

Sudah dua puluh empat jam berlalu. Matahari kembali naik, menyinari jendela besar di ruang ICU yang tetap dingin dan sepi. Di balik tirai putih tipis, tubuh Kenanga masih terbaring diam di atas ranjang, seperti boneka porselen yang rapuh dan tak bersuara. Revan duduk di sisi ranjang, tubuhnya tampak jauh lebih kurus dari kemarin. Mata sayunya sembab, wajahnya kusut, dagunya dipenuhi janggut tipis yang tak sempat ia cukur. Ia belum tidur barang satu jam pun. Matanya terus berjaga, seolah takut kehilangan detik-detik terakhir bersama perempuan yang paling ia cintai. Mama Andini dan Pak Hendra silih berganti menemaninya. Tapi kali ini, hanya Revan yang tetap duduk di sana, menggenggam tangan Kenanga yang mulai dingin. Pekerjaan kantor? Semua ia serahkan pada Akmal, asistennya yang cekatan.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN