Pembunuh Hantu
Apa ia bisa lari? Secepat apa yang dirinya bisa?
Malam serasa mencekam. Keheningan yang menyesakkan. Kota besar yang kejam ini terasa mati. Begitu sunyi karena berada di sebuah gank dari bangunan-bangunan terbengkalai.
Kemana anak-anak jalanan yang biasanya memanfaatkan tempat seperti ini untuk tinggal? Kenapa tidak ada? Kemana mereka semua para 'sampah masyarakat' itu? Ayolah itu sarkas, tidak boleh seperti itu. Namun apa, ini hanya bacotan dari manusia kaya raya tak punya hati yang tak bisa memanusiakan manusia.
Lari dan terus berlari. Kembang kempis nafas dari paru-paru yang menyusut sebagai akibat minimnya oksigen yang masuk.
Masa bodoh! Yang penting harus lari, harus segera kabur, tidak boleh sampai tertangkap!
Tertangkap sama dengan mati.
Mati.
M-A-T-I.
Mati!
"Tolong!" Ia meminta bantuan pada siapapun, termasuk Tuhan yang sering ia lupakan.
Jalan buntu.
Setelah sekian lama berlari, yang ditemui adalah jalan buntu? Oh tidak, apa ini artinya nyawanya sudah di ujung tanduk? Akan segera tamat?
Derap langkah lain terdengar semakin keras, semakin mendekat, semakin keras. Membuat jantung berdetak lebih kencang dan semakin cepat. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, mau memanjat tembok pun tak bisa karena temboknya sangat tinggi.
Ia hanya berdiri ketakutan sambil terus memohon agar nyawanya diampuni.
"Kumohon jangan bunuh aku!"
Laki-laki bermata hitam dan berkulit pucat itu memohon agar tidak dibunuh.
"Akan kuberikan uang sebanyak yang kau inginkan. Tapi aku mohon lepaskan aku!"
Ia terus memohon sambil menatap nanar ke arah orang yang kini berdiri di hadapannya dengan pistol teracung ke arahnya.
Sang pemegang pistol tidak terpengaruh dengan segala ucapannya. Uang? Jelas tidak menarik untuk dirinya karena dengan kemampuannya, ia bahkan bisa mendapatkan banyak uang dengan mudahnya.
Membunuh jauh lebih menarik. Apalagi di saat calon korbannya tak berdaya seperti ini.
"Aku akan memberikanmu uang 1 Milyar! Ah tidak, 2 Milyar asal kau tidak membunuhku." Ia bersimpuh. Mantel hitam mahal panjang yang dikenakannya kotor terkena debu.
Itu tidak penting, yang penting ia harus bernegosiasi dengan nyawanya yang ditentukan oleh pelatuk pistol yang baru saja berbunyi itu.
Panggilan malaikat kematian?
Bagi 'Sang Malaikat Kematian', ia sangat menyukai ekspresi ketakutan calon korbannya ini. Ia menertawakan dalam hati jika mantel yang calon korbannya pakai sama sekali tidak sesuai karena warnanya sangat terang. Tapi toh ia juga tidak peduli, ia hanya harus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
"Kumohon..." Calon korban kembali memohon, tapi kata-katanya terputus ketika sebuah peluru mengenai dirinya. Peluru yang ditembakkan dengan peredam suara sehingga ia tidak menyadari kematiannya yang datang menghampiri.
Tubuh tak berdaya itu ambruk, merosot ke bawah Sementara sang malaikat kematian berbalik dan meninggalkan 'mayat' itu dengan langkah ringan. Ia tersenyum penuh arti. Ia sudah melakukan tugasnya dengan baik. Ia sudah menghilangkan seluruh jejaknya, dan oleh karena itu, polisi tidak akan bisa menemukannya. Bahkan untuk menemukan debu yang menempel di bajunya, para polisi juga tak akan bisa.
.
.
.
Itu adalah potongan dari adegan film yang sekarang ini sedang booming di bioskop distrik kota A. Film berlatar distrik kota A yang sangat ditunggu-tunggu oleh penggemarnya.
"Sayang, filmnya bagus sekali. Aku sangat menikmatinya!" Kata seorang wanita.
"Baguslah kalau kau suka." Kata seorang laki-laki yang diketahui bernama Duryudana.
Duryudana bersama seorang wanita cantik pun keluar dari sana. Ia baru saja mengajak kencan wanita ini dengan menonton sebuah film. Ini bukan hal yang ia inginkan, tapi demi teman kencannya, ia rela menyempatkan diri.
Sugar dady? Mungkin, mengingat usia yang terpaut cukup jauh. Dirinya 45 tahun dan pasangan kencannya ini anak kuliahan.
Usai menonton, ia keluar dari bioskop untuk menuju food court. Harus makan siang sebelum kencan ke tahap berikutnya.
Setelah selesai makan, Duryudana pun keluar dari mall besar yang di dalamnya ada bioskopnya itu. Lalu, di sanalah ia tertembak.
Tertembak?
Ya, tertembak.
Seketika itu, semua langsung heboh. Ada apa ini?
Duryudana jatuh tak berdaya secara tiba-tiba.
.
.
.
Munich, Jerman, September 4.
Bunyi nada dering telepon terdengar. Seorang laki-laki tampan berusia 27 tahun mengangkat panggilan telepon yang ditujukan kepada dirinya. Rupanya itu dari seseorang yang sangat ia kenali.
"Detektif Bayu Samudra berbicara." Jawabnya.
"Selamat untuk kesuksesanmu mengungkap organisasi gembong narkoba di Munich. Pulanglah ke Indonesia, ada kasus menarik sedang menanti!" Kata Seseorang di dalam telepon.
"Apa itu, Bos?"
"The Hitman. Pembunuh bayaran misterius. Ada juga yang menjuluki Malaikat Kematian."
The Hitman?
Malaikat Kematian?
Terdengar sangat menarik. Setiap ada kasus baru yang harus dipecahkan, maka ini akan semakin menarik.
"Baiklah, I'm in..."
Klik. Panggilan telepon di akhiri.
"Aku harus meminta gaji lebih karena waktu liburanku 2 hari lebih cepat selesai ketimbang waktu yang ditentukan... The Hitman? Malaikat Kematian? ... Siapapun itu, aku akan menangkapmu!"
Laki-laki bertinggi badan 190 cm itu pun menyeringai.
.
.
.
Time skip...
Terdengar suara klik tombol rekam video. Tak lama setelah itu, rekam video pun dimulai. Hari ini tanggal 5 September, waktu 14:22.
Di dalam sebuah ruangan kotak 2x4 m, ada seorang laki-laki duduk di sebuah kursi. Ada meja di sampingnya dan ada juga papan mini di tembok sebelah kirinya.
"Ehem... ehem... tes... tes..."
Terdengar suara deheman untuk mengecek apakah mikrofon yang ia kenakan di kerah bajunya berfungsi dengan baik atau tidak.
"Detektif Bayu Samudra di sini. Halo... Cih, aku terlihat narsis. Oke, langsung saja..."
Bayu Samudra adalah seorang detektif muda berbakat yang sudah memecahkan banyak kasus besar dunia. Yang terbaru adalah pengungkapan sindikat gembong narkoba di Munich, Jerman.
"Beberapa minggu telah berlalu sejak saya mendapat posisi sebagai penyelidik mewakili agensi Ayodya Detektif Swasta. Saat ini kami sedang menangani kasus tentang salah satu anggota berpangkat tinggi dari Next In , sebuah perusahaan yang bertanggung jawab atas pengembangan paralysis dart, senjata pelumpuh."
Bayu menunjukkan pistol paralysis dart yang ia maksud.
"Paralysis dart adalah non-lethal ammunition atau amunisi tidak mematikan yang biasanya diberikan kepada kepolisian seluruh negara untuk menunjang tugasnya. Amunisi yang berguna untuk membuat para pelaku kriminal pingsan.
Di luar ruangan 2x3 itu ada orang yang mengetik apa yang dikatakan oleh Bayu saat ini.
"Gampangnya, Paralysis dart yang sekarang dikenal sebagai bagian dari studi Kementerian Pertahanan, telah memperoleh hasil positif mengenai penangkapan penjahat tanpa harus menyakiti penjahatnya. Jadi kekhawatiran tembak langsung di tempat oleh para polisi menjadi berkurang mengingat pistol jenis ini tidak bisa membunuh targetnya."
Bayu terus menjelaskan mengenai pistol jenis ini. Ia sudah mengetahui informasi dasarnya. Pistol ini bukanlah jenis baru dalam dunia senjata, tetapi di Indonesia sendiri belum terlalu banyak yang menggunakannya.
"Uji coba awal berhasil Karena pengurangan korban yang signifikan, pemerintah mengeluarkan mandat eksekutif bagi kepolisian untuk mengubah dari peluru logam menjadi pistol pelumpuh, paralysis dart."
Itu fakta yang terjadi. Meski dart sendiri artinya panas, tapi sebenarnya ini berbentuk pistol pada umumnya. Hanya amunisinya saja yang berbeda.
"Itu adalah informasi sederhana dari paralysis dart, pistol model baru di dunia kepolisian kita."
Bayu meletakan pistol di atas meja kayu kecil yang ada di sampingnya sembari menguap. Menguap sangat lebar, begitu terpampang nyata di layar video rekaman. Membuat salah seorang yang sedari tadi terus mengawasinya dari luar kesal.
Seorang itu terlihat sedang meremas kertas yang dipegangnya. Tak lupa ia juga mendelik ke arahnya Bayu.
"Maaf-maaf, saya semalam baru dari luar kota, hari berikutnya sudah disuruh rekaman. Lelahnya perjalanan masih terasa."
Setelah meminta maaf, Bayu pun melanjutkan rekaman videonya. Serem juga dipelototi oleh Bosnya itu.
Bayu kemudian mengambil sebuah kertas dari meja kayu kecil itu. Ada informasi dari kasus yang harus ia pecahkan saat ini. Tentunya yang ada hubungannya dengan paralysis dart.
"Duryudana, 45 tahun, Chief Operating Officer Next In, ditembak oleh seseorang tak dikenal pada 3 September. Ia ditemukan pukul 11:22 di mall Alamanda distrik kota A, di tengah keramaian mall yang siang itu sangat banyak pengunjungnya.... Ia juga ternyata diketahui berpartisipasi dalam konvensi tentang perkembangan lain dari korporasi yang dijalankan... Peluru yang digunakan adalah paralysis dart, dan dari pengukuran yang dianalisis oleh senior Anoman, tampaknya ditembakkan oleh seorang sniper pro dari jarak dekat. Duryudana saat ini tetap di rumah sakit, saat ini dalam keadaan koma."
Bayu terdiam beberapa saat.
"Dia tidak mati, dia hanya koma sebagai akibat dari amunisi atau peluru pelumpuh yang ditembakkan kepada dirinya."
Bayu membuka pistol paralysis dari dan menunjukkan seperti apa wujud pelurunya. Mirip seperti peluru atau amunisi seperti biasanya, hanya saja ini tidak terbuat dari timah.
Peluru plastik itu jatuh di atas meja, berguling beberapa kali, lalu kemudian berhenti.
"Amunisi yang digunakan mengandung lebih banyak neurotoksin daripada yang direkomendasikan."
Neurotoksin (neurotoxin) adalah zat alami atau campuran yang bisa mengganggu dan merusak fungsi sistem saraf pusat dan atau sistem saraf tepi. Sebutan lain untuk zat ini adalah racun saraf.
Penggunaan berlebihan akan membuat koma atau meninggal.
Bayu menghela nafas. Akhirnya ia sudah sampai di tahapan akhirnya acara rekam videonya. Sesungguhnya, ini hal yang paling malas ia kerjakan.
"Ini adalah ulah pekerjaan pembunuh yang dijuluki The Hitman, Malaikat Kematian, atau... Pembunuh Hantu."
Klik. Acara rekam video selesai dan Bayu pun diizinkan keluar dari ruangan sempit itu.