Flashback
Radit berjalan santai dengan membawa laporan untuk Ia serahkan kepada Hengky dan diperiksa. Radit yang mengetahui Hengky berada di kantor Anjani bergegas menemui Hengky karena setelah ini Ia ingin menemui Yuli. Karena kesibukannya Radit menjadi jarang sekali menemui Yuli. Ketika sampai di depan kantor Anjani, Radit tidak menemukan Rani sekretaris Anjani sehingga Ia berencana mengetuk pintu sendiri. Radit sudah bersiap mengetuk pintu sebelum dering ponsel menginterupsinya. Radit nampak panik mendengar bahwa Yuli tiba-tiba kritis. Radit ingin segera pergi ke rumah sakit namun Ia urungkan saat mendengar percakapan antara Anjani dan Hengky yang melibatkan Radit dan Yuli.
"Kau sudah ke rumah sakit?..."tanya Hengky.
"Tidak perlu...."
"Kau gila Anjani...."kesal Hengky.
"Aku tidak ada pilihan...."keukeuh Anjani.
"Ada.... sejak awal sudah ada.... Kau saja yang bodoh...." Ucap Hengky.
"Kau yakin Radit akan menerimanya?...." tanya Hengky.
"Mau tidak mau.... Aku akan membuat dia menerimanya..."ujar Anjanij yakin tetap dengan gaya angkuhnya sembari tetap terus melanjutkan pekerjaannya.
"Dengan memanfaatkan keadaan Yuli?..." Anjani hanya diam mendengar perkataan Hengky.
"Aku sudah melakukan semua perintahmu... kurasa sekarang Yuli sudah,..." Radit yang mendengar pembicaraan itu sudah tidak sabar menahan emosinya sehingga Ia membuka kasar pintu kantor Anjani. Radit langsung berjalan cepat ke arah Anjani dan mencekik Anjani kuat dengan penuh emosi berfikir bahwa Yuli sedang meregang nyawa karena ulah Anjani.
Flashback end
Setelah Anjani tidak juga sadarkan diri, Hengky bergegas menggendong ke mobilnya dan membawanya ke rumah sakit. Tidak lama setelah itu Radit baru tersadar apa yang Ia lakukan, Radit segera menyusul Hengky ke rumah sakit. Saat di rumah sakit Radit hanya berani melihat Hengky yang panik dari kejauhan. Hengky nampak menangis melihat sahabatnya tidak sadarkan diri sembari terus menggumamkan kalimat yang sama berulang kali.
"Jani...... sadarlah.... ini belum saatnya.... bukankah Kau harus menepati janjimu..... bertahanlah...." Selagi Radit melihat Hengky yang menunggu dokter keluar, seorang perawat menghampirinya.
"Tuan Raditya..... Anda sudah datang.... Nona Yuli sekarang sudah kembali stabil...." ujar Perawat yang biasa memeriksa keadaan Yuli.
"Oh.... suster.... apa dia tidak apa-apa?..." tanya Radit setelah terdiam sesaat. Tidak ada rona kebahagiaan terpancar di wajah Radit saat mendengar Yuli baik-baik saja mungkin karena Ia masih khawatir dengan Anjani dan juga nasibnya jika Anjani meninggal.
"Walau dia koma.... namun semua baik-baik saja.... untung saja tadi dokter Lee Jong Suk segera datang dan menanganinya..." ujar perawat sedikit tersenyum.
"Oh begitu....." sahut Radit.
"Kami minta maaf..... karena kesalahan seorang perawat magang, Nona Yuli menjadi sempat kritis... bahkan kini pemberangkatannya ke Jerman harus ditunda...." ucap perawat itu menyesal.
"Apa maksudmu?...." tanya Radit heran.
"Tadi ketika kami akan membawa Nona Yuli ke ambulance untuk membawanya ke Bandara..... seorang perawat tidak sengaja terjatuh lalu menabrak Nona Yuli sehingga alat-alat pemicu jantungnya lepas....karena itu Nona Yuli sempat kritis..." jelas perawat itu.
"Mengenai pemberangkatan ke Jerman?..." tanya Radit.
"Anda tidak mengetahuinya?.... Tuan Hengky beberapa hari yang lalu mengurusnya setelah mengetahui ada pengobatan yang bisa mengobati seluruh organ dalam Nona Yuli yang rusak sebelum organ itu benar-benar mati...." penjelasan terakhir perawat itu berhasil membuat Radit terdiam, menyesal.
Tiga hari berlalu sejak kejadian yang hampir menghilangkan nyawa Anjani. Anjani masih beruntung nyawanya masih selamat walau kini Ia masih tidak sadarkan diri. Hengky dan Tria secara bergantian menjaga Anjani sementara Radit ditugaskan untuk menggantikan pekerjaan Anjani di kantor. Hengky sejujurnya sangat marah dan kesal dengan perbuatan Radit namun mengingat keinginan dan janji Anjani maka Hengky berusaha melupakannya. Hengky melampiaskan kekesalannya dengan memberi Radit banyak pekerjaan menggantikan Anjani. Bahkan Radit menggantikan Anjanj melakukan perjalanan bisnis selama seminggu bersama Ayyash.
"Kau sudah sadar?..." tanya Tria senang ketika melihat pergerakan di jari Anjani lalu secara perlahan mata Anjani terbuka.
"Sepertinya begitu...."ucap Ànjani dengan gaya angkuhnya membuat Tria sedikit mendengus kesal. Anjani mulai mencoba duduk walau Tria sempat mencegahnya namun percuma karena Anjani yang keras kepala. Anjani banyak bertanya pada Tria apa saja yang terjadi selama Ia tak sadarkan diri termasuk Yuli yang sudah dikirim ke Jerman atas seizin Radit. Tidak berapa lama Anjani sadar, Dokter Lee Jong Suk datang untuk memeriksanya.
"Bagaimana keadaan dia?..." tanya Tria tidak sabar. Januar melihat ke arah Tria kemudian menatap Anjani seolah bertanya apa dia boleh mengatakannya. Anjani hanya menunjukkan wajah angkuhnya membuat Januar hanya bisa menghela nafas.
"Aku tidak tahu ada apa dengan dia....kita sudah mengetahuinya sejak awal sehingga sudah bisa diberi penanganan dan obat.... tetapi kenapa kondisinya tetap memburuk..." jelas Januar bingung seolah mengetahui Anjani menyembunyikan sesuatu yang menyebabkan kondisinya memburuk.
"Aish.... Kau adalah dokternya.... bagaimana mungkin tidak tahu?...." kesal Tria.
"Kau tanyakan pada sahabatmu ini?... sepertinya dia menyembunyikan sesuatu sehingga Aku tidak boleh memeriksanya secara detail...."jawab Januar kesal menutupi kesedihan akan kondisi Anjani, sahabatnya.
"Jani..... katakan apa yang kau sembunyikan?... Apa yang kau lakukan sehingga kondisimu memburuk?..."tanya Tria.
"Apa kau sengaja mengkonsumsi sesuatu yang kularang agar kondisimu memburuk?.." tanya Januar lansung.
"Kalian tahu bahwa masih banyak yang belum kuselesaikan... janjiku .... jadi Aku tidak mungkin sengaja mempercepat kematianku..." jawab Anjani santai dengan gaya angkuhnya seolah tidak takut dengan kondisinya yang memburuk. Tria dan Januar hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan santai Anjani namun sesungguhnya merupakan beban berat Anjani selama ini. Walau Tria dan Januar mencurigai sesuatu terhadap Anjani namun mereka tidak bisa memaksa Anjani mengatakannya karena Anjani merupakan orang yang kuat dengan pendiriannya.
Keesokan harinya Anjani sudah boleh keluar rumah sakit bahkan kembali bekerja di kantornya. Awalnya tentu saja keinginan Anjani itu dilarang oleh Hengky, Tria dan Januar namun dengan sedikit ancaman dari Anjani maka mereka tidak bisa menolak.
"Kau gila.... Kau tahu sebaiknya Kau diperiksa secara detail dan melakukan tes darah agar Januar tahu apa yang membuat kondisimu memburuk...."ucap Hengky sedikit kesal saat Anjani baru saja tiba di kantornya untuk bekerja.
"Semua lancar selama Aku beristirahat?..." tanya Anjani mengabaikan ucapan Hengky.
"Iya.... Radit mengambil alih tugasmu.... Dia belajar dengan cepat walau masih sedikit dibantu Ayyash...."jawab Hengky akhirnya setelah mendengus kesal ucapannya diabaikan oleh Anjani.
"Baguslah.... kapan dia akan kembali?"
"Mungkin 4 hari lagi..."
Tok...tok....tok... suara ketukan pintu menginterupsi obrolan mereka. Setelah mendengar Anjani mempersilakan orang yang mengetuk pintu itu masuk, orang itu pun masuk dengan membawa dua cangkir teh untuk Anjani dan Hengky.
"Thanks Ran...."ucap Hengky santai dengan senyum bersahabat karena mereka dulu semua bersahabat. Namun harus sedikit merenggang karena suatu peristiwa yang tidak mereka inginkan bahkan mereka harus kehilangan salah satu sahabat mereka.
"Hmm.... Saya permisi dulu..."ucap Rani pelan.
"Hei... Kau tidak mau ikut berbincang bersama kami..... sudah lama sekali kita tidak berbincang bersama...." panggil Hengky saat Rani akan keluar ruangan itu.
"Maaf.... Aku banyak pekerjaan Tuan Hengky..."tolak Rani halus.
"Dia sepertinya benar-benar menjauh sejak kejadian itu...."gumam Hengky. Merasa tidak ada tanggapan dari Anjani, Hengky pun mencoba melirik Anjani yang kini tengah menatap gelas berisi teh yang baru saja disuguhkan untuknya.
"Ada apa dengan tehnya?..." tanya Hengky sedikit heran dengan tatapan Anjani mata Anjani yang sulit diartikan.
"Tidak ada..... minumlah sebelum dingin...."ujar Anjani. Hengky kembali menatap heran saat Anjani langsung meneguk habis teh itu. Biasanya Anjani yang merupakan penyuka teh akan menyesap teh itu perlahan karena menurutnya menikmati teh itu harus perlahan agar lebih terasa nikmatnya.
"Pergilah kembali bekerja ke ruanganmu...." usiran Anjani kembali membuat Hengky mendengus kesal karena Ia sedang ingin bersantai. Sejak Radit bekerja dengannya Radit banyak membantu Hengky sehingga kini Hengky bisa sedikit bersantai seperti sekarang. Setelah kepergian Hengky, Anjani terdiam mengingat kejadian 2 tahun lalu yang menyebabkan Ia harus kehilangan orang yang Ia sayang dan juga sekarang Ia harus menerima kebencian seorang sahabatnya dulu. Tanpa terasa airmata mengalir di pipi Anjani sembari menekan perut bagian kanannya yang terasa sakit. Airmata yang mengalir dari mata Anjani bukan karena penyakitnya namun karena penyebab penyakitnya semakin parah.
~oO0Oo~
Setelah seminggu pergi melakukan perjalanan bisnis bersama Ayyash akhirnya Radit kini kembali. Dengan ragu Radit memegang knop pintu apartement Anjani setelah menekan passwordnya. Tentu saja Radit ragu masuk ke apartement ini setelah apa yang Ia lakukan kepada sang pemiliki apartement. Selama kepergiannya Radit tidak pernah membahas sekalipun mengenai keadaan Anjani. Radit hanya tahu Anjani sudah membaik walau belum sadarkan diri. Sepertinya Ayyash juga marah terhadap perbuatan Radit ke Anjani sehingga Ia pun hanya membahas bisnis bersama Radit.
Saat Radit sudah memasuki apartement Anjani, jantung Radit berdetak lebih cepat karena mencium aroma parfum yang biasa Anjani gunakan. Apa Anjani sudah kembali atau ini hanya halusinasi saja, pikir Radit.
"Kau sudah kembali?.... Bagaimana perjalanan bisnisnya?..." Tanya Anjani yang entah sejak kapan berada di ranjang Radit.
"Ka...kau...?" gugup Radit menunggu reaksi Anjani terhadap kejadian yang hampir menghilangkan nyawa Anjani itu.
"Kenapa?....Tidak menyangka Aku masih hidup?...." ujar Anjani santai dengan gaya angkuhnya seraya beranjak menghampiri Radit. Radit diam tak bergeming dengan tatapan yang Ia buat sedingin mungkin walau sebenarnya Ia merasa lega tidak jadi menjadi seorang pembunuh.
"Kau tidak merindukanku?..." tanya Anjani setelah mengalungkan tangannya ke leher Radit. Radit masih diam dengan wajah datarnya hingga matanya membulat saat Anjani mencium bibirnya. Bukan hanya kecupan seperti biasanya namun disertai dengan lumatan-lumatan kecil. Semakin lama lumatan itu semakin kasar walau masih tidak mendapat balasan dari Radit. Radit merasakan sesuatu yang berbeda dari sikap Anjani sehingga Ia hanya diam tidak membalas atau menolak. Setelah merasa kehabisan nafas, Anjani melepaskan ciumannya dan menyandarkan kepalanya ke d**a Radit dengan nafas yang terengah.
"Aku tidak menyangka pertahananmu kuat juga..." cibir Anjani setelah berhasil menormalkan deru nafasnya. Radit masih diam menunggu kelanjutan kalimat Anjani karena masih belum mengerti dengan sikap Anjani tadi.
"Kau tahu kau adalah milikku.... bukankah seharusnya kau menuruti keinginanku...." ujar Anjani sinis.
"Apa maumu?.... Jangan berkata Kau ingin Aku membalas ciuman tadi karena Kau sendiri tidak menginginkan ciuman tadi...." Anjani langsung tertawa sinis mendengar pertanyaan Radit. Radit merasa Anjani hanya melampiaskan sesuatu saat menciumnya secara kasar seperti tadi. Biasanya Anjani hanya akan mengecup sekilas bibir Radit namun Radit merasakan perasaan...... hangat. Tidak seperti ketika tadi Anjani menciumnya secara menggebu-gebu tapi bukan karena gairah.
"Apa sekarang Kau berfikir seolah Kau mengenalku Tuan Radit?... Padahal Kau hampir saja membunuhku karena tidak mempercayaiku...." ucap Anjani dengan tatapan sinis dan angkuhnya. Walau yang Radit katakan benar namun Anjani tidak ingin Radit merasa mulai mengenal Anjani.
"Aku....."
"Tidak perlu mengatakan apapun.... Aku akan berusaha melupakannya.... Yang perlu Kau ingat, jangan pernah melakukan hal ceroboh seperti itu lagi... Kau bisa membusuk di penjara jika saja Aku tidak selamat..." Anjani kembali menempelkan kepalanya pada d**a Radit dan memeluk pinggang Radit setelah mengucapkan peringatan itu.
"Aku tahu Kau sangat membenciku dan menganggapku menjijikan.... tapi Kau tidak perlu menggunakan tanganmu untuk membunuhku karena cepat atau lambat Aku akan mati.... Banyak orang di luar sana yang lebih membenciku dan ingin membunuhku... jadi Kau hanya harus bertahan dan menunggu salah satu diantara mereka berhasil membunuhku...." ucap Anjani masih memeluk Radit. Radit hanya terdiam mendengar ucapan Anjani tidak tahu harus merespon apa perkataan Anjani yang menunjukkan hidupnya yang dipenuhi musuh.
"Wajar saja.... karena Kau wanita jahat yang menjijikan... melakukan segala cara untuk melancarkan bisnismu..." ucap Radit dingin.
"Aku merindukan aroma maskulinmu... menenangkan..." bukannya marah atau menjauh mendengar perkataan Radit, Anjani justru mengeratkan pelukannya dan menikmati aroma tubuh Radit dan mengabaikan ucapan dingin Radit. Selama lebih dari sepuluh menit Anjani memeluk tubuh Radit erat memejamkan mata benar-benar menikmati rasa hangat saat memeluk tubuh Kim Bum.
"Kau lapar?.... Mau Aku masakkan sesuatu?..." gumam Anjani masih memeluk Radit. Sekarang sudah lewat jam makan malam dan Anjani menduga Radit belum makan karena perjalanan jauhnya serta tubuh Radit yang Anjani rasa sedikit lebih kurus dari sebelumnya.
"Hmm.....Aku lapar...."Anjani terkejut Radit menerima tawarannya. Walau Anjani bersungguh-sungguh dengan karena perjalanan jauhnya serta tubuh Radit akan menerima tawarannya mengingat Radit yang selama ini selalu membentengi diri untuk tidak lebih dekat dengannya.
"Baiklah....Kau ingin makan apa?..." tanya Anjani lagi sembari mengusap pipi Radit dengan tangan kanannya.
"Sup Iga pedas..."jawab Radit yakin yang lagi-lagi membuat Anjani terkejut namun Ia sembunyikan. Anjani hanya menunjukkan senyum biasanya yang terkesan angkuh walau terkadang itu merupakan senyum tulus yang coba Ia tutupi. Anjani lantas kembali mencium bibir Radit sekilas kemudian menyuruh Radit membersihkan diri sebelum Ia melangkah menuju dapur.
"Aish.....Aku sudah gila..."gerutu Radit pada dirinya sendiri karena merasa heran kenapa Ia menerima semua perlakuan Anjani padanya.
Setelah keluar dari kamar Radit, Anjani tidak langsung melangkah menuju dapur melainkan kembali ke kamarnya dengan sedikit tergesa dan meringis memegang perut bagian kanannya. Radit membuka kasar laci di meja riasnya kemudian mengambil obat dan segera meminumnya. Yah sebenarnya Anjani tadi sempat merasakan sakit yang sangat di bagian perutnya. Saat itu Anjani baru selesai merapikan kamar Radit namun sakit itu tiba-tiba menyerangnya sehingga Ia langsung membaringkan diri di ranjang Radit. Saat mengetahui ada orang yang mendekat ke kamar Radit yang Ia yakin itu adalah Radit, Anjani berusaha menunjukkan wajah angkuhnya lagi tanpa menunjukkan rasa sakitnya. Namun rasa sakit itu semakin terasa. Anjani yang tidak ingin Radit melihatnya segera mencium Radit dan melampiaskan rasa sakitnya dengan mencium Radit kasar. Saat memeluk Radit pun Ia masih merasakan sakitnya namun masih Ia tahan dan merasa sedikit berkurang saat Ia memeluk Radit.
Setelah merasa sedikit lebih baik, Anjani melangkah lagi menuju dapur untuk memasak. Untungnya Anjani baru kemarin berbelanja untuk mengisi kulkasnya sehingga bahan masakan masih lengkap di kulkasnya untuk memasak makanan keinginan Radit.
"Kau tidak memelukku dari belakang?!.... menggodaku yang sedang memasak makanan untukmu.... itu adegan pasangan yang biasa kulihat di drama...."ujar Anjani santai saat menyadari Radit mendekat ke arahnya.
"Kita bukan pasangan...."Ucap Radit datar, Anjani sedikit terkekeh mendengar kalimat tegas Radit itu.
"Tapi Aku merasa seperti isterimu.... menyambutmu pulang dengan ciuman panas, pelukan hangat, dan menyiapkan makanan untukmu..." ucap Anjani santai yang berniat kembali menggoda Radit. Entah kenapa Anjani merasa sangat menyenangkan bisa mendengar kalimat-kalimat sinis dari Radit.
"Ck....KAU....BUKAN....ISTERIKU...."tegas Radit lagi. Anjani kembali terkekeh walau masih membelakangi Radit sehingga Radit mengira itu sebuah cibiran dari Anjani.
"Sudahlah....mari makan.... Sayang..."ucap Anjani lagi dengan sedikit kerlingan nakal dan Radit hanya bisa mendengus kesal dan mengambil makanan yang Anjani siapkan. Radit memakan makanan yang Anjani siapkan dengan lahap. Entah Radit menyadari atau tidak sepertinya Ia merindukan masakan Anjani.
"Apa seminggu ini kau tidak makan?....Kau nampak rakus dan kurus...." tanya Anjani yang hanya duduk santai melihat Radit yang menikmati dengan lahap masakannya.
"Aku sibuk dan tidak nafsu makan?..." jawab Radit sekenanya.
"Memikirkanku?!..."ujar Anjani yakin.
"Kau tidak makan?...."tanya Radit mengalihkan pembicaraan.
"Ini sudah lewat jam makan malam Tuan Radit..." jawab Anjani santai.
"Tapi Aku akan makan dengan senang hati jika kau mau menyuapiku...."lanjut Anjani kembali menggoda Radit. Namun tidak sesuai dugaan, Radit justru langsung menyendokkan makanannya dan mengarahkan ke arah mulut Anjani berniat menyuapinya. Anjani sempat mengernyit heran namun Ia tetap menerimanya.
"Sudah cukup...."ucap Anjani menolak saat Radit berniat menyuapinya untuk yang kelima kalinya. Anjani sebenarnya sangat menikmati saat-saat Radit menyuapinya namun Ia mulai merasakan perih lagi di bagian perutnya mengingat seharusnya Ia tidak boleh makan makanan pedas seperti sup iga pedas yang Radit makan.
"Apa sikapmu ini untuk menunjukkan penyesalanmu akan kejadian yang hampir menghilangkan nyawaku waktu itu?...."tanya Anjani.
"Mungkin...."jawab Radit tidak yakin sementara Anjani hanya sedikit mengangguk mendengar pengakuan Radit. Setelahnya hanya terjadi keheningan lalu mereka kembali ke kamar masing-masing.
~o0O0o~
"Kau sudah mencari tahu siapa pria itu?...Kenapa Ia sering terlihat keluar masuk apartement Anjani? ..."tanya seorang pria kepada pria lain yang Ia tugaskan memata-matai Anjani.
"Pria itu adalah Raditya Anjasmara. Ia merupakan asisten pribadi Hengky atas rekomendasi Anjani. Dan sepertinya Anjani dan Raditya memiliki perjanjian yang membuatnya terus berada di sisi Anjani..."jelas pria berjaket kulit dan berkaca mata hitam itu.
"Selidiki lebih lanjut mengenai pria itu..... semua tentang dirinya....."perintah pria bertubuh tinggi dengan tatapan tajamnya. Pri berjaket kulit itu pun segera pergi setelah mendengar perintah itu.
"Kau milikku Anjani......dan juga seluruh hartamu....Aku tidak akan membiarkan Kau memberikannya pada siapapun...."ucap namja bernama Andri Sanjaya itu disertai seringaiannya.
~oO0Oo~
"Mbak.... Mbak...."panggil Ayyash berulang kali di apartement Anjani namun tidak juga mendapat sahutan. Hari ini hari sabtu dan merupakan hari libur sehingga Ayyash mencarinya ke apartement Anjani.
"Dia pergi...."jawab Radit yang baru keluar dari kamarnya.
"Apa?? ...Kemana?..." Sergah Ayyash mencengkram kerah kemeja Radit. Ayyash nampak marah dan juga panik.
"Aku tidak tahu.... dia tidak pernah mengatakan akan melakukan apapun...." jawab Radit dengan wajah datar walau Ia juga penasaran apa yang terjadi sehingga Ayyash yang biasanya nampak selalu santai kini menjadi sangat panik.
"Apa gunanya kau tinggal bersamanya jika kau tidak bisa menjaganya.... sialan...." Ayyash pergi dengan emosi keluar apartement Anjani sementara Radit masih terdiam.
"Mbak....kau baik-baik saja?..." tanya Ayyash khawatir sekaligus senang karena kakaknya kembali dengan selamat walau nampak pucat.
"Aku masih hidup.... Kau tenang saja...." jawab Ayyash santai dengan gaya angkuhnya.
"Mbak... kenapa kau tidak membalas panggilanku.... Kau membuatku khawatir..... bahkan Mbak Tria dan Kak Hengky sudah mencarimu kemanapun...." kesal Ayyash dengan sikap santai Anjani seolah tidak takut bahwa bahaya sedang mengintainya.
"Sudahlah kau tidak usah berlebihan...."ucap Anjani sembari melangkah menuju kamarnya.
"Mba...." lirih Ayyash dan suaranya mulai bergetar. Anjani yang mendengar suara Ayyash yang bergetar menangis mulai menghentikan langkahnya dan berbalik mendekati Ayyash.
"Aku baik-baik saja..... jangan khawatir.... Jangan cengeng.... Kau laki-laki.... bersikaplah seperti didikanku selama ini...." ucap Anjani lembut memeluk Ayyash dan mengusap punggung Ayyash menenangkan. Anjanj terus memeluk Ayyash hingga Ayyash tenang.
"Apa....yang terjadi?..." tanya Radit pada Ayyash saat Ayyash membaringkan tubunhya di ranjang Radit. Ayyash memaksa menginap malam ini di apartement Anjani karena masih mengkhawatirkan Anjani. Kamar di apartement Anjani hanya ada dua yaitu yang ditempati Anjani dan ditempati Radit. Anjani tidak pernah mengizinkan Ayyash atau siapapun tidur bersamanya sehingga mau tidak mau Ayyash tidur bersama Radit. Sejak kejadian 10 tahun yang lalu Anjani selalu ingin tidur sendiri dan mengunci kamarnya. Hanya Radit yang bisa membuatnya merasa tidak berbeda sehingga mau berbagi kamar bahkan ranjang dengan Radit. Kenapa demikian?....hanya Anjani yang tahu.
"Kau ingin tahu?... Bukankah kau tidak peduli padanya bahkan hampir membunuhnya...." sinis Ayyash sembari memejamkan matanya.
"Jika kau ingin Aku menjaganya.... maka Kau harus memberitahu Aku harus melindunginya dari apa?...." Balas Radit dingin.
"Ck.. Kau mau menjaga dan melindunginya?" sinis Ayyash tidak percaya.
~oO0Oo~
"Pagi....."sapa Anjani kepada Ayyash dan Radit yang baru turun dari kamar mereka. Ayyash tersenyum simpul sementara Radit hanya menunjukkan wajah datarnya. Anjani memeluk dan mencium pipi Ayyash sekilas kemudian menariknya duduk di salah satu kursi yang menghadap meja makan yang sudah dipenuhi banyak makanan. Radit sedikit mengernyit heran melihat sikap lembut Anjani pada Ayyash dan mengabaikannya bahkan tidak memberikan ciuman padanya.
"Radit.... Kau tidak mau sarapan...."ucap Anjani kembali angkuh menyadarkan Radit yang sedang berusaha menyingkirkan pikiran yang menurutnya aneh. Radit lantas duduk di salah satu kursi dan mulai menyantap makanannya.
"Aku merindukan masakan Mbak .... Mbaj, Aku ingin tinggal di sini....."ujar Ayyash sedikit memelas.
"Tidak...."tegas Anjani.
"Mbaak..." lirih Ayyash memohon.
"Tidak Ayyash...."tegas Anjani kini menatap tajam Ayyash dan Ayyash hanya bisa menghela nafas pasrah. Radit hanya diam memakan makanannya tanpa berniat menyela pembicaraan kakak beradik itu yang sedikit membuatnya heran kenapa Anjani sangat tidak ingin Ayyash tinggal bersamanya. Walau Radit nampak cuek namun Ia tetap memasang telinganya untuk mendengar pembicaraan itu.
"Mbak......Dia sudah kembali.... Dia pasti akan mencarimu..."gumam Ayyash menyampaikan kekhawatirannya.
"Sudahlah..... biarkan saja.... dia hanya akan berusaha membunuhku untuk mendapatkan seluruh hartaku...."jawab Anjani santai namun dengan tatapan menerawang.
"MBAKK...."Teriak Ayyash kesal.
"Jangan berteriak Ayyash.....cAku tidak akan menyerah begitu saja....Aku sudah siap menghadapinya sejak dulu...."Ucap Anjani santai.
"Aku tidak akan menyerah....Sampai mati Aku tidak akan menyerahkan seluruh harta ini....Aku akan menepati janjiku....Harta ini bukan milikmu...."ucap Anjani dalam hati. Radit menatap lurus ke arah Anjani yang kini sedang manyantap makanannya namun dengan mata yang menyala dan tangan kirinya yang mengepal kuat seakan geram terhadap sesuatu.
To Be Continue