bc

Hasrat Cinta Ibu Dewan

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Di tengah hutan pinus berdiri Cahaya Anumerta Inn, sebuah penginapan yang menjadi kebanggaan Desa Sukamaju. Arkana membangunnya dengan tangannya sendiri dan bersumpah tidak akan lagi mempercayai seorang pejabat. Namun, semuanya berubah ketika Arunika, anggota dewan yang terkenal tegas, terpaksa tinggal di rumahnya karena seluruh kamar penginapan penuh. Mereka dipisahkan hanya oleh sebuah pintu penghubung yang selalu terkunci. Setiap hari mereka bertengkar. Setiap hari pula mereka saling mengenal. Hingga tanpa sadar, hati mereka mulai saling menunggu. Sayangnya, cinta itu tidak datang sendirian. Laura rela melakukan apa saja demi memiliki Arkana. Baskara menggunakan jabatan dan kekuasaan demi memiliki Arunika. Ketika cinta berhadapan dengan ambisi dan politik, mampukah dua hati yang lahir dari dunia berbeda tetap bertahan?

chap-preview
Pratinjau gratis
Persinggahan
Arunika Larasati menghentikan langkahnya di depan ruang Ketua Fraksi. Setelah mengetuk dua kali, ia membuka pintu perlahan. “Masuk.” Baskara Wijatmako sudah duduk di balik meja kerjanya. Pria itu menutup map yang sedang dibacanya, lalu mempersilakan Arunika duduk. “Silakan.” “Terima kasih, Pak.” Belum sempat Arunika bertanya alasan dipanggil, Baskara lebih dulu menggeser sebuah map cokelat ke hadapannya. “Ini untuk kamu.” Arunika membuka map itu. Di halaman pertama tertera sebuah surat dengan kop resmi. SURAT TUGAS Nomor: 021/ST/KD/VII/2025 Sehubungan dengan pelaksanaan Program Pendampingan dan Pengawasan Pembangunan Kawasan Wisata Desa Sukamaju, dengan ini menugaskan: Nama : Arunika Larasati Jabatan : Anggota Dewan Komisi Pembangunan dan Pariwisata Untuk melaksanakan tugas pendampingan dan pengawasan pembangunan kawasan wisata di Desa Sukamaju selama 3 (tiga) bulan, terhitung sejak 12 Juli 2025 sampai dengan 12 Oktober 2025. Demikian surat tugas ini dibuat untuk dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Ditetapkan di Sejagatraya 10 Juli 2025 Ketua Dewan Rendra Mahardika Arunika membaca surat itu sampai selesai. Ia kembali melihat bagian penugasan seolah ingin memastikan tidak salah membaca. “Tiga bulan, Pak?” “Betul.” “Maaf, Pak. Bukankah biasanya pendampingan seperti ini dilakukan bergantian? Kenapa harus selama itu?” Baskara menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Program di Sukamaju sedang menjadi perhatian. Pimpinan ingin ada satu orang yang mendampingi sampai seluruh tahapan berjalan.” Arunika terdiam. Ia teringat beberapa agenda komisi yang sudah disusun sejak awal tahun. Dalam waktu dekat masih ada pembahasan anggaran dan rapat evaluasi yang seharusnya ia hadiri. “Kalau saya berangkat, pekerjaan di komisi bagaimana?” “Sudah saya bagi ke anggota lain.” Arunika sedikit terkejut. “Sudah dibagi?” “Iya.” Ruangan kembali hening. Arunika menatap surat tugas di tangannya beberapa saat. “Terus terang, saya cukup keberatan meninggalkan pekerjaan selama tiga bulan.” Baskara mengangguk pelan. “Saya mengerti.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Tapi ini bukan keputusan saya.” Arunika mengangkat pandangan. “Penugasan ini merupakan keputusan Ketua Dewan. Nama kamu sudah disepakati dalam rapat pimpinan. Saya hanya menyampaikan hasilnya.” Tak ada lagi yang bisa Arunika katakan. Ia memahami aturan lembaga tempatnya bekerja. Selama keputusan sudah ditetapkan oleh pimpinan, tugas itu harus dijalankan. Perlahan ia menutup map tersebut. “Baik, Pak. Saya akan berangkat sesuai jadwal.” “Itu yang saya harapkan.” Arunika berdiri. “Kalau begitu, saya permisi.” “Selamat bertugas.” “Terima kasih, Pak.” Arunika mengangguk sopan, lalu melangkah keluar membawa surat tugas itu. Pintu tertutup perlahan. Baskara tetap memandang ke arah pintu yang baru saja ditinggalkan Arunika. Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar. Arunika keluar dari ruang Ketua Fraksi sambil membawa map cokelat di dadanya. Langkahnya tetap tenang, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Penugasan selama tiga bulan bukan sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Sesampainya di ruang kerja, ia meletakkan map itu di atas meja lalu menyandarkan tubuh sejenak di kursi. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Doni Salman masuk sambil membawa dua gelas kopi. Selama hampir lima tahun terakhir, Doni menjadi staf protokol yang mendampingi setiap kegiatan Arunika. Di luar jam kantor, ia juga dipercaya mengemudikan mobil dinas saat Arunika melakukan kunjungan kerja. Hubungan mereka sudah lebih seperti rekan daripada atasan dan bawahan. “Nik.” “Hm?” Doni meletakkan segelas kopi di atas meja. “Wajah lo kok kusut begitu? Jangan-jangan dapat tugas ke daerah konflik.” Arunika terkekeh pelan. “Nggak separah itu.” “Syukurlah. Gue kira kita disuruh naik gunung.” Arunika hanya menggeser map cokelat ke arah Doni. “Baca.” Masih dengan wajah santai, Doni membuka surat tugas itu. Namun beberapa detik kemudian senyumnya menghilang. “Tiga bulan?” “Iya.” Doni kembali membaca dari awal, memastikan tidak ada yang salah. Matanya kemudian berhenti pada bagian pendamping tugas. “Sebentar…” Doni mengerutkan mata. “Ini nama gue juga ada.” Arunika mengangguk. “Lo ikut mendampingi.” Doni langsung menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. “Aduh…” “Kenapa?” “Mana gue mau kawin.” Arunika tak kuasa menahan tawa. “Loh, emangnya nikah minggu depan?” “Bulan depan.” “Masih sempat.” “Sempat dari mana?” Doni mengusap wajahnya. “Calon bini gue udah nyuruh milih katering, milih gedung, sama foto prewedding.” Arunika masih tersenyum. “Ya tinggal diatur.” “Kalau calon mertua marah gimana?” “Itu urusan lo.” Doni menggeleng sambil tertawa kecil. “Nasib pegawai.” Meski mulutnya mengeluh, ia kembali membaca surat tugas itu sampai selesai. Baginya, tugas tetaplah tugas. Sejak menjadi staf protokol, ia sudah terbiasa berpindah dari satu daerah ke daerah lain mengikuti agenda pimpinan. “Berangkat kapan?” “Besok pagi.” “Berarti hari ini beresin semua.” Arunika mengangguk. Tanpa perlu saling menyuruh, mereka langsung membagi pekerjaan. Doni mulai mengecek kendaraan dinas, rute perjalanan, serta perlengkapan yang harus dibawa selama bertugas. Sementara Arunika merapikan dokumen proyek, laporan anggaran, dan data pembangunan Desa Sukamaju ke dalam beberapa map. Menjelang sore, seluruh persiapan hampir selesai. Arunika memasukkan surat tugas ke dalam tas kerjanya, lalu memandang sejenak ke luar jendela. Besok pagi, perjalanan menuju Desa Sukamaju akan dimulai. Tak seorang pun menyangka, penugasan yang terlihat biasa itu perlahan akan mengubah hidup mereka. Mobil dinas melaju perlahan menyusuri jalan pegunungan yang mulai diselimuti kabut. Di kanan dan kiri, deretan pohon pinus berdiri rapat seolah membentuk gerbang alami menuju Desa Sukamaju. Di kursi belakang, Arunika Larasati menutup map cokelat yang sejak tadi dibacanya. Surat tugas dari Sekretariat Dewan itu sudah hampir dihafalnya di luar kepala. Tiga bulan. Selama tiga bulan ke depan, ia bertanggung jawab mendampingi pengembangan kawasan wisata Desa Sukamaju. Bukan sekadar mengawasi anggaran, tetapi memastikan setiap program benar-benar berjalan sesuai rencana. “Masih jauh, Don?” tanyanya. Pria di balik kemudi, Doni Salman, melirik navigasi sebentar. “Sepuluh menit lagi sampai balai desa, Nik.” “Pak Surya sudah dikabarin?” “Udah. Katanya beliau sama perangkat desa nungguin kita.” Arunika mengangguk. Ia melirik jam tangan. “Berarti kita masih sempat istirahat sebelum rapat.” “Harusnya sih begitu.” Belum lama Doni menyelesaikan ucapannya, mobil tiba-tiba bergetar cukup keras. Mesin kehilangan tenaga. Kecepatan kendaraan turun drastis sebelum akhirnya berhenti di tengah jalan berbatu. Tubuh Arunika terdorong ke depan, tetapi sabuk pengaman menahannya. Doni mencoba menyalakan mesin kembali. Sekali. Dua kali. Mesin hanya meraung sebentar sebelum kembali mati. Doni menghela napas. “Waduh… kayaknya mogok.” Arunika membuka pintu mobil. Udara pegunungan langsung menyambutnya. Dingin, segar, dengan aroma pinus yang begitu khas. Pemandangan di sekeliling sebenarnya indah, tetapi situasi mereka jelas tidak mendukung untuk menikmatinya. Doni membuka kap mesin. “Gue cek dulu.” Arunika mengangguk. “Sinyal masih ada nggak?” tanya Doni tanpa mengalihkan perhatian dari mesin. Arunika mengeluarkan ponselnya. “Dua bar.” “Telepon Pak Kades dulu. Jangan sampai orang-orang nunggu kita.” “Iya.” Arunika segera mencari nomor yang dikirim sekretariat. Tak lama kemudian panggilannya tersambung. “Selamat sore. Apa benar saya sedang berbicara dengan Pak Surya?” “Betul. Dengan siapa ya?” “Perkenalkan, Pak. Saya Arunika Larasati yang ditugaskan mendampingi Desa Sukamaju.” “Oh, Bu Arunika.” Nada suara pria itu langsung berubah hangat. “Kami sudah menunggu Ibu. Apa sudah sampai?” “Sudah masuk wilayah Sukamaju, Pak. Tapi mobil kami mogok.” “Mogok di mana, Bu?” Arunika mengangkat kepala, mencari penanda di sekitar jalan. Di balik deretan pohon pinus berdiri sebuah bangunan besar yang langsung menarik perhatiannya. Hampir seluruh dindingnya menggunakan kaca dengan rangka kayu berwarna gelap. Beberapa lampu gantung mulai menyala, membuat bangunan itu tampak hangat di tengah dinginnya pegunungan. Di dekat gerbang berdiri papan kayu bertuliskan: Cahaya Anumerta Inn. “Pak, kami tepat di depan Cahaya Anumerta Inn.” “Oh… berarti dekat. Tunggu di situ saja, Bu. Saya jemput sekarang. Paling lima belas menit.” “Baik, Pak. Terima kasih.” Panggilan ditutup. Arunika masih memandangi penginapan itu beberapa saat. “Bagus juga.” Doni ikut menoleh dari balik kap mesin. “Kalau lihat bangunannya, ini bukan penginapan biasa.” “Mobilnya bisa didorong?” “Bisa. Daripada ditinggal di pinggir jalan.” Mereka mendorong mobil perlahan hingga masuk ke halaman penginapan. Begitu selesai, Doni kembali membuka kap mesin untuk memastikan kerusakannya. Sementara itu, Arunika melangkah menuju lobi. “Permisi…” Tidak ada jawaban. Meja resepsionis kosong. Ia kembali memanggil. “Permisi…” Tetap sunyi. Arunika melihat sekeliling. Penginapan itu tampak bersih dan tertata rapi, tetapi tidak terlihat seorang pun. Saat hendak berbalik, telinganya menangkap suara seseorang yang sedang membelah kayu dari belakang bangunan. Ia mengikuti sumber suara itu. Di halaman belakang, seorang pria bertubuh tinggi sedang mengangkat kapak. Lengannya yang kekar bergerak mantap setiap kali membelah batang kayu. Rambutnya yang sedikit panjang diikat sederhana di belakang kepala, sementara kaus hitam yang dikenakannya tampak basah oleh keringat. Mendengar langkah kaki mendekat, pria itu menghentikan pekerjaannya lalu menoleh. Mata mereka saling bertemu. Untuk sesaat, tidak ada satu pun yang berbicara. Pria itu tetap memandang Arunika beberapa saat sebelum meletakkan kapaknya di atas tunggul kayu. Wajahnya tenang, tanpa senyum, seolah kehadiran orang asing bukan sesuatu yang membuatnya penasaran. “Ada yang bisa saya bantu?” “Maaf mengganggu.” Arunika tersenyum sopan. “Mobil saya mogok di depan. Saya hanya ingin izin parkir sementara.” Pria itu menoleh ke arah halaman depan. Mobil dinas masih terlihat dari sela pepohonan. “Parkir aja.” “Terima kasih.” Arunika tidak langsung pergi. Matanya tertuju pada halaman belakang penginapan yang tertata rapi. Tumpukan kayu bakar disusun berdasarkan ukuran, pot-pot bunga memenuhi sisi teras, sementara suara aliran sungai terdengar samar dari balik rimbunnya pohon pinus. Tempat itu terasa hangat, jauh dari kesan penginapan desa yang pernah ia bayangkan. “Penginapannya bagus.” “Terima kasih.” Jawabannya singkat. Arunika kembali memperhatikan bangunan di hadapannya. Hampir seluruh dinding menggunakan kaca, membuat cahaya matahari sore masuk dengan leluasa. Tidak ada ornamen berlebihan. Semuanya terlihat sederhana, tetapi dikerjakan dengan rapi. “Mas pemiliknya?” “Iya.” “Pantas.” Pria itu menoleh. “Pantas apa?” “Terawat.” Lelaki itu tersenyum tipis, lalu kembali mengangkat sebatang kayu. “Kalau dikelola pemerintah, mungkin sampai sekarang belum selesai dibangun.” Kapaknya kembali membelah kayu. Arunika terdiam. Kalimat itu terdengar ringan, tetapi cukup untuk menunjukkan apa yang dipikirkan lelaki di hadapannya. Ia tidak sedang mengejek Arunika. Yang ia sindir adalah sistem yang selama ini sering berurusan dengannya. Arunika memilih tidak menanggapi. Perdebatan bukan cara terbaik untuk memulai perkenalan dengan seseorang yang baru ditemuinya. Beberapa saat suasana kembali hening. Yang terdengar hanya suara kapak yang membelah kayu, desir angin yang menggoyangkan pucuk pinus, dan gemericik air sungai di belakang penginapan. Arunika sempat bertanya-tanya dalam hati. Lelaki yang bahkan belum ia ketahui namanya itu tampak lebih nyaman berbicara dengan pekerjaannya daripada dengan orang lain. Belum sempat keheningan itu berlangsung lebih lama, suara mesin mobil terdengar dari arah depan. Sebuah Pajero hitam memasuki halaman penginapan. Pria yang sejak tadi membelah kayu menghentikan pekerjaannya sebentar, lalu menoleh sekilas. Setelah memastikan siapa yang datang, ia kembali melanjutkan pekerjaannya seolah tidak ada sesuatu yang penting. Arunika ikut menoleh ke arah halaman depan. Seorang pria paruh baya turun lebih dulu dari balik kemudi. Wajahnya dipenuhi senyum ramah. Dari kursi penumpang, seorang perempuan muda ikut turun sambil merapikan ujung gaunnya. Pria itu berjalan cepat menghampiri Arunika. “Bu Arunika?” “Iya, Pak.” “Saya Surya Argoro, Kepala Desa Sukamaju.” Arunika segera menjabat tangannya. “Maaf merepotkan, Pak.” “Ah, justru kami yang minta maaf. Harusnya penyambutan Ibu lebih baik dari ini.” Pak Surya kemudian menoleh ke arah belakang penginapan. “Mas Arkana.” Pria itu mengangguk singkat. “Bu Arunika, ini Arkana Galuh, pemilik Cahaya Anumerta Inn.” Arunika kembali menoleh. “Senang bertemu, Pak Arkana.” Arkana hanya membalas dengan anggukan kecil. Pak Surya tersenyum maklum. “Mas Arkana memang orangnya nggak banyak bicara.” Arunika tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Pak.” Saat itulah perempuan yang ikut bersama Pak Surya mendekat. “Selamat datang di Sukamaju, Bu.” Pak Surya memperkenalkannya. “Ini putri saya, Laura Prameswari.” Laura mengulurkan tangan dengan senyum ramah. “Senang akhirnya bisa bertemu langsung.” Arunika menyambut uluran tangannya. “Terima kasih. Senang bertemu denganmu juga.” Doni Salman menghampiri mereka sambil mengusap kedua tangannya dengan lap yang mulai menghitam karena oli. “Udah gue cek. Nggak mungkin beres malam ini.” “Parah?” tanya Arunika Larasati. “Iya. Besok pagi baru bisa dipanggil montir. Kayaknya ada komponen yang harus diganti.” Pak Surya mengangguk pelan. “Kalau begitu mobilnya biarkan saja di sini. Aman.” “Terima kasih, Pak,” jawab Arunika. Pak Surya melirik jam tangannya. “Pertemuan di balai desa dimulai setelah Magrib. Masih ada waktu.” Arunika mengangguk lega. “Kalau begitu saya izin bersih-bersih dulu sebelum rapat.” Ucapan itu justru membuat senyum Pak Surya perlahan memudar. Beliau tampak saling berpandang dengan Laura Prameswari sebelum kembali menatap Arunika. “Maaf, Bu… justru itu yang ingin saya sampaikan.” Arunika menunggu penjelasannya. “Sebenarnya saya sudah memesan dua kamar di Cahaya Anumerta Inn sejak minggu lalu. Tapi kemarin ada rombongan wisatawan yang memperpanjang masa inap. Semua kamar penuh sampai minggu depan.” Arunika sempat menoleh ke arah bangunan penginapan. “Tidak ada satu kamar pun yang kosong, Pak?” Pak Surya menggeleng. “Saya sudah coba hubungi Mas Arkana sejak siang.” “Kalau rumah warga?” “Banyak yang bersedia menerima Ibu. Tapi saya khawatir kurang nyaman. Selain itu, dokumen kerja Ibu juga pasti cukup banyak.” Laura ikut menimpali. “Rumah kami juga sedang penuh, Bu. Kakak sama adik lagi pulang.” Suasana mendadak hening. Pak Surya menghela napas sebelum melangkah mendekati Arkana Galuh yang masih sibuk menyusun kayu bakar. “Mas Arkana.” Arkana menoleh. “Hm?” “Bener nggak ada kamar yang kosong?” “Kalau mau kosong, tunggu seminggu.” Pak Surya tersenyum kecut. “Nggak bisa dibantu satu kamar saja?” “Nggak.” “Coba dicek lagi, Mas. Siapa tahu ada tamu yang batal menginap.” Arkana menggeleng. “Kalau ada yang batal, dari tadi sudah saya kasih.” Pak Surya mengusap tengkuknya. “Ini tamu dari dewan, Mas. Saya benar-benar nggak enak.” Arkana meletakkan sepotong kayu di atas tumpukan. “Pak Surya, saya jual kamar, bukan janji.” Tak ada yang langsung menanggapi. Pak Surya hanya tersenyum tipis. “Kalau pemerintah mau pesan kamar lagi, silakan. Tapi ikut aturan saya.” “Maksudnya?” “Bayar di depan.” Pak Surya tertawa kecil, meski terdengar canggung. “Mas tahu sendiri administrasi pemerintah seperti apa.” “Nah, itu masalahnya.” Arkana menyandarkan kapaknya. “Invoice harus bolak-balik, berkas direvisi, habis itu nunggu pembayaran lagi. Emang usaha kecil kayak saya sanggup nombokin terus?” Pak Surya tidak membantah. Ia tahu keluhan itu bukan sekali dua kali didengarnya. “Saya paham, Mas.” “Saya juga paham Bapak cuma menjalankan aturan.” Arkana menoleh ke arah penginapan. “Tapi tamu saya sudah bayar lebih dulu. Saya nggak mungkin nyuruh mereka pulang cuma karena ada pejabat datang.” Kalimat itu membuat Arunika terdiam. Ia tidak merasa sedang disindir. Justru untuk pertama kalinya ia melihat seseorang yang memegang prinsip tanpa membedakan siapa tamunya. Pak Surya kembali menghampiri Arunika. “Maaf ya, Bu. Saya benar-benar sudah berusaha.” “Tidak apa-apa, Pak.” Arunika tersenyum tipis meski pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan. “Kalau begitu saya cari penginapan lain saja.” “Yang terdekat ada di kota kecamatan,” jawab Pak Surya. “Perjalanannya hampir satu jam.” Doni langsung menoleh. “Kalau bolak-balik tiap hari, bisa habis waktu di jalan, Nik.” Arunika mengangguk pelan. Ia memahami maksud Doni. Dengan jadwal kerja yang padat selama tiga bulan ke depan, perjalanan dua jam setiap hari bukan pilihan yang ideal. Di tengah kebuntuan itu, Doni melirik kedua tangannya yang masih dipenuhi bekas oli. “Pak, numpang cuci tangan dulu.” Pak Surya menunjuk ke arah belakang penginapan. “Kerannya di belakang, Mas.” “Siap, Pak.” Doni melangkah ke belakang penginapan. Ia belum tahu, beberapa langkah lagi dirinya akan bertemu kembali dengan sahabat yang telah lama hilang dari hidupnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
774.9K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
997.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
369.9K
bc

Not just, the Beta

read
354.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook