Elard baru saja pulang kerja, tapi Seira sudah membuat kehebohan. Ia berlari dari kamar hingga ke depan pintu ruang tamu. Langsung main tabrak hingga Elard hampir jatuh kehilangan keseimbangan. Untungnya ia cepat berpegangan pada bingkai pintu. Jika tidak, mereka mungkin akan terjatuh bersama hingga keluar lorong apartemen. “Elard! Elard! Tolongi dong,” rengek Seira. “Bilang kalau ini mimpi! Pasti nggak mungkin banget. Ya, kan?” Sudah bicara tak jelas, tangan Seira pun tak bisa diam. Terus saja mengguncang-guncangkan tubuh Elard dengan frustrasinya. Elard menatap Seira dengan aneh. Sampai tadi pagi, istrinya masih kegirangan tak jelas dengan rencana liburan mereka lusa nanti. Baru sebentar saja, emosinya sudah jungkir balik membuat pusing. Mau ditanya, rasanya malah akan tambah pusing

