Sean tidak peduli dengan permohonan wanita tadi, ia melangkahkan kakinya mendekat kearah Ana dan anak-anaknya. Wanita itu hanya bisa menangis karena nasib yang akan ia terima. Semua orang di sana tidak berani mendekatinya karena takut jika mereka akan terkena imbasnya. "Apa ada yang sakit?" Tanya Sean mendekat kearah Ana. "Tidak, hanya kepalaku sedikit pusing," jawab Ana. "Ayo kita pulang," ajak Sean. "Sebentar, biarkan aku berbicara pada mereka dulu ya? Aku sudah lama tidak bertemu teman-temanku.” Bujuk Ana agar bisa berbicara sebentar dengan teman satu ruangannya dulu. "Ajak mereka ke mension," ujar Sean. "Apa boleh?" Tanya Ana memastikan. Sean mengangguk menyetujui, Ana tersenyum senang. "Ayo. Kalian ikut aku," ajak Ana pada kedua temannya. "Tapi, Ana. Kami masih banyak pekerjaan,"

