11. Menawarkan Keahlian

1768 Kata
“Menurut kamu, aku udah cantik belum kalau punya rambut panjang lurus kayak gini?” tanya Cilla menatap Jonathan yang sibuk menyetir.   Keduanya sudah mengganti pakaian untuk pergi ke tempat yang sudah ditentukan Jonathan bersama kliennya. Cilla duduk nyaman dengan iPad di dalam genggamannya, sekaligus melihat jadwal Jonathan untuk besok hari. Karena ia yakin, pria itu akan kembali bekerja dan tidak mungkin mengabaikan pekerjaannya.   Pria itu melirik datar, lalu kembali memfokuskan pandangan. Cilla berpikir, pria itu akan menimpali pertanyaannya. Tapi ia menggerutu, mengumpati pria itu karena tidak direspons. “Lama-lama bakal bisu, Jo. Aku jamin,” cetus perempuan cantik itu sinis, menggulir layar dengan emosi.   “Kamu nggak ada pertanyaan yang lebih bagus? Memangnya untuk apa tanya rambut lurus kamu?”   “Ck! Ya, kan, aku mau tanya, cantik atau enggak kalau begini,” tuturnya.   “Dulu waktu kita masih di sekolah dasar, rambutku ikal, bukan lurus kayak sekarang,” lanjut perempuan itu bertepatan dengan lampu lalu lintas yang sudah menghentikan laju mobil Jonathan; berwarna merah.   Tatapan itu tampak lekat memandang tatanan rambut Cilla yang terurai. “Dulu kiting?”   Cilla memelotot sempurna. “Ikal! Bukan kiting!” marahnya membuat Jonathan berusaha menahan tawanya.   Ia mengulum senyum sekuat mungkin untuk menampilkan tatapan datar, tidak peduli. “Keriting, ya, kan?” tanyanya mengubah dari bahasa yang familier di telinganya.   “Ikal! Dibilangin ikal, ya, ikal! Nggak mau dibilang keriting!” ketus Cilla mendengkus sebal.   “Aku rasa kamu juga nggak lagi mode amnesia saat dulu sering banget sebut kiting untuk buat aku nangis,” jelasnya menatap sinis Jonathan.   Sebelum berjanji tidak akan melakukan kejahilan yang membuat Cilla menangis di masa lalu ... ketika mereka masih kecil, berada di bangku sekolah dasar kelas satu. Jonathan sering kali menyindirnya dengan kata kiting.   Pria itu tampak memiliki trik untuk membuat Cilla kesal dan berakhir mengadu pada Mami tercinta. Selain menarik kuncir rambut miliknya, pria itu kerap memanggilnya dengan khas. Ya. Kiting.   Kata yang dipelesetkan.   “Aku nggak peduli mau ikal yang kamu maksud atau lurus. Dua-duanya tetap buat aku ngelihat kamu biasa aja.”   Pernyataan yang langsung menurunkan suasana hati Cilla. Tadinya ia kira pria itu bisa diajak berbicara lebih santai. Semakin ke sini, tidak ada yang bisa diubah. Perusahaan, di luar perusahaan atau berakhir di apartemen.   Masih terlalu keras jual mahal.   “Aku tetap peduli dengan dua bentuk rambut itu.”   Jonathan yang tadinya akan menekan pedal gas, bersiap fokus kembali ketika lampu bersiap akan kuning dan detik selanjutnya hijau, menoleh sejenak menatap Cilla.   Ia terdiam sesaat, sebelum akhirnya menjalankan mobil saat kendaraan di belakangnya sudah menghidupkan klakson.   Dari sudut matanya, ia bisa melihat perempuan yang membalut crop top dengan  blazer dan memadupadankan bersama jeans panjang, tampak tertunduk dan memainkan malas layar iPad tersebut.   “Setelah kamu memutuskan ikut sama orangtua kamu ... aku harus berteman dengan yang lain, berusaha akrab, meskipun nggak seakrab kedekatan kita.”   “Mungkin kita hobi banget adu urat satu sama lain atau sibuk balas kejahilan satu sama lain. Tapi aku nggak bisa mudah untuk membaur dengan yang lain. Nggak ada perundungan, cuma aku nggak bisa dapat teman seaneh dan sejahil kamu.”   Jonathan langsung mengalihkan pandangan kedepan saat Cilla bersiap menoleh padanya. Ia kehilangan simpati ketika Cilla masih sempatnya menyindir; menghina Jonathan.   Seaneh dan sejahil kamu.   Bukannya terbalik?   Di usia dewasa mereka, Jonathan yang harus melabeli Cilla dengan segudang keanehan—absurd—yang tidak berkesudahan dan membuat jantungnya berdegup kuat saking ketakutan. Atau setidaknya, ketika kepalanya berdenyut secara tiba-tiba dengan sikap perempuan itu di unitnya.   Ia memang pernah besar di negara lain. Tapi Jonathan sedari dulu sudah diajarkan untuk mandiri dan di saat usianya tujuh belas tahun, pria itu mengandalkan kecerdasannya untuk mengolah skill menjadi pendapatan. Ia membayar biaya kuliah sendiri dan membeli apa pun dari hasil kerja kerasnya, sekaligus pernah menjadi Asisten dosen.   “Mereka baik, bahkan aku senang sama teman kelas kita, Jo. Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku tetap kangen sama makhluk paling aneh dengan nama Asher di belakangnya.”   “Oke. Cukup sindirannya. Balik ke topik awal mengenai perubahan rambut kamu,” cetusnya menyela, nyaris ingin berdecak kesal ketika Cilla yang polos, justru membuatnya kian geram.   Cilla mengerucutkan bibirnya. Namun, ia segera mengangguk pelan, kembali terlihat sedih. “Aku minta sama Mami untuk lurusin rambutku saat di sekolah menengah pertama.”   “Kenapa?”   Pertanyaan itu refleks dilontarkan Jonathan.   Di saat ia mengatupkan rapat dan berpikir Cilla akan menjahilinya karena peduli dan merespons, tampaknya perempuan itu tidak menyadari. Ia terlalu sedih untuk membahas hal ini.   Bahkan, ia sekilas melihat perempuan itu tersenyum getir. “Teman-temanku di bangku SMP, banyak yang bilang kalau aku nggak mirip sama Mami.”   “Katanya ... rambutku beda sama Mami yang lurus dan juga Papi.”   “Karena mereka selalu bilang, di antara ibu dan ayah, pasti ada satu dari mereka yang menurun. Salah satunya model rambut.”   Jonathan sangat peka mendengar pernyataan itu. Ia terdiam sesaat, masih fokus untuk menyetir. Tapi suaranya sudah lebih dulu menyeletuk, “Untuk apa dengarkan ucapan mereka? Mungkin, Mami kamu pernah juga rambutnya sama kayak kamu dan Mami kamu mengubahnya saat di bangku sekolah lanjutan.”   “Ya, nggak ada bedanya sama yang kamu lakukan saat di SMP,” lanjut pria itu serius.   Lagipula, kenapa Cilla terlalu sensitif mendengarkan ucapan mereka hanya sekadar model rambut? Jonathan tidak menyukai saat salah satu atau beberapa gerombolan anak-anak sekolah mulai menyindiri fisik ataupun sebagainya yang melekat di dalam tubuh seseorang.   Itu sebuah perundungan halus.   Jonathan bisa menilai jika Cilla terlalu tajam daya ingatnya hanya untuk menyakiti dirinya sendiri.   “Wajah kamu lebih menurun dari Papi kamu. Dan aku nggak bakal berbohong kalau ....”   “Sebenarnya senyum kamu sama seperti Mami kamu sendiri.”   Cilla mendongak dan menatap Jonathan. “Memangnya kamu tau dari mana bisa menyimpulkan kayak gitu?”   “Kita pernah saling bertemu membawa keluarga dan aku mengingat fisik dan paras kamu menurun dari siapa.”   Jonathan mengatupkan rapat bibirnya saat pandangannya tidak sengaja bertemu dengan Cilla yang menyeringai sempurna.   “Jo! Kamu masih ingat jelas, kan, perpisahan kita? Ya ampun ... hampir speechless tau, suer,” sahut Cilla kegirangan dan Jonathan menyesali ucapannya yang tidak bisa dikendalikan, lalu berakhir membuat Cilla besar kepala.   “Kayaknya cuma sebatas itu aja ingatanku.”   Cilla langsung mengubah raut wajahnya datar. Ia berdecak kesal dan Jonathan kembali mengabaikannya, lalu mempercepat laju menuju tempat yang sudah dijanjikan bersama rekan kerjanya.   “Omong-omong, kamu nggak mau tau kabar Chloe?”   “Dia udah pergi selama-lamanya karena kesalahanku sendiri. Maafin aku ya, Jo. Seharusnya aku bisa jaga dia, bukannya membuat dia berakhir tertabrak mobil.”   Pria itu tersenyum kecil dan mengangguk menatap Cilla sekilas. “Apa pun yang kamu punya dan menjadi kesayangan ... kadang nggak bertahan lama untuk hewan sekalipun. Chloe udah tenang dan bahagia.”   “Aku yakin, kamu pasti menjaganya dengan tulus dan penuh kasih sayang.”   Cilla merasakan dadanya menghangat.   Dulu, ia sempat berpikir Jonathan akan marah padanya, menagih janji untuk merawat peliharaan kesayangan Jonathan. Tapi pria itu berbesar hati dan mengetahui kondisi dengan baik. “Gantinya dengan senang hati aku bakal jagain adik kamu, Jo.”   “Bahkan, aku bisa jaga dan sayangi dia lebih besar di bandingkan saat bersama Chloe.”   Jonathan yang baru saja memarkirkan mobilnya di area yang sudah ditentukan bersama rekannya, menoleh cepat ke arah Cilla.   Benar saja.   Dari sendu, sedih, memilukan hati untuk berakhir bersimpati. Kini, Cilla berhasil menarik kedua sudut bibirnya menjadi sebuah senyuman yang ... mesumm dan nakal. Cilla mengedipkan sebelah matanya, “Adik kamu mau dijaga juga, nggak?”   “Aku nggak punya Adik. Aku anak tunggal.”   Memang dalam mode yang polos dan belum mendapatkan benang merah. Bahkan, Cilla dengan blak-blakan terbahak untuk apa yang baru saja dijawab Jonathan.   Pria itu mengerjap saat keningnya mengernyit bingung. Jelas saja ketika Jonathan harus cepat memahami suasana hati dan ekspresi baru dari Cilla. Suasana hati Cilla memang rentan berubah tanpa terduga.   “Itu, tuh ... adik kamu yang di sana,” liriknya dengan mengulum senyum, sekaligus menahan geli untuk tidak tertawa puas saat wajah Jonathan perlahan bersemu.   Pria berkulit putih bersih dan paras tampan tanpa meninggalkan jerawat atau bekas apa pun ... semakin memerah.   Refleks. Kedua tungkai atasnya merapat dan menutup kembali bagian yang sudah ditenkankan oleh Cilla.   “Cilla! Kamu nggak bisa diperingatkan sekali aja, ya?!” kesal bukan main dan dibalas tawa puas perempuan itu.   Bahkan, Cilla memegang perutnya saking tidak bisa mengendalikan tawanya saat Jonathan selalu saja melemparkan tatapan memperingatkan.   “Kamu udah punya kekasih belum, Jo?”   Perempuan itu mengedip genit. “Kalau belum, aku mau-mau aja jadi simpanan kamu. Asalkan tiap hari saldoku makin banya digitnya.”   “Mami bilang, nggak boleh rebut pria yang udah punya kekasih, tunangan ataupun itu istrinya. Jadi, aku tanya dulu sama kamu. Kalau jomlo ... bisa bebas aku rayu kamu sampai kita bisa benar-benar berakhir di ranjang.”   Bisik nakal dan kedipan manja menjadi undangan telak bagi perempuan yang sudah melepaskan sabuk pengamannya.   Melihat jika Cilla adalah perempuan yang keras kepala dan memang sulit diperingatkan secara baik-baik. Jonathan memilih mengikuti alur permainan penuh godaan dari Cilla.   Ia melepas sabuk pengaman, lalu mencondongkan tubuh dengan seringai kecil. “Terlepas aku udah jatuh cinta dengan perempuan lain ataupun memiliki kekasih ... kamu beneran mau?”   Cilla mengedik santai dengan senyum angkuhnya. “Mau aja kalau ada imbalannya.”   Jonathan semakin menarik kedua sudut bibirnya dan meraih dagu Cilla, membawa manik hitam keduanya bersitatap. “Nggak nyesel?”   “Nggak ....”   Cilla semakin berseri ketika Jonathan sudah menurunkan pandangan ke arah bibirnya. Ia tahu, senaif apa pun Jonathan, pasti tergoda. Sebab, Cilla sudah dibuat berkerut saat pria itu terlalu menjaga jarak bersamanya selama di unit. Termasuk ketika pria itu harus syok berulang kali dengan tingkah Cilla yang mungkin dianggap pria itu di luar perkiraannya.   Ia menutup kelopak mata saat wajah Jonathan kian mengikis, membawa terpaan napasnya di ceruk leher Cilla. Perempuan itu menunggu dengan perasaan berdebar, meyakinkan imajinasinya jika Jonathan akan berakting layaknya drakula.   “Kyaaaaaa ... sakittttt ....”   Jonathan tergelak dan langsung saja keluar dari mobil, meninggalkan Cilla yang memekik memegang hidungnya yang memerah. Pria itu mencubit ... menekan gemas plus penuh kekesalan karena terus saja menggodanya.   “Jonathan Asher ....”   Cilla memekik kesal melihat pria itu sudah menghilang di balik pintu seberang sana.   “Awas, ya ... aku nggak bakal kalah dan langsung mundur karena dijahilin kamu. Nanti, pasti aku yang bakal menang!”   Perempuan itu bertekad dengan penuh semangat yang tidak akan padam dengan mudah. “Anak Mami Serra nggak akan kalah gitu aja,” lanjutnya percaya diri dan langsung memutuskan menyusul pria naif dan jual mahal itu yang sudah meninggalkan Cilla begitu saja di dalam mobil.   **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN