Jonathan mengakui Cilla adalah perempuan yang cerdas, meskipun saat sudah bersama dirinya Cilla akan kembali aneh. Sangat aneh. Bahkan, Jonathan selalu dibuat bingung oleh perempuan dewasa itu berulang kali.
Ia melirik Cilla yang terlihat menyimak percakapan antara Jonathan dan klien. Pun, beberapa kali di saat diberi kesempatan, maka ucapan cerdas dan tegas itu membuat Jonathan kagum.
Sebenarnya, kali pertama bertemu Cilla, ia sempat ragu. Cilla memiliki rambut yang sedikit ikal; tidak secara keseluruhan memang. Wavy hair. Rambut dengan tipe lurus dan keriting. Bagian pangkal hingga sebagian rambut berjenis lurus dan sisanya merupakan rambut keriting.
Ia hanya sedikit ragu mengenali dari rambut dan juga wajahnya. Lagipula, perempuan itu terlalu berlebihan untuk menanggapi ucapan teman-temannya. Ia yakin, teman Cilla tidak melakukan perundungan. Hanya saja, Cilla memang tipe yang terlalu melebihkan sesuatu.
‘Kiting ... hari ini ikat kuncir rambut kamu warnanya biru, ya?’
‘Jo ... jangan bilang kiting, tau! Nanti Cilla kasih tau Mami!’ tekannya dengan manik hitam begitu tajam.
‘Udah ... jangan ditarik-tarik, nanti lepas ....’
‘Ini Mami yang ikat rambut Cilla!’
“Pak Jonathan?”
“Pak?”
Cilla menoleh ke samping ketika ia memang sedang menuliskan catatan dari setiap perkembangan dan pembahasan yang sedang dilakukan Jonathan bersama kliennya. Ia pun mengerjap, mengkerut bingung saat pria itu tidak menujukan pandangan ke arah kliennya. Tapi tampak memandang keluar jendela, melihat dikejauhan kendaraan yang lalu lalang dengan senyum kecil.
“JO!”
Jonathan nyaris tergeser ... jatuh dari kursi jika saja ia tidak refleks menahan pinggiran meja, begitupula dengan gerakan cepat dan sedikit kaget dari klien Jonathan yang memegang lengannya.
“Cilla!”
Perempuan itu nyengir lebar melihat Jonathan yang tampak mengusap bagian dadanya, memelotot sempurna karena dorongan Cilla sepenuh tenaga. Bahkan, adegan yang sangat dikhawatirkan klien Jonathan, berujung dengan mengulum senyum geli.
Ternyata.
Mereka bukan sekadar Atasan dan pegawai.
Serasi.
Pikir lelaki itu yang membuat ia tanpa sadar mendengkus geli.
Cilla hanya berniat menyadarkan Jonathan lebih cepat. Sebab, ia melihat sendiri ketika dua kali dipanggil oleh kliennya, Jonathan tidak kunjung tersadar. Mungkin, ada makhluk halus yang menggoda Jonathan atau apa pun itu karena melamun.
Tapi buat Jonathan, disadarkan seperti itu sudah berlebihan dan membuatnya malu. Lihat. Pria itu berjalan cepat meninggalkan Cilla yang masih tertinggal di belakang.
Pekerjaan selesai dan setelah pamit, masih memertahankan wajah bersahabat. Di luar? Ia langsung mengumpati Cilla.
Jonathan dipermalukan perempuan itu.
“Jo ... kakiku sakit!”
Cilla menghentak kesal ketika heels-nya membuat kaki Cilla menderita. Ia membuka paksa heels, lalu berlari sekuat mungkin untuk sampai di belakang Jonathan dan langsung memukul kuat bahu pria sombong itu.
Jonathan mengerang sakit, menoleh ke belakang dan mendapati perempuan sebatas dagunya itu mendongak sambil berkacak pinggang. “Kenapa? Mau marah? Ayo, duel,” sahutnya menyingsingkan blazer-nya.
Pria itu menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan meskipun kemarahannya sudah di ubun-ubun.
“Pulang naik taksi atau jalan kaki! Kamu nggak boleh masuk ke dalam mobilku.”
Bibir Cilla terbuka sempurna dan manik hitamnya membeliak.
Ia semakin kelabakan saat Jonathan langsung berbalik sudah melangkah meninggalkan Cilla. Perempuan itu segera berlari dan menarik tangan Jonathan dan ....
Sukses!
Pria itu tampak kaku dan memelotot sempurna saat Cilla mendaratkan satu kecupan di sudut bibirnya. Nyaris ....
Nyaris belum sampai di permukaan bibir tipis kemerahan itu.
Kedua sudut bibir Cilla tertarik sempurna dan ia pun mengedipkan sebelah matanya. “Sampai kamu beneran tinggalin aku di sini. Aku bakal cium bibir kamu sampai semua orang lihat yang kita lakukan udah keterlaluan.”
“Nggak tau etika dan lain sebagainya yang dipandang rendah. Terlebih, bisa aja salah satu dari mereka mengenali kamu.”
Senyum penuh kemenangan Cilla terpatri sempurna. Ia bisa melihat rahang Jonathan mengetat, lalu dengan cepat melangkah lebar memutari sisi mobil dan membuka pintu samping kemudi. “Masuk!”
Cilla menjerit bahagia.
Ia langsung berlari menyusul Jonathan dan berjinjit, lalu kembali membuat Jonathan terdiam saat ciuman di pipi itu kembali bersarang di bagian kanan. “Terimakasih, Bapak Asher!”
Jonathan menutup kesal pintu dan mendapati Cilla menurunkan kaca mobil. “Makin manis kalau marah kayak gini.”
Ia sengaja menggigit bibir bawah. Menggoda dan menjahili Jonathan dalam satu waktu.
“Tunggu setelah sampai di unit,” desisnya dan langsung memutari sisi mobil, meninggalkan Cilla yang mendengkus geli.
“Tunggu di unit? Mau malam pertama atau main basah-basahan, nih? Boleh deh yang mana aja!” gumamnya sendiri dengan senyum semringah.
**
“Iya, Kakek. Besok Jo udah masuk kerja lagi. Hari ini cuma bahas proyek dengan Pak Ilyas.”
Cilla melihat Jonathan keluar dari kamar sedang menelepon Pak Asher. Lelaki yang sudah lanjut usia dan mengalihkan kekayaan atas perusahaannya pada cucu kesayangan. Itu yang didengar Cilla dari Meida beberapa waktu lalu.
Jonathan anak lelaki satu-satunya yang lahir dari anak pertama dari kakek dan neneknya. Ya, hal mudah untuknya meneruskan segala tugas penting dan besar karena hanya pria itu yang bisa diandalkan sebagai seorang pria; pemimpin.
“Besok Jo yang akan datang ke rumah kakek jam makan siang.”
“Iya, Kek.”
Cilla menghentikan makannya saat Jonathan sudah menyelesaikan panggilan telepon dan menatap dirinya yang sedang bersantai di sofa ruang tengah bersama camilan dalam pangkuan perempuan itu.
Hebat sekali perempuan ini, menganggap jika statusnya sebagai asisten rumah tangga ... hilang dalam sekejap.
“Tugas kamu di sini ngapain?” Jonathan menatap lurus Cilla yang masih duduk bersandar sambil melipat kedua kakinya; menyilang.
“Kerja tanpa digaji,” balasnya polos, terlalu jujur.
“Makan disebut kerja?”
“Isi perut, isi tenaga dulu, Jo. Nanti malam kerja lagi, kan?”
“Tempur di atas ranjang.”
“Astaga ....”
Cilla terkikik pelan melihat Jonathan mengusap kasar wajahnya. Tampaknya pria itu sudah sangat frustrasi menerima Cilla sebagai babu. Kali ini babu untuk ditindas harus ekstra perjuangannya. Karena Cilla memiliki tips dan trik sendiri untuk membuat Jonathan lelah berdebat atau sudah bisa langsung mual saat melihat dirinya.
“Tapi, Jo. Aku serius tanya yang waktu itu.”
Pria itu menaikkan sebelah alisnya.
“Tentang kekasih kamu,” lanjut perempuan itu menjelaskan kembali.
“Kalau belum punya, aku nggak bersalah untuk godain kamu sampai iman kamu goyah. Tapi kalau udah punya, sama aja aku ngebuat kesalahan besar. Aku nggak mungkin merusak hubungan orang lain, sekalipun kamu teman masa kecilku yang jahat.”
“Bisa ganti kata jahatnya? Sejauh ini aku nggak menindas kamu keterlaluan,” sahutnya tidak terima dan membuat Cilla mendengkus sebal.
Perempuan itu menegakkan punggungnya, lalu menaruh cemberut toples makanan di atas meja. “Kamu itu jahat. Jahat ... banget.”
“Karena kamu udah ingkar janji sama aku. Ada hal yang kamu lupakan dan nggak pernah berusaha menyinggungnya, kecuali aku yang selalu memulai atau sekadar memberikan kode.”
Jonathan mengedik. Ia tampak tidak peduli dengan kesedihan Cilla. Perempuan itu semakin dibuat kesal dan menenggak minum hingga tandas. “Dasar nggak peka!” ketusnya dengan nada tegas dan tatapan sinis.
“Nggak peduli,” balas pria itu mendekat dan mengambil camilan lain yang dikeluarka Cilla dalam kulkas, ia rapikan di atas meja sebagai ragam pilihan.
“Masih jomlo, kan?”
Balik ke pertanyaan pertama dan perempuan itu mendongak, menatap intens Jonathan yang masih berdiri. Ia tampak memilah makanan yang enak menurutnya.
Pria itu pun menoleh dan menatap datar, “Penasaran banget, ya? Jangan bilang kamu jatuh cinta sama aku dan menjadikan keanehan ... kurang secanting kamu sebagai alasan nggak mau terlalu terbuka mengagumiku.”
Cilla melongo sempurna dengan senyum dan sorot mata yang dibuat mengejek.
“Ih ... amit-amit naksir sama pria yang nggak bisa tepatin janjinya!”
“Hal kecil aja diabaikan. Apalagi hal besar dalam sebuah komitmen? Nggak, ya! Tipe-tipe pria yang suka selingkuh.”
“Kalau tipe selingkuh ... mungkin, calon pilihan jodoh kakek sama mamaku yang ke 19, udah aku jadikan kekasih simpananku semuanya.”
Cilla nyaris tersedak salivanya sendiri. “Calon jodoh? Ke sembilan belas?”
Jonathan mengangguk pelan sambil menikmati makanannya. “Dari usiaku masih lima belas tahun. Kakek selalu mempertemukan aku sama anak dari rekan kerjanya. Ya, semacam untuk menghasilkan jalinan bisnis lewat perjodohan. Bisa disebut pertunangan atau pernikahan di kemudian hari.”
“Masih ada ya, jodoh-jodohan? Masih enak pilihan sendiri.”
“Nggak selamanya pilihan sendiri juga bagus,” sahut pria itu mengempaskan tubuh atletisnya di single sofa, di sisi kanan Cilla.
Cilla duduk menyamping menatap Jonathan. “Kalau nggak selamanya buruk, kenapa di tolak?” tanyanya penasaran.
Jiwa penasaran; kepo akut mulai meronta untuk bertanya lebih dalam.
Cilla tetap memandang ke arah Jonathan yang mengganti siaran teve, sedangkan Cilla mulai mengambil sejumput kacang di toples sisi kiri.
“Dadanya terlalu kecil.”
“Uhukkk ... uhuuukkk ....”
Jonathan tertawa geli, tanpa prihatin pada Cilla yang mulai serabutan membuka segel minuman botol yang sedikit jauh dari jangkauannya. Ia melihat tegukan terus menerus untuk mendorong dan meredakan tersedak yang pastinya akan menyisakan batuk hingga di akhir.
Wajah Cilla memerah. Menghabiskan minuman itu sampai habis.
“Jo! Gimana kalau aku tersedak, terus mati di tempat?!” manik hitamnya menyorot tajam manik mata Jonathan.
“Ya udah. Tinggal diurusin pemakamannya,” sahutnya santai dengan senyum tidak peduli.
Cilla mengumpat pelan dan berucap sinis, “Kamu mesumm juga, ya? Dikirain nggak pernah berpikir sampai ke sana. Sama aku aja sok jual mahal,” tuturnya.
“Aku suka lihat perempuan seksi. Tapi bukan kamu orangnya.”
“Jadi, kemarin pakai bra sama celana dalam ... adik kamu nggak terasa sesak, ya?” jahil, senyum genit itu diperlihatkan dan membuat Jonathan mendengkus sebal.
Cilla memang terlalu mudah mengubah ekspresi wajahnya untuk menjadi menyebalkan bagi Jonathan. Perempuan itu memang ajaib sekali. Jonathan tidak akan menampik, jika Cilla adalah perempuan aneh pertama yang ia kenal.
“Nggak,” balasnya cuek dan memilih menyandarkan tubuh sambil menoleh ke arah layar teve.
Ia mengabaikan perempuan yang kini mencebik tidak suka.
Cilla mengerjap, lalu melirik ke kanan kiri, tampak membawa otaknya berpikir cepat. Perlahan, kedua sudut bibirnya tertarik sempurna.
Ia masih penasaran dengan Jonathan Asher. Mantan musuhnya semasa sekolah dasar.
Jonathan yang merasa sepi karena tidak ada kicauan Cilla ... mulai merasa aneh. Ia berniat membawa kepalanya terarah pada tempat duduk Cilla, sudah lebih dulu dibuat terkejut oleh perempuan itu yang berdiri di sampingnya.
Napas Jonathan tercekat bersama tubuh menegangnya saat Cilla langsung saja mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan Jonathan.
Manik hitam itu memelotot sempurna; kaget.
Pergerakan Cilla memang sangat susah ditebak; dipandang saksama.
Jika ia menerka ... bisa saja salah menebak. Serba tidak bisa diperkirakan dengan sempurna.
“Jo? Kok diam, sih?” pernyataan yang diiringi suara dibuat manis.
Sengaja menggoda Jonathan.
Cilla pun tampak memosisikan duduk lebih nyaman, tidak peduli jika Jonathan tampak semakin kaku. Perempuan dengan kaus longgar dengan lengan pendek itu pun tampak nyaman membawa kedua lengan untuk melingkari leher Jonathan.
Ia membelai tengkuk teman masa sekolahnya.
“Cilla ... kamu beneran nggak peduli kalau aku melakukan sesuatu sama kamu?”
“Hmm ...”
“Gimana, ya?” Cilla tampak berpikir, sengaja membuat Jonathan bertambah kesal karena posisi mereka akan semakin lama seperti ini.
Tatapan Cilla turun menatap kedua manik mata Jonathan dan berseri. “Habisnya ... gara-gara kamu bilang udah menolak perempuan sebanyak sembilan belas orang, aku jadi pengin jadi yang kedua puluh untuk masuk atau enggaknya ke kategori kamu.”
Jonathan mengernyit di saat Cilla bersemu. “Sebenarnya kamu udah lihat kan, punyaku? Menurut kamu, besar atau kecil seperti calon jodoh kamu?”
“Setauku udah pas banget di tangan pria pastinya.”
Bisakah Jonathan pingsan saja sekarang juga?
Ucapan lugas Cilla terlalu mengundang pemikirannya untuk semakin jauh. Bahkan, perempuan itu dengan mesra merangkul lehernya dan membawa dirinya untuk turun ... semakin mendekati milik Jonathan.
“Bener lho, Jo. Punyaku pasti termasuk selera kamu.”
Jonathan nyaris kehilang kata-katanya saat Cilla dengan santai dan tampak polos, menarik ujung kerah kaus longgarnya dan melirik miliknya sendiri dari sana. “Tuh, kan. Mau lihat lagi, nggak?”
Penawaran dengan sangat tidak tahu dirinya.
Jonathan lelah meminta Cilla untuk sadar. Jika terjadi sesuatu, salahkan perempua itu di saat Jonathan sudah memberikan kesempatan pada perempuan itu untuk menarik diri dan menghentikan ucapan menantangnya.
Cilla nyaris memekik saat Jonathan dengan cepat menarik kedua tungkai atas Cilla yang diselipkan dekat bawah tempurung lutut. Perempuan itu berhasil duduk di bawah milik Jonathan dan nyaris menahan napas saat pria itu menyeringai nakal. “Masih mau menggodaku?” bisiknya ganti membawa kedua telapak tangan itu merayap ... kian naik melewati celana pendek Cilla.
Napas perempuan itu tercekat bersama detak jantungnya yang berdetak kuat.
Ia nyaris kehilangan kalimat jika Jonathan pun bisa memandangnya begitu lain.
Cilla salah menjahili pria.
Ia berpikir, pria itu bisa kembali tenang atau mengumpatinya lagi.
Tapi kali ini ... Cilla nyaris menahan napas lagi saat salah satu telapak tangan Jonathan berhasil menempel di punggungnya.
Sedangkan satu tangan lagi melingkari pinggang rampingnya. Cilla tidak memakai tank top, kecuali bra dari balik kaus longgar miliknya yang tidak akan transparan.
“Kenapa diam?” kini giliran Jonathan menyeringai dan terus membelai punggung serta meremas pelan pinggang Cilla.
Perempuan itu dengan susah payah menelan saliva, lalu mengerjap dan berusaha untuk meredam gairah yang terpantik perlahan.
Manik hitam Jonathan menatap d**a Cilla yang sedikit membusung. Kemudian pandangannya kembali teralih pada perempuan yang sedikit lebih tinggi darinya. “Boleh aku buka sekarang? Kayaknya malam hari enaknya minum yang segar-segar ... langsung dari tempatnya, kan? Susuu misalnya?”
Jantung Cilla berdegup kuat merasakan telapak tangan Jonathan terus naik di punggungnya. Ia tentu saja mencari kait bra milik Cilla.
“Aku memang udah pernah lihat bagiannya, sedikit, sih. Tapi aku nggak tau ukurannya pas di tangan aku atau enggak.”
“Kamu bilang, punya kamu nggak kecil kan sama seperti calon jodoh yang kutolak. Jadi, aku mau lihat dan bandingkan sekarang.”
“Se-ka-rang?”
Jonathan mengangguk dengan senyum nakal, mengabaikan Cilla yang mulai ketakutan.
“Atau ... sebaiknya nggak perlu?”
Jonathan sedang memainkan hasrat Cilla.
Perempuan itu justru semakin sulit untuk berkutik dan mengeluarkan kalimat-kalimatnya saat telapak tangan Jonathan yang seharusnya meraih kait bra ... justru berhenti.
Ia membawa telapak tangan itu hingga dekat cup bra Cilla.
Cilla merasakan gelenyar saat Jonathan berhasil memegang dadanya di bagian kanan; masih terbalut bra. “Udah dapat undangan terbuka, kan?”
“Jo ....”
Cilla meloloskan desahannya tatkala Jonathan langsung meremas perlahan yang sudah ditangkupnya.
Jonathan menyeringai kecil saat tubuh Cilla merespons sentuhannya. Ia yang telanjur mendapati perempuan itu luluh dengan sentuhannya ... perlahan mendekat, mengecup bahu terbuka Cilla yang sedikit menurun dan tetap meremas bagian yang sudah pas di telapak tangannya.
“Jo ... kamu ... curang ....” Cilla nyaris kehilangan kalimatnya saat tangan lain Jonathan ikut melakukannya, membuat tubuh Cilla berdesir sekaligus memantik hasrat dalam tubuhnya.
Jonathan tidak menggubrisnya dan semakin puas untuk memberikan rangsangan ... mengantarkan gejolak hasrat yang bisa membuatnya menang telak saat melihat pipi putih itu bersemu hingga ke lehernya.
PLAK!
“AW!”
“Udah aku bilang kamu itu curang!”
“Kalau mau grepe-grepe ... tanganku juga harus ikut main! Kasih kesempatan yang sama, biar imbang!”
Jonathan harus mencari akal lagi setelah ini.
Cilla benar-benar ajaib.
Ia kira, bisa membuat perempuan itu luluh dan berhenti untuk menggodanya dengan sentuhan kecil yang Jonathan berikan.
Sayangnya, pipinya yang menjadi sasaran telak Cilla.
Perih ... panas dan menyakitkan.
**