13. Balas Menggoda

2419 Kata
“Cuci semuanya sampai bersih dan wangi. Jangan ada satu piring dan cangkir pun yang disisakan. Karena nanti pagi, aku taunya dapur udah bersih.”   Cilla mengumpati Jonathan dalam hati saat pria itu sudah menumpukkan piring dan gelas mendekati dirinya. Padahal, perempuan itu baru saja merasa begah ... makan kalap di malam hari saat Jonathan dengan baik hatinya delivery order.   Ternyata ....   Sebagai jebakan batman.   Jelas saja. Pesanannya yang cukup banyak ... lebih dari lima menu, belum lagi pesanan Jonathan. Kini, sisanya bertumpuk, membuatnya ingin menangis.   “Kenyang, Jo. Besok aja ya, dicucinya?” rengek Cilla mendongak, tampak akan sulit jika ia berdiri.   Cilla benar-benar kenyang.   Setelah ia hampir saja membiarkan Jonathan dengan sendirian menang menggodanya. Pria itu akhirnya memutuskan untuk mereka makan malam bersama. Lagipula, keduanya menganggap tadi adalah hal kejahilan saja. Tidak untuk dianggap serius dan makan malam seperti biasanya.   Jonathan menggeleng pelan. Pria itu menepuk Cilla yang masih duduk. “Sekali kamu melanggar perintahku.”   “Pekerjaan kamu di unit ini sebagai asisten rumah tangga akan bertambah satu hari. Jadi, dari dua hari dalam satu minggu ... bisa berakhir menjadi tiga hari ataupun lebih.” Ia menyeringai puas meninggalkan Cilla yang tidak bisa berkutik, merengek lagi pada Jonathan.   “Aku bukan babu ....” rengeknya menangkup kepala dengan kedua telapak tangannya dengan menumpukan kedua siku di atas meja.   Ia melirik sedih tumpukan piring kotor di samping. “Ya ampun ... mana pesanannya beraneka ragam.”   “Ada bumbu kacang dari sate, terus ada yang berkuah dan bersaus.”   “Ya Tuhan ....”   “Gimana sama tanganku lama-lama disuruh pegang spons dan terkena bumbu ini? Bisa bau kalau nggak dibasuh lama-lama sama busanya,” lanjutnya menyandarkan lemah punggungnya di sandaran kursi.   Ia masih meratapi nasib di meja makan.   Jika begitu, mungkin ia hanya memesan satu atau dua menu saja.   “Mana udah ngantuk,” ucapnya menguap dan menutupnya dengan punggung tangan.   Dirinya belum mencuci tangan saat terlalu bersemangat mencubit sedikit daging ayam bakar.   Akhirnya, Cilla dengan terpaksa dan langkah berat menuju dapur dengan beberapa kali mengambil perabotan kotor. Sebab, tumpukannya cukup banyak dan ada mangkuk serta cangkir.   “Tuh, kan, bau ....” gerutunya mencium sekilas telapak tangannya.   “Ih ... nyebelin banget si Asher,” sahut Cilla mencebik dan mengusap permukaan piring dengan cukup menggebu.   Berulang kali sudah berusaha untuk memerdekakan diri. Tapi tetap saja, Jonathan akan melakukan kesempatan lainnya untuk membuat status Cilla di unit ini tetap sebagaimana mestinya.   “Laporannya belum aku kirim ke email dia.”   “Ya ampun ....”   “Makin lama dong, tidurnya.”   Cilla lupa pekerjaannya di perusahaan dan deadline sedang menunggunya karena sedari pagi dan baru pulang malam ini ia bisa sampai di unit. Jonathan memang tidak masuk bekerja di perusahaan. Tapi Cilla memang sudah semestinya menemani pria itu ke mana pun pergi.   Termasuk menemaninya mencari kemeja dan jas baru.   Mungkin, itu adalah aksi balas dendam yang dilakukan Jonathan. Karena Cilla kembali membuatnya kesal dipertemuan pagi tadi bersama klien. Jadi, pria itu memutuskan memilih pakaian dengan sangat lama.   Cilla hampir saja ingin memukul Jonathan.   Di sisi lain, Jonathan dengan perlahan menaruh tumpukan selimut dan bantal di atas sofa. Sudah jelas tujuannya untuk menyingkirkan Cilla dari ranjangnya.   Ada alasan lain ketika ia masih bisa mengingat perlakuannya pada kedua dadaa Cilla yang memang sangat pas.   Benar-benar sialan.   Jonathan memang harus menyingkirkan Cilla dari kamar, sebelum ia berakhir menghamili perempuan itu.   Ia segera merogoh saku celana dengan sesekali melirik ke arah dapur yang masih menyisakan suara dari perabotan yang sedang Cilla cuci.   Langkahnya membawa Jonathan kedepan kamar, menaruh alat penyadap di tempat yang tidak akan terlihat oleh Cilla.   Pria itu menyeringai puas dengan tepat waktu sudah melakukan pekerjaannya. “Selamat malam, Priscilla Ogawa.”   “Akhirnya, aku terbebas dari sikap bar-bar dan agresif kamu.”   Ia mengembuskan napas lega, lalu masuk ke dalam kamar dan menguncinya dengan cepat.   Jonathan menjatuhkan tubuhnya dengan nyaman  di atas kasur nyamannya. Ia tidak suka berbagi tempat tidur dan cukup merasa risih dengan kehadiran Cilla yang bisa menerkamnya sewaktu-waktu.   Namun, memandang langit kamar, ia tanpa sadar menarik kedua sudut bibir; hanya tipis.   Perempuan itu cukup membuat jantung Jonathan bekerja lebih ekstra atau tingkah dan ekspresi yang hanya tertuju jika perempuan itu mengusik Jonathan.   Cilla adalah kebalikan darinya yang tidak terlalu memusingkan beberapa hal. Termasuk saat pria itu memang lebih irit berbicara sebenarnya untuk hal yang tidak penting. Tapi Cilla memiliki banyak cara supaya Jonathan bisa menggunakan pemberian Tuhan dengan lebih baik. Salah satunya bibir untuk berbicara tanpa diam membisu.   “Selesai ....”   Cilla menyeringai puas setelah menyusun piring terakhir yang sudah ia keringkan. Perempuan itu berkacak pinggang, melihat jika tidak ada satupun piring atau perabotan kotor yang tertinggal.   “Berapa lama aku cuci ini, ya,” cetusnya segera merogoh saku celana dan mengangguk.   “Untuk jumlah dua belas perabotan ... dua puluh menit cuci piring, mangkuk, garpu, sendok dan gelas udah paling cepat,” lanjutnya merasa bangga dengan dirinya sendiri.   Ia pun segera melangkah bahagia keluar dapur. Namun, pandangan Cilla sudah lebih dulu menangkap selimut dan bantal di atas sofa ruang tengah.   Dengan berpikir cepat. Cilla membeliak dan segera berlari menuju kamar yang sudah tertutup dan refleks membukanya. Dikunci dari dalam.   “JO!”   “Jo! Bukain pintunya, Jo ... aku takut sendirian di sini, Jo!”   “Sial!”   Jonathan terduduk saat alat penyadapnya bekerja dengan sangat maksimal ketika teriakan Cilla sangat memekakan telinganya. Ia pun memang salah menaruh ponsel di sisi dekatnya.   Pria yang sudah memejamkan sejenak matanya dan hampir larut dalam mimpi indah, kembali terjaga dengan mendudukkan tubuhnya.   Ia yakin, Cilla sangat panik karena dari suara tersebut.   Karena ruangan ini kedap suara dan alasan itulah yang membuat Jonathan memasang alat penyadap.   “Jo ....”   “Bukain pintunya, Jo! Aku takut tidur di luar, Jo!”   Jonathan terdiam saat teriakan Cilla mulai berbaur dengan isak tangisnya.   Suara gedoran pintu kian membuatnya tidak berkutik. Cilla sedang ketakutan di balik pintu itu.   “Jo ... aku mau tidur di dalam aja ....”   Tangis itu terdengar jelas oleh Jonathan.   “Hiks ... nggak apa-apa kalau di sofa kamar, Jo. Tapi jangan tinggalin aku sendirian di luar kamar, Jo. Aku takut ....”   Suara itu kian mengecil, meskipun Jonathan masih bisa mendengar isak tangis Cilla dan gedoran yang berakhir ketukan sangat ringan.   Jonathan dilema. Ia beranjak dari atas kasur karena hanya berniat untuk membiarkan Cilla dan dirinya tidur terpisah. Ini sebenarnya sangat aman di saat pria itu memang sangat normal.   Tidur dengan lawan jenis di atas kasur, lalu tanpa siapa pun yang berada di unit. Bukankah semakin berbahaya? Terlepas dari pemikiran awal Jonathan yang memang akan membiarkan Cilla tidur di tempat lain, selain kamarnya.   Jonathan tidak pernah berpikir untuk satu kasur bersama Cilla saat kesan pertamanya; terpercik hasrat dan horor dalam satu waktu. Ia benar-benar mengira akan dicabut nyawanya ketika Cilla memeluknya.   Cilla yang ia duga akan cukup lugu atau naif. Ini benar-benar kebalikannya dari semua pemikiran awal Jonathan.   Lima menit berlalu hanya Jonathan gunakan untuk berdiri di belakang pintu. Ia masih bertahan dengan sedikit keegoisan dan juga rasa bingung.   “Apa dia pingsan?”   Jonathan tertegun dengan pertanyaannya sendiri. Ia memutuskan untuk segera membuka pintu dan mendapati Cilla bersandar dengan tangis yang kecil.   Perempuan itu menunduk, menyeka sudut matanya berulang kali.   Cilla duduk berselonjor dan bahunya tampak naik turun.   “Cilla?”   Jonathan merasa bersalah ketika mata itu sembab dan air matanya masih membasahi kedua pipi Cilla.   “Kamu jahat, Jo.”   Cilla terisak. Kembali menunduk dan berkali lipat Jonathan merasa bersalah atas sikapnya.   “Cil, aku ... aku minta maaf. Bukan tanpa alasan aku pindahin selimut dan bantal di ruang tengah.”   Jonathan langsung menumpukan sebelah lututnya di lantai, meraih bahu Cilla. Ia tergerak dalam hatinya sangat tulus untuk meminta maaf pada perempuan yang sudah keterlaluan ia jahili.   “Cilla ....”   “Aku minta ma—AW! CILLA!”   “Tuh! Rasain udah tinggalin aku di luar sendirian!”   Jonathan  memekik sakit dengan terduduk memegang perutnya yang dicubit kuat oleh Cilla. Perempuan itu bergegas berdiri ... berlari cepat menuju pintu kamar dan ganti menguncinya.   Di balik pintu. Cilla menyeringai puas sambil menyeka air mata buayanya.   “Untung pintar acting,” sahutnya penuh bahagia.   “Bodoh banget, sih.”   “Kalau aku penakut ... nggak mungkin Papi dan Mami kasih izin untuk sewa apartemen. Aku kan anak mereka. Otomatis tau, dong. Kapan anaknya jadi penakut untuk beberapa hal. Kalau ditinggalin sendirian di unit sih, nggak jadi masalah cuma beberapa malam.”   Ia membersihkan kedua telapak tangan, seolah ada debu yang menempel di sana.   Cilla selalu senang membuat Jonathan kalah telah. Ia langsung mengempaskan tubuh di atas kasur. Begitu nyaman merentangkan kedua tangan dengan seringai lebar menatap langit kamar. “Selamat tidur di luar, Jo,” ucapnya dengan sangat bahagia.   BRAK!   Cilla langsung membukan kedua kelopak mata. Ia refleks terduduk kaget dengan manik hitam membeliak sempurna.   Napasnya tercekat mendapati Jonathan berdiri di ambang pintu dengan bahu naik turun dan tatapannya begitu tajam tertuju pada Cilla. Mampus kamu, Cilla. Ternyata dia punya kunci duplikat. Cilla mengumpati dirinya sendiri yang belum sampai lima menit lalu menghina Jonathan bodoh. Ternyata Cilla lebih bodoh dari pria yang memang memiliki akses lebih baik di unitnya sendiri.   “Hai, Jo ....”   Cilla melambai ragu, tampak tersenyum paksa saking ngeri dengan tatapan tajam Jonathan. Apalagi dengan langkah pastinya begitu mengintimidasi Cilla yang langsung beringsut menuruni kasur.   “Aku tadi beneran nangis, lho,” cetusnya berdiri, menunggu dengan gemetar kedatang Jonathan yang tidak sampai lima meter lagi.   Pria berkulit putih dengan tinggi atlestisnya semakin memandang Cilla penuh kebencian. Perempuan itu menelan saliva susah payah dan hanya mampu menaikkan jemari tangan kanan, membentuk permintaan maaf.   “Lihat. Cubitan kamu membekas merah di perutku.”   Cilla mengatupkan rapat bibirnya bersama desir dalam tubuhnya melihat kali pertama Jonathan menunjukkan perutnya yang terbentuk sempurna. Duh, sialan nih, orang. Mataku jadi nggak fokus. Padahal, tatapan Jonathan tampak marah pada Cilla, bukan ingin menggoda perempuan itu. Sebabnya, Jonathan masih menggerutu kesal, tanpa menyadari mata Cilla mengarah ke lain. Juga, kedua pipi itu bersemu.   Cilla mulai kehilangan akal sehatnya.   “Jo ....”   “Kausnya jangan diangkat terus, dong. Nanti kalau badan kamu kedinginan gimana? Atau aku jadi khilaf mau gerayangin tubuh kamu ke mana-mana, siapa yang salah?”   Pria yang hanya memperlihatkan perutnya saja dan tidak bertelanjang dadaa, mulai mengerjap dan menyadari jika Cilla tidak menatap lurus ke arahnya.   Tiba-tiba, sudut bibirnya berkedut melihat perempuan itu gugup; salah tingkah.   “Jelas salahkan yang nggak bisa tahan napsunya,” sahut pria itu santai dan membuka kausnya, lalu menanggalkan di atas ranjang.   Sumpah demi apa pun! Jo udah berubah jadi hot-hot pop!   Cilla memekik sempurna dalam hati.   Jonathan yang sekarang benar-benar membuat Cilla bisa nyaris menahan napas hanya menanggalkan pakaian atasnya saja. Dulu, Cilla hanya sebatas pelipis Jonathan dan pria itu tidak terlalu berisi dengan tubuh yang sangat tegap.   Jonathan dulu justru terlihat imut di bandingkan tampan. Sekarang?   Cilla tidak bisa mengalihkan cepat pandangannya dari dadaa bidang dan juga perutnya yang menggoda iman Cilla.   “Jo? Boleh pegang atau raba-raba, nggak? Kali aja setelah ini aku ketagihan tidur seranjang dan menyandarkan kepala aku di atas dadaa kamu.”   “Pasti nyaman banget,” tambahnya dengan wajah mupeng.   Jonathan tergelitik. Tapi ia ingin sesekali membalas perbuatan Cilla lebih jauh. Itung-itung, ia pun bisa mendapatkan skor yang sama dan tidak hanya dirinya yang bisa panas dingin sendirian.   “Boleh.”   Sahutan Jonathan sukses membuat bibir Cilla terbuka. Ia nyaris menelan saliva ketika Jonathan mendekat dengan senyum berengseknya. Pria itu dengan perlahan menarik kedua tangan Cilla untuk merangkul lehernya.   Pun, pria itu dengan gerakan cepat merapatkan tubuh keduanya; menarik pinggang Cilla.   Degup jantung Cilla tidak keruan.   Tubuhnya gemetar saking gugup dipandang lain oleh pria yang terkadang irit berbicara dan mengabaikannya.   “Katanya ... nggak mau curang,” bisik Jonathan menundukkan wajahnya untuk menatap manik hitam yang kali ini tidak berbinar.   Jelas saja. Kegugupan lebih mendominasi paras cantik Cilla.   “Aku udah buka atasan. Sekarang, kamu juga harus buka,” lanjutnya membuat Cilla tertegun.   Ini hasil dari kejahilan Cilla.   Ditagih dan ditantang.   Sekarang, waktunya siapa yang bisa menahan hasrat dan berakhir kalah karena terlalu larut dalam rayuan masing-masing.   “Kenapa diam?” Seeerrrr .... Desiran dan gelenyar dalam tubuh Cilla hadir saat pipi kanannya di tangkup lembut oleh telapak tangan Jonathan yang ternyata halus.   Ia mengusapkan jemari tangan di sana dengan penuh perasaan.   “Siapa yang berambisi kuat untuk tumbangin lawan ... satu sama lain.”   Cilla berusaha membuka bibirnya dan menatap Jonathan lebih fokus. “Pasti kamu yang kalah. Bukannya, pria paling mudah nggak bisa menahan hasrat, ya? Ditawarin selaangkangan aja pasti mau.”   “Lihat-lihat juga perempuannya. Kalau cantik dan seksi, pastinya aku juga mau. Tapi kalau sering dipakai dan lebih dewasa dari aku ... ya, nggak mau lah,” jelasnya membuat jantung Cilla semakin tidak keruan saat tatapan nakal Jonathan  beralih ke dadanya.   “Kamu bilang aku nggak masuk kriteria.”   “Memang nggak masuk. Tapi kalau terus diundang dan digoda terus ... siapa yang tahan?”   “Hmm ... Jadi, kamu udah mau coba hal baru bersamaku?”   “Gimana kalau kamu justru semakin nyaman? Aku nggak tanggung jawab sama perasaan napsu kamu yang bisa semakin agresif.”   Berucap jahil.   Jonathan menyeringai kecil, sekaligus mengejek Cilla.   Perempuan itu langsung mendengkus sebal.   Tapi detik selanjutnya, ia mengangguk dengan tatapan angkuh dan juga menyiratkan senyuman nakal.   Cilla merapatkan tubuhnya dan membelai lembut tengkuk Jonathan. “Bibir?” tanyanya menoleh ke satu permukaan tipis kemerahan itu.   Jonathan membalas dengan senyum penuh artinya. “Aku bisa buat kamu lebih ketagihan di bandingkan dengan pagutan bibir.”   Belum sempat Cilla menerka apa yang dimaksud Jonathan. Pria itu segera mendorong tubuh Cilla dan mengempaskannya di atas ranjang.   Cilla nyaris menahan napasnya saat pria itu sudah mengungkung dirinya bersama kaki Cilla yang menggantung dan Jonathan masih membungkuk di atasnya.   “Mau aku tunjukin hal yang paling mendebarkan di bandingkan sekadar pagutan bibir?”   Jonathan mengulang lebih lugas saat melihat dadaa Cilla naik turun, tampak gugup dan juga salah tingkah yang begitu kentara.   “Memangnya ... bisa?”   Cilla hanya bertanya untuk memecahkan keheningan. Tapi Jonathan memang tengah memulai sesuatu dengan sangat sempurna. “Bisa.”   “Dan kamu nggak bakal melupakan sensasi ini setelah aku melakukannya ke kamu.”   “Jadi, aku nggak tanggung kalau kamu sampai ketagihan ....”   “... Priscilla Ogawa.”   Sial!   Cilla nyaris bergetar dan mendesah ketika Jonathan tanpa ia duga sudah menggoda salah satu dadanya ... meremasnya pelan, penuh tatapan nakal dan remasan yang kembali mengulang.   ** Kunjungi i********: @jasmineeal untuk spoiler dan informasi lebih lanjut. Terimakasih! Selamat menunggu kelanjutan cerita dari proyek Klub Baper-ria ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN