Cilla mematung di depan cermin wastafel kamar mandi hanya berbalut pakaian dalam. Ia mengusap gugup leher jenjangnya dan terus turun hanya untuk mengingat lekuk tubuh yang dibasahi bibir tipis Jonathan. Bahkan, lidah itu terus bermain di sekitar perut Cilla ... membuatnya beberapa kali tidak bisa menahan desahan tatkala Jonathan tidak melakukan hal lebih seperti yang pria itu ucapkan.
Jonathan memang tidak memagut atau bahkan mencium bibir ranumnya. Tapi Jonathan juga tidak menggunakan kedua tangan untuk melepas kait bra dan memainkan bagian tubuhnya yang sejak awal menjadi sorot lebih dari pria itu.
Pria itu tidak melakukan apa pun dengan dadanya, melainkan hanya bermain di sekitar leher, bahu dan terus turun untuk melewati dadanya yang berulang kali membusung. Ia memberikan isyarat pada pria itu yang selalu saja bertahan mengabaikan geliat tubuh Cilla yang mendamba.
“Dasar Jo berengsek.”
“Ternyata aku yang kalah dan nggak bisa ngapa-ngapain semalam selain mendesah aneh.”
Cilla menggerutu dan mengusap leher jenjang dan juga perutnya yang meninggalkan jejak dari gigitan Jonathan.
Perempuan itu bersemu, kembali merasakan desiran dan gairah yang semalam benar-benar dipantik Jonathan.
Mungkin, pria itu sudah lelah membentengi diri dan memutuskan untuk merealisasikan apa yang Cilla inginkan.
Dan benar.
Cilla ketagihan, terbawa mimpi hingga pagi sudah menyambut.
Ia mengabaikan pakaian kotor di belakang, sudah ditaruh dalam ember untuk dicucinya sebelum berangkat kerja.
Jonathan berhasil membuat Cilla tidak bisa berbuat banyak ... selain menikmati sentuhan panas dari bibir basah Jonathan dan juga permainan lidahnya.
“Duh! Bisa kurang waras, nih,” gerutunya segera tersadar, menepuk kedua pipi Cilla bergantian.
Ia masuk dalam lubang galian sendiri.
Tapi Jonathan memang tidak ingin membuat Cilla terbuai lebih lama. Karena semalam hanya lima menit permainan dan dengan senyum penuh kemenangan ... pria itu memutuskan untuk tidur di sofa ruang tengah, meninggalkan Cilla yang sudah menanggalkan pakaian atasnya dengan napas tidak keruan.
Benar-benar sialan, langsung ditinggalkan begitu saja.
“Ya ampun! Habis berbuat nakal ... paginya disuruh cuci pakaian dan ditinggalin gitu aja.”
Cilla berdecak kesal dengan berkacak pinggang menatap ember yang kemarin dan kini pakaian itu memang tidak terlalu banyak. “Mana disuruh datang ke perusahaan sendirian lagi. Nggak enak banget pagi ini.”
Namun, Cilla memang harus menuruti perintah Jonathan sebelum pria itu justru menjadi marah dan membuat Cilla kian tidak berkutik.
Di sisi lain.
Jonathan baru saja tiba di kediaman kakeknya. Ia disambut oleh keempat pelayan yang menunduk hormat di kedua sisi pintu tinggi dan besar itu.
Ia memang mengakui, jika apa yang menjadi tugasnya sekarang adalah permintaan kakeknya. Sedangkan orangtua Jonathan, khususnya ayahnya bekerja dalam satu visi dan misi yang sama. Hanya saja, jabatan masih bisa dijalankan kakeknya sampai usia Jonathan sudah matang, begitupula dengan pendidikannya yang selesai. Itu sebabnya, salah satu hal yang membuat dirinya kembali ke tanah kelahiran.
“Selamat pagi, Jo. Kakek sudah menunggumu dari tadi,” cetus lelaki bernama belakang Asher yang menurun padanya.
Jonathan segera membalas pelukan hangat dari sang kakek. Lelaki tua itu mengajak Jonathan untuk duduk di ruang tengah yang sedari tadi sudah menjadi tempat nyaman menunggu cucu kesayangannya datang.
“Kamu nyaman kan, bekerja di Indonesia?”
Jonathan mengangguk. “Nggak beda jauh sama cabang perusahaan kakek di sana,” sahutnya.
Kakek Jonathan tertawa kecil saat cucunya membawa perusahaan di Washington D. C.. “Memang tidak berbeda jauh. Tapi untuk posisi? Kamu selama di sana tidak ditempatkan sebagai orang yang lebih tinggi, selain mendapatkan posisi khusus yang sudah kakek siapkan kedepannya.”
“Terbukti, setelah menamatkan pendidikan S2 kamu sudah bisa melakukan semuanya dengan baik.”
Jonathan selalu tahu jika kakek akan memuji dirinya. Bahkan, jika ia berbuat salah pun ... lelaki dengan rambut yang mulai menipis itu, akan tetap membelanya. Ia adalah cucu kesayangan. Hanya saja untuk beberapa hal, Jonathan harus memiliki alasan kuat untuk menolak setiap permintaannya.
“Judith! Jo sudah datang.”
Dengan refleks, Jonathan segera mengalihkan tatapannya ke arah anak tangga dan terdiam sesaat, mendapati perempuan blasteran itu berseri dari anak tangga, turun lebih dulu di bandingkan Nenek Jonathan.
“Hai, Jo! Akhirnya kamu datang juga setelah kakek bilang kalau kamu bakal terlambat datang.”
Jonathan tidak cepat membalas dekapan perempuan blasteran Inggris – Indonesia yang memeluknya erat. Bahkan, ia tetap diam saat Judith mengecup pipi kanan dan kirinya.
Pria itu masih cukup kaget sekaligus merasa terjawab saat percakapan semalam bersama kakeknya terdengar berbeda.
Judith Magdalena.
Perempuan berambut hitam panjang dengan tinggi 180 senti itu adalah calon jodoh pertama yang diperkenalkan kakeknya saat ia masih menempuh sekolah menengah atas di Washington D. C. Sebenarnya, Jonathan mengenali perempuan itu sejak bertemu kali pertama di bangku menengah pertama.
Hanya saja ia tetap menganggap Judith seperti teman perempuan lain; siswi di sekolah. Sampai ia mengetahui akan dijodohkan, Jonathan tidak menggubris begitu baik. Ia memilih mengabaikan dan berakhir langkah yang lain.
Pria itu pernah mendengar, jika Judith akan menjadi calon jodoh terakhir yang harus bisa mendampingi Jonathan di usia dewasanya. Siapa lagi yang paling memaksa akan hal ini? Petra Asher.
Ya. Lelaki yang menjadi Kakek Jonathan dan terlalu menyayanginya, sampai untuk urusan bisnis ... ia bertekad menjodohkan Jonathan dengan salah satu anak rekan kerjanya. Supaya relasi kian bertambah dan juga menguatkan perusahaan yang sudah dirintisnya. Pun, ia terus mempersiapkan untuk pertemuan mereka kembali di masa datang saat Jonathan tidak akan memiliki alasan untuk membatalkan perjodohan.
“Iya. Aku baru datang dan cukup kaget dengan kehadiran kamu,” balasnya dan tetap menjadi Jonathan yang Judith kenali.
Perempuan bertubuh seksi dengan gaun ketatnya itu tampak tersenyum manis seraya merangkul erat lengan Jonathan. Ia pernah bertemu Jonathan tahun lalu saat perayaan natal dan sekarang ... ia memiliki banyak kesempatan bersama pria idamannya.
Pria yang tidak terlalu banyak tersenyum atau menanggapi kehadirannya lebih hangat.
Judith menyukai sisi Jonathan yang seperti ini. Sungguh membuatnya tertantang untuk terus mendapatkan pria yang sudah ia sukai saat perjodohan kali pertama itu hadir, meskipun berakhir batal. Dari sana, Judith semakin ingin mendekati pria bernama Jonathan Asher dengan segala ketidakinginannya untuk menatap Judith lebih dari sepuluh detik.
“Kakek yang memintaku datang. Benar kan, Kek?”
Kakek Jonathan mengangguk cepat dengan senyum semringah. Istrinya datang dan tidak kalah bahagia saat Jonathan membiarkan Judith merangkul mesra lengannya. “Usia kalian sudah cukup dewasa, Nak. Kapan kamu akan menerima perjodohan yang diinginkan kakekmu?”
“Jo masih harus meng-handle perusahaan di sini. Jabatan baru Jo, harus lebih diutamakan.”
Lelaki di hadapan Jonathan menggeleng lemah dan mendapati Judith untuk sesaat tampak sedih. “Nak. Kamu bisa melakukannya dengan pendamping hidupmu. Saling membantu satu sama lain dan memiliki tujuan kedepan yang lebih jelas.”
“Antara karier dan hubungan asmara bisa berjalan dengan baik. Tidak akan mungkin membuat kamu terhambat dalam melakukan semua pekerjaan baru ini. Justru dengan penempatan baru kamu ini ... semua akan menjadi lebih mudah.”
Ia selalu bisa menduga, jika kakeknya memiliki banyak ucapan yang bisa menyudutkan Jonathan. Sedangkan di sampingnya, Judith selalu senang dibela oleh Kakek Jonathan; Petra Asher.
“Dia yang akan membantu ... menemanimu, Jo.”
“Jangan mengkhawatirkan tentang beban pekerjaan yang sedang kamu jalani. Usiamu sudah dua puluh lima tahun. Sudah sewajarnya kamu memberikan kabar baik untuk orangtuamu dan kami berdua.”
“Bukankah Judith adalah calon jodoh pertama yang dulu kamu tolak? Sekarang kalian sudah cukup dewasa untuk mengenal lebih jauh dan menjalin kasih sementara waktu, sebelum memutuskan untuk menikah.”
Judith tersenyum semringah dan kian memeluk erat lengan Jonathan.
Sedangkan pria itu mengembuskan napas lelah, merasa ini bukanlah persetujuan hatinya. Jonathan menolak karena tidak ada ketertarikan yang hadir sejak awal pertemuan atau setidaknya ... ia memang belum bisa menerima Judith, meskipun sudah lama mengenal.
“Suamiku. Sepertinya Jo masih bingung. Biarkan dia melepas rindu bersama Judith di taman belakang.”
Nenek Jonathan menyahut lembut dengan senyum yang sebenarnya membuat Jonathan menderita. Kakek dan neneknya sangat menyukai Judith Magdalena. Begitupula dengan orangtua Jonathan yang masih menetap di Amerika.
Ia tidak memiliki kesempatan untuk menolak keras di saat banyak orang yang setuju jika perjodohan ini tetap dilanjutkan.
“Ya sudah.”
“Judith. Ayo, bawa Jonathan ke gazebo belakang saja. Kalian sudah lama tidak bertemu. Pasti banyak yang ingin dibicarakan.”
“Baik, Kakek,” balasnya semangat dan perempuan seksi itu segera meminta Jonathan ikut ke taman belakang yang luas di kediaman Petra Asher.
**
“Halo, Mami Cilla tersayang?”
Cilla bahagia mendapatkan telepon di pagi hari oleh Mami tercintanya.
Perempuan itu memasang headset bluetooth sambil mengerjakan pekerjaannya yang sudah berjejer rapi di atas meja kerja.
Karena Jonathan belum datang, ia bisa bebas mengobrol bersama mami tercinta.
“Kakak udah sampai di tempat kerja? Tadi pagi bangun jam berapa? Udah makan, belum?”
Perasaan Cilla menghangat dengan senyum manisnya. Ia melirik sekilas jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul nyaris sepuluh pagi.
“Udah sampai dari satu jam yang lalu, Mi. Memang sedikit siang berangkatnya.”
Cilla tidak mungkin berbicara mengenai ia harus mencuci pakaian, lalu mencuci piring dan membereskan semua hal yang ada di ruangan; menyapu dan mengepel.
Hiks. Penderitaan sekali dengan dirinya yang tidak bisa kerja lebih cepat. Cilla membutuhkan waktu lebih ... khusus, di bandingkan orang lain yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan cepat.
Ia bahkan, pernah melihat asisten rumah tangga di kediaman papinya, bisa mengerjakan apa yang tadi Cilla kerjakan tidak sampai dua jam jika pakaian yang dicuci seukuran dengan ember Cilla.
“Cilla udah bangun dari jam enam pagi, Mi. Udah makan juga di restoran apartemen.”
“Jangan terlambat makan ya, Sayang. Nanti kamu jatuh sakit seperti kemarin.”
“Iya, Mami. Cilla janji,” balas perempuan itu cepat dan berusaha menenangkan perasaan mami tercinta.
“Besok pulang, kan?”
“Iya, besok Cilla pulang dan bisa minta diusapin lagi rambut Cilla sama mami.”
Ada tawa kecil di seberang sana.
Cilla pun tidak bisa menutupi senyum manisnya, mengingat ia terbiasa sejak dulu ditemani tidur oleh mami tercinta. Bahkan, sampai seusia ini, ia kerap beberapa kali bersikap manja untuk diusap kembali saat tertidur. Nyaman dan menyenangkan bisa mendapatkan perhatian dari mami tercinta.
“Oh, iya. Adik kamu udah pulang setengah jam lalu. Katanya cuma liburan tiga hari aja.”
Manik hitam Cilla berbinar dan ia mulai menegakkan tubuhnya, mengabaikan pekerjaan dengan semangat. “Baby J udah pulang, Mi?! Ya ampun ... Cilla nggak tau. Seharusnya kita siapkan kejutan untuk Adik, Mi,” sahut Cilla mulai heboh dan membuat Mami Cilla di seberang sana tertawa.
“Makanya, mami tanya sama Kakak, besok pulang atau enggak.”
“Karena besok mami mau masak kesukaan adik dan kakak juga.”
“Cilla pulang, Mi! Besok pagi Cilla pulang ke rumah, tepat waktu jam tujuh!”
Cilla dengan semangat akan menyambut adik tercintanya; Jared Ogawa. Anak lelaki dari Papi Xavier dan Mami Serra adalah adik satu-satunya Cilla yang harus disayangi sampai kapan pun, sekalipun mereka kerap terpisah oleh negara yang berbeda.
Jelas saja.
Jared tengah menempuh pendidikan lanjutan di lain negara.
Perempuan itu melirik jam tangannya setelah Mami Cilla mengakhiri sambungan.
“Semoga Jonathan nggak masuk kerja deh. Aku doain aja dari sekarang, biar beneran terjadi.”
Cilla tertawa kecil karena berani mendoakan Jonathan supaya tidak jadi datang ke perusahaan. Karena jika itu terjadi, maka ia memiliki kesempatan besar untuk datang ke unit apartemen Lukas, berbicara pada sepupunya mengenai adiknya yang akan datang.
Lukas adalah teman berbagi ceritanya.
Dan Lukas ... adalah pria pertama yang menghargai Cilla dengan sepenuh hatinya.
**
“Hari ini aku nggak masuk kerja. Jadi, selama aku nggak ada di ruangan, kamu harus kerja dengan penuh tanggung jawab. Jangan sampai membuat aku bisa menghukum kamu karena teledor bekerja dan lain sebagainya.”
“Pulang jam berapa, Jo?”
“Setelah makan malam.”
“Kalau mau pesan makanan, tinggal ambil aja uangku di laci nakas.”
Jonathan segera mematikan ponsel saat melihat Judith datang dengan senyum semringah, membawa tiga paper bag.
Ia menemani perempuan itu berbelanja dan harus mengabaikan pekerjaan di saat Kakek Jonathan pun, memaksa pria itu untuk kali ini bisa menghabiskan waktu bersama Judith.
“Makasih ya, Jo, udah ditemani belanja.”
Pria itu hanya mengangguk dan membiarkan Judith mengecup sudut bibirnya. Karena perempuan itu sejak di dalam mobil terus saja bermanja dan dengan beraninya meraih dagu Jonathan untuk mendaratkan ciuman di bibir.
Untung saja ia bisa mengalihkan pandangan dengan cepat dan hanya membiarkan perempuan itu mendapatkan sudut bibirnya.
Judith memang cantik dan seksi. Bagian seksi itu pun menyembul dengan sangat jelas dari balik gaun belahan d**a rendahnya. Perempuan itu sengaja mengganti pakaian sebelum bergegas pergi bersama Jonathan.
Tapi tetap saja, ia tidak memiliki ketertarikan lebih.
“Kakek bilang, kamu lebih memilih tinggal di apartemen. Kenapa nggak di rumah Kakek?”
Jonathan terlalu sulit melepaskan rangkulan Judith. Karena saat mereka berjalan meninggalkan toko, perempuan itu selalu saja ingin lengket dengannya.
Ia menatap sekilas manik biru Judith sebelum mengedik santai. “Aku memilih di apartemen biar bisa fokus dan nggak perlu merepotkan kakek.”
“Dan aku ... boleh satu unit dengan kamu?”
Jonathan menghentikan langkahnya, membuat senyum penuh arti Judith terulas sempurna. “Aku diminta kakek untuk tinggal satu bulan di sini. Jadi, aku juga ingin dekat dengan kamu.”
“Kamu ingin tinggal di apartemen?”
Judith mengangguk pelan.
Pria itu segera berpikir dan ia pun memutuskan sesuatu, lalu meraih jemari tangan Judith. “Sebaiknya kita mulai mencari unit apartemen untuk kamu.”
“Merdeka!”
Cilla berteriak bahagia setelah ia tidak jadi pergi saat makan siang menemui Lukas. Karena Jonathan tidak berniat datang ke perusahaan. Cilla memutuskan mengunjungi Lukas saat sore hari.
Ia pun sudah berada di lobi, disambut oleh Lukas yang juga sudah menunggunya. “Aku jemput, kamu nggak mau,” cetus pria dengan senyum manisnya merangkul pinggang Cilla.
Perempuan itu nyengir lebar dan berjalan masuk bersama Lukas. “Nggak perlu. Aku udah terbiasa ke mana-mana sendirian. Jaraknya juga dekat dari perusahaan,” balas Cilla tidak ingin merepotkan Lukas.
“Jadi, tetap nggak diperbolehkan untuk antar jemput kamu? Aku di sini cuma satu minggu, Cilla. Kamu nggak pengin ngerasain di antar jemput sama aku?”
Cilla tertawa kecil dan menunggu pintu lift terbuka.
“Aku cukup sulit bangun tidur, kan? Jadi, daripada kamu nunggu kelamaan waktu aku masih di alam mimpi ... mending nggak usah. Apalagi aku juga suka terlambat pulang. Aku kasihan sama kamu kalau nunggu nggak tentu.”
Lukas tersenyum manis dan membawa Cilla ke dalam lift yang hanya berdua.
“Malam ini nggak tidur di unitku? Bukannya kamu bilang kemarin dan hari ini tinggal di apartemen baru?”
“Iya. Besok aku harus pulang karena adikku lagi ada di rumah.”
“Nggak mau kalau malam ini. Nanti nggak bisa pulang cepat-cepat. Aku nggak mau sampai dirayu kamu,” lanjutnya membuat Lukas gemas dan mendaratkan kecupan manis di bibir Cilla.
“Seharusnya aku yang takut dirayu kamu,” sahutnya jahil dan membuat keduanya tertawa kecil.
Keduanya saling menautkan jemari tangan dan berjalan keluar lift, menuju unit apartemen Lukas.
Cilla selalu menyukai bagaimana jemari tangannya bertaut dengan Lukas. Ia selalu menyukai dekapan dan bagaimana Lukas menatapnya dengan penuh sayang.
Perempuan membiarkan Lukas meraih pinggangnya setelah berhasil menutup dan mengunci rapat pintu. Cilla tertawa kecil, lalu menggigit bibir bawah sebagai undangan terbuka padanya, termasuk sorot mata yang nakal.
“Aku nggak akan lama di Indonesia, Cilla. Tapi aku juga menghargai kesibukan kamu dan sekarang ....”
“... aku nggak bisa menahan hasrat dan kerinduanku untuk bertemu jam bersama untuk beberapa jam kedepan bersama kamu,” lanjutnya dan tersenyum manis saat Cilla melingkarkan kedua tangan di leher Lukas.
“Jadi?” tanya perempuan itu sedikit menantang dengan senyum penuh artinya.
Lukas menyeringai. “Kita nikmati pertemuan ini,” balasnya berbisik dan langsung memagut bibir ranum yang selalu ia sukai.
Cilla melakukan hal sama, membalas tiap pagutan yang diberikan Lukas padanya. Mereka terus saja saling memuaskan hasrat melalui pagutan ... candu yang sudah membawa mereka sejak awal untuk kembali mengulang satu sama lain.
Perempuan itu kian mundur saat Lukas membawa mundur langkah Cilla tanpa melepaskan ciuman mereka. Perlahan, Lukas mendudukkan tubuh Cilla dan membawa perempuan itu untuk berbaring, tetap menikmati ciuman yang ia berikan dengan sepenuh hati.
Cilla dengan jahil memberi jarak pada ciuman mereka dan menutup bibir Lukas dengan telapak tangannya.
Pria yang sudah berada di atas Cilla, kini terdiam bingung.
Perempuan cantik itu tertawa kecil dan memberikan isyarat lewat mata menatap kemeja Lukas yang masih tertutup. “Kamu nggak lupa, kan? Kita nggak mungkin berakhir dengan ciuman aja dan kamu bisa dengan cepat membuka bajuku.”
“Jadi, lebih baik kamu duluan yang melakukannya.”
Lukas menarik kedua sudut bibirnya setelah mendengkus geli. “Oke,” balasnya dan menumpukan kedua tempurung lutut di atas sofa, lalu membuka kemeja tepat di hadapan Cilla.
Rona merah di kedua pipi Cilla terlihat sempurna.
Pun, setiap Lukas membuka kaus atau pakaian yang melekat di tubuhnya. Maka, perempuan itu bisa melihat nama ‘Priscilla Ogawa’ berada di atas d**a bidang—sebelah kiri—Lukas.
“Ngapain kamu buat tato nama aku di atas d**a kiri kamu?”
“Biar selalu ingat sama sepupu nakalku.”
Perempuan berusia delapan belas tahun yang sebelumnya kebingungan dibawa ke tempat asing dan memperlihatkan beberapa orang membuat seni di tubuh mereka ... tertawa kecil.
“Jadi, aku sepupu yang nakal? Kamu enggak, ya?”
“Aku juga nakal dan kita ... sama-sama udah tau sejak awal.”
“Kenapa cuma nama lengkapku? Nggak foto wajahku atau sekalian ada bagian tubuh lainnya yang mau kamu tato?”
Lukas nyengir lebar. “Aku takut ketahuan sama orang rumah. Lagian, ini kan untuk sementara waktu. Kalau ketagihan ... bisa buat lagi,” jelasnya membuat perempuan cantik itu mengulum senyum.
Keduanya sudah menanggalkan pakaian atas dan Lukas terus saja memberikan setiap sentuhan yang ia lakukan dengan perlahan dan penuh sayang.
Cilla mendesah dan mendongak, membiarkan Lukas bermain di leher jenjangnya. Sedangkan tangan bebas Lukas terus saja memberikan pijatan di dadanya, membuat Cilla terus menggeliat dalam kungkungannya.
Ia tidak pernah salah menduga jika meraka akan berakhir seperti ini. Karena sejak pagi tadi, Cilla pun sudah berusaha menyamarkan—cukup menghilangkan—tanda yang diberikan Jonathan. Setidaknya, pria itu semalam tidak melakukannya terlalu lama dan memudahkan Cilla untuk menghilangkan tanda tersebut.
Jemari tangannya mulai meraih gesper Lukas dan pria itu mengerti, membawa jemari tangannya untuk menurunkan pakaian yang masih melekat di tubuh Cilla. Setiap hal yang diinginkan mereka, menguntungkan satu sama lain dan tidak ada yang boleh membawa perihal hati ... kecuali hanya untuk menuntaskan hasrat satu sama lain.
**