“Mbak Cilla ....” Jonathan bergidik ngeri. Ia merasakan bulu kuduknya merinding dan dengan cepat berdiri di belakang Cilla saat perempuan jadi-jadian itu keluar dari balik etalase, menyadari pembeli istimewa. “Hai, Sist Mita,” sahut Cilla dan mereka berpelukan hangat. Jonathan mendelik kesal ketika perempuan tulen itu mau saja berpelukan dengan d**a buatan. Terlebih jika miliknya tidak dipotong, Cilla sama saja tengah memeluk seorang pria. Untung saja tidak tampan dan terlihat laki. Sebentar. Apa urusannya dengan dirinya jika yang Cilla peluk adalah seorang lelaki tulen? Biarkan saja. Siapa pun berhak Cilla dekati dan peluk hangat tidak menutup kemungkinan pada siapa pun. Perempuan itu juga sudah pernah berbagi ranjang dengan sepupu prianya. “Duh, ada Mas tampan ya,

