31. Tidak Pernah Lupa

1498 Kata

Perempuan keturunan Jepang – Indonesia itu menatap bingung Meida yang melipat kedua tangan di depan dadanya. Ia tepat berdiri di depan meja Cilla untuk memandang perempuan itu saksama. Cilla yang merasa risih pun tampak mendongak, mengalihkan pandangan pada Meida yang baru datang hanya untuk mengantar berkas. “Kamu dari tadi lihatin aku terus,” ucap Cilla mengenyampingkan sejenak email yang masuk dari layar iPad-nya. Ia berniat memeriksa kembali karena Meida datang hanya untuk mengantar berkas. Jadi, Cilla pikir perempuan itu akan segera kembali ke ruang kerjanya. “Pak Jonathan nggak ada di ruangannya, kan?” Cilla mengangguk menatap Meida lekat. “Kan udah aku bilangin. Pak Jonathan pergi setelah makan siang,” jelasnya. “Makan siang dengan kamu?” “Eh?” Meida tertawa kecil melihat Ci

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN