26. Pengakuan

1866 Kata

Akhir pekan telah usai dan kini waktunya bagi mereka untuk kembali menjalani aktivitas sibuk seperti biasanya. Seperti biasa Meisya memasak sarapan di pagi hari, namun sebuah hembusan napas di tengkuk lehernya membuat Meisya menggeliat pelan merasa geli. Tak pernah terbayangkan oleh Meisya, bahwa Ando bisa juga bersikap romantis seperti ini di pagi hari. Tanpa diduga ketika sepasang lengan kekarnya secara tiba-tiba menyusup di antara pinggang rampingnya dan memeluknya dengan erat dengan dagu yang disandarkan pada pundak Meisya. "Kak," Meisya berusaha melepaskan diri dari pelukan Ando yang semakin mengerat pada dirinya. Sungguh, sudah dapat dipastikan bahwa wajah Meisya tengah merah padam saat ini. Bagaimana tidak, perlakuan Ando padanya kini sukses membuat detak jantung Meisya bertalu den

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN