Ting! Ceklek! “Ayo pergi!” “Tumben cepat? Biasanya aku harus nunggu lama dulu,” Luke memperhatikan Hani yang tampak sudah rapi dengan dress selutut berwarna biru cerah. Rambut pendeknya terlihat dibiarkan terurai tanpa ada hiasan apapun di kepalanya. Luke sedikit kaget saja, biasanya setiap ia datang untuk menjemput Hani, ia selalu dibuat menunggu tapi sekarang tidak, bahkan ia baru saja datang. Tapi baguslah, Luke juga senang bila tidak perlu menunggu lagi. “Oh, berarti kamu lebih suka nunggu ya Kak?” “Ya, ngga juga. Ya udah ayo.” “Yuk,” “Oh, iya aku belum pamit sama Mama kamu,” “Ngga usah deh kayaknya Kak, Mama juga lagi sarapan sama Papa di belakang. Lagi sibuk ngobrol mereka, ngga usah di ganggu. Aku juga tadi udah bilang kok mau pergi sama kamu,” “Oh ya udah,” Luke melangkah

