Jakarta. 05:59 WIB. Di atas ranjang, aku meregangkan tubuh. Merasa sedikit lebih segar setelah tidur yang cukup. Kuingat kembali kalimat terakhir yang Dimas ucapkan, lantas memutar bola mata. Tak dapat dipungkiri, meski Dimas tampil dengan fisik lebih dewasa dan sikap lebih bijak, dia tetaplah anak-anak. Walaupun begitu, perjumpaan dengannya di alam bawah sadar cukup menenangkan. Membuatku tahu langkah apa yang sebaiknya aku ambil, dan apa yang seharusnya kuharapkan ketika masalah ini telah mencapai puncaknya. Tentu, kelegaan yang kurasakan kini tak akan membuat kadar bahaya dari masalah ini berkurang. Kemungkinan untuk tewas secara mengenaskan masih besar peluangnya. Praktisnya, semenjak sesosok iblis datang meneror hidupku, aku sudah mulai kehilang

