36. Sebuah Janji dari Dimas

1301 Kata

Jakarta. 21:13 WIB.       Nasi yang masih tersisa di atas piring sudah tak menarik lagi bagiku. Nafsu makanku telah hilang akibat pembicaraan ini. Lantas aku menaruh piring itu di nakas, dan mengusap-usap wajahku dengan tangan. “Ya Tuhan, masalah ini rumit sekali.”       “Ya, dan pastinya akan bertambah rumit besok,” ucap sepupuku. Tatapan matanya padaku tampak kesal.       Aku menatapnya tak mengerti.       “Tadi Ayah meneleponku,” jelasnya melihat kebingunganku. “Menuduhku telah memberitahumu rahasia itu. Aku terpaksa menjelaskan padanya soal kedatangan Om Tirta. Ayah ... terdengar sangat marah.”       Refleks, aku menepuk kening. Merasa bodoh karena telah menghubungi Kak Irma untuk meminta konfirmasi atas kebenaran ini. Akalku begitu pendek, terbutakan oleh serangan emosi yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN