Jakarta. 17:21 WIB. Awalnya, aku mengira sudah siap menerima segala kenyataan yang ada. Menganggap bahwa kebenaran tentang saudara kembarku yang meninggal dibunuh iblis adalah yang terburuk. Jadi kupikir, mana mungkin ada yang bisa lebih buruk dari itu? Namun, takdir rupanya tengah mempermainkan hidupku, atau memang sudah takdirnya jalan hidupku mengarah pada hal-hal yang mengejutkan, saat Fredian---dengan sadar, tanpa di bawah pengaruh alkohol---berkata bahwa Om Tirta dan Bibi Immelda adalah ayah dan ibu kandungku. Kebingungan yang kurasakan akibat kata-katanya itu bertahan selama nyaris satu menit penuh. Setelah kebingungan itu mereda, keterkejutan yang datang secara cepat membuat nada suaraku meninggi saat berkata, “Apa kau serius?” Kepala sepupuk

