"Sory, Ya! Pas Bapak meninggal aku nggak sempet datang, turut berduka cita dan semoga Bapak tenang di sisi Tuhan, Amin," imbuh Jo meminta maaf dan mendoakan mendiang Bapak.
"Amin," sambut Erika dan Aldin beriringan.
Wes (Sudah) ganteng ndak sombong pula. Pikir Erika yang justru sibuk menilai kepribadian lelaki yang baru saja dikenalnya tersebut.
"Kalian beneran kakak adik apa enggak sie? Orak mirip blas, (Tidak mirip sama sekali)," cibir Jo. Jika dilihat Erika dan Aldin memang tidak ada kemiripan.
"Yo kakak adik beneran to, Mas," jawab Erika.
"Mas Jo bisa Bahasa Jawa juga toh? Wah ... hebat yo." Erika memuji dengan kagum.
"Kan tiap hari di-angon sama masmu, Rik. Jadi dikit-dikit ngerti lah."
"Lhoh kok di-angon, Mas? Kayak kerbau wae."
"Memang di-angon artinya apa? Kata Masmu artinya angon itu temenan kan?" Perasaan Jo menjadi tidak enak hati. Aldin meringis kecut.
"Angon itu kayak dirawat, dipelihara tapi itu cenderung untuk hewan, Mas. Contohnya angon sapi, angon kerbau, angon kambing. Begitu, Mas." Erika menjelaskan.
"Sontoloyo! Gue lu samain sama sapi, Al?"protes Jo dengan kesal. Dia membelalakkan matanya pada Aldin.
"Hahaha. Sory dech!" Aldin terkekeh geli.
"Oke, never mind! Kita langsung ke pokok permasalahan yang utama aja ya kenapa aku minta kamu datang ke mari." Jo mulai serius.
"Aku disuruh bikinin novel tentang cerita cinta Mas Jo sama pacarnya Mas Jo kan?" tanya Erika dengan cepat. Erika memang belum berkomunikasi secara langsung dengan Jo, dia hanya berinteraksi melalui kakaknya saja.
"Yups ... Caca suka banget baca novel online, jadi aku pikir aku pingin kasih dia suprise buku novel yang isinya tentang kisah percintaan kita berdua gitu."
"Wah ... Beruntung banget Mbak Caca. Berasa kayak ketemu Tuan Saga Rahardian dech." Erika langsung teringat sebuah novel yang menjadi trending topik di kalangan penikmat novel online akhir-akhir ini.
"Siapa itu Saga Rahardian?" tanya Jo dengan kening berkerut-kerut.
"Karakter di sebuah novel, Mas. Pacar Mas Jo pasti tahu," jawab Erika.
"Kamu mau minum apa, Dek?" tanya Aldin menawari adiknya.
"Dalgona Coffe ada, Mas?" Erika menjawab dengan pertanyaan pula.
Flashback ketika Ibu mengantarkan Erika ke Stasiun Poncol.
"Nduk, mbok jangan pergi jauh-jauhlah! Kamu kan ndak pernah ke luar kota," kata Ibu kandung Erika yang bernama Sri Ismeiyati.
Meski sudah berusia empat puluh lima tahun, tapi beliau masih sangatlah cantik. Maklum ya orang jaman dulu memilih untuk menikah muda dan ibu menikah di usia enam belas tahun. Beliau memiliki hidung yang mancung juga kulit yang bersih. Matanya indah dengan bulu mata lentik. Kalau orang Jawa bilang mata Bu Mei "Ndamar Kanginan" yang artinya bercahaya.
"Ndak apa, Bu. Kan ada Mas Aldin di sana. Lumayan, Bu. Uang segitu banyaknya bisa buat aku kuliah. Aku pingin kuliah kayak Mas Aldin, Bu." Erika berusaha meyakinkan ibunya.
Tidak ada lagi alasan untuk membuat Erika mundur, hanya tinggal menunggu kereta tiba saja ia sudah akan berangkat ke Jakara, tapi Ibu tak gentar untuk membuat Erika mengurungkan niatnya. Jelas ia mengkhwatirkan putri bungsunya yang tidak pernah pergi jauh dari keluarga.
Tetiba Bu Mei meneteskan air mata. Beliau seka air mata itu berulang-ulang agar tidak ketahuan oleh anaknya. Namun, tetap saja Erika tahu kalau ibunya menangis.
"Kenapa nangis, Bu? Erika pergi cuma enam bulan. Doain aku banyak inspirasi ya, Bu! Biar ngayalnya lancar, halunya cesspleng. Nek aku pikir bikin cerita buat bosnya Mas Aldin ndak akan susah kok, Bu. Kan itu berdasar cerita nyata."
Erika, Ibu dan juga Kirana-Pacar Aldin saat ini sedang duduk di ruang tunggu stasiun dan menanti kereta yang akan membawa Erika ke tempat tujuannya tiba.
"Ibu sedih, Rik. Kalau Bapakmu masih ada pasti kamu ndak usah pergi jauh-jauh to. Kenapa ndak kamu terima aja dana kuliah dari masmu? Jadi kamu ndak usah jauh-jauh ke Jakarta kayak sekarang," jelas Ibu seraya menyeka air matanya.
"Aku mau berusaha berjuang sendiri, Bu. Kalau pun Bapak masih ada, aku juga bakal tetap nerima tawaran ini kok. Ini cita-citaku pingin jadi penulis terkenal. Bosnya Mas Aldin juga janji mau ngorbitin buku hasil karyaku ke penerbit kalau dia puas sama hasil kehaluanku. Wes to! (Sudahlah!) Ibu percoyo sama aku!"
"Yo wes! (Ya sudah!)" Ibu akhirnya menyerah juga.
"Kamu ati-ati ya, Nduk! Sering-sering kasih kabar ibu! Jangan lupa maem sama salatmu ya, Nduk!" nasehat Bu Mei agar anaknya tak pernah lupa akan Sang Pencipta.
"Nggih, Bu. (Iya, Bu.)"
Ibu Mei dan Kirana (pacar Aldin di kampung) mengantar Erika sampai ke Stasiun Poncol. Mereka menangis dan berpelukan beberapa kali karena ini pertama kalinya Erika pergi jauh seorang diri.
"Tolong jaga Mas Aldin juga ya, Rik! Jangan sampai dia lirik-lirik cewek lain nang kono! (di sana!) " ujar Kirana sambil menyeka air matanya.
"Siap, Mbak. Aku pamit ya. Dah Ibu. Mbak titip ibu yo."
Erika melambaikan tangan pada kedua wanita yang amat dicintainya tersebut. Sungguh berat, tapi bukankah untuk sukses kita harus banyak berjuang dan berkorban?
Setibanya di Stasiun Pasar Senin.
Kereta yang sangat ramai membuat Erika harus rela berdesak-desakkan. Bau harum, bau ketek, bau makanan, bahkan bau rokok membaur menjadi satu. Padahal sudah jelas tertulis larangan *No Smoking Area* tapi tetap saja warga +62 ini tetap ngeyel seolah tagline *Peraturan Dibuat Untuk Dilanggar* itu benar-benar mereka laksanakan.
Erika turun dengan membawa banyak barang bawaan seperti orang yang akan pindah rumah saja. Dia ditawari bayaran besar oleh Aldin kakaknya jika dia bisa membuatkan novel romantis dalam waktu enam bulan untuk bosnya Johan Adyasta. Tentu saja uang senilai dua ratus juta rupiah sangatlah besar dari pada penghasilannya sebagai penulis online yang belum terlalu terkenal namanya.
"Oke, Mas. Aku setuju. Aku ijin ibu ndisik (dulu) yo." Begitu kata Erika saat dihubungi oleh Aldin kakaknya by phone beberapa hari yang lalu.
"Jakarta I am comming!" seru Erika saat dia menginjakkan kakinya pertama kali di tanah ibu kota ini.
Flashback off.
"Sekarang coba Mas Jo ceritain pertemuan pertama Mas Jo sama Mbak Caca!" perintah Erika memulai pekerjaan.
"Langsung kerja nih kita?" tanya Jo heran, mengingat Erika baru saja tiba dan langsung mengintrogasinya.
"Iya, Mas. Jangan buang waktu ndak baik!"
"Sip banget ini adik lu, Al," seru Jo memuji Erika sembari mengulurkan jempolnya ke wajah Aldin.
Jo menjelaskan awal mula bertemu Yoevanca seperti yang Erika perintahkan. Yoevanca adalah anak rekan bisnis papanya. Papa Jo bernama Jack Ardiansyah. Beliau seorang pebisnis yang sukses, dia juga seorang penulis novel bertema pendekar yang begitu terkenal pada masanya.
Ayah Yoevanca adalah seorang pengusaha mebel yang berjaya. Bule asal Inggris tersebut memiliki beberapa perusahan di beberapa negara termasuk Indonesia. Frans Nicholas Wilson adalah namanya. Lewat perkenalan kedua orangtuanya, Jo dan Caca menjadi sangat dekat dan akhirnya memutuskan untuk berpacaran hingga kini mereka sudah sepakat untuk menikah enam bulan lagi.