“ Kebakaran!!!” Teriakan itu memekakkan telinga
" Pemuda itu masih di dalam! Tolong dia!!"
" Raka!!!"
" Rakaaa!!!"
" Padamkan apinya!!"
Teriakan hiruk memenuhi malam pekat. Hingga berjam jam api tersebut sangat sukar dipadamkan bahkan semakin melahap bangunan yang memang sebagian besar terbuat dari kayu yang sudah lapuk tersebut.
Di dalam ..
Raka tak melihat apapun selain api yang berkobar, menyala mengelilingi dirinya
Panas, panas dan rasa panas yang seakan membuat kulitnya meleleh. Ia mencoba mencari jalan ke luar walaupun yang ia lihat hanya kobaran yang semakin besar saja. Keringat mencuar dari keningnya yang mulai memerah
“ Ayah!!” Teriaknya dengan suara serak. Ia panik, dari pada mencari jendela, Raka justru berusaha menuju ke kamar ayahnya. Mencari celah apapun yang bisa membawanya ke sana, ia khawatir penyakit sang ayah justru membuatnya tertahan di sana. Sambil berusaha menyelimuti tubuhnya dengan selimut, Raka berusaha menerobos kobaran api tersebut, ke luar dari kamarnya yang mungkin beberapa detik lagi akan roboh menjadi arang. Hingga saat ia melewati pintu...
Tiba tiba...
Brak
Sebuah kayu yang menjadi bingkai pintu roboh tepat saat Raka berusaha keluar dari kamar itu, darah segar seketika merembes dari keningnya. Pandangan pemuda 17 tahun itu berkunang kunang, ia masih berusaha sadar sementara asap dari api sudah memenuhi kerongkongan dan paru parunya. Hanya terdengar teriakan dari orang orang yang mulai nyaring di luar sana sebelum akhirnya, tubuh Raka limbung. Ia tak bisa lagi menentukan arah, matanya berkabut dan tenggorokannya penuh sesak, panas dengan asap. Raka pun ambruk tak sadarkan diri.
" Ayah!" Gumamnya merintih sebelum akhirnya segalanya berubah gelap. Entah berhalusinasi dalam pingsannya, Raka seakan mendengar ada suara langkah yang mendekat kemudian mendekat dengan napas yang terdengar berat.
“ Raka bangun! Raka!” Suara yang berbisik di telinganya terdengar dengan lembut dan begitu nyata.
Benarkah ada yang datang?
***
Rabu, 2 hari setelah kematian Natasya. Apartemen atau lebih tepatnya rumah susun yang ditempati Alankar sejak kecil mengalami kebakaran tanpa sebab yang jelas. Abimanyu selamat, ia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat tanpa luka atau trauma apapun. Ia bahkan terlihat tenang dengan pandangan kosong tanpa mengenali putranya sendiri. Lalu bagaimana dengan Alankar? Apakah ia baik baik saja?
Kontras dengan keadaan rumah susun yang sebagian besarnya sudah tinggal puing dan arang, kita beralih pada sebuah tempat yang terlihat berbeda
Jauh di seberang sana, di persimpangan jalan yang berjarak 2 Km dari tempat kejadian, tubuhnya tergeletak begitu saja dengan kaos abu abu yang dipenuhi dengan debu dari asap hitam. Ada beberapa luka dikulit putihnya, darah yang mengering di kening dan bibir yang terlihat kering.
Jam menunjuk pada angka 9 dan matahari sudah mulai terik saat kelopak matanya bergerak, ia terbatuk kemudian terduduk dengan wajah pucat. Ya, Raka terlihat baik baik saja. Tapi siapa yang membawa dan menyelamatkannya? Kenapa orang itu justru meletakkan tubuhnya di sana?
Raka menatap sekitarnya, apakah ia baru saja bermimpi lagi? Ia melihat tempat yang sama yang selalu menghantui malam dalam tidurnya, simpang jalan sederhana, pepohonan yang rimbun, bau kamboja yang mengiang aroma di hidung mancungnya, serta... Pemandangan sekitar yang tak lain adalah kuburan yang sama.
Wajah tampan pemuda itu semakin pucat saja. Biasanya di dalam mimpi, akan datang seseorang dengan wajah menyeramkan yang kemudian menebas lehernya dan ia akan tersadar di atas tempat tidur. Tapi kenapa mimpi yang sekarang terasa begitu berbeda? Tempat itu terasa nyata, bahkan begitu hidup dari sebelumnya. Raka berusaha berdiri dan melihat ke sekitarnya.
“ Halo!! Anybody here??” Teriaknya melangkah pelan.
Tak ada jawaban selain kicauan burung yang terasa semakin mencekik suasana.
“ Aku harus pulang!!” Ujar Raka yang baru menyadari mungkin kejadian semalam bukan mimpi dan ayahnya sedang dalam bahaya. Hingga... Saat ia hendak melangkah ..
“ Kau mau ke mana?” Seseorang memegang pundaknya. Raka terkesiap, apakah ini sosok yang sama yang menebas lehernya dalam mimpi kemudian ia akan terbangun di ranjang yang sama? Raka merasa getir untuk menoleh.
“ Hei jangan takut! Aku Nicki. Kau Raka Kenziera kan?” Suaranya lagi.
Raka menghela napas, ia mungkin sudah gila karena mimpi yang terus menghantuinya.
Tampak seorang gadis dengan rambut sebahu, tersenyum di depannya dengan mata bulat amber yang cantik. Sama sekali tidak terlihat mengerikan atau jahat.
“ Kau... Manusia?” Tanya Raka yang langsung memancing tawa renyah gadis di depannya. Bukan tanpa alasan Raka menanyakan hal itu, mengingat apa yang ia alami akhir akhir ini. Belum lagi ia tidak pernah melihat wajah gadis itu sebelumnya. Kenapa seakan gadis itu begitu mengenalnya, bahkan tahu nama aslinya?
" Kau bertanya aku manusia atau bukan? Kau terlalu banyak menyendiri hingga lupa mana wujud manusia, haha." Jawabnya tenang. Ia menatap Raka dari ujung rambut sampai ujung kaki, entah kenapa seakan ada titik rindu dan lega yang terpancar dari pandangan itu.
" Tempat apa ini? Aku harus segera pulang!" Celetuknya menatap sekeliling yang terasa begitu asing
Mendengar hal itu, gadis bernama Nicki itu mengernyit
" Kau bahkan tidak tahu tempat yang dekat dengan tempat tinggalmu ini? Ini pemakaman umum Hanum. Jaraknya cuma 2 kilometer dari kediamanmu. Apa kau tidak penasaran kenapa terbangun di sini?" Tanya Nicki mengernyit
" Tidak! Ada hal yang lebih penting yang harus aku urus." Celetuk Raka dingin kemudian seperti biasa, ia bergegas pergi. Bahkan tak mengajak Nicki dan tak bertanya apakah Nicki orang yang telah menyelamatkannya?
Gadis itu mengulas senyum melepas kepergian Raka yang terlihat buru buru.
" Aku sangat merindukanmu, Raka Kenziera." Ucapnya getir menyeka air mata
Entah, siapa ia sebenarnya.
Sementara itu, Raka terus mencari jalan pulang. Walaupun gadis tadi berkata itu tempat yang lumayan dekat, Raka tetap merasa asing.
Hari itu, udara tak seperti biasanya. Langit terlihat cerah tapi sama sekali tidak terlihat matahari. Jalanan tampak sepi, jarang sekali terlintar kendaraan yang biasanya selalu ramai. Toko toko terlihat sepi dan tutup. Raka berusaha mencari tumpangan sembari terus berjalan, tapi sayang tak ada apapun yang bisa ia tumpangi. 20 menit kemudian ia tiba di rumah. Lebih tepatnya bekas rumah yang sudah tinggal puing saja. Pemuda itu melihat ada garis polisi di sana.
Raka menghela napas lelah, ia tak melihat siapapun di sekitar bangunan yang baru terbakar itu. Rasanya begitu aneh, bukankah seharusnya banyak polisi atau warga yang tengah memeriksa sisa barang barang mereka.
" Ayah!!" Teriak Raka berusaha memasuki sisa reruntuhan. Debu yang masih pekat membuatnya terbatuk beberapa kali.
" Ayah di mana?" Teriaknya panik.
Tak ada jawaban. Bahkan tak ada siapapun yang bisa ia tanya.
Kamarnya habis terbakar, begitu pula kamar ayahnya. Tapi Raka tak menemukan sisa sisa tulang atau jasad di sana. Setidaknya ia bisa bernapas lega. Mungkin ayahnya masih hidup. Ia hanya harus ke luar dan mencari tahu di mana ayahnya sekarang.
Kenapa tidak ada seorangpun yang bisa ia tanya? Kemana semua orang pergi?
Raka ke luar dari gedung itu, melihat ke kanan dan kekiri. Masih sepi, bahkan suara langkah tidak ada di sana. Itu terasa semakin aneh dan membingungkan.
" Ayah!!" Teriaknya lagi
Karena memang hanya ayahnya yang ia kenal dekat di sana. Tempatnya menghabiskan waktu, dunianya, walaupun Raka tahu, Ayahnya telah tenggelam dalam dunianya sendiri.
" Ayah di mana?" Bola mata ambernya mulai berkaca kaca. Hingga... Saat ia melangkah menyusuri jalan... Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah toko. Toko yang seluruh bangunannya terbuat dari kaca. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Seketika wajah tampannya memucat, langkahnya gemetar mendekati kaca itu.
Bagaimana tidak? Ia jelas jelas berdiri di depan kaca besar, tapi Raka sama sekali tak melihat bayangannya sendiri di sana. Benar, Raka tidak melihat bayangannya.
" Ini tidak mungkin! Kenapa tidak ada bayanganku di sini?" Celetuknya dengan suara getir. Apa sebenarnya yang terjadi?
Raka berusaha menyentuh kaca besar itu, ia bisa menyentuhnya, tapi tegap saja semua bayangan ada di dalam pantulannya kecuali bayangannya sendiri. Berbagai pikiran mulai berkecamuk dalam benaknya? Apakah Raka terjebak di dunia lain? Apakah ia bermimpi lagi?
Bola matanya seketika berair
Ia melangkah mundur. Hingga tiba tiba....
" Apa sebenarnya penyebab kebakaran itu?"
" Entahlah! Mungkin seseorang sengaja melakukannya!"
" Ada 6 korban jiwa."
" Ya, dan semuanya masih muda."
Suara suara ramai mulai terdengar di telinga.
Raka menoleh, benar saja, jalanan terlihat ramai seperti biasanya. Entah dari mana orang orang mulai bermunculan seakan dunia asli baru saja terbuka. Di seberang jalan sana, Raka melihat seseorang berdiri dengan seragam dari sekolah yang sama dengannya. Seorang gadis yang membuat kening Raka mengernyit karena ia mengenakan jaket hitam bertudung yang menutupi wajahnya. Gadis itu terdiam beberapa detik, tapi saat Raka ingin menghampirinya...
" Raka!" Sebuah suara membuat Raka mengurungkan niatnya. Ia sontak menoleh dan mendapati ayahnya berdiri di sana.
" Ayah?" Pemuda itu tersenyum lega. Benar, ia melihat Abimanyu berdiri memegang pundaknya. Untuk pertama kalinya, ia menyapa Raka setelah bertahun tahun lamanya.
" Syukurlah ayah baik baik saja. Aku mencarimu ke sana ke mari. Ayah dari mana saja?" Raka menyeka air matanya
Sementara Abimanyu terlihat bingung menatap putranya dari ujung rambut sampai ujung kaki
" Kita pulang? Ayo ke rumah nenekmu!" Ajak pria tua itu dengan suara gemetar
" Ayah ingat rumah nenek?" Tanya Raka hampir tak percaya
Abimanyu mengangguk pelan
" Ayo ayah! Hati hati, pegang tanganku!" Pinta Raka memegang dan memapah ayahnya. Betapa bahagia hatinya setelah bertahun tahun akhirnya ia bisa bicara dengan normal bersama ayahnya. Pemuda itu bergegas membawa ayahnya pergi dan tak ada yang lebih berharga dari itu baginya.
Ia bahkan tidak bertanya bagaimana ayahnya bisa berada di sana, dari mana ia sebelumnya, dan kenapa hari ini begitu aneh. Segalanya menjadi normal bagi pemuda itu saat melihat ayahnya baik baik saja.
Tanpa Raka tahu, gadis di seberang itu masih memperhatikannya. Ada tetesan darah yang tampak mengucur dari lengannya.
" Kenapa kau berada di dunia ini, Raka?" Gumamnya yang tak lain adalah...
" Natasya"