bc

Cerita Alam Baka

book_age12+
42
IKUTI
1K
BACA
adventure
dark
scandal
student
tragedy
twisted
mystery
scary
ghost
horror
like
intro-logo
Uraian

Tampan, Pintar, Populer, tapi berasal dari keluarga broken home dan hidup dengan ayah yang menderita ODGJ membuat Raka memiliki sikap yang lebih dingin dari batu. Jika dalam karakter lain, sosok seperti Raka dipuja bagai pangeran, namun di kisah ini ia adalah korban bulliying karena sikapnya.

Sampai suatu hari sikap dingin Raka membuat seorang gadis yang telah lama mencintainya bunuh diri.

Mereka membully Raka dan semakin menyudutkannya, hingga suatu malam... Rumah Raka mengalami kecelakaan hebat.

Dan sejak saat itu... Pemuda 17 tahun itu... Raka Kenziera, tidak dapat melihat bayangannya sendiri di cermin.

Apa yang terjadi?

chap-preview
Pratinjau gratis
Tragedie Natasya
Tempat itu begitu sunyi, tidak ada suara satu pun makhluk hidup yang terdengar, yang ada hanya retak suara pepohonan dan dedaunan yang bernapas bersama angin yang pekat. Langit tampak gelap, hanya ada jalan setapak yang memiliki banyak cabang. Tempat itu menakutkan, sangat mengerikan. Begitu banyak makam yang menyimpan tubuh lelap di dalamnya, seakan memanggil nama untuk ikut terbaring, berselimut kafan dan bertahtakan gelap.   “ Anybody here?” Teriaknya melihat ke segala arah. Bagaimana sosok itu bisa berada di sana? Baru beberapa menit yang lalu ia membaringkan dirinya lelap dan saat membuka mata, ia sudah tak berada di ruangannya.   “ Hello!!” Teriaknya keras. Urat lehernya mencuat, wajah putihnya memerah.   Iya tak menemukan siapa pun di sana. Bingung, gelisah, takut, gemetar, semua menjadi satu. Entah harus ke mana, entah tempat apa itu. Pemuda itu mencoba mengatur napas, ini bukan yang pertama. Ia harus menenangkan diri dan ke luar dari mimpi buruk ini. Benar, hanya fokus dan menangkan diri.   Ia berusaha memejamkan mata sembari meyakinkan hatinya bahwa itu hanya mimpi. Hingga...   “ Raka!”   Deg   Seseorang memegang pundaknya, lalu suara jeritanpun melengking bersama amis darah yang mencuat tajam setelah tenggorokannya terkoyak.       ----***----***----***----       Raka Kenziera, seorang pemuda berusia 17 tahun tepat hari kamis kemarin, dan hari ini kembali terbangun dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Mata ambernya melihat ke segala arah, memastikan bahwa ia sudah kembali berada di tempat tidur. Perlahan, ia meraba tenggorokannya yang masih terasa sakit nan kering, seakan semua yang terjadi bukanlah mimpi. Kenapa mimpi buruk terus menaunginya? Tidak membiarkannya lelap bahkan untuk sesaat. Datang tanpa adanya sebab dan tak pernah meninggalkan malamnya.   Perlahan, ia menapaki lantai, melangkah pelan menuju nakas, menatap bayangannya di cermin, ia begitu menawan, sepasang matanya berwarna amber, menurut orang orang itu warisan dari wanita yang telah melahirkannya lalu menghilang sebelum raka mengenal sosok Ibu. Pemuda itu memiliki hidung yang mancung sempurna, bibir kemerahan dengan bentuk yang lumayan sexi, kulitnya putih, tubuhnya tinggi, tak ada yang kurang darinya selain “ Senyum “   Ya, ia seakan lupa caranya tersenyum.   Hari itu, ia kembali mengenakan seragam setelah 3 hari tidak masuk sekolah karena demam. Usai bersiap siap, Raka ke luar dari kamarnya dan menemui ayahnya yang masih mematung menatap televisi, menggonta ganti channel sesuka hati sama seperti biasanya. Namanya Abimanyu, pria asli pribumi dengan wajah yang sudah mulai menua di usianya yang hampir setengah abad, ia kehilangan kewarasannya sejak beberapa tahun yang lalu juga tanpa alasan yang jelas   “ Dad, aku berangkat dulu. Sarapannya ada di meja.” Tutur Raka mencium tangan ayahnya   Abimanyu mengernyit menatap Raka, kemudian kembali menatap layar Televisi seakan akan ia tidak mengenal putranya sendiri, membuat pemuda itu mengambil napas berat kemudian bergegas mengambil tasnya dan beranjak ke luar dari apartemen sederhana yang ia tempati.   Baru saja membuka pintu, tatapan Raka beradu dengan tetangganya yang tampak baru saja membuang sampah.   “ Mau sekolah? Bagaimana kondisi ayahmu?” Tanyanya   Pemuda itu hanya menatap sinis kemudian beranjak tanpa menjawab. Sama seperti biasanya     “ Dih masih muda saja sombong banget. Mentang mentang ganteng dan sekolah di tempat bagus, mau jadi apa sih dia? Ibunya pergi dengan pria lain dan ayahnya gila.” Celetuk tetangga itu pada tetangga lain yang juga ikut mencibir.   “ Aku dengar ibunya sudah meninggal, entahlah... Dia mati atau pergi meninggalkan suaminya. Lagi pula siapa juga yang mau merawat orang gila.” Balas lainnya     Raka tak peduli, ia sudah sering mendengar cibiran dan omongan seperti itu. Baginya, Tetangga yang hanya bisa bertanya dan terlalu ingin tahu tidak akan membantu apa pun pada keluarganya, jadi untuk apa ia menanggapi?   Setibanya di sekolah...     Brak   Seseorang menarik lengannya lalu mendorong tubuhnya ke sisi salah satu dinding, menekan lehernya kuat. Lagi lagi, Raka menatap sosok yang menganiaya dirinya itu dengan tatapan kosong. Seakan tak merasakan rasa sakit ataupun takut. Dia adalah Ginjal Aditira, seniornya di sekolah itu, sosok yang entah kenapa sangat suka mengganggu Raka. Mungkin karena banyak gadis yang menyukai Raka dan sikapnya yang dianggap “ Aneh “   “ Mana uang sakumu hah!” Bentak Ginjal semakin menekan leher Raka yang hanya menatapnya tanpa ekspresi   “ Jawab anak aneh! Dasar anak aneh! Apa kau sudah gila sama seperti ayahmu?” Teriak Ginjal emosi   “ Jawab!!” Bentaknya kesal   “ Lepaskan aku.” Ujar Raka, hanya itu kata kata yang ke luar dari bibirnya. Sama seperti biasanya   “ Aku akan memotong lidahmu! Kenapa aku harus melepaskanmu? Berhenti bersikap cool dan berusaha menarik perhatian di sekolah ini! Apa kau mengerti?” Tekan Ginjal dengan sorot tajam   Raka mengambil napas   “ Lepaskan!” Ujarnya terdengar dingin   “ Heh! Anak aneh! Dengar baik baik, sekolah di sini itu jangan sok, kalau senior mengajak bicara jangan melawan. Atau aku akan memukulimu! Mana uang sakumu!” Bully Ginjal. Sebelum...     “ Lepaskan dia Ginjal! Atau aku akan melaporkanmu pada kepala sekolah dan kau akan di skorsing lagi!” Teriak salah satu siswi yang melihat kejadian itu   “ s**t!” Ginjal melepaskan cekikannya pada Raka kemudian menunjuk matanya, mengancam   “ Urusan kita belum selesai.” Celetuknya sebelum akhirnya beranjak pergi.   Seperginya Ginjal, gadis itu mendekati Raka, mengulas senyum manis padanya.   “ Apa kau baik baik saja? Dia lagi lagi mengganggumu. Sabar ya, itu karena dia iri padamu.” Ujarnya berusaha menyapa. Namun...   Raka justru hanya merapikan seragamnya dan beranjak pergi tanpa mengucapkan terima kasih.   “ Dia keren banget sih.” Gumam gadis itu menatap punggung Raka yang semakin menjauh.   Sepanjang jalan menuju kelasnya, banyak gadis yang memperhatikan Raka, beberapa diantara mereka bahkan memberikan bekal padanya. Raka memang tidak banyak bicara, ia juga tidak berasal dari golongan yang berada. Tapi sikap dingin dan prestasinya mampu membuat siapa pun terpesona. Mungkin itu yang menjadikan banyak siswa merasa iri termasuk Ginjal.   “ Aku ingin membunuh anak itu.” Gumam Ginjal kesal   Ya, aku ingin melenyapkannya     Sebaliknya, saat masuk ke dalam kelas. Raka mengusap rambutnya jengah, ia menghela napas panjang. Dilihatnya sosok guru wanita yang entah sejak kapan menulis soal soal di papan, padahal bel belum berbunyi dan anak anak belum berkumpul semuanya untuk diabsen. Raka berusaha mengalihkan pandangannya ke luar jendela, mengabaikan guru di depannya.   Tapi, semakin diabaikan, suara goresan tinta di papan semakin nyaring, guru itu semakin cepat menulis. Hingga...   “ Kau bisa menjawab soal nomor 1, Raka?” Tanyanya sontak membuat Raka menoleh.   Entah sejak kapan, guru itu berdiri di depan mejanya, bahkan sangat dekat   “ Kau bisa mengerjakannya kan?” Tanyanya dengan senyum pucat yang manis.   Raka menatap irisnya lekat kemudian mengambil kembali tasnya dan hendak beranjak ke luar.   “ Raka! Kau bisa melihatku kan? Kau bisa kan?” Teriak guru itu mengejar.   Benar, guru itu bukan manusia.   Saat Raka melewati majalah dinding, tatapannya terarah pada sebuah lembar informasi tentang guru matematika yang meninggal kecelakaan minggu lalu. Wajah yang sama dengan yang barusan mengajar di dalam kelas. Benar, itulah sebabnya Raka menjadi pendiam, entah sejak kapan... Ia bisa melihat mereka yang seharusnya tetap tak terlihat mata. Raka bahkan tidak bisa membedakan, mana yang nyata dan tidak. Itulah sebabnya, ia memutuskan untuk berbicara secukupnya atau diam saja.   “ Raka, kau baik baik saja?” Tanya seorang gadis berdiri di sisinya, melihat majalah dinding bersama. Gadis yang terlihat begitu manis dengan tinggi semampai, rambut panjang tergerai, kulit eksotis dan cukup populer di sekolah itu.   Raka tak menjawab, ia justru hendak beranjak. Tapi... Gadis itu menahan lengannya   “ Aku tahu kau bersikap dingin pada semua orang. Tapi ini aku, Natasya. Jika aku mau, aku bisa mendapatkan siapa pun yang aku mau. Tapi tidak, aku hanya ingin menjadi pacarmu saja. Sudah seminggu aku menunggu jawabanmu. Apa kau tidak bisa menghargai seseorang?” Tanyanya dengan wajah yang mulai memerah   Raka menatap gadis itu   “ Aku tidak bisa.” Tolaknya dengan nada halus   “ Kenapa? Apa aku kurang cantik? Aku kurang populer? Aku kurang sexi?” Tanya gadis bernama Natasya itu dengan wajah memerah. Raka menggeleng pelan   “ Lalu?”   “ Kau cantik, kau juga baik, kau kaya dan kau terkenal. Itu yang membuatku tidak bisa menerimamu. Maaf, tapi aku buru buru.” Pemuda itu melepaskan pegangan tangan Natasya di lengannya.   “ Aku bisa berubah sesuai yang kau mau.” Natasya masih memaksa. Raka adalah impiannya sejak di sekolah menengah pertama dulu. Ia tidak mau menyerah, pemuda itu sudah menjadi obsesinya. Bahkan ia telah melakukan segala cara agar Raka bisa menjadi miliknya. Mulai dari rajin mengirimi surat walaupun tak pernah dibaca, meneror Raka dengan mencoba menelefon walaupun tidak pernah diangkat, bahkan menjadi sepopuler itu di sekolah hanya agar Raka memperhatikannya. Tapi tidak, pemuda itu tetap memandangnya sebelah mata. Natasya sudah mencoba melupakan Raka dengan menjalin hubungan bersama beberapa pria yang juga diatas rata rata baik fisik dan keuangannya, tapi tetap saja... Hatinya tidak bisa berpaling. Ia tetap menginginkan Raka. Hanya Raka   “ Jangan merubah dirimu demi siapa pun. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku.” Jawab Raka dengan ekspresi datar. Natasya menyeka air matanya   “ Kenapa sih? Kamu gay? Kamu tidak menyukai perempuan? Sudah bertahun tahun loh aku menunggu. Apa susahnya menjalin hubungan denganku? Kau hanya tinggal mengatakan iya dan apa pun yang kau mau aku akan menurutinya.” Tuturnya dengan suara gemetar   Raka tak peduli, ia hendak beranjak. Tapi Natasya kembali menghadangnya   “ Raka Please! Satu kesempatan saja.” Pintanya memohon. Memalukan memang, tapi kalau hati sudah terlanjur menjadikannya tuan, tak ada yang bisa mengalahkan rasa.   “ Tidak, lupakan aku, aku tidak akan pernah menerima cintamu.” Jawab Raka, Ia kemudian beranjak meninggalkan Natasya yang menangis sedih, menahan malu dan juga hati yang patah.   Melihat Natasya pujaannya menangis, Ginjal yang memperhatikan dari jauh bertambah emosi   “ Awas kau Raka, aku akan membuatmu menyesal telah membuat gadis tercantik di sekolah ini menangis.” Gumamnya tak terima.     ----***----***----***----       Waktu menunjuk pada jam 3 sore saat semua pelajaran di sekolah itu usai. Anehnya, langit yang tadinya cerah tiba tiba menjatuhkan hujan yang membuat langkah Raka tertahan.   “ Apa kau mau pulang bersama?” Tanya Natasya yang entah sejak kapan tiba tiba berdiri di sisinya, tersenyum dengan bibir pucat dan mata yang sembab. Mungkin sejak tadi ia menangis di suatu tempat. “ Tidak,  terima kasih.” Jawab Raka bahkan tanpa menatap ke arahnya   “ Berhentilah bersikap dingin Raka, atau kau akan kehilangan semua orang yang peduli padamu. Dunia ini luas, mengapa kau memilih tinggal di ruang yang begitu sempit.” Tutur gadis itu menatap langit pekat   “ Tolong jangan menggangguku lagi.” Pinta pemuda itu.   Natasya menghela napas, ia menatap wajah Raka yang begitu tampan dari sisi samping. Ingin rasanya Natasya bersandar di bahunya walau hanya sekali.   “ Aku tidak akan mengganggumu lagi Raka, tapi aku akan membuatmu menyesal telah memintaku menjauh dan mematahkan hatiku.” Ujar gadis itu kemudian berjalan melintasi hujan, seakan membaur bersama sakit hatinya kemudian menghilang di pagar sekolah. Suasana setelah itu menjadi begitu tenang. Hanya rintihan hujan yang terdengar menyapa telinga   Jauh dalam hening yang pekat...tiba tiba...   “ Tolonggg!!!” Teriak sebuah suara dari arah toilet. Beberapa siswi tampak berlari ke luar dengan wajah ketakutan. Raka mengernyit, sebenarnya ia tak mau peduli. Tapi...   “ Seseorang telah bunuh diri! Tolong!” Teriak mereka ketakutan   Deg   Seluruh siswa yang masih bertahan di sekolah karena hujan segera berlari menuju toilet. Termasuk guru guru yang masih berada di kantor. Hal itu memaksa rasa penasaran Raka untuk ikut melihat apa yang terjadi. Maka ia pun melangkah ke sana. Melewati kerumunan yang berteriak histeris.   Benar, terlihat darah merembes ke luar dari sebuah pintu toilet. Dan...   “ Natasya?” Wajah Raka berubah pasi     Ya, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi aku akan membuatmu menyesal karena telah mematahkan hatiku ~ Natasya   Kata kata Natasya barusan seakan mengganggu di benak Raka. Pemuda itu langsung menerobos kerumunan siswa itu. Benar saja, terlihat Natasya sudah terbujur kaku, tubuhnya tergeletak di lantai toilet, ada silet di sisi kanannya dan ke dua pergelangan tangannya terlihat teriris dengan luka menganga. Wajah cantiknya begitu pucat dengan bola mata yang masih terbuka tanpa kehidupan. Natasya diperkirakan meninggal 1 jam yang lalu dengan cara bunuh diri.   “ Minggir!” Pinta Raka kemudian menggendong jasad itu dan membawanya ke luar dari toilet. Bola matanya memerah menahan tangis, lagi lagi... Sikapnya mengakibatkan seseorang tiada.   Raka membawa tubuh Natasya dan menidurkannya pada salah satu bangku di ruang terdekat dari toilet   “ I’m sorry! Please wake up! Please don’t leave me! Im sorry!” Pinta Raka kemudian memeluk jasad itu erat.   Maafkan aku Maafkan aku Maafkan aku     Jauh dalam sedih itu... Tiba tiba seseorang menarik kerah kemeja Raka. Dan...   Bug   Sebuah tinjuan melayang di wajahnya   “ Dasar pembunuh! Kalau kau tidak menolak Natasya, di tidak akan membunuh dirinya sendiri!” Teriak Ginjal emosi. Ia terus memukuli Raka yang hanya diam menerima amukannya. Memang benar, Raka bersalah.   “ Hentikan!” Teriak guru guru yang datang melerai dan segera mengamankan Ginjal   “ Kau baik baik saja Raka?” Tanya salah satu guru membantu Raka berdiri.   Pemuda itu mengangguk kemudian berdiri terhuyung     Senin, 24 agustus. Natasya membuat gempar seisi sekolah karena keputusannya yang mengerikan, membunuh dirinya sendiri. Dan sejak hari itu, Raka tidak terlihat di sekolah. Ia memutuskan mengurung diri di apartemennya, menyesal karena telah bersikap sangat tak acuh pada gadis yang sejak SMP selalu bersikap baik padanya. Natasya berubah demi Raka, ia menjadi lebih baik, berprestasi, semua itu demi Raka. Kenapa Raka bisa begitu tega menolak perasaannya tanpa mempertimbangkan risiko apa yang akan terjadi pada gadis yang patah hatinya?   Jauh dalam hening...     Tok tok tok   Seseorang mengetuk pintu kamarnya kemudian membuka pintu. Tampak Abimanyu datang, membawakan piring di tangannya kemudian duduk di sisi putranya   “ Kau belum makan? Aku membuatkanmu nasi goreng kesukaan ibumu. Makanlah!” Ujarnya   Raka menatap wajah ayahnya. Ia mengambil napas lega, syukurlah ayahnya mulai mengenali dirinya dan mau berbicara. Sepertinya pengobatan terakhir berjalan lancar, tidak sia sia Raka menjaga ayahnya selama ini.   “ Makan.” Pinta ayahnya menyodorkan piring itu.   Tapi...   Kening Raka mengernyit, piring yang dibawa ayahnya kosong. Tidak ada apa pun di dalamnya.   “ Ayah memasak nasi goreng?” Tanya Raka   Mendengar pertanyaan itu, justru Abimanyu yang mengernyit   “ Tidak, aku membuatkan Sandwich. Lihat! Ada keju dan roti. Kau tidak bisa melihatnya?” Tanyanya menunjuk piring yang kosong   “ Ya, aku bisa melihatnya. Aku akan makan. Terima kasih.” Bola mata Raka berkaca kaca, ia kemudian mengambil piring itu dan berpura pura memakan Sandwich dari ayahnya.   “ Enak?” Tanya Abimanyu penasaran   Raka mengangguk kemudian memeluk ayahnya   “ Ayah pasti sembuh, aku janji aku akan melakukan apa pun agar ayah sembuh.” Gumamnya meneteskan air mata   “ Tidurlah! Ini sudah malam! Kau masih kecil. Nanti bisa terlambat sekolah. Tidur! Tidur! Jangan bermain lagi.” Ujar Abimanyu melepaskan pelukan Raka kemudian bergegas ke luar dari kamar putranya dan menutup pintu.   Raka menuruni ranjang kemudian melangkah ke arah meja, membuka laci dan mengambil sebuah kotak dari kayu. Ia membawa kotak itu ke tempat tidur kemudian membukanya. Isinya adalah tumpukan surat, benar... Surat surat yang selama ini ditulis oleh Natasya untuknya. Raka membaca semua surat itu walaupun tidak pernah membalasnya. Di tengah tengah tumpukan surat itu, ia menemukan foto Natasya dan dirinya sewaktu memasuki SMP dulu. Sejenak, ingatannya menerawang ke masa lalu, 5 tahun yang lalu. Saat ia pertama kali bertemu dengan Natasya di taman.   Saat itu, Raka baru pulang dari pekerjaan paruh waktunya. Ketika ia melihat seorang gadis yang tampak duduk sendirian di taman sembari menangis. Gadis itu memakai kacamata bulat, rambutnya dikepang dua ke samping, mengenakan celana longgar abu abu dan kaos berwarna hitam. Raka ingat dengan jelas, Natasya begitu berbeda. Sebenarnya Raka ingin bersikap acuh, tapi karena langit mulai mendung dan gadis itu sendirian, ia memilih melangkah ke sana dan memberikan payung miliknya   “ Pakai ini, sebentar lagi hujan. Kau bisa sakit.” Celetuk Raka dengan nada jutex   Gadis itu mengangkat wajah, menatapnya dengan pandangan sendu   “ Ayahku baru saja meninggal.” Tuturnya sedih   “ Aku tidak bertanya, aku hanya ingin memberikan payung ini. Ambillah!” Raka menyerahkan payung miliknya   “ Terima kasih.” Ucap gadis itu menyeka air matanya   “ Berhentilah menangis, kalaupun kau berteriak, ayahmu tidak akan hidup lagi. Belajarlah menerima semuanya dan jangan cengeng.” Ujar Raka   Natasya terdiam saat itu, ia memandang payung hitam di tangannya kemudian menatap Raka yang sudah tampak berjalan pergi di bawah guyuran hujan. Dan sejak saat itu, takdir mengingat mereka menjadi lebih dekat karena rupanya, Natasya adalah murid pindahan baru di sekolah Raka. Ya, mereka cukup dekat. Sampai pada satu titik, tiba tiba seorang wanita dengan pakaian serba mewah mendatangi Raka sepulang sekolah. Wanita itu menaiki sebuah mobil mewah, ia tak lain adalah ibu dari Natasya yang tidak tahan mendengar putrinya selalu bercerita tentang Raka, Raka, dan Raka.   “ Raka kan? Ayahmu adalah pasien rumah sakit jiwa yang tidak terawat karena biaya. Kau tinggal di apartemen kumuh. Kau tahu, keadaanmu dan Natasya sangat berbeda. Dia tidak akan memiliki masa depan saat bersamamu. Jauhi putriku! Jangan membawa pengaruh negatif padanya! Urus ayahmu yang kurang waras itu, aku tidak mau mendengar Natasya bercerita tentangmu lagi. Apa kau mengerti?” Tunjuknya tegas, penuh penekanan   Raka hanya diam mematung mendengarkan kata katanya waktu itu. Rasanya cukup menyakitkan, tapi ia sudah terbiasa menerima perkataan seperti itu. Jadi, mulai hari itu Raka memutuskan untuk menutup dirinya. Ia tidak lagi berbaur dengan dunia luar yang selalu manis di depan dan mengutuk di belakang. Ia tak lagi membuka diri dan berekspresi dengan sesuatu yang mungkin akan menyakitinya lagi. Raka benar benar menjauhi Natasya, tapi itu justru membuat Natasya semakin tergila gila padanya sampai akhirnya, hari ini, ia mengakhiri hidup.   Mungkin Natasya lelah, perhatiannya disia siakan, kasih sayangnya tak dibutuhkan dan tujuannya dipatahkan.     Malam itu, Raka tertidur dalam sesal yang panjang.   Ia tidak menyadari seseorang yang penuh amarah tengah menatap apartemennya dari bawah dengan sebuah korek api dan sebotol bensin di tangannya.   “ Kau pikir kau siapa? Aku akan membuatmu menyesal telah melukai Natasya, Raka. Kau tidak pantas hidup.” Gumamnya menyeka air mata   Ia masih mengenakan baju hitam tanda berduka. Tapi tak seorang pun melihat wajahnya yang bersembunyi dibalik gelap malam   Jam menunjuk pada angka 00:45 saat bau asap itu menyebar. Bunyi alarm kebakaran pun berdering nyaring.   “ Kebakaran!!” Teriak beberapa penghuni berlari ke luar. Api merebak cukup besar terutama di sekitar apartemen yang ditempati Raka dan ayahnya.     Beruntung, ayah Raka terbangun sebelum apinya berbahaya, ia yang lingkung berjalan ke luar tanpa mengingat ada putranya yang sedang tertidur di dalam.   “ Di mana Raka? Di mana Raka?” Teriak para tetangga   Tapi percuma saja, Abimanyu justru mengernyit   “ Siapa Raka?” Tanyanya     Di sana...   Raka terbangun setelah asap terasa menyesakkan paru parunya, api sudah sangat besar, kulitnya bahkan terasa begitu panas. Ia bergegas turun dari ranjang dan menarik selimut menutupi tubuhnya. Raka tidak bisa melihat apa pun selain api   Apakah ia akan meninggal dengan cara seperti itu?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook