Sehari sebelum ujian semester 1 tiba aku mendapatkan mimpi yang aneh. Ada seorang pria usia 40, dalam mimpi itu hidupnya sangat berantakan. Selama 40 dia hidup prestasi terbesarnya adalah di terima di universitas kedokteran. Tapi selah itu hanya ada kegagalan yang menunggunya.
Menjadi anak yang di kucilkan selamadi universitas.
Setelah menyelsaikan kuliah kedokteran dengan nilai yang pas-pasan dia memilih menjadi seorang ahli bedah anak, meski semua orang meragukannya. Namun untuk mimpinya itu dia mengerahkan semua usaha dan upaya dengan belajar lebih keras dan mengambil ahli bedah anak.
Dari usahanya itu dia berhasil di terima di Rumah Sakit Swasta terbaik di Jakarta. Tapi kurangnya kemampuan serta koneksi yang dia miliki membuatnya kehilangan keberhasilan dalam hidupnya, lisensi bedah anak.
Istri yang di nikahinya menceraikannya. Orang tua tunggalnya yaitu ibu yang sudah membesarkannya, yang tak pernah dia perhatikan hampir menjadi gelandangan.dan untuk dirinya di diagnosis kangker stadiu akhir,semua tidak berjalan sesui keinginannya.
****
“Ya ampun kenapa kau begitu putus asa.” Alex memandang Reno dengan wajah mencemooh.
Reno mandang pria yang berada di hadapannya dengan penuh amarah. Aku akui aku bukanlah dokter dengan kemampun yang berlebih, tapi aku bukanlah orang yang akan lalain dengan pekerjaan ku. Terutama menyangkut sebuah nyawa. Nyawa yang orang lain hilangkan namun aku pertanggung jawabkan.
Alex masuk kedalam mobeli, meninggalkan Reno yang terpuruk setelah lisansinya di cabut.
Tapi, semua itu bukanlah akhirnya.
“Rania aku pulang.” Reno memandang semua ruangan di rumahnya dengan heran, gelap dan sunyi. Meskipun lima tahun belakangan rumah tangganya sudah tak seharmonis dulu biasanya saat puang istrinya selalu ada di sana, di atas sopa. Menghabiskan waktu dengan drama-drama kesukaannya.
“Rania.” Reno mengecek setiap ruangan di rumahnya, yang berakhir dengan di temukannya sepucuk surat dan dokumun percaraian yang Rania tinggalkan di samping nakas tempat tidur.
Aku pergi, selamat tinggal.
“ Halo, Bu.”
“Ibu menolepon untuk mengecek apakah kamu baik-baik saja.” Suara lembut Wanita tua menyahut dari sebrang telpon. “Reno Ibu lihat di berita sekarang banyak terjadi banjir, berhati-hatilah nanti saat kamu pulang dari rumah sakit.”
“Ibu tenang aja aku pasti akan berhati-hati. Ah, Bu. Sekarang aku ada pasien, aku pamit dulu. Nanti aku akan hubungi Ibu lagi.”
Suara isakan terdengar saat telpon tertutup. Kesunyian dan kegelapan satu-satunya yang menemaninya.
Semuanya sudah berakhir.
Sebuah kegelapan seolah-olah menarik semua kesadarannya.
“Dokter, Dokter Reno” Suara kecil dan sapuan lembut seolah menarikku dari kegelapan. Semilir angin, bau rerumputan dan usapan sebuh tangan kecil di kepala membangunkanku.
“Mentari..” Reno memandang tak perca pada anak bergaun putih dengan sebuah mahkola bunga yang sedang duduk di sampingnya. Sebuah senyum yang begitu cantik terlukis di wajahnya.
Reno meraba wajah yang ada di hadapannya dengan tak percaya, air mata merebak seoalah tak bisa di bendungnya lagi. Mentari gadis kecil yang beberapa bulan terakhir menjadi cahanya di hidupnya, Mentari yang di janjikan kesembuhan olehnya. Namun, keadaan dan tuhan berkehendak lain.
“Dokter, mama bilang kalau Mentari jadi anak yang baik Mentari bisa main seperti anak yang lain.” Reno memandang Ibu Mentri yang berdiri di amping belangkar.
“Tentu, makanya Pelangi jangan sampai telat ya mianum obatnya, biar cepat sembuh. Mentari mau kan cepat sembuh. Reno mengusap kepala pelagi dengan penuh sayang.
“Mau, Mau”
Kepalan tangan ibu muda itu terus memukul Reno, ratapan kepedihan tak henti-hentinya terdengar dari ibu mud aitu.
“Kembalikan Mentari, kembalikan anakku.”
Reno memandang gadis kecil di hadapannya dengan penuh air mata.
“Dokter. Mentari Bahagia dokter, jadi dokter juga harus Bahagia.” Sapuan tanggan kecil membantu menghapus air mata Reno.
“Mentari berdoa agar Dokter bahagia.” Perlahan-lahan kegelapan mengaburkan wajah dan semunyum indah itu.
Mimpi yang aneh, namun terasa nyata. Tapi yang lebih aneh adalah aku, Pria itu adalah aku.