8| 'Apakah dia sakit?'

1777 Kata
02.53 AM Setelah beberapa jam, Evelyn mulai menampakkan tanda-tanda akan sadar. Dengan perlahan tapi pasti, kelopak matanya terbuka dan perlahan kesadarannya pun terkumpul. Evelyn mengerjapkan matanya beberapa kali hingga pandangannya jelas. Ia terkejut saat menyadari bahwa ia berada di sebuah ruangan yang ia kenali. Namun, ia tidak cukup bodoh untuk menggerakkan kaki dan tangannya karena dia sangat tahu di mana dia duduk sekarang. Yaitu pada kursi listrik dengan rantai berduri yang mengikat tangan dan kakinya. Evelyn memandang sekitarnya, ruangan dengan pencahayaan remang-remang dengan udara yang dingin serta berbau tidak sedap. Terdapat alat-alat penyiksaan baik modern maupun kuno di ruangan itu. Evelyn juga melihat dua orang penjaga yang mengawasinya di dalam sana. "Damn, di mana ini sebenarnya?" tanya Evelyn setelah beberapa saat. Suaranya terdengar serak. Jika orang lain berada di posisi Evelyn, pasti orang itu sudah ketakutan dan berteriak minta dilepaskan. Namun, Evelyn malah bersikap tenang. Reaksi terkejutnya hanya sebentar ketika bangun dari tidurnya, tetapi setelah itu dia terlihat tenang sambil membaca keadaan. Kedua orang itu tidak menjawab pertanyaan Evelyn, mereka tetap berdiri tegap di dekat pintu tanpa sepatah katapun. Evelyn mendengus keras. “Sepertinya kalian tidak punya telinga. Kenapa tidak menjawab pertanyaanku hah?” Dua orang yang menjaga ruangan itu tetap saja tidak memberikan tanggapan apa pun terhadap pertanyaan Evelyn. Evelyn menggigit bibir bawahnya lalu berdehem pelan. "Euhm, bisakah kalian mengantarkanku ke toilet? Aku ingin buang air kecil." "Tahanlah sampai pagi,” jawab salah satu penjaga dengan ketus. Evelyn mulai dibuat kesal dengan tanggapan dingin mereka. "Kalian gila? Aku benar-benar tidak tahan! Apa kalian tidak punya belas kasihan terhadap wanita, hah?” “Tidak.” "Tapi aku juga ingin buang air besar. Ah! Perutku sakit!” "Diam!!!” Seorang lainnya berseru marah karena Evelyn tidak bisa diam. “Apa kau mau dibuat pingsan lagi? Diam saja dan duduk di sana seperti kucing kecil yang manis.” "s**t!" Kalimat umpatan berhasil keluar dari bibir indah Evelyn. Ia harus mencari cara supaya bisa keluar dari tempat itu. "Oke, aku akan diam,” kata Evelyn akhirnya. Mau tak mau mengalah. “Tapi bisakah kalian memberitahuku siapa yang membawaku ke sini?" Lagi-lagi orang itu tidak menjawab pertanyaan Evelyn, membuat Evelyn kesal dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sementara di sebuah ruangan yang disebut control room, Gabriel sedang mengawasi dan memperhatikan Evelyn melalui monitor yang terhubung ke cctv di ruang penyiksaan. Dengan reaksi Evelyn yang terlihat tenang, santai, dan tidak ada ketakutan sama sekali membuat Gabriel penasaran akan identitas asli Evelyn. "Lanjutkan pekerjaan kalian dan awasi dia, jangan sampai dia kabur," ucap Gabriel kepada anak buahnya yang bertugas di ruangan itu. Mereka bekerja untuk mengawasi kondisi mansion. Setelah anak buahnya menjawab ‘siap’ dengan patuh, barulah Gabriel keluar dari ruangan itu. "Ah, Brother. Kenapa kamu belum tidur juga?" tanya Sara ketika melihat Gabriel sedang berjalan menuju kamar. "Pertanyaan itu seharusnya ditujukan padamu. Bukan aku, Sara. Jadi, kenapa kamu belum tidur?" Gabriel bertanya balik sambil dan menghampiri adik angkatnya yang sedang mengecat kuku di ruang tengah. Sara terlihat sangat lucu dengan piyama tidur yang digunakannya sekarang. "Aku tidak bisa tidur. Bolehkah aku tidur bersamamu malam ini?" Gabriel tidak menjawab pertanyaan Sara, tetapi merangkul Sara dan membawanya menuju kamarnya. Sesampainya di tempat tidur, Sara langsung memeluk tubuh Gabriel dan tertidur di pelukannya. Wanita itu tersenyum senang dan berbisik, “Selamat malam, Brother. Semoga bermimpi indah.” *** Pagi-pagi sekali Jay sudah menuju ruangan penyiksaan bersama Hong Jun. Evelyn mendongakkan kepalanya yang sejak tadi membungkuk menatap lantai lalu bertanya dengan dingin. "Siapa kau?" "Hm, sepertinya kita bertemu kembali. Tapi, sayangnya kupastikan ini adalah pertemuan terakhir kita," ucap Jun yang muncul dari belakang Jay. Pria itu langsung menghampiri Evelyn dan memberikan pukulan yang keras pada ke rahang Evelyn, tanpa peduli jika lawannya adalah seorang wanita. Akibat pukulan itu, sudut bibir Evelyn pun berdarah dan tangannya tertusuk rantai berduri karena tak sengaja ikut tertarik. Namun, bukannya emosi dan meringis kesakitan, Evelyn malah meludahkan darah di mulutnya dan tersenyum sinis. "Hahaha! Oh, aku ingat sekarang! Bukankah kamu si i***t yang kutemui di markas waktu itu? Senang bertemu denganmu lagi," ejek Evelyn dengan senyum meremehkan, yang berhasil membuat Jun semakin emosi. Baru pertama ada seseorang yang tersenyum seperti itu kepadanya, biasanya dialah pemilik senyum yang menakutkan itu. Jun langsung memberikan bogeman lain ke wajah Evelyn, yang lebih kuat dari pukulan yang pertama tadi. "Sudah, sudah, Sialan! Hentikan! Jangan bunuh dia sekarang!" seru Jay seraya menghentikan Jun yang ingin memukul Evelyn lagi. Jay masih memerlukan Evelyn dalam keadaan hidup karena ada sesuatu yang ingin ia selidiki dari Evelyn. Jay bergidik ngeri melihat pergelangan tangan Evelyn, di mana duri-duri rantai itu menancap di kedua pergelangan tangannya. Darah pun menetes-netes dari sobekan di kulitnya. "Siapa kau sebenarnya?" tanya Jay kepada Evelyn. Evelyn masih dalam keadaan tenang, tidak ada tanda-tanda dia merasa kesakitan sedikit pun. "Seorang polisi," jawab Evelyn cuek. "Haah, jawab yang benar!” Jay merasa frustasi dengan jawaban tak acuh Evelyn. “Dan kenapa datamu sebelum lima tahun terakhir tidak bisa diakses?" Evelyn hanya mengedikkan bahunya, masa bodoh dengan pertanyaan itu. Jay memijat batang hidungnya dengan kesal. Wanita ini sesuatu sekali."Okey. Sekarang karena kau sudah di sini, kurasa tidak membutuhkan waktu yang lama untukku mengungkap kebenarannya." Jay pun mengeluarkan sebuah alat untuk melakukan fingerprint. Evelyn melihat alat itu dan segera menyela, "Bisakah lakukan itu nanti? Tolong bawa aku ke toilet. Sejak semalam aku sudah sakit perut, tapi anak buahmu tidak mengizinkanku untuk menggunakan toilet." Jika tadinya Evelyn berbicara dengan cuek, sekarang dia berbicara seperti memohon menggunakan puppy eyes andalannya. Biasanya ini sangat membantunya untuk keluar dari amarah Caleb, sang pimpinan polisi. Dia tahu hal ini akan berguna untuk menyelamatkannya dari pria-pria bodoh ini. Jay terlihat mempertimbangkan permintaan Evelyn, kemudian baru menyetujuinya karena menurutnya tidak masalah melepaskan Evelyn sebentar dari kursi tersebut. Lagipula Evelyn juga tidak bisa kabur dengan penjagaan ketat di mansion ini. Dan sepertinya, pria ini sedikit lembek dari pria sangar lainnya. Jay menoleh ke arah Jun. "Bisa kau bukakan sebentar? Kita akan mengawasinya." "Big no," tolak Jun setengah menggerutu. "Ah, lakukan saja. Lagipula dia tidak akan bisa kabur, di sini ada kamu dan dua orang penjaga itu. Walaupun dia bisa keluar dari ruangan ini, belum tentu dia bisa keluar dari mansion ini,” ucap Jay meyakinkan. Jun mendengus kesal, kemudian membukakan rantai yang mengikat tangan dan kaki Evelyn. Jun dengan rasa yang tidak berperikemanusiaan menarik rantai tersebut dengan kasar, membuat duri yang tertancap pada tangan Evelyn ikut tertarik dengan kasar. Evelyn menahan emosinya kemudian tersenyum kepada Jun, "Terima kasih, jadi di mana toiletnya?" tanyanya. Lalu matanya tertuju pada ruangan kecil yang ditunjuk oleh Jay. Evelyn mengusap darah yang keluar dari pergelangan tangannya, berdiri dari duduknya dan langsung memberikan pukulan kepada Jun. Ia memukul wajah Jun berkali-kali lipat lebih kuat dari pukulan yang diterimanya tadi. Dua orang penjaga langsung mengeluarkan pistol dan menembak Evelyn, tetapi dengan gesit Evelyn dapat menghindari tembakan tersebut. Dan dengan beberapa kali putaran badan, saat ini dia sudah berada di depan salah satu penjaga itu. Evelyn merebut pistol penjaga itu dan langsung menembakkan peluru ke penjaga yang satunya lagi, membuat salah satu penjaga itu tewas di tempat. Saat ini Evelyn menodongkan pistol yang dipegangnya ke kepala penjaga yang sudah tidak memiliki pistol, sedangkan matanya melirik ke arah Jun yang masih kesakitan, karena tadi ia memukul dengan kuat daerah d**a pria itu. Ia sudah sangat hafal bagian tubuh mana yang bisa melumpuhkan lawan. Tidak ingin membuang-buang waktu, Evelyn melepaskan timah panas pistol itu pada satu penjaga yang tersisa di ruangan itu kemudian langsung membuka pintu. Namun, seketika ia behenti ketika melihat seseorang yang berdiri di depan pintu ruangan itu, seseorang yang pernah dilihatnya sekali di kantor polisi ketika membebaskan adik perempuannya. "Ingin mencoba melarikan diri?" tanya Gabriel dengan suara dingin dan wajah datarnya. Aura orang yang yang berada di depan Evelyn saat ini sangat berbeda dengan orang yang ia dilihat di kantor polisi waktu itu. Evelyn hanya sebentar merasa terkejut. Setelah itu, dia kembali ke fokus awalnya. Ia mengayunkan pukulannya kepada Gabriel. Alih-alih mengenai Gabriel, pria itu malah menangkap tangannya dan meremasnya dengan erat. Gabriel langsung mendorong tangan Evelyn dan memberikan pukulan kepada Evelyn, entah kenapa pukulan Gabriel terasa sangat sakit daripada pukulan Jun tadi. Tak cukup satu pukulan, Gabriel menambah satu pukulan lagi dan membuat tubuh Evelyn terhuyung hingga menghantam meja gergaji mesin untuk memotong tubuh manusia di belakangnya. Gabriel menarik rambut panjang Evelyn dengan sangat kuat dan menekan kepala Evelyn ke meja dengan posisi pipi kanan Evelyn menempel di permukaan meja. Kemudian Gabriel menekan tombol pada sudut meja itu. Evelyn membelalakkan matanya dan berusaha membebaskan dirinya ketika mesin gergaji itu menyala. "Gab! Damn it! Apa yang kau lakukan! Belum saatnya dia mati!" protes Jay yang terkejut dengan apa yang dilakukan bosnya saat ini. Walaupun dia tau Evelyn pasti akan dibunuh, tetapi Gabriel sudah berjanji akan memberi Jay waktu selama dua hari untuk menyelidiki polisi itu. Jun yang sejak tadi memegangi dadanya terbatuk-batuk lalu mencengkram bahu Jay dengan kuat. "Simpan rasa penasaranmu terhadap polisi itu, karena beberapa detik lagi polisi itu akan menghadap kematiannya," ucap Jun di telinga Jay. Evelyn semakin memberontak, tetapi sekuat dia memberontak dia tetap tidak bisa melepaskan diri dari Gabriel. Rambutnya semakin ditarik dan kepalanya semakin didorong dengan sangat kuat ke permukaan meja, sedangkan gergaji itu sudah mulai mendekatinya. Terasa tidak ada harapan lagi, dengan perlahan Evelyn menutup mata dan menyerahkan dirinya kepada kematian. Sebenarnya, kematianlah yang sangat- sangat ditunggu oleh Evelyn selama ini. Terukir senyum puas di bibirnya dan saat itulah Gabriel menangkap senyum aneh yang seharusnya tidak terpampang di wajah seseorang yang akan menghadap maut. Ketika mesin itu berjarak beberapa senti dari wajah Evelyn, Gabriel kembali menarik kuat rambut Evelyn ke belakang, membuat Evelyn mendongakkan wajah ke atas dan terhindar dari gergaji mesin itu. “f*****g, b***h!” Gabriel melemparkan tubuh Evelyn ke sisinya dengan sangat kuat hingga punggung Evelyn menghantam tembok. Ia menatap Jay dan Hong Jun dengan murka dan menunjuk jijik Evelyn yang terkapar tak berdaya di lantai. "Ikat lagi dia! Jangan sampai lolos. Sekali lagi kalian melakukan kesalahan. maka kalianlah yang akan mati!" ancam Gabriel yang langsung dituruti oleh Jay dan Jun. Gabriel memperhatikan Jun yang dengan cekatan mengikat Evelyn kembali ke kursi yang sebelumnya wanita itu tempati. Ia mendesah frustasi dan melenggang keluar dari tempat penyiksaan itu. Sesampainya di luar ruangan, Gabriel membuka kepalan tangannya, di mana sangat banyak rambut Evelyn tersangkut di sela-sela jarinya. Itu bukanlah hal yang normal. Karena jika orang normal, walaupun rambutnya ditarik dengan sangat kuat, memang ada helaian yang rontok tapi tidaklah sebanyak ini. Sangat berbeda dengan rambut Evelyn yang hampir memenuhi kepalan tangan besar Gabriel. 'Apakah dia sakit?' batin Gabriel sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan tersebut. (Cek info visual setiap tokoh di sosial media author, ig : secrett_zr, sss : secrett_zr, t****k : secrett_zr, dan join grup sss : Readers SecretZR)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN