Teratai meninggalkan kamar sang ayah dengan penuh rasa kemenangan. Senyum lebar masih mengembang di wajahnya. Ia sangat puas karena sudah mampu membuat ayah, ibu tiri dan adik tirinya merasa kesal dan kecewa.
Teratai menghampiri beberapa anak yang sedang berkumpul di ruang belajar. Anak-anak bangsawan di kerajaan itu memang mendapatkan kesempatan untuk belajar membaca dan menulis. Kesempatan itu tak pernah diperoleh Teratai karena sang ayah yang terlalu pilih kasih.
“Sepertinya aku harus belajar membaca mulai dari sekarang. Jika aku tidak bisa membaca, mereka akan lebih mudah membodohiku,” batin Teratai sambil melangkah masuk ke ruang belajar.
“Maaf mengganggu, Guru. Bolehkah aku ikut belajar di sini?” Teratai meminta izin kepada seorang pria yang berambut ikal sebahu.
“Nona Teratai, tentu saja Nona boleh ikut belajar.” Sang guru yang berusia sekitar 40 tahunan itu menyambut Teratai dengan gembira. Anak-anak yang sedang belajar memperhatikan Teratai dengan tatapan yang aneh.
“Hai, Adik-adik. Boleh ‘kan Kakak belajar bersama kalian?” tanya Teratai sambil duduk bersila di lantai.
“Mmm … boleh, Kak,” sahut seorang anak perempuan.
“Apakah benar Kakak belum bisa membaca?” tanya seorang anak laki-laki berbadan gempal.
“Benar, Kakak belum bisa membaca.”
“Loh, Kakak ‘kan putri Paduka Raja. Mengapa Kakak belum bisa membaca?”
Teratai hanya tertawa pelan mendengar pertanyaan anak-anak yang memendam rasa penasaran. Sang guru mulai merasa tidak enak.
“Anak-anak, sudah … sudah, jangan terlalu banyak bertanya!” perintah sang guru.
“Tidak apa-apa, Guru. Mereka pasti penasaran. Kalau aku tidak menjawab, mereka akan terus bertanya.” Teratai kemudian memalingkan wajah dari sang guru dan menatap anak-anak yang rata-rata masih berusia 10 tahun. “Adik-adik, Kakak memang belum bisa membaca. Dulu, Kakak terlalu malas ikut belajar. Sekarang, Kakak menyesal dan ingin mulai belajar dari awal. Bahkan pelayan saja bisa membaca dan menulis, masakan Kakak buta huruf?” bohong Teratai.
“Ohhh … seperti itu, Kak.” Anak-anak itu menyahut secara bersamaan.
“Iya. Kalian jangan malas seperti Kakak, ya. Ayo, sekarang kita mulai belajar!” ajak Teratai.
Teratai dan beberapa anak bangsawan pun mulai belajar. Dengan serius, mereka memperhatikan sang guru yang sedang mengajar. Sesekali, mereka ikut melafalkan kata-kata yang dibacakan oleh sang guru.
Ketika pelajaran berakhir, Teratai tidak langsung meninggalkan ruang belajar. Ia membiarkan anak-anak yang lain keluar terlebih dahulu kemudian berbincang-bincang dengan sang guru.
“Guru, terima kasih untuk pelajaran hari ini,” ucap Teratai.
“Nona, itu sudah menjadi tugasku. Mmm … apakah Paduka Raja tahu kalau Nona ikut belajar denganku?” tanya sang guru.
“Tidak, ayah tidak berhak melarangku untuk belajar,” sahut Teratai.
“Tapi, Non, dulu Nona tidak diizinkan untuk belajar. Saya khawatir kalau raja nanti menghukum Nona.” Sang guru mengungkapkan rasa khawatirnya.
“Tenang saja, Guru. Aku sudah memikirkan hal itu. Kalau ayah sampai menghukumku, aku akan menyebarkan ke seluruh dunia bahwa putri dari Kerajaan ini adalah putri yang bodoh, tidak bisa membaca dan menulis. Pastinya ayah akan malu,” jawab Teratai tanpa rasa takut.
“Hemm … baiklah, Nona. Semoga raja tidak menghukum Nona.”
“Ya, Guru. Aku akan datang secara rutin ke tempat ini. Semoga Guru senang mengajariku,” ucap Teratai. Ia kemudian berpamitan dengan sang guru dan meninggalkan ruang belajar.
Hari sudah mulai siang. Cahaya matahari sangat terik, membuat Teratai merasa gerah. Baju yang dikenakannya pun sudah mulai basah dengan peluh. Teratai kembali ke kamarnya. Ia membuka jubah ungunya menyisakan pakaian dalamnya yang berupa jubah yang tipis. Teratai menggulung rambutnya membentuk sebuah konde dan menjepitnya dengan jepitan rambut yang terbuat dari emas.
Galuh masuk ke kamar Teratai dengan sebuah kendi dan cangkir di kedua tangannya. Ia kemudian menuangkan minuman untuk nonanya.
“Silakan diminum, Non Tera,” ucap Galuh.
“Terima kasih, Galuh. Hari ini memang sangat panas dan sudah dari tadi aku kehausan,” sahut Teratai. Ia mengambil cangkir dari atas meja dan menenggak isinya sampai habis. “Galuh, bisakah kau membawa makan siangku ke sini? Aku malas ikut bergabung dengan mereka,” ujar Teratai. Ia sedang tak mau bertemu dengan keluarganya.
“Baik, Non.” Galuh berbalik arah dan berjalan meninggalkan kamar.
Teratai yang masih kegerahan mengambil sebuah kipas yang terbuat dari anyaman bambu dan mulai mengipasi wajahnya. “Gerah sekali, andai saja di sini ada AC atau kipas angin, aku tak perlu repot-repot mengipasi wajahku,” gerutu Teratai. Di tempat itu memang cuaca terkadang sangat panas di siang hari, tetapi berubah dingin di malam hari.
Tak lama kemudian, Galuh masuk membawa beberapa piring yang terbuat dari tanah liat. Di dalam piring tersebut ada nasi dan daging kambing yang dibakar, ada juga beberapa jenis dedaunan sejenis lalapan.
“Galuh, kau tidak makan siang?” tanya Teratai.
“Tidak, Nona. Tadi saya sudah makan bersama Lidya.” Galuh menolak tawaran Teratai secara halus.
Teratai menganggukkan kepala. Ia kemudian mulai menikmati makanannya dengan lahap. Perutnya lapar karena pagi tidak sarapan. Setelah keluar dari gubuk hukuman, ia langsung membersihkan diri dan menghadap raja. Tak butuh waktu lama buat Teratai untuk menghabiskan makanannya.
Galuh meninggalkan Teratai dengan membawa piring kotor di tangannya.Teratai kembali mengipasi wajahnya. Merasa bosan, Teratai memutuskan untuk berjalan keluar kamarnya. Ia pun mengenakan jubah ungunya.
Teratai menghentikan langkahnya di tempat berlatih pedang. Ia mengamati dua prajurit berbadan kekar yang sedang mengayunkan pedangnya masing-masing. Terkadang, suara teriakan keluar dari mulut mereka, mengiringi gerakan pedangnya. Teratai pun tertarik untuk ikut berlatih.
“Bolehkah aku ikut berlatih?” tanya Teratai. Kedua prajurit pun segera menghentikan latihan mereka dan membungkukkan tubuh kepada Teratai.
“Bolehkah aku ikut berlatih?” Teratai mengulangi pertanyaannya.
“Maaf, Nona. Latihan ini terlalu berbahaya untuk Nona,” tolak salah satu prajurit yang diiyakan oleh prajurit yang satunya lagi.
“Tetapi aku sangat ingin mencoba. Berikan pedangmu!” perintah Teratai kepada prajurit yang berambut ikal.
Dengan berat hati, prajurit tersebut memberikan pedangnya. Teratai menerimanya dengan senang hati.
“Ternyata pedang ini berat juga,” gumam Teratai. Ia mencoba mengangkat pedang tersebut dan mulai mengayunkannya.
“Nona, hati-hati, jangan sampai terluka,” ucap prajurit tadi.
“Tenang saja, aku akan berhati-hati. Mana mungkin aku sengaja melukai diriku sendiri,” ucap Teratai masih sambil mengayun-ayunkan pedangnya. “Ayo, kita berlatih,” ajak Teratai kepada prajurit yang berambut lurus.
“Tapi Nona harus memakai baju khusus untuk latihan. Jubah itu pasti akan mempersulit gerakan Nona,” ucap sang prajurit.
“Benar juga. Baiklah, aku akan berganti pakaian terlebih dahulu.” Teratai menyerahkan pedangnya dan berlalu ke kamar ganti. Di sana, ia berganti pakaian dengan baju khusus untuk latihan pedang.
“Aku sudah siap,” ucap Teratai. Ia sudah memakai baju latihan yang dilengkapi rompi besi di bagian dadanya. Teratai masih menggulung rambut panjangnya agar tak mengganggu gerakannya.
“Baiklah, Nona. Mari kita berlatih,” ajak sang prajurit sambil menyerahkan pedangnya kepada Teratai.
Teratai diajari beberapa gerakan untuk mengayunkan pedang. Teratai dengan serius mengikuti latihannya. Walaupun berat, ia tetap menjalani latihan dengan baik. Yang tampak sekarang adalah Teratai yang perkasa, tak lemah dan polos seperti yang dulu dikenal oleh warga istana.
“Hiyaaa….” Suara Teratai memekik ketika pedangnya mengayun membelah udara.
Tring … tring
Suara pedang yang dipegang Teratai berbunyi ketika bertemu dengan pedang prajurit berambut lurus. Ia bergerak maju dan mundur. Maju menyerang dan mundur menghindari serangan sambil terus mengayunkan pedangnya.
Prajurit berambut ikal terus memberi arahan kepada Teratai dan memberinya semangat. Ia senang melihat Teratai yang dapat belajar dengan cepat.
“Hebat … Nona sangat hebat,” puji kedua prajurit setelah latihan selesai. Teratai mengembalikan pedangnya kepada prajurit berambut ikal.
“Terima kasih untuk pedangnya. Saya sangat menyukainya,” ucap Teratai tulus sambil tersenyum puas.
“Suatu kehormatan bagi pedang saya untuk dimainkan oleh Nona,” sahut prajurit tersebut sambil membungkuk.
“Besok dan hari-hari selanjutnya aku akan kembali datang ke tempat ini. Maukah kau menjadi pelatihku?” tanya Teratai.
“Ya, baiklah, Nona. Saya akan melatih Nona dengan senang hati,” sahutnya.
“Kalau begitu, aku pamit dulu.” Teratai membungkukkan tubuhnya dan mengucapkan salam kepada kedua prajurit tadi.
Ia kemudian masuk ke kamar ganti dan kembali mengenakan jubah ungunya. Teratai lalu meninggalkan tempat latihan pedang.
* * *
Di kamar Ratu Divya.
“Ibu, kita harus bertindak cepat,” ucap Putri Malika kepada ibunya.
“Ya, Putriku. Namun, apa yang harus kita lakukan?” tanya Ratu Divya.
“Mmm … Ibu, aku punya ide bagus,” ucap Putri Malika. Ia kemudian berbisik kepada ibunya, “ Bu, tadi aku lihat Teratai berlatih pedang. Bagaimana kalau kita susun cara agar Teratai celaka? Kita harus atur agar kejadian itu terlihat murni kecelakaan.”
Ratu Divya menganggukkan kepalanya. “Bagus sekali idemu. Lagi pula buat apa anak itu berlatih pedang? Bukankah dia bisanya hanya menggoda pria? Sungguh, anak itu banyak berubah. Entah setann apa yang masuk ke tubuhnya,” sahut Ratu Divya.
“Ibu, bisakah Ibu mengatur semua supaya terlihat alami? Jangan sampai ada yang tahu bahwa ini adalah ulah kita.”
“Kamu tenang saja, Sayang. Ibumu ini cerdas, tidak bodoh seperti selir ayahmu itu,” sahut Ratu Divya sambil tersenyum sebelah.
“Aku percayakan rencana ini kepada Ibu. Semoga kita berhasil melenyapkan si kutu busuk yang selalu mengganggu itu,” sahut Putri Malika dengan wajah penuh kebencian.