Dua Puluh

2175 Kata

Pagi tiba. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah kayu yang menjadi tembok rumah Banyu. Teratai menggeliatkan tubuhnya yang masih berbaring di atas tikar. Perlahan, ia mengerjapkan matanya. Begitu melihat atap rumbia yang ada di hadapannya, Teratai tersadar bahwa ia tak sedang berada di dalam kamarnya yang mewah. Teratai duduk sambil merapikan rambut panjangnya. Ia menguap sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tak ada Banyu di sana. Aroma sesuatu yang dibakar masuk ke indra penciumannya. Rasa penasaran menyelimuti pikiran Teratai. Ia menyibakkan kain lebar yang menutupi tubuhnya dan bangkit berdiri. Ia kemudian keluar dari rumah itu, mencari dari mana aroma tersebut berasal. Langkah Teratai terhenti di bawah sebuah pohon yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN