Dua Puluh Delapan

1915 Kata

Siang itu, para pengawal menggiring Banyu menuju halaman belakang istana. Banyu menolak ketika dua pengawal menarik lengannya. Ia memilih untuk berjalan sendiri walaupun dalam kondisi tangan terikat di belakang pinggangnya. Derap langkah para pengawal terdengar serempak. Debu-debu berterbangan di tempat itu. Di tengah-tengah halaman belakang istana masih terlihat mesbah batu yang digunakan pada upacara di malam yang sebelumnya. Tepat di sebelah mesbah, masih ada bongkahan arang dari kayu yang dibakar pada acara persembahan korban bakaran untuk Dewi Bulan. Para pengawal berhenti, begitu juga dengan Banyu. Di wajahnya tak terlihat sama sekali raut ketakutan ataupun khawatir. Seorang pengawal mengikat Banyu ke sebuah pohon agar pria itu tidak lari. Teratai berlari cepat. Ia menghampiri Ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN