Dua Puluh Sembilan

1945 Kata

Putri Malika masih menangis tersedu-sedu ketika ia bersama kedua orang tuanya tiba di kamarnya. Ia masih mengingat betapa mengerikannya berada di bawah ancaman dengan pedang yang terhunus di lehernya. Ia tak menyangka Teratai berani melakukan hal itu di hadapan ayah mereka. Raja Ragendra dan Ratu Divya membaringkan Putri Malika di ranjangnya. Darah sudah tidak mengalir dari lehernya. Namun, rasa nyeri masih bisa ia rasakan. Seorang tabib yang dulu pernah mengobati luka di lengan Teratai masuk ke kamar Putri Malika dengan tergopoh-gopoh. Pengawal yang panik meminta tabib itu untuk cepat-cepat menolong putri kesayangan raja. Tubuh tua sang tabib yang terlihat ringkih masih bisa berjalan dengan cepat. “Tabib, tolong obati luka putri kami,” mohon Ratu Divya yang duduk di sebelah Putri Malik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN