Bab 11: Body Serum

1538 Kata
"Kata Mas Gale kamu sakit." Kepalaku memang sangat berat, semalaman aku nggak bisa tidur, merasa kram, sakit, perut seperti diaduk-aduk. Aku merasa nggak berdaya dan hanya bisa rebahan di kamar saat Gale membersihkan kekacauan yang kubuat. Laki-laki itu nggak biasa membereskan rumah, tapi dia sangat telaten, membuatkan teh hangat, menjagaku semalaman, memijat kepalaku, melakukan yang dia bisa untuk membuatku merasa lebih baik. "Kayaknya aku masuk angin." Aku menjawab dengan alasan masuk akal. Mama di seberang telepon terdengar mendesah. "Apa Mama bilang, kamu tuh kecanduan kerja, selama pernikahan aja cuma ambil cuti tiga hari, apa sih yang kamu kejar Kim? Sekarang kan kamu udah jadi istri, Mas Gale itu bukannya pengangguran, dia mapan, dia bisa biayain kamu, lebih baik kamu mulai pertimbangin buat resign dan serius mengurus rumah tangga." "Ma, kita udah sepakat soal ini." Aku masih lemas dan nggak ingin berdebat, memang saat aku menerima perjodohan ini, kami sudah sepakat bahwa aku akan tetap bekerja. Aku nggak ingin karierku yang baru naik jabatan terganggu. Lagipula apa yang akan kulakukan di rumah? Sementara Gale dua kali lipat lebih sibuk. "Kamu baru jadi istri beberapa hari tapi udah tumbang kayak gini, gimana nanti kalau punya anak Kim? Kamu pasti bakal lebih sibuk, apa jangan-jangan kamu ..." "Nggak mungkin Ma." Aku segera menyela dengan tegas, padahal hati cenat-cenut mendengar nada suara Mama yang berubah penuh harap. "Kami nikah belum ada sebulan." "Waktu Mama sama Papa dulu menikah juga belum ada sebulan tapi udah jadi Kim, keluarga kita punya gen subur, nggak menutup kemungkinan kalau sekarang kamu udah isi, kan?" "Ya jangan samain Mama dengan aku." Meski dalam hati aku mengiyakan, gen yang penuh keberkahan tapi saat ini membuatku merasa kualahan. "Coba kamu periksa deh, ajak Mas Gale sekalian, dia kedengaran bingung karena kamu nggak mau diajak ke RS." "Aku nggak pa-pa Ma, ini cuma efek kecapekan, dan aku juga nggak hamil," kataku dari balik gigi yang terkatup rapat, bersyukur karena saat ini Gale sedang mandi sehingga nggak bisa mendengar percakapan kami. "Aku cuma butuh istirahat dan minum obat, nanti juga pasti baikan, seberapa sering sih aku sakit kayak gini? Biasanya Mama juga nggak ribut-ribut." "Kalau diomongin keras kepala banget sih Kim, minimal nurut, kamu bikin orang-orang khawatir, apa susahnya nerima ajakan Mas Gale, senggaknya itu bisa menghargai dia dan bikin hatinya lebih tenang Kim." "Kenapa Mama kayak paham banget sama Mas Gale?" "Ya makanya kamu dengar gimana suaranya pas ngabarin Mama, dia khawatir sama kamu Kim, katanya kamu udah muntah-muntah dari lama." Jantungku terasa berdebar, mengoper ponsel ke sisi telinga yang lain untuk meremas telapak tanganku di atas selimut yang mendadak berkeringat. "Mama nggak mau kamu kenapa-kenapa dan nyusahin Mas Gale, kasian dia, pengantin baru tapi harus sibuk ngurusin kamu yang sakit." "Oke, aku tutup dulu teleponnya." Mama terdengar sewot. "Dengar nggak sih kamu itu?" "Iyaaaa." Astaga. Aku tuh lagi sakit, tapi Mama nggak ada lembut-lembutnya sama sekali. "Nanti aku ke RS." Tapi aku nggak janji, aku hanya melakukannya supaya Mama berhenti meradang. "Ya udah, jaga makan, jangan lembur, kurangin kerjaan, dan pikirin juga Mas Gale, inget dia udah jadi suami kamu." "Iya Ma, aku paham." Setelah mengucapkan salam aku segera memutus sambungan telepon. "Feel better Kim?" tanya Gale ketika keluar dari kamar mandi, sudah mengenakan kaos dan celana pendek. Karena aku izin kerja hari ini, Gale pun melakukan hal yang sama, padahal aku sudah memintanya untuk tetap ngantor seperti biasa tapi laki-laki itu menolak. Bukannya senang dengan perhatian tersebut, aku justru sangat takut, tiga kali sudah aku tertangkap basah muntah-muntah. Dan aku nggak tahu apakah diam-diam Gale juga memikirkan seperti yang Mama pikirkan? "Sarapannya udah dihabisin?" "Udah makasih Mas." Aku menyingkap selimut, berusaha bangkit, mengukur keseimbangan, namun baru menapaki lantai yang dingin, perutku terasa mengencang, sontak aku memekik kesakitan sambil meremas perutku. "Kim?" Dalam beberapa langkah Gale sudah berada di sampingku. "Mana yang sakit? Perut kamu?" Aku meringis, kening terasa berkeringat, dengan bibir kering aku menyahut lirih. "Kram." "Ini?" Dia meraba-raba perutku, aku mengangguk lemah. Gale menumpuk bantal-bantal di headbed, membantuku untuk kembali rebahan. "Kamu butuh apa Kim? Kasih tau aku." Aku menggeleng. "Air hangat? Ini efek PMS?" "Bukan, cuma kram ..." "Tunggu sebentar." Gale menghilang ke kamar mandi dan kembali dengan sebuah handuk. "Aku buka ya?" Kepalaku meronta, menahan tangannya yang akan mengangkat piyamaku. "Nggak pa-pa Kim." Tapi aku nggak ingin dia curiga jika melihat bentuk perutku! "Kim?" "Biar aku sendiri aja." "Kamu becanda?" "Sini Mas." Gale mendengus, tanpa menuruti perintahku, dia segera mengangkat piyama yang kukenakan, aku meringis saat merasakan handuk hangat itu menempel di kulitku. "Muka kamu udah pucet banget, jangan ngajak debat terus Kim." Aku hanya bisa menunduk. "Mana lagi yang sakit?" Dia mencoba menurunkan handuk itu lebih ke bawah, tapi aku menahannya. "Kenapa? Nanti juga aku bakal lihat semuanya, nggak akan ada bedanya juga aku lihat sekarang atau aku lihat nanti." Tapi bukan itu masalahnya, jika dia melihat saat sedang berhubungan seksual, Gale pasti nggak akan notice, namun saat seperti ini? Aku takut! "Di sini aja udah Mas." Lagi-lagi Gale nggak mendengarkan, handuk itu diturunkan sedikit melewati ban karet celanaku, aku menahan napas saat tangannya menekan-nekan. "Di sini?" Napas lega terembus dari bibirku. Tepat mengenai bagian yang terasa kram. "Sebentar." Aku kebingungan saat laki-laki itu bangkit, lalu menarik laci kabinet, membawa body serum bersamanya. Jika dalam kondisi normal aku pasti sudah berterima kasih, sangat bersyukur dengan sikap lembutnya, Gale dengan manis mengoleskan body serum itu di perutku, tapi yang bisa kurasakan saat ini hanya ketegangan, dan semua perhatian ini membuatku semakin tertekan. Tanpa sadar mataku mulai buram. Ketika pandangan laki-laki itu terangkat tangisku pecah. "It's okay." Gale segera merengkuhku dalam pelukan, dia begitu lebar dan kuat, aku terisak di bahunya, lalu kurasakan kepalaku dikecupnya pelan. "I'll take care of you." Kata-katanya sontak membuatku mematung. *** Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur, bangun, lalu jatuh tertidur dan terbagun lagi. Seharian yang kulakukan hanya terpejam, dan selama itu kurasakan Gale siap sedia di sebelahku, di antara setengah sadar aku bahkan bisa mendengar suaranya yang sedang menelepon, lalu suara jemarinya yang mengetik di atas papan keyboard tempat di sebelahku, dan saat aku merintih atau mengingau, laki-laki itu akan menggeser laptopnya dan bertanya. "Kamu butuh apa Kim?" "Mau minum?" "Aku pijitin ya?" Bagaimana aku dengan tega menjebak manusia sebaik dan setulus dia? Dan karena cemas, ketakutanku itu terbawa sampai mimpi, di dalam mimpi itu Gale memaki-maki, lalu menghujatku tanpa ampun karena aku sudah berbohong dan mengandung anak orang lain, ketika aku membuka mata, jantungku terasa bedegup kencang, dan keringat dingin merembes ke piyamaku. Aku mecoba mengatur napas, saat menoleh Gale sudah nggak ada, tapi samar-samar aku bisa mendengar suara-suara orang mengobrol dari arah living room. Dengan perlahan kuputuskan untuk bangkit, menahan diri untuk nggak goyah saat melangkah gontai. "Kimmy!" Sebuah pekikan tertahan terdengar, mataku kontan melebar, menemukan Ibu Ratu kini duduk di sofa, beliau berdiri begitu melihatku. "Sakit kamu parah sayang?" Dia meraba-raba keningku dan meringis saat mendapati tubuhku terasa hangat. "Ibu sama siapa ke sini?" Kucoba untuk bersikap tegar dengan menyalami punggung tangannya. "Sendiri?" "Iya, Ibu dengar laporan kalau kamu sakit. Kamu udah periksa?" Kulirik Gale untuk meminta bantuan, laki-laki itu berdiri dan menuntunku untuk duduk bersamanya di sofa. "Kimmy cuma masuk angin, Bu." "Jangan cuma-cuma, namanya sakit tetap aja sakit, jangan diremehin," balasnya galak pada anak sulungnya itu. "Ibu baru dari arisan dan langsung buru-buru ke sini, kamu yakin nggak pa-pa?" "Aku udah mendingkan kok, Bu." "Apa jangan-jangan kamu hamil?" Aku nyaris tersedak minum yang disodorkan Gale. "Katanya kamu banyak muntah-muntah?" Kutahan diri untuk nggak menyentuh perutku sekalipun terasa sakit supaya nggak semakin menarik perhatian. "Nggak Bu." Gale dengan senang hati menjawab tegas. "Kim nggak hamil." Benar, aku menyanggah hal yang sama pada Mama tapi ketika diucapkan dari bibir Gale sendiri, aku merasa tremor. Jelas aku nggak akan hamil, karena dia belum menyentuhku! "Siapa tau aja kan, dalam waktu satu minggu setelah berhubungan itu bisa langsung jadi kok." Aku melirik Gale untuk mencari tahu ekspresinya, tapi yang kutemukan di wajahnya hanya datar. "Kim nggak mungkin hamil." Kali ini Gale menyahut dengan penuh penekanan hingga membuat Ibu Ratu berdecak. "Periksa aja dulu." Ya ampun, kenapa semua orang sangat mendesak? Aku makin pucat di sofa. "Apalagi gejala yang kamu rasain selain muntah-muntah Kim? Kamu keram? Sakit kepala? Sensitif terhadap wangi?" Jantungku seperti merosot ke dengkul karena semua yang dia ucapkan tepat. "Nggak Bu." Akhirnya hanya itu yang mampu keluar dari bibirku. Ibu Ratu kelihatan kecewa. Bagaimana aku akan membohongi mereka? Bagimana aku akan membuat wajah bersahaja itu semakin kecewa jika mereka tahu aku sudah ... "Harus ada yang ngurusin kamu, di sini kalian cuma berdua, nggak ada asisten, makan juga nggak teratur. Ibu nggak bisa biarin kamu sakit kayak gini, Kim." "Aku nggak pa-pa kok Bu." "Ibu udah putusin, sampai kamu sembuh, Ibu bakalan bantu urus kamu." Mataku mendelik, kutatap Gale seolah meminta penjelasan, tapi laki-laki hanya mengembuskan napas panjang. "Mas?" "Kim," katanya menatapku. "Aku bisa ngurus kamu sendiri, masalah kerjaan bisa dihandle nanti, tapi aku takut ngelewatin sesuatu, aku takut kurang dan malah bikin kamu tambah parah." "Aku udah nggak pa-pa," cicitku lemah. Tapi Gale meringis, kurasa dia menemukan yang sebaliknya dari raut wajahku, mungkin aku sangat pucat, mungkin keadaanku sangat mengenaskan di matanya. "Mau ya?" "Mau apa?" "Kalian akan pindah," kata Ibu Ratu menyela dan mengangguk penuh ketegasan. "Dan tinggal di rumah Ibu." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN