Bab 1: Dua Garis Biru
"Nikah?"
Kenapa cara Rey mengatakan itu seolah aku baru saja memvonisnya hukuman mati? Wajahnya kelihatan ngeri, kedua alisnya tampak menyatu.
Tapi memangnya ada jalan keluar lain kalau saat ini dia sedang menggenggam testpack dengan dua garis biru?
"Itu nggak mungkin, sih."
Terus apa yang mungkin?
Aku tahu kami sama-sama memiliki kekurangan, Rey memang bisa bersikap kasar jika ketenangannya terusik, tapi ini adalah kalimat paling mengenaskan yang pernah kudengar darinya.
Sekarang laki-laki itu bukan cuma gusar tapi juga ketakutan, sikapnya yang selalu tertata tanpa cela berkat belasan tahun bersahabat dengan pahit manis industri hiburan yang mana membuat dia terbiasa mengendalikan diri dan menjaga image di depan audience termasuk di depanku, mendadak ambyar.
Rey mulai mondar-mandir di living room apartemen kami, lebih tepatnya apartemen yang dia beli sebagai tempat kami bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Tangannya tampak gemetar saat menyugar rambut, melotot pada testpack yang terjepit di antara jemarinya, seakan jika diperhatikan dengan mata bersinar laser begitu, hasil yang tertera di sana akan berubah.
"Kamu tau karier aku sekarang lagi bagus-bagusnya Kim, aku baru aja nerima project film dari adaptasi novel Rima Siahaan, best seller, kalau aku tiba-tiba mundur apalagi karena nikah, bisa kamu bayangin gimana kecewanya fans aku yang udah nungguin aku di project ini? Harusnya dari semua orang, kamu yang paling paham gimana aku berusaha keras dari casting sampai reading demi film ini, kan? Belum lagi masalahnya pasti bakal melebar kalau mereka tau aku nikah karena kebobolan. Netizen kalau udah ngulik hidup selebritis bisa ganas banget. Bukan cuma aku, tapi kamu, bahkan orang terdekat kita mungkin bakal kena imbasnya. Aku bukan cuma bakal kehilangan project film, tapi iklan, dan brand-brand lain yang terlanjur deal mungkin bakal mutusin kontrak sepihak. Kenapa kamu malah hamil sih?"
Ya, kenapa aku harus hamil sih?
Harusnya sebagai perempuan aku cukup tahu diri, menjaga kehormatan, nggak terbujuk rayuan, meski kami selama ini sudah melakukannya berkali-kali, tapi... aku nggak mungkin tiba-tiba hamil kan? Aku nggak mungkin tiba-tiba melendung tanpa dibuahi oleh s****a, kan?
"Bukannya kamu minum pil?"
"Apa kamu pernah pakai pengaman?"
"Kita udah sepakat."
Kesepakatan yang hanya menguntungkan dirinya. Hanya aku yang selalu inisiatif berusaha selama ini dengan melakukan pencegahan, sementara Rey? Dia hanya berpikir tentang kenyamanannya sendiri. Dan ketika sudah terjadi, dia justru menyalahkan aku. Lucu sekali.
"Nggak, nggak bisa Kim, nikah terlalu beresiko buat karier kita."
Oke, sekarang dia mengubah katanya dari aku menjadi kita. Seakan itu penting bagiku, seakan dia ingin mengingatkan bahwa menikah juga nggak pernah ada dalam rencana hidupku, seakan dia ingin mengingatkan betapa aku sangat tergila-gila pada pekerjaan.
Rey nggak salah sih, sama seperti dia, aku juga baru saja diangkat menjadi Kabag BAAK di Universitas swasta tempat aku bekerja, sebuah prestasi membanggakan di umurku yang baru menginjak dua puluh enam tahun. Tapi apa pentingnya semua itu sekarang jika ada seorang makhluk hidup yang bergantung di dalam tubuhku?
"Terus kamu maunya gimana?"
Aku sudah terlalu lemah untuk berdebat, kakiku terasa lemas dan hanya bisa terduduk lesu di sofa saat seharusnya mungkin aku mencak-mencak atau mengamuk atas semua tuduhan Rey.
"Kita nggak punya pilihan lain."
"Ada."
"Apa?"
Meski Rey nggak menjawab, tapi gerakannya yang mendadak berhenti dan matanya yang menatap tajam serta jeda lama di antara kami membuat aku mengerti. Terkadang sikap diam bisa berbicara lebih lantang dari sekadar kata-kata.
Aborsi.
Laki-laki ini menginginkan aku memusnahkan kandungan, tapi betapa ngerinya kalimat itu akan keluar, membuat kami sama-sama tertegun.
"Ini anak kamu juga loh Rey, dia nggak minta buat dilahirin ke dunia, kita yang salah, kita yang teledor, kita yang nggak bisa ngendaliin diri, kenapa malah dia yang harus nerima hukuman?"
"Justru itu." Rey mendesis dari balik giginya yang terkatup rapat. "Dia nggak minta dilahirin ke dunia, jadi kenapa kita harus repot?"
Sesak napas.
Aku merasa kehabisan oksigen.
"Kimmy ..."
Cepat-cepat tubuhnya luruh di bawah kakiku, Rey berlutut, kedua tangannya menangkup kedua tangan di pangkuanku, menggenggam erat, kepalanya mendongak agar mata kami bersitatap.
"Aku tau kamu takut, aku juga takut, tapi kandungan itu baru empat minggu kan? Belum ada ruh di dalam sana, dan masih mudah kalau mau dilakukan prosedur ..." Dia kesulitan mencari kata-kata yang lebih halus, matanya berlarian ke sana-ke mari, nggak menemukan kalimat yang tepat, aku bisa melihat jakunnya bergerak naik-turun saat menelan ludah. "You know, aku bakalan nemenin kamu selama prosesnya."
Ada janji di dalam matanya, tapi yang bisa kurasakan hanya kekecewaan.
"Kamu nggak sayang sama aku?"
Dia meremas tanganku lebih erat.
"Aku pikir kamu bakalan happy kalau aku kasih kabar ini."
Matanya mulai buram, atau mungkin itu mataku? Karena bisa kurasakan pipiku mulai basah, dan setetas air menyela di antara genggaman tangan kami.
"Satu kesempatan lagi, aku tanya kamu dengan serius ya, kamu mau tanggung jawab atau nggak?"
Ibu jarinya terasa mengelus air mata yang membahasi tanganku, tapi nggak kudengar sahutan dari bibir itu.
Baiklah.
Aku segera bangkit, menarik sling bag, dan meninggalkannya yang tetap berlutut di tempat, sendirian.
Untuk apa menangisi seseorang yang jelas-jelas b******k? Bukankah harusnya Rey yang menderita? Dia bukan hanya kehilangan perempuan yang mencintainya selama tiga tahun belakangan, tapi juga calon anaknya.
Selagi menjauh dari apartemennya dan berkonsentrasi menyetir, tanpa sadar aku mengelus perutku.
Masih rata.
Aku mengetahuinya tiga hari terakhir ketika mulai menyadari jadwal menstruasi yang telat. Berita ini hanya diketahui oleh kami, Mama dan Papa belum tahu apapun. Dan aku sebenarnya nggak bisa membayangkan gimana reaksi mereka nanti.
Kemungkinan terburuknya Papa akan mengusir dan mencoretku dari KK, kemungkinan standarnya Papa akan memborbardir dengan tamparan.
Bukan cuma Rey yang menjaga reputasi, Papa yang berencana untuk mencalonkan diri sebagai Walikota pun terancam jika aku mengumumkan kehamilan ini. Itu sama saja secara sadar dan terang-terangan aku melumuri wajahnya dengan kotoran.
Kim-Kim, jemput Mama dan Papa di hotel Evergreen ya, kami lagi ada acara ultah Ibu Ratu.
Aku bahkan masih ingat suara Mama yang ceria dilatarbelakangi dengan suara Papa yang berwibawa mengingatkan agar aku jangan sampai telat menjemput mereka malam ini.
Bagaimana aku akan tega membuat keceriaan itu pudar dengan kabar yang kubawa? Terlebih Rey memilih untuk mundur teratur ....
"Tapi lo tau nggak kalau netizen itu menjuluki lo sebagai cokiber?"
Suara dari sebuah podcast menyela perhatianku ketika sedang berusaha mencari parkiran di hotel yang kutuju. Mataku langsung menangkap billboard dari layar di depan gedung hotel, di mana Rey dan seorang perempuan sedang duduk berhadap-hadapan. Laki-laki itu memang nggak bercanda ketika mengatakan kariernya sedang menanjak, bahkan wawancaranya yang terdengar nggak penting sampai terpampang di mana-mana.
"Cowok kita bersama?" Rey menjawab dengan suaranya yang halus, lembut tapi maskulin khas dirinya. "Iya tau kok, tau."
"Terus gimana menurut lo? Memangnya pacar lo nggak cemburu gitu?"
Rey tertawa renyah. "Nggak, saat ini gue lagi nggak punya pacar sih, jadi sah-sah aja mau dijulukin apa, lagian kan mereka juga cuma becanda, kayak nggak tau kelakukan netizen aja."
"Iya sih."
"Guys, pokoknya ini, siapapun buat lo yang nonton, gue kasih tau kalau gue jomblo, dan gue nggak akan menikah dalam waktu dekat."
"Nah tuh, netizen berarti masih ada harapan ya kalau misalnya mau jadi pacar lo?"
"Boleh banget, DM aja."
Rey lagi-lagi tertawa, tapi aku nggak bisa menyimak kalimat selanjutnya, ada luapan emosi yang naik dari perutku menuju tenggorokan serta mendesak untuk keluar.
Buru-buru aku melompat turun dari mobil setelah berhasil parkir, mencari tong sampah terdekat dan memuntahkan semua isi perutku.
Di sela-sela kegiatan itu, kurasakan ada sebuah tangan halus yang mencoba meraup rambut panjangku untuk digenggam tinggi agar nggak terkontaminasi muntahan.
Bukannya belagu, tapi secara refleks aku segera menepisnya dan begitu menoleh untuk melihat siapa yang berani-beraninya menyentuhku tanpa izin, aku justru menemukan sesosok laki-laki dengan tubuh menjulang yang nggak kuharapkan akan kutemui di saat rentan seperti ini.
"Are you okay?"
***