"Kamu nggak pa-pa?"
Dia mengulang pertanyaan, kepalanya menunduk, memastikan aku yang hanya sebatas telinganya ini mendengar.
Melihat aku yang diam saja, laki-laki itu kemudian mengulurkan sebuah botol air mineral yang tutupnya sudah terbuka, aku meringis karena dia masih sama. Entah gimana tangannya seperti kantong Doraemon, aku nggak melihat apapun di sana sebelumnya, namun dalam sekejap tiba-tiba saja dia kini mengangsurkan apa yang paling kubutuhkan.
"Minum dulu."
Aku nurut, menerima botol itu dan meneguk isinya tanpa mengalihkan pandangan.
"Feel better?"
"Makasih ..." Suaraku mendadak terdengar serak, aku berdeham untuk membersihkan tenggorokan. "Efek mabuk perjalanan, Mas."
Sebenarnya aku nggak memiliki kewajiban untuk menjelaskan, tapi di bawah tatapannya yang menyelidik, aku merasa perlu memberikan alasan.
Laki-laki itu justru mendekat, aku refleks mundur selangkah, tapi dia hanya mengulurkan sebuah sapu tangan untuk mengusap sudut bibirku.
Nah benar, kan?
Dia selalu punya yang kubutuhkan.
"Lebih baik kita cari tempat duduk, muka kamu kelihatan pucat."
"Aku mau jemput Mama."
"Mau sekalian ke atas?"
"Acaranya di atas?"
"Lantai dua belas."
Aku mengekorinya selagi dia membimbingku menuju lantai yang dituju, merasa bersyukur karena acara tersebut bukan berada di lantai yang lebih tinggi sehingga kami nggak harus terjebak lama di dalam elevator.
"Lagi sibuk apa sekarang, Kim?"
Bisa nggak aku skip saja pertanyaan itu? Aku nggak sedang dalam keadaan ingin berbasa-basi saat ini, tapi bersikap kasar setelah dibantu juga sama sekali bukan pilihan yang bijaksana.
"Kerja aja sih, kalau Mas gimana? Perusahaan aman?"
"Alhamdulillah."
Oke fix, masih sama, jawabannya super simpel seperti yang kuharapkan.
Vincent Gale, orang yang berdiri di sampingku, founder startup Fluent Fashion, dia anak Ibu Ratu, sahabat Mama yang kini sedang mengadakan acara ulang tahun, umurnya lebih tua dari Abang, mungkin sekitar 35 tahun, tapi meskipun sudah di usia matang, fisiknya nggak kelihatan usang, justru sebaliknya, he's aging like a fine wine.
Kami sudah lama kenal karena ibunya dan ibuku sudah bersahabat sejak bocil, meski kami nggak begitu dekat, karena Gale lebih banyak hangout bersama Abang bahkan mereka sempat berkuliah di Universitas yang sama.
"Masya Allah, apa kabar Kim? Makin cantik aja lama nggak ketemu." Begitu sampai di ballroom, Ibu Ratu dengan ceria segera menyambut.
Aku berusaha tersenyum, aroma parfumnya yang kuat sejenak membuatku mual. "Makasih Ibu."
"Udah makan malam belum? Makan dulu yuk, kamu kok kelihatan kurusan sih dari yang terakhir kita ketemu?"
"Kalian kok bisa barengan?" Mama nanya, matanya seperti Ibu Ratu tampak penasaran dengan kami.
"Ketemu di bawah." Gale yang jawab.
Aku nyaris merasa kualahan ketika dibimbing menuju meja makan lalu dipaksa untuk menikmati berbagai menu yang disajikan sementara yang ingin kulakukan hanya tidur.
"Muka kamu pucet banget Kim." Mama bahkan mengulangi kalimat Gale, membuatku makin merasa terpojok. "Makanya kalau kerja itu minimal ada istirahat, ngejer apa sih kamu tuh? Kerja udah kayak semua harta bakal di deposit ke akhirat aja."
See?
Meski khawatir Mama tetap ceria, apalagi Papa, orang yang mengultimatum agar aku jangan telat, kini justru sedang asik bercengkerama dengan para suami dari teman-teman Mama. Jika aku mengatakan tentang apa yang membuatku kelihatan sangat pucat maka semua senyum itu akan...
"Karier dan fisik glowing kayaknya memang nggak menjamin seseorang enteng jodoh ya, sekarang Gale single, nggak jadi nikah lagi dia sama perempuan yang kemarin padahal udah mau ngelamar," lanjut Mama memperhatikan Gale yang langsung melipir untuk menyapa beberapa kolega Ibu Ratu. "Gimana menurut kamu Kim?"
Itu bukan urusanku.
"Mama udah tawarin kamu buat nikah sama dia, tapi kamu selalu nolak dan milih buat nempel terus sama Rey Sangkakala--"
"Sungkara."
"--ya apalah itu namanya, tapi status kalian aja disembunyiin terus, kenapa masih mau bertahan?"
Mama benar, beliau sangat benar. Laki-laki itu sangat b******k, selama kami pacaran, aku selalu menuruti keinginannya untuk menjaga hubungan kami tetap private. Kenapa dulu aku nerima saja dan menganggap hal itu sangat istimewa?
"Sekarang kalau kamu mau--"
"Aku mau."
Alis Mama terangkat.
Jantungku terasa berdegup kencang, Rey nggak akan mau menikah, Rey nggak akan mau bertanggung jawab, Rey juga menyuruhku untuk aborsi. Kehamilan ini bukan hanya menghancurkan diriku tapi seluruh keluarga. Sebuah pernikahan, dengan siapapun itu, setidaknya akan menyelamatkan wajah kami. Dan anak yang ada di dalam kandunganku akan memiliki perlindungan secara hukum.
"Kalau Mas Gale nggak keberatan dan mau nerima juga, aku mau nyoba Ma."
Wajah Mama langsung berubah semringah, mungkin karena takut aku akan berubah pikiran, beliau segera mengangguk semangat.
"Insya Allah mau Kim, dia memang cari calon istri kan? Lihat aja gimana Ibu Ratu ngebet banget pengin punya mantu buat anak sulungnya. Biar orang-orang juga pada diem dari gosip-gosip nggak jelas di luar sana."
Bagus, aku baru saja memutuskan untuk secara sukarela nyemplung ke dalam jurang, tapi alih-alih menyerah, secara otomatis langkahku justru mendekat ke arah Gale yang kini sedang mengobrol dengan Papa.
Kusentuh ringan lengannya untuk menarik perhatian. "Mau ngomong."
Gale mengernyit, tapi tetap nurut ketika kubawa menjauh nyaris keluar ballroom.
"Kenapa Kim?"
"Mas tau nggak kalau Mama sama Ibu Ratu selama ini berusaha jodohin kita?"
Satu alisnya mencuat naik. "Tau."
Kuembuskan napas panjang, jantung kembali berdebar hebat. "Dan jawaban Mas gimana?"
Gale tampak berpikir, dia menunduk menatap karpet di bawah kaki kami. Aku nggak tahu dari mana aku mendapat keberanian ini, tapi aku bisa mendengar diriku sendiri kembali berkata.
"Aku mau nyoba Mas."
Kepalanya seketika terangkat, keterkejutan di wajahnya yang tampak keras dihantam kehidupan dan usia membuatku agak gentar.
"Pernikahan bukan coba-coba Kim, lebih baik dipikirkan secara matang--"
"Kalau aku terima, apa Mas juga bakalan terima?" Kupotong kalimatnya.
Gale hanya menatapku.
"Saya masih harus memikirkannya, walaupun kita sering ketemu selama ini, tapi kita nggak benar-benar saling mengenal, sementara menikah adalah lompatan yang besar, saya butuh waktu, mungkin dengan ngedate dulu?"
Dia nggak salah, opsi yang diberikannya bahkan sangat masuk akal, tapi aku nggak memiliki waktu.
"Pernikahan juga kenalan Mas, siapa bilang setelah menikah kita jadi berhenti mengenal pasangan?"
Dengarlah itu, aku merasa sangat jahat, berusaha menjebak seseorang yang nggak berdosa dalam sebuah pernikahan dan sudah mengandung, apa ada yang lebih buruk dari ini?
"Yaudah nggak pa-pa kalau Mas nggak mau, aku nggak masalah kok."
Kubalikkan tubuh untuk pergi, kembali merasa pusing dan mual, mengandung telah membuat moodku berantakan. Sepertinya aku lebih butuh menenangkan diri daripada memikirkan--
"Oke."
Langkahku sontak terhenti.
"Saya menerimanya."
Jantungku seolah akan meledak.
"Let's get married, Kim."
***