Bab 38: Bom Atom

1946 Kata

Pekikanku membawa seluruh penguhi rumah berdatangan. Pertama Mba Feby dan Mba Nia lalu disusul yang lainnya, Ibu Ratu sampai terkesiap ketika melihat Rivan ambruk di atas island dengan mata terbelalak. Kami praktis menarik pria masing-masing, aku mencengkeram lengan Gale yang akan merangsek maju, belum puas dengan satu bogeman, sementara Sara menangis sambil membantu Rivan bangkit. "Mas udah...," Sara memohon. "Ada apa ini?" Ibu Ratu menjerit. "Mba Kim." Mba Nia menarik tanganku khawatir aku akan kena sikut, sementara Mba Feby kabur untuk memanggil para laki-laki di rumah. Tapi aku mengerti kecemasan mereka, bisa kurasakan lengan Gale sangat keras, kedua rahangnya mengatup ketat, dadanya maju, otot-ototnya yang selama ini tersembunyi mendadak eksis. Ada yang bilang bahwa marahnya ora

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN