Lemas. Aku sontak ambruk di living room setelah berhasil masuk ke apartemen dengan jemari gemetar. Gejala panik yang terlambat, aku baru merasakannya ketika sudah nggak melihat sosok laki-laki itu. Kini seluruh tubuhku terasa panas dingin, tanganku basah oleh keringat, tapi punggungku dingin dan kaku, perlahan aku berjalan ke dapur mengambil segelas air meneguknya sampai kandas. Inhale exhale. Oke, Gale nggak tahu laki-laki itu ada di sini, aku harus berpikir jernih. Nagisa memanggil Rey, berarti asumsi kedua yang tepat, Rey sedang berkunjung ke apartemen perempuan itu. Lantai lima belas. Aku harus menghindarinya, sekarang aku hanya perlu berharap Gale nggak akan berpapasan dengan dia. Atau kemugkinan terburuknya berpapasan asalkan aku nggak ada di sana, karena nggak mungkin mereka a

